
Jordan
****
Setelah kejadian hari itu, David menjadi lebih tenang karena Jordan bisa dipercaya mengawasi Zea. Di sisi lain, Zea mulai sibuk mengikuti perkuliahan dan melupakan kejadian malam itu. Kevin datang bersama Mateo untuk meminta maaf atas perlakuanya hari itu dan Zeana sudah memaafkan.
Tanpa disadari hari berlalu cukup baik. Sesekali Zea mengirimkan kabar kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya baik baik saja.
****
Zeana POV
Hari ini langit terlihat mendung, tapi aku tidak membawa payung. Ku tinggalkan payung ku di kamar.
“Huh, karena bebal aku tidak mengikuti saran Wendi untuk membawa payung,” keluh ku sendiri.
Tanpa pikir panjang, aku berjalan melewati taman perpustakaan untuk menuju gedung perkuliahan di seberang gedung perpustakaan. Jalan ini sepi dan tidak banyak orang yang lewat. Mungkin karena mendungnya sangat gelap bahkan ada kilat yang terlihat jelas. Berjalan cepat dengan harapan segera sampai, justru hujan deras mengguyur tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Kesan dan kaget, reflek diri aku berlari menuju samping gedung di kanan jalan. Gedung pskikologi milik anak jurusan kedokteran psikologi. Aku berteduh di gedung itu dengan pakaian yang sudah setengah basah kuyup.
“Pakai ini,” ucap seorang pria bertubuh tinggi sambil mengulurkan payung berwarna hitam kepada ku.
“Kamu,” ucap ku sambil menunjuk.
Laki-laki itu hanya menaikkan satu alisnya dan pergi meninggalkan payung itu disampingku. Tanpa basa-basi dia pergi meninggalkan gedung psikologi dengan satu payung miliknya yang lain. Dalam ingatan ku terpampang jelas jika laki-laki itu adalah laki-laki yang sama yang tiba-tiba memperkenalkan dirinya kepada ku di taman.
“Oh iya, aku ingat Jordan,” ucapku.
Tanpa ku sadari aku tersenyum dan melanjutkan langkahku menggunakan payung yang diberikan oleh Jordan tadi.
**
Semenjak hari itu, setiap hari aku menjadi lebih sering bertemu dengan Jordan. Sesekali dia membantu ku ketika aku sedang kesusahan. Entah datangnya dari mana dia akan datang ketika aku membutuhkan. Walaupun tidak setiap saat. Akhirnya aku dan Jordan pun berkenalan dan bertukan kontak. Sesekali ketika istirahat makan siang kami menghabiskan waktu untuk makan bersama di kantin atau membaca buku di perpustakaan.
**
“Jadi, kamu mahasiswa jurusan manajemen di sini?”
“Iya,” jawab Jordan singkat.
“Tapi sepertinya kamu lebih banyak waktu santai daripada kuliah,” ucapku lugas.
__ADS_1
“Terkadang iya, tapi memang dirimu memperhatikan ku setiap saat tidak kan.”
“Iya iya, oh iya, Jordan pertama kali bertemu kamu memanggil namaku. Dari mana kamu tahu namaku?”
Jordan terdiam dan tidak menjawab. Dirinya memainkan lembar buku dengan membolak balik halaman berkali kali. Seperti seseorang yang sedang gelisah Jordan masih terdiam dan tidak menjawab. Tanpa jawaban dalam beberapa saat, Jordan memilih pamit pergi karena masih ada kelas.
“Oh iya, hati-hati,” ucapku.
Jordan hanya mengangguk dan pergi meninggalkan ku di perpustakaan sendirian.
***
Jordan tersadar, selama beberapa waktu ini dirinya dekat dengan Zea hampir melupakan bahwa tugas utamanya adalah menjaga Zea bukan untuk dekat dengan Zea. Jordan nyaris lupa bahwa semua ini adalah milik David. Demi David dia mau menjaga gadis kecil itu, siapa yang memberinya tugas dan memberi tahu nama Zea adalah David. Bahkan karena terlalu asik dengan Zea, Jordan sampai lupa memberikan informasi kepada David keberadaan Zea. Hal ini tidak bisa diteruskan, karena jika Jordan menyukai Zea maka dia akan sangat tidak tahu diri dan tidak cukup nyali untuk bertemu dengan David.
“Aku tidak boleh begini, Zea milik David. Begitu juga dengan diriku, tidak pantas jika aku mengharapkan milik seorang yang memberiku kehidupan seperti hari ini,” ucap Jordan pada dirinya sendiri.
**
Semenjak Jordan meninggalkan Zea di perpustakaan hari itu, dia tidak lagi datang menemui Zea. Jordan hanya mengawasi dari jauh mengingat bahwa mereka harus menarik garis dari wanita milik David. Sesekali Zea menanyakan keberadaan Jordan, namun jawabannya sama yaitu selalu ada kesibukan setiap Zea meminta waktu dan bertanya kenapa jarang ketemu.
