Missing You : David

Missing You : David
20 Belum Sempat


__ADS_3

Desi menjelaskan bahwa kondisi Kakek memburuk. Jadi bapak, ibu Zea beserta orang tua Desi pergi ke rumah sakit memeriksakan Kakek.


Zea mendengar kabar itu sontak kaget. Tadi pagi ketika sampai kakek masih baik baik saja. Selain itu, ibu tidak memberi tahu bahwa kondisi Kakek sedang tidak baik.


"Memangnya kakek sakit apa Des?"


"Maaf Ze, sebenarnya seminggu yang lalu kakek jatuh ketika sedang memberi makan kambing. Karena jatuh itu berpengaruh pada kondisi tubuh kakek. Kamu tahu Ze, kakek sudah berumur jadi lebih rentan dibandingkan yang masih muda."


Zea terdiam mendengar penjelasan Desi. Seperti merasa dibohongi, itu yang dirasakan Zea. Sudah pasti Zea merasa seperti itu, karena ketika sampai di desa tidak ada satu orang pun yang memberitahukan keadaan kakeknya. Bahkan kakek tersenyum dan bertindak seperti biasanya. Menyambut dan memeluk Zea bahkan tidak sedikitpun terlihat raut wajah orang sakit atau lesu dari wajah kakek.


"Kenapa baru bilang? Ketika sampai aku hanya menyapa kakek dan pergi ke kebun. Betapa tidak perhatiannya aku sebagai cucu," ucap Zea sedih.


Zea kemudian memencet tombol di keyboard di ponsel miliknya mengirimkan pesan singkat kepada Aslan tentang kondisi Kakek.


Aslan kemudian menelpon Zea meminta agar Zea tenang dan menunggu saja di rumah bersama Desi. Fadlan dan Aslan akan menyusul ke desa nanti sore dengan mobil.


Zea kemudian menurut kepada Aslan untuk menunggu di rumah bersama Desi. Mereka kemudian masuk ke rumah untuk membersihkan diri dan memasak makan malam.


******


Pukul 7 Malam


Zea mondar mandir menunggu kedatangan ayah dan ibu bersama kakeknya. Desi memilih duduk di sofa daripada menghabiskan tenaga seperti Zea berjalan mondar mandir.


Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Zea berlari kedepan membuka pintu. Sayang sekali rupanya itu kedua kakaknya yang datang. Fadlan datang bersama Aslan mengendarai mobil sedan.


"Assalamualaikum," sapa Aslan.


"Waaalaikumsalam," jawab Zea lesu.


"Lah kamu kenapa dik?" tanya Aslan.


"Bukan apa apa kak."


"Mas Aslan dan mas Fadlan datang berdua. Sudah makan belum mas?" tanya Desi.


"Sudah Des, tadi pulang kerja mas Fadlan membawakan nasi kotak jadi kami sudah makan malam tadi."


"Oh baiklah, sini tak bantu mas," jawab Desi sembari turun membantu Fadlan menurunkan kardus berisi makanan.


Zea mematung di teras dan justru tidak membantu.


"Kamu kenapa dik?" tanya Fadlan.


"Tida tahu itu mas, Zea kaya patung bukanya bantuin," tambah Aslan yang membawa tas berisi pakaian.


"Hm, sini tak bantuin," jawab Zea tidak bersemangat.


Entah mengapa hari itu Zea seperti kecewa kedua kakaknya datang. Bukan karena dia tidak suka, tapi Zea mengharapkan jika yang datang adalah mobil pamannya yang membawa pulang kakeknya.


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Aslan menaruh ransel di kamar tamu sebelah kiri bersama dengan ransel milik Fadlan.


Sedangkan Fadlan bersama Zea dan Desi membawa barang ke dapur.


"Tadi dari rumah jam berapa kak?" tanya Zea.


"Jam 5 dik dari rumah tapi mampir mampir dulu tadi."


"Owalah, ngga mau makan lagi kak?"


"Ngga Ze, kakak udah makan tadi. Kamu sama Desi sudah makan?"


"Kalau Desi sudah mas, Zea belum. Dia ngga mau diajak makan. Katanya nunggu pakde sama budhe datang."


"Hmm, Ze kamu ngga boleh nakal. Makan itu wajib. Bapak sama ibu baru jagain kakek di rumah sakit."

__ADS_1


"Ze ngga nakal kak, Zea cuma nunggu ibu sama bapak kok. Nanti kalau mereka pulang ya Zea juga makan," jawabnya cemberut.


"Itu salah dik, makan ya makan. Kamu yang paling tahu kondisi tubuh mu. Kalau lapar ya makan tidak perlu menunggu siapa pun," jelas Fadlan lembut sambil membelai rambut adiknya.


"Iya kak iya."


"Nah begitu, sekarang ayo makan."


"Zea bisa makan sendiri kak."


"Ya sudah kamu makan, kakak mau istirahat di ruang tamu."


"Gitu to Ze dari tadi. Mas Fadlan mau wedhang jahe?"


