Missing You : David

Missing You : David
76. Pesan Terakhir


__ADS_3

"Kamu akan pergi keluar negeri?" tanya Zea.


Emily hanya diam tidak menjawab, dia terlihat gemetar memegang cangkir di tangan.


“Tidak perlu dijawab jika berat, hari ini nikmati saja seolah kita hanya hidup untuk hari ini,” ajak Zea.


Emily terlihat mengangguk dengan senyum sayu. Keduanya langsung duduk berdua dan mulai bercerita satu sama lain. Dimulai dari Emily terlebih dahulu.


“Aku ingin meminta maaf Ze, maaf karena berusaha merebut Harry dengan cara yang salah.”


Zea menggelengkan kepala, Tidak apa-apa, aku dan Harry tidak berpacaran. Jika kamu memang menyukai Harry, aku bisa mengalah.”


Emily lantas menyentuh kedua tangan Zea dan berkata, “Tidak, jaga Harry dengan baik. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Selamanya.”


Zea merasa aneh, tapi dia mengabaikan kalimat itu. Tidak ingin terus-terusan membahas tentang laki-laki. Keduanya balik membahas tentang pekerjaan dan keluarga.


“Oh iya, kata Tasya teman kantormu mengganggumu?” tanya Zea polos.


“Tttidak kok, mereka hanya penasaran saja.”


“Kamu yakin Lily?.”


Emily mengangguk dan mengganti pembicaraan menjadi ke ranah keluarga.


“Oh iya, kamu ke rumahku tadi?.”


“Iya Lily, tapi kamu tidak ada disana.”


“Aku menunggu mu tadi.”


“Disini?” tanya Zea kaget.


“Iya.”


“Astaga, kenapa tidak menelpon ku.”


“Aku malu,” jawab Emily jujur.


Zea menatap Emily iba, dan langsung memeluknya.


“Aku akan ada disisimu, kamu tidak sendiri Lily,” kata Zea tulus.


Emily mulai menangis dan menaruh gelas itu, dia mulai bercerita tentang semua beban hidupnya selama ini.


**Emily POV


Aku adalah putri tunggal dari Kim Sarah, wanita sempurna dengan segudang prestasi dan kekayaan. Ayahku adalah seorang pengusaha yang meninggal di usia muda karena serangan jantung. Waktu ayahku meninggal, aku berusia 7 tahun.

__ADS_1


Ibu bilang ayah meninggal karena serangan jantung, tapi pada waktu kejadian. Aku melihat dari lemari pakaian ibu waktu itu.


Kala itu, sepulang sekolah aku bermain dengan anak pembantu. Tanpa sengaja bersembunyi di lemari ibuku. Disana, aku diam menunggu sampai Natasha datang mencari ku. Bukan Natasha yang datang, aku justru mendapati ibuku dan ayah ku bertengkar.


Waktu itu, ayah masuk dan membanting jas miliknya. Ibu juga masuk dan dengan kesal mengomel.


“Burhan, kamu lupa bahwa aku membantu usahamu sebesar sekarang.”


“Aku tidak lupa Sarah, aku tidak pernah melupakan itu. Tapi, kamu istriku. Apa pantas tidur bersama seorang sopir?.”


“Kenapa kamu percaya dia dibandingkan istrimu? Bisa saja foto itu hanya tipuan.”


“Dasar wanita murahan, berani kamu tetap bohong,” kata ayah yang sudah sangat murka.


Ibu yang tidak terima mendorong ayah hingga terbentur bagian pinggir ranjang, dan entah kenapa ketika ibu mengatakan kata-kata kasar, ayah justru jatuh dan memegang dadanya kesakitan.


Kalimat yang ibu ucapkan adalah, “Iya, aku adalah wanita murahan yang kamu nikahi demi bayi yang ada dalam perutku. Tapi tahukah kamu bahwa dia bukanlah putri kandungmu.”


Aku ingat jelas bahwa ibu mengatakan kalimat itu dan ayah sangat kaget hingga terkena serangan jantung dan tidak terselamatkan. Sejak hari itu, aku sangat membenci ibuku. Walaupun aku tahu ayah Burhan bukanlah ayah biologis ku. Tapi, dia berusaha mati-matian membesarkanku.


Semenjak ayah meninggal, ibu semakin sukses dan semakin jarang pulang. Hingga akhirnya aku semakin kurang kasih sayang. Dia tidak mengakuiku, dia juga tidak pernah membawa ku bertemu dengan rekan ataupun keluarga ibu.