Zea mulai merasakan kehadiran Jordan berarti dalam kesehariannya. Namun, di saat itu Jordan justru menghilang tiba-tiba.
“Oh iya, ada apa?”
“Are you okay? Kamu melamun dari tadi.”
“I’m Oke,” jawab Zea sambil membulatkan jari jempol dengan telunjuk mengisyaratkan kata oke.
Wendi mengangguk dan membiarkan Zea tetap melamun di dekat jendela asrama. Sesekali Wendi menoleh kearah Zea untuk memastikan apakah benar Zea baik-baik saja.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Jordan. Zea berlari ke arah gawai miliknya dan membuka isi pesan dari Jordan.
“Temui aku di restoran Wei dekat toko kue kesukaan mu.”
Tulis Jordan dalam pesan lengkap dengan titik. Zea membalas dengan cepat bahwa ia akan datang menemui Jordan.
Zea senang bukan main melihat isi pesan dari Jordan yang mengajaknya untuk bertemu. Bergegas dirinya berganti pakaian dan berdandan untuk bertemu dengan Jordan.
“Mau kemana Ze?” tanya Celine.
__ADS_1
“Aku keluar sebentar ada perlu dengan seseorang.”
“Oh hati-hati Ze, jangan pulang malam-malam ya,” pinta Celine.
“Tenang saja aku pasti pulang sebelum jam malam berakhir.”
Setelah siap, Zea pergi meninggalkan kamar asrama menuju restoran yang di sampaikan Jordan. Di sana, Zea disambut oleh pelayan dan diantarkan menuju meja yang sudah dipesan atas nama Jordan.
“Silakan,” ucap pelayan perempuan tersebut.
Di meja yang di pesan Jordan masih kosong. Meja ini terletak di luar dekat bagian taman dekat dengan pohon Zaitun dan beberapan tanaman bunga yang indah. Hanya ada satu meja dengan dua kursi di tempat itu. Zea terpukau dengan tata dekorasi taman dan meja yang dipesan Jordan. Menunggu beberapa saat hingga Jordan datang, Zea memilih duduk sambil melihat lihat menu restoran yang tersedia.
“Zeze,” panggil seseorang dari arah belakang.
Suaranya nampak tidak asing, suara laki-laki yang khas dan lama dia rindukan itu. Rasanya kaki Zea kaku, tubuhnya sulit untuk bergerak menengok ke belakang. Jelas dalam ingatan Zea itu adalah suara laki-laki yang sangat dia kenal. Seseorang yang cukup lama mengisi hatinya, mempengaruhi emosi dan laki-laki pertama yang membuatnya kecewa karena harapan.
David datang sambil membawa sebuah kotak hadiah yang cukup besar dan tertutup rapi. Berjalan dengan lambat menghampiri Zea dan berlutut di samping kursi Zea seraya berkata, “Ze, kamu apa kabar?” tanyanya sambil menaruh kotak hadiah itu di sampingnya.
Zea masih tertunduk kaku dan membisu, entah apa yang terjadi tapi rasanya tubuhnya membeku begitu saja.
“Ze, kamu kenapa diam aja?” tanya David lagi.
“Kenapa datang? Aku baik-baik saja tanpa kamu,” jawab Zea dengan suara sendu.
“Maaf aku datang terlambat, hari itu kamu sudah terlanjur naik pesawat dan ada beberapa hal yang tidak bisa ku tinggalkan. Itu mengapa aku baru datang hari ini.”
Zea menoleh kearah David dengan raut wajah emosi dan kesal, Zea berkata “kamu datang ke bandara? Siapa yang memberitahu?”
“Apakah itu penting?” tanya David.
“Sangat penting, kau tahu betapa aku bersusah payah pergi dari hidupmu tapi kamu justru datang dengan mudahnya.”
Zea langsung memalingkan, teringat jelas dalam ingatannya bagaimana foto itu diambil. David mengenakan celana selutut dengan kaos putih dan Maya yang hanya mengenakan dress bunga sangat pendek dan seksi berfoto diantara mereka. Melihat muka David mengingatkannya akan foto itu. Rasanya air mata Zea tidak terbendung lagi, tapi dengan sekuat tenaga dia berusaha membendung agar tidak sebutir pun menetes di pipi.
“Aku datang karena aku merindukanmu Ze, kamu pergi begitu saja bahkan Denis mengatakan bahwa kamu tidak lagi menginginkan nama ku di panggil. Kenapa? Salah ku apa?” tanya David.
Zea memilih tetap diam karena dia tahu jika dia mengatakan sesuatu maka suaranya akan terlihat serak, air mata pun bisa saja mengalir jika dia mengatakan sepatah kalimat sekalipun.
*******
__ADS_1
Bersambung>>>>>>>>