
"Zea gimana kabarnya?" tanya mama Caca.
"Alhamdulillah baik Tante Adel, om Adam sama Tante sendiri gimana kabarnya?"
"Baik juga sayang, kamu udah jarang main ya sekarang."
"Hihi, iya Tante sering di rumah aja sepulang sekolah."
"Di rumah apa pacaran," goda Adel.
"Ih Tante," jawab Zea malu malu.
"Ayo nak David silahkan duduk," pinta Adel mempersilahkan David duduk.
"Terimakasih," jawab David.
Adel dan Caca pergi ke dapur untuk membuat minuman dan membawakan makanan. Kue yang tadi dibawa David diberikan kepada mama Caca. Sedangkan, milik Zea disimpan sendiri di dalam mobil.
"Kue ku leleh nggak ya?" tanya Zea polos.
"Haha, kamu ya masih ingat makanan ternyata."
"Ih nggak lucu aku nanya serius."
"Kalau leleh ya udah to, siapa suruh lama lama."
"Ya udah ayo pamit pulang aja," ajak Zea dengan ekspresi serius.
"Lah yang yang bener aja," jawab David kaget.
"Iya bener, udah ayo pulang aja."
"Ya jangan dong kasihan mamanya Caca."
"Terus kue ku gimana?"
"Nggak kalau leleh, kan kamu milih yang krim nya sedikit tenang aja," jawab David menenangkan.
Zea hanya mengangguk pasrah sementara itu David tertawa gemas dengan tingkah kekasihnya. David mengelus rambut Zea.
Tidak lama kemudian Adel datang bersama Caca. Mereka berbincang selama satu jam. Adel meminta Zea dan David untuk makan, sebelum pulang. David dan Zea mengiyakan saja permintaan Adel agar bisa cepat pulang.
"Makasih ya Tante untuk makan siangnya," ucap Zea.
"Sama sama sayangku, kapan kapan main lagi ya."
"Iya Tante, kami permisi dulu."
*******
Zea dan David meninggalkan rumah Caca setelah berpamitan. Di dalam mobil, Zea langsung memangku kotak kue yang dibelikan David.
"Untung nggak leleh," ucap Zea.
"Syukurlah," jawab David sambil mengelus elus rambut Zea.
"Mau kemana cantik habis ini?"
"Pulang aja, mau belajar."
"Oke siap bos."
Sesuai permintaan Zea, David mengantarkan Zea pulang ke rumah. Selama perjalanan Zea memakan satu kue yang dibelikan David sekaligus menyuapi David.
"Enak kan yang?" tanya Zea.
"Enak banget," jawab David menyenangkan hati Zea.
Sebenarnya David tidak terlalu suka sesuatu yang manis. Namun, semenjak bersama dengan Zea, dia mencoba untuk terbiasa. Karena terkadang Zea memaksa menyuapi David dengan makanan yang dia pesan.
__ADS_1
"Ya udah kamu aja yang habisin sisanya, ini aaaaa," pinta Zea menyuapi David.
Dengan terpaksa, David membuka mulut untuk memakan suapan Zea.
"Em gemes kalau lagi makan," ucap Zea.
David hanya tersenyum mengiyakan ucapan Zea.
Setibanya di depan rumah Zea, David tidak ikut turun karena akan pulang ke rumah mengerjakan projek mereka.
"Aku nggak mampir ya," ucap David.
Terlihat raut muka Zea tidak suka karena David tidak mampir.
"Kenapa diam?" tanya David.
"Nggak kok, makasih ya," ucap Zea langsung keluar mobil.
David bingung mungkin Zea sedang tidak senang jika dia tidak mampir. David kemudian mematikan mesin mobil dan hendak turun. Namun tiba tiba pintu mobil terbuka kembali, Zea masuk ke dalam mobil lagi.
"Kenapa? Ada yang ketinggalan?" tanya David.
"Iya, sini," ucap Zea.
David mengikuti perintah Zea dan mendekatkan wajahnya ke arah Zea.
Cup
Zea mendaratkan sebuah kecupan di pipi David. Spontan muka David memerah dengan tingkah Zea.
"Kamu yang ketinggalan, makasih ya hati hati dijalan," ucap Zea sambil tersenyum.
David membalas senyuman Zea sekaligus berkata," sama sama cantik."
Zea kemudian keluar mobil meninggalkan David di dalam mobil. David membuka jendela dan melambaikan tangan meninggalkan halaman rumah Zea.
*******
Hari itu, Zea datang bersama dengan Caca. Gavin yang melihat Zea langsung menghampiri Zea. Seperti biasa, Zea yang tidak senang tidak menghiraukan ucapan Gavin. Gavin tetap tidak menyerah untuk mendekati Zea.