“Itulah alasanku sangat membenci ibuku,” kalimat terakhir di penghujung cerita yang mengiris hati ini.


Zea menangis tanpa suara, dia langsung memeluk erat sahabatnya dan menenangkan Emily. Dia tidak mampu membayangkan betapa pedihnya anak seumuran dia, sekecil itu melihat ayah dan ibunya bertengkar bahkan mendapati fakta bahwa dia bukanlah anak kandung dari ayah yang sangat dia cintai.


Setelah bercerita dan merasa lega, keduanya memilih membersihkan diri. Emily mandi di kamarnya yang dulu dia pakai dan mengenakan pakaian Zea. Sementara Zea, mandi di kamar dan memesankan makanan untuk Emily.


“Makan malam mu datang,” ucapnya mengantarkan di depan kamar Emily.


“Terima kasih Zea, sampai bertemu lagi,” ucap Emily dengan mata sayu yang tidak Zea pahami apa maksudnya.



Keesokan harinya, keduanya pergi kerja. Emily berangkat kerja untuk mengundurkan diri, sementara Zea berangkat kerja seperti biasanya.


Pada jam makan siang, Emily tidak terlihat ada di kantor. Tapi, Zea merasa ada yang aneh. Sebelumnya Emily berkata bahwa dia berterima kasih atas sarapan terakhir yang Zea buatkan untuk dirinya tadi pagi.


Kata “terakhir,” membuat Zea terus merasa tidak tenang.


Drrt***


“Harry,” ucap Zea spontan saat melihat ada panggilan masuk dari Harry.


“Halo, ada apa Harry?” tanya Zea.


“Kamu sudah membaca berita belum?.”

__ADS_1


“Belum ada apa memangnya?.”


“Ibu Emily ditangkap atas tuduhan pembunuhan suaminya dan kasus penggelapan dana di kementerian.”


“Apa? Kamu yakin?.”


“Iya, aku yakin. Berita ini baru saja terbit, apakah kamu bersama Emily sekarang?.”


“Tidak Harry.”


“Lebih baik kamu segera mencarinya Ze, ini bukan berita yang baik untuk Emily.”


“Iya, nanti aku akan mencarinya.”


Zea yang khawatir langsung berdiri dari duduknya dan membereskan makan siangnya. Tiba-tiba dia melihat Tasya berlari ke arahnya.


“Zea, Emily,” teriaknya dengan nada tergesa-gesa.


“Ada apa?” tanya Zea ikut panik.


Seisi ruangan itu ikut tegang dan rupanya Emily ditemukan Office boy di kamar mandi dalam keadaan tidak sadarkan diri dan mulut berbusa. Nadinya lemah dan langsung dilarikan ke rumah sakit.  Untung saja jarak rumah sakitnya dekat, sehingga segera bisa dikondisikan.


Zea yang khawatir meminta izin kepada Robert dan diizinkan untuk pergi ke rumah sakit. Sehingga dia pergi bersama Tasya.


Sesampainya disana, Harry berdiri di depan ruang operasi berbincang dengan seorang dokter dengan pakaian operasi.


“Harry,” teriak Zea.


Harry langsung menghentikan obrolan dengan dokter itu dan bergegas menghampiri Zea.


“Bagaimana keadaan Lily?” tanya Zea dengan nada panik.


“Dia akan baik-baik saja,” ucap Harry meyakinkan.


Walaupun Harry tahu sekali peluang Emily bisa sembuh itu sangat sedikit. Karena dia meminum racun dan sepertinya sudah menjalar ke seluruh tubuh. Racun itu bisa saja merusak organ dalam dan memungkinkan pasien meninggal dengan cepat.


**


Zea memilih menunggu di depan sendiri, Tasya harus kembali kerja dan Harry juga harus mengurus pasien yang lain.


Satu jam di dalam ruang operasi, dokter keluar dengan raut wajah sedih.


“Kami sudah berusaha yang terbaik hanya saja racun di tubuhnya menjalar dengan cepat dan merusak organ. Kita doakan saja yang terbaik untuk pasien,” kata dokter kemudian berpamitan.


Zea menangis tersedu-sedu dan tidak bisa mengendalikan diri. Baru kali ini dia menangis dengan suara seperti itu. Harry yang entah muncul dari mana langsung memeluk Zea.


“Hei, It’s okay, everything's gonna be okay,” kata Harry menenangkan.

__ADS_1


__ADS_2