"Boleh Des, kayaknya enak juga."


"Ya sebentar mas."


Desi membuatkan Fadlan minuman khas di desa. Sementara Zea makan, Desi menemani sambil membuat minuman.


"Ini mas wedhang jahe nya," sambil menyodorkan minuman di nampan.


"Makasih Des," ucap Aslan.


"Makasih Des," ucap Fadlan.



"Adikku mana Des?" tanya Aslan.


"Masih di dapur, mungkin Zea masih makan."


"Kamu yakin dia makan?"


"Makam mas, setelah di bilangin mas Fadlan tadi Zea langsung makan."


"Jelas ngga to As, mana tega aku marah sama Zea."


Setelah beberapa saat Zea datang ke ruang tamu.


"Makan mu sudah dik?" tanya Aslan.


"Sudah kak," jawab Zea lesu.


"Kamu habis nangis ya Ze?" tanya Desi.


"Kenapa dik?" tambah Aslan.


Mereka menoleh ke arah Zea yang duduk denagn mata merah. Jelas sekali bahwa Zea habis menangis.


"Kenapa dik?" tanya Aslan sekali lagi.


"Tadi bapak bilang jangan nakal minta rumah dikunci soalnya kakek harus dirawat di rumah sakit."


"Terus kamu nangis?"


Zea mengangguk seperti anak kecil. Aslan menabuk kepalanya heran dengan tingkah adiknya.


"Astaga dik, kakek tu udah 90 tahun lebih dik wajar beliau sakit harus di rawat inap. Jadi kamu jangan nangis. Bisa bisa kamu dikit dikit nangis kalau jadi Desi yang merawat setiap hari," ucap Aslan memberi Zea pengertian.


"Mas Aslan bener Ze, lihat aku. Kita sebagai cucu wajib mendoakan. Sisanya sudah ada yang menentukan, toh bapak ibu pakde sedang berusaha yang terbaik untuk kakek Ze. Kamu jangan dikit dikit nangis. Dah dah cup cup," tambah Desi yang kemudian memberi Zea pelukan hangat.


"Sudah Zea dan Desi tidur saja di kamar. Biar kami yang menjaga di sini."


"Kamu benar mas, ayo Ze kita ke kamar."

__ADS_1


Zea dan Desi pergi ke kamar untuk beristirahat.


******


Di kamar


Zea melihat layar ponselnya nyala.


"Kak David," ucap Zea.


"Siapa Ze?" tanya Desi.


"Teman ku di kota."


"Owalah begitu to."


"Aku angkat telepon dulu ya Des."


"Heem sana."


Zea menepi ke dekat jendela untuk menerima panggilan masuk dari David.


Dalam panggilan..


πŸ“ž:"Ze?"


πŸ“ž:"Iya kak?"


πŸ“ž:"Maaf sebelumnya, aku mengganggu ya?"


πŸ“ž:"Tidak kak ada apa?"


πŸ“ž:"Perasaan tidak enak kamu buru-buru menutup telepon ku tadi."


πŸ“ž:"Owalah maaf kak, tadi aku mencari ibu dan bapakku ternyata mereka pergi ke rumah sakit. Jadi aku buru buru mematikan teleponnya kak, maaf."


πŸ“ž:"Astaga, siapa yang sakit Ze?"


πŸ“ž:"Kakekku kak."


πŸ“ž:"Kakek?"


πŸ“ž:"Iya kak, jadi waktu kakak sedang di luar negeri aku pergi ke desa menjenguk kakekku."


πŸ“ž:"Owalah jadi kamu sedang tidak ada di rumah Ze?"


πŸ“ž:"Benar kak, aku sedang ada di rumah sepupu ku di desa."


πŸ“ž:"Ya sudah, semoga Kakek mu cepat sembuh ya Ze."


πŸ“ž:"Aamiin kak."


πŸ“ž:"Aamiin."


πŸ“ž:"Ya sudah kita akhiri dulu teleponnya. Selamat malam Zeze."


πŸ“ž: "Iya kak, Terimakasih. Selamat malam kak David."


Setelah David menutup teleponnya. Dia sedikit kecewa karena kali ini dia harus batal bertemu Zea kembali. Lagi lagi David harus mengundur pengakuan dirinya.


Padahal setelah menelpon tadi siang, David segera memesan tiket untuk pulang. Dia mengira Zea kecewa makanya menutup cepat panggilan darinya.


"Sayang ya Ze, harus di undur lagi," ucap David sambil menyimpan kotak perhiasan ke dalam laci.


David memang membelikan Zea sebuah kalung cantik yang sengaja akan diberikannya nanti ketika dia mengakui perasaannya dan siapa dia di dalam game.

__ADS_1


Kalung sengaja dipesan khusus oleh David untuk diberikan kepada Zea seperti hadiah yang diberikan kepada Zea di dalam game.


Tapi sayang, selalu banyak kesempatan yang terbuang begitu saja. Mungkin David harus lebih sabar lagi.


__ADS_2