Sepulang sekolah, Zea dan Caca pulang menggunakan bus. Gavin sempat berpikir untuk memberikan tumpangan.Tetapi, sepertinya ide itu hanya akan nihil jika berhadapan dengan Zea.
Gavid memilih pergi ke markas menemui teman temannya.
"Kenapa Vin? Muka loe butek amat," ejek salah satu temannya.
"Gue suka sama cewek yang udah punya cowok, susah banget mau dekat sama dia," jelas Gavin.
"Jelasin deh ciri cirinya," pinta salah satu temannya.
Gavin menjelaskan dengan rinci siapa Zea dan bagaimana Zea seperti yang diketahui oleh Gavin.
"Kita begal aja dia, terus loe pura pura lewat nolongin dia. Gimana?"
"Astaga kaya sinetron banget sih, dia biasanya pulang naik bus mau dibegal gimana?"
"Ya kagak ngerti pokoknya usaha aja dulu."
"Jangan, mending kita cegat dia pas lagi lewat gang aja terus loe yang nolongin."
"Gang mana sih bro mau lewat gang mana sih hm," sanggah Gavin.
"Ya kali aja lewat mau belanja apa gimana?"
"Oh masuk akal, gue harus kepo rumahnya Zea."
"Tapi kalau rumahnya jauh Genk kita mana bisa masuk ke daerah situ."
"Ya usaha aja dulu kali."
__ADS_1
"Yang ada nggak masuk akal dong Vin, jelas jelas rumah loe kan di daerah sini napa bisa sampai ke daerah sana."
"Iya juga ya, terus gimana dong?" ucap Gavin pasrah.
"Loe berhenti aja dulu dekatin Zea terus pura pura jadi anak baik aja dulu biar dia care," saran Leo.
"Menurut loe gitu?" tanya Gavin.
"Tapi nanti Zea lari."
"Justru kalau loe kejar terus dia makin ngibrit, mengalir aja dulu nanti juga dia respect sama loe," ucap Leo.
"Bisa jadi omongan loe bener," jawab Gavin.
Setelah mendapat saran dari Leo, selanjutnya Gavin tidak lagi mengejar Zea tetapi bertingkah seolah dia sedang menjauh dan berusaha menjadi anak baik. Gavin tidak lagi membentak atau memalak anak anak lain yang lewat di depan tempat duduk merek dan kawan kawan. Justru dia bertingkah seperti anak baik dengan berteman dengan murid lainnya. Gavin juga mengenakan seragam sekolah dengan rapi setiap harinya.
********
Di Sekolah
"Ze, si Gavin napa bisa berubah ya?"
"Ya mana gue ngerti Ca."
"Lihat aja, dia nggak lagi jail sama anak anak yang lain."
"Ya udah mungkin dia tobat."
"Masa iya tobat secepat itu."
"Kenapa si Ca, orang mau baik dicurigai kalau jelek juga di hujat maunya apa?" ucap Zea heran dengan Caca.
"Ya nggak gitu, kalau beneran berubah sih syukur gitu lo."
"Ya udah doain aja dia benar benar berubah ya kan."
"Iya," jawab Caca.
Sepulang sekolah, David mengirimkan pesan bahwa tidak bisa menjemput Zea. Sementara itu, Caca sudah lebih dulu pulang. Hari itu, Zea pulang sedikit terlambat karena harus membersihkan kelas terlebih dahulu.
Ketika sampai di halte bus, rupanya bus tujuan rumah Zea sudah terlanjur lewat.
"Kenapa Ze?" tanya Gavin.
"Oh kamu, nggak kok," jawab Zea kaget yang melihat Gavin muncul entah dari mana.
"Oh tapi kenapa muka nya manyun gitu?"
"Aku mau pulang tapi bus nya terlanjur pergi, tadi sopir bus nya bilang kalau ada perubahan rute jadinya ya gini bus arah pulang kosong."
"Bareng aku aja yuk, aku juga mau ke daerah sana ada urusan," ucap Gavin berbohong.
"Nggak usah, malah jadi ngerepotin."
"Gapapa kan aku mau ke arah sana tapi aku cuma bawa motor. Gimana?"
Zea berpikir sejenak, bagaimana ya jika dia diantar Gavin. Dia memang sudah berubah jadi jauh lebih baik.
"Mungkin Gavin sudah tobat jadi tidak masalah jika aku pulang bersama dia," batin Zea dalam hati.
"Ze?" panggil Gavin membuyarkan lamunan Zea.
"Oh iya, boleh."
"Ya udah ayo."
Gavin seneng bukan main karena Zea mulai mau dekat dengan dirinya.
"Rencana Leo manjur haha," batin Gavin.
__ADS_1
___________________________________