Missing You : David

Missing You : David
31 Mulai Renggang


__ADS_3

David berbincang dengan Zea dan Aslan hingga jam 5 sore.


"Aku pulang ya," pamit David kepada Zea.


"Kok udah mau pulang?"


"Ya gimana udah mau petang. Besuk main lagi."


"Ya udah hati hati Vid," ucap Aslan.


"Siap kak," jawab David.


"Kenapa?" tanya David yang melihat raut wajah Zea yang tidak begitu senang.


"Nggak kok," jawab Zea polos dengan sedikit memaksakan senyuman.


Aslan yang paham memilih pergi ke kamar agar David dan Zea dapat berbincang.


"Aku naik dulu ya."


"Kenapa kak?" tanya Zea.


"Capek aja duduk, pengen rebahan."


"Owalah."


"Hati hati ya bro pulangnya."


"Siap," jawab David.


Setelah Aslan pergi, Zea justru berdiri dengan raut wajah datar.


"Ayo aku antar ke depan."


"Sini dulu yang," ucap David sambil menarik tangan Zea.


Zea menurut dan duduk di samping David.


"Kenapa marah? Aku nggak boleh pulang?"


"Nggak gitu kok, ayo aku anterin ke depan."


"Cie bohong malah ngusir," goda David sambil mencubit pipi Zea.


"Sakit," jawab Zea datar.


"Kenapa ada apa kok marah?"


"Nggak kok."


"Jangan bohong lah Ze, kita udah bareng nggak cuma sehari dua hari lhu. Aku tahu kamu lagi marah."


"Iya iya. Aku nggak marah kamu mau pulang. Tapi kan gini, kamu datang tiba tiba terus juga nggak jelasin niatnya apa. Aku tu mikir dari tadi lhu," jelas Zea.


"Owalah gitu to," jawab David manggut-manggut.


"Iyalah cukup TTS aja yang nyuruh mikir, kamu jangan."


"Bisa aja pacarku yang cantik ini, gemes banget pas marah kok masih bisa bercanda."


David kemudian mengelus rambut Zea pelan sambil menatap lekat wajah Zea.


"Maaf ya, aku nggak kasih kabar ke kamu selama aku ujian kemarin. Bahkan setelah selesai aku nggak langsung kasih kabar. Aku nggak mau kita berantem," ucap David bersamaan dengan memegang tangan Zea erat.


Zea menunduk, hatinya ngilu. Memang benar ketika David tidak memberi kabar, dia memikirkan hal hal yang buruk tentang David. Termasuk kemungkinan terburuk bahwa David sudah lupa dengan dirinya. Dia merasa bersalah karena tidak pengertian dan justru menuntut penjelasan dengan cara yang salah yaitu marah marah.


"Aku minta maaf, karena nggak pengertian dan marah nggak jelas," jawab Zea.


"Nggak kok, aku yang nggak kasih kabar. Dimaafin kan cantik?"


"Jelas lah, mana betah aku marah sama kamu," jawab Zea.


"Sini," pinta David sambil melebarkan tangan memberikan pelukan.


Zea menggelengkan kepalanya.


"Lah yang kenapa?" jawab David dengan muka cemberut.

__ADS_1


"Kamu jadi pulang kan?"


"Jadi."


"Ya udah pulang sok," jawab Zea polos.


"Hihh gemes," ucap David.


"Kan mau pulang to?"


"Iya, iya ya udah aku pulang ya. Makasih udah di maafin."


"Makasih juga udah datang ke rumah."


"Iya, niatnya mau ketemu ibu malah nggak ada."


"Ngapain ketemu ibu?"


"Caper dong haha," jawab David blak blakan.


"Nakal," ucap Zea.


"Iya iya, daaa."


"Da," jawab Zea sambil melambaikan tangan.


Muka Zea cemberut ketika mobil David sudah tidak terlihat di pelataran rumah. Sebenarnya dia merasa ingin bersama lebih lama. Apalagi tadi, ketika David datang dia lebih banyak berbicara dengan Aslan. Tapi tidak masalah, setidaknya kesalahpahaman sudah di selesaikan.


Zea kembali ke rumah mencuci piring dan gelas kotor sebelum akhirnya kembali menyelesaikan tugasnya tadi.


****


Tiga bulan berlalu, pengumuman kelulusan tiba.


David sudah berdiri di depan kelas bersama beberapa temannya yang juga menunggu. Zea melihat David dan beberapa teman perempuan kelasnya tengah berbicara sambil berdiri dan duduk di kursi depan kelas.


Zea hanya melewati mereka tanpa David melihat Zea. Dia hendak pergi ke kantin tapi harus melewati koridor yang melewati kelas David.


"Ze, kak David dekat ya sama Cimon?"


"Iya, temen sekelas," jawab Zea acuh.


"Nggak, kalau emang kak David suka sama aku ya nggak akan lari ke yang lain. Misal lari berarti emang udah ngga suka sama aku Sin. Ikhlas in," jawab Zea.


******


Tapi siapa sadar jika ucapan Zea hari itu harus diterima dia beberapa hari kedepan.


