Missing You : David

Missing You : David
41 Bertanggung Jawab


__ADS_3

Assalamualaikum Bu," ucap Desi sambil mengetuk pintu.


"Waaalaikumsalam nak masuk," jawab Ibu.


Fadlan datang sambil membawa oleh oleh yang dibeli, buah dan sebuah cincin. Sebenarnya Fadlan memang sengaja mengajak Desi untuk melamar Desi namun sayang sekali hal buruk beruntun menghancurkan rencana tersebut.


Padahal Fadlan sudah memesan kue dan meminta restoran di hotel mempersiapkan makan malam romantis. Tapi sekarang bukan saatnya menyesali. Hari ini Fadlan harus mengambil langkah sedikit lebih berani untuk bertemu dengan orang tua Desi untuk membicarakan hal yang sudah terlanjur terjadi kemarin malam.


"Ada apa nak Fadlan datang ke rumah? Bukannya kalian harusnya pulang lusa bukan sekarang?" tanya Pak Arif bapak Desi.


"Benar pak, kami memang sengaja mengajukan jadwal kepulangan kami karena ada hal yang ingin dibicarakan dengan bapak."


"Ada apa nak Fadlan? Kenapa mukanya seperti tegang begitu?"


Fadlan kemudian duduk bersimpuh di depan Pak Arif dengan wajah tertunduk ke tanah.


"Maafkan saya pak, saya telah melukai hati bapak dan ibu."


"Lhu apa ini maksudnya nak?" tanya Bu Ratna ibu Desi.


Fadlan kemudian menjelaskan bahwa dia dan Desi telah tidur bersama. Fadlan meminta maaf dan meminta restu kepada kedua orang tua Desi untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi.


Desi melihat raut wajah Fadlan yang menangis di depan kedua orangtuanya menjadi merasa bersalah. Dia memutuskan untuk bersuara. Tanpa aba aba Desi langsung menceritakan semua kejadian dari mantannya yang memberikan minuman dan Fadlan yang mencoba membantunya dengan memasukkan Desi ke bathub. Namun, Fadlan langsung menghentikan Desi untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia tidak ingin Desi menyakiti hati Bu Ratna bila tahu putrinya sudah mengambil inisiatif lebih dahulu.


"Jangan Des," ucap Fadlan.


"Tidak, jangan sampai ada salah paham. Kamu lelaki yang baik jangan sampai bapak dan ibu ku salah paham."


"Tidak Des, cukup. Kita melakukannya berdua dan aku sebagai laki laki yang akan bertanggung jawab."


Ibu menangis mendengar pengakuan Desi dan Fadlan. Sementara bapak hanya diam saja dengan raut wajah santai.


"Kumohon," pinta Desi.


"Sudah sudah," ucap Bapak.


"Biak pak," jawab Fadlan.


"Berdiri kamu nak Fadlan," pinta bapak.


Fadlan hanya mengiyakan dan berdiri sesuai perintah. Terlihat jelas jika mata lelaki tampan itu tengah sendu akibat menitikkan air mata. Bapak hanya menganggukkan kepalanya.


"Saya terima pinangan mu nak, silahkan bawa kedua orang tua mu untuk datang bertemu membahas acara pernikahan kalian. Saya harap secepatnya."


"Baik pak terimakasih," jawab Fadlan.


Ibu Desi masih syok dengan mata nanar mendengar pernyataan yang diutarakan Fadlan dengan terang terangan. Desi masih menangis malu sambil menunduk.


"Maafkan Desi, pak".


"Tidak apa apa nak, sebagai gantinya kalian harus bertanggung jawab dan mengganti semua yang sudah terlanjur itu dengan bertanggung jawab".


"Baik pak," jawab Desi.


"Maafkan saya pak, saya gagal menjaga Desi," ucap Fadlan.


"Tidak perlu dipermasalahkan lagi, sekarang lebih baik nak Fadlan pulang dan bertemu keluarga mu".


"Baik pak kalau begitu saya pamit undur diri, besuk pagi saya akan datang bersama dengan orang tua saya".


"Saya tunggu nak, hati hati di jalan".


"Baik pak."


Fadlan bangkit dan mencium tangan pak Arif dan ibu Desi. Desi dengan mata berbinar mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Fadlan. Fadlan menggapai uluran tangan Desi dan pergi meninggalkan ruang tamu.


Pak Arif mengantarkan Fadlan hingga ke depan rumah.


"Saya pamit pulang pak, assalamualaikum".


"Waaalaikumsalam nak, hati hati di jalan".


"Baik pak".


**


Flasback off

__ADS_1


Fadlan pulang ke rumah dengan wajah lesu membawa barang bawaannya.


"Sudah pulang mas?" tanya Zea.


"Iya dik, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Ibu.