Setelah pengumuman kelulusan, David hanya mengabari Zea di jam makan, jam tidur dan bangun tidur. Sisanya tidak sama sekali. Bahkan David sering sekali keluar rumah bersama teman sekelas sekedar minum kopi.


Ada beberapa teman wanita juga disana termasuk Cimon, David juga menjadikan momen itu dalam SG miliknya. Zea merasa jika dia seperti di acuhkan oleh David. Terlebih dia takut David akan merasa nyaman dengan wanita lain.


"Lagi main ya kak?" tanya Zea ketika mengomentari SG milik David.


Dua menit kemudian, David baru memberikan jawaban atas pesan Zea tersebut.


Dav ❤️ :"Iya, tadi main sama temen. Maaf nggak bilang."


Zea yang membaca pesan dari David menahan pilu. Pikiran Zea sudah traveling ke mana mana. Bagaimana jika David pergi bersama wanita lain? Bagaimana jika David menjemput wanita lain? Bagaimana jika David duduk, dekat dengan wanita lain?.


Pikiran buruk Zea tentang David terus terusan menjajah isi kepala Zea.


Dav ❤️ :" Kenapa cuma di read aja syg?"


"Nggak kok, yaudah. Mau pulang jam berapa?" jawab Zea.


Dav ❤️ :" Nunggu bosen."


"Owalah 😂," jawab Zea.


Sebenarnya dia sudah merasa sedikit marah dimana David sama sekali tidak memberitahu dirinya akan pergi keluar. David berbeda semenjak sudah lulus SMA. Dia sering menghabiskan waktu bersama temannya dan tidak mengabari Zea kecuali ketika Zea bertanya terlebih dahulu seperti hari ini.


Dav ❤️ :"Iya gitu, syg udah makan?"


"Udah kok, kak David udah makan belum?"


Dav❤️:" Kok Kak sih yng? Kamu marah ya?"

__ADS_1


"Nggak kok, enak aja sopan," jawab Zea.


Dav❤️:" Bohong, Ss in nama ku apa coba sini lihat jangan jangan di rename Kak David."


"Iya."


Zea mengirimkan gambar yang diminta David tersebut.


Dav❤️:" Masih aman kok."


"Kenapa emang?"


Dav❤️:"Ya aneh lah yang. Kamu kan paling excited manggil aku sayang."


"Iya," jawab Zea cuek.


Dav❤️:"Otw pulang. Di rumah ada siapa?"


"Komplit kok," jawab Zea.


Dav❤️:"Ya udah aku pulang dulu ya."


"Iya, hati hati di jalan ya."


Zea kemudian menaruh ponselnya dan berlari ke kamar Aslan.


"Kak," ucapnya sambil menggedor-gedor pintu kamar Aslan.


"Napa sih Ze?" tanya Aslan.


"Kak, " ucap Zea dengan raut wajah seperti akan menangis.


"Ih kenapa, sini masuk."


"Kak, aku sama David udah mulai renggang."


"Kok bisa ceritanya gimana?" tanya Aslan.


Zea menjelaskan bagaimana dia bisa memutuskan bahwa hubungan dengan David mulai renggang. Zea bercerita bahwa David sudah jarang mengirimkan pesan secara intens bahkan kadang keluar tidak memberi tahu Zea.


"Terus udah coba nanya ke David?" tanya Aslan.


"Nanya apa?"


"Nanya kenapa dia beda oon. Is, is punya adik pinter tapi kok masalah hati rada rada deh."


"Ngejek terus sampai sukses."


"Ya ngga gitu Ze maksudnya. Minta penjelasan aja dulu sana."


"Tadi aku tu komen SG nya dia kak terus gini responnya."


"Mana?" tanya Aslan.


"Eh ketinggalan ponselnya, bentar."


Zea berjalan ke kamarnya mengambil ponsel. Tapi siapa sangka jika Aslan sudah mengekor di belakang Zea.


"Mana lihat?" ucap Aslan di belakang Zea.


"Ih kaget. Ini kak."


Aslan membaca pesan terakhir dari David dan Zea tadi. Setelah selesai, Aslan memasang raut wajah kesal.


"Kenapa kak?"


"Kaya gini dik maksud mu renggang?"


Zea mengangguk pelan. Sementara Aslan hanya menggelengkan kepalanya heran dengan penafsiran adiknya. Menurut pemahaman Aslan, David sedang senang keluar dengan temannya. Tetapi dia juga berusaha menjaga hati Zea. Melihat Zea sedikit cuek, David memilih untuk pulang. Artinya David ada niatan untuk berbaikan dengan Zea.


"Dik, dengerin kakak ya. Kalian butuh ketemu udah itu aja. Toh David masih manggil sayang, terus lihat kamu bales cuek juga pilih pulang artinya dia udah usaha. Sisanya kalian ketemu ngomong yang baik baik," jelas Aslan.


Zea menunduk memikirkan saran kakaknya seperti bagus untuk di coba.


____________________


Selamat membaca ☺️

__ADS_1


Salam hangat dari Missing You David ❤️


__ADS_2