"Sudah pulang kamu Lan, katanya menginap sampai besuk?"


"Iya buk, ada urusan penting, bapak dimana bu Fadlan mau bicara."


"Oh iya, sebentar bapakmu sedang ke ladang."


"Oh begitu, ya sudah nanti saja bu."


"Ada apa to nak, mbok bicara sama ibu terus kenapa mukamu lesu begini?" tanya ibu.


"Bukan apa apa kok bu. Kebetulan saya capek saja dari perjalanan jauh, saya permisi bu mau ke kamar."


"Oh iya, setelah itu turun ya Lan, kita makan."


"Baik bu."


Fadlan pergi meninggalkan ibu dan Zea dibawah. Zea merasakan bahwa hari ini mood kakaknya tidak seperti biasanya. Seburuk apapun itu masalahnya, kakaknya tidak akan pernah membuat ibunya gelisah. Tapi hari ini berbeda.


"Mas Fadlan kenapa ya bu?"


"Tidak tahu Ze, mungkin capek saja."


"Oh begitu rupanya."


γ€€


"Iya, sudah sana kamu bantuin ibu ke dapur saja. Ibu mau panggil kakakmu biar jagain warung sebentar."


"Iya bu, Zea ke dapur duluan ya."


Mencoba untuk berpikir positif, Zea memutuskan untuk pergi ke dapur memasak sayur dan ayam yang sudah disiapkan ibunya.


Makan malampun tiba, semua orang berkumpul di ruang makan untuk menyantap masakan Zea dan Ibu.


"Ya iyalah siapa dulu toh, Zea gitu luh," ucao Zea menyombongkan diri.


"Iya iya," jawab Aslan.


"Sudah kalian makan jangan berisik ya," ucap bapak.


"Siap pak, selamat makan."


"Selamat makan."


Selesai makan, mereka duduk di ruang tamu. Setelah makan adalah giliran Aslan dan Zea mencuci piring. Fadlan mengajak bapak untuk berbincang di ruang tamu. Sementara ibu sedang membuatkan teh dan membawakan buah untuk sekeluarga.


"As, bawa adikmu pergi belanja martabak sana ya," pinta bapak dengan raut wajah serius.


Fadaln sudah tertunduk tanpa ekspresi di kursi raung tamu. Ibu di samping Fadlan dan bapak nampak cangung ketika melihat kedua anaknya datang setelah mencuci piring.


"Ini As, bawa ATM mas sekalian belikan pakan ikan lele bapak ya," ucap Fadlan sembari menyodorkan ATM.


"Oh siap mas, ya sudah ayo Ze ikut mas beli pakan dan martabak."


"Lhu kan kita habis makan masak mau beli makanan lagi," tanya Zea polos.


"Iya kamu udah makan, ikannya bapak belum. Nanti kalau lelenya kelaparan gimana? Kamu ndak kasihan?"


"Ya kasihan no mas, yaudah ayo. Ze ambil jaket dulu."


"Okedeh jangan lama ya."


Setelah mengambil jaket, Zea pergi bersama dengan Aslan menuju tempat penjual pernak pernik ikan hias dan tukang martabak. Mengetahui sepertinya ada sesuatu yang penting hingga akhirnya Zea dibawa pergi. Aslan memilih jalan terjauh agar perjalanan mereka lebih lama.


"Kenapa Lan?"tanya bapak.


Fadlan langsung berlutut di kaki bapak sambil menangis.


"Ada apa to nak?" tanya ibu.

__ADS_1


Fadlan masih menangis, dengan raut wajah sedih. Fadlan menjelaskan semua yang tejadi dan berniat untuk meminta restu kedau orang tuanya untuk mengizinkan dirinya dan Desi menikah.


"Tidak apa apa nak, bapak setuju dengan keputusan bapak Desi. Besuk pagi kamu dan ibu pergi ke pasar untuk mencari seserahan dibawa kesana. Sorenya kita ke rumah Desi."


"Maafkan Fadlan bu, pak."


Ibu Fadlan menangis tersedu sedu mendengar semua penjelasan putra pertamanya yang sangat dibanggaknnya ini. Bagaimana tidak, di umur yang masih muda Fadlan sudah menjadi sesorang yang sukses dan mampu berdii sendiri dengan kedua kakinya sendiri. Lulusaan terhormat dan bekerja di tempat yang sangat di impikan putranya.


"Maafkan Fadaln bu," ucapnya berlutut di kaki ibunya.


"Tidak apa apa nak, sudah terlanjur lebih baik kamu segera mempertanggungjawabkan yang sudah terjadi."


Fadlam mengangguk.


"Ya sudah jangan bersedih dan segera cuci muka mu kasihan nanti Zea bingung jika lihat."


Di sisi lain, Zea sedang memakan bakso tusuk yang dibelikan oleh Asalan bersamaan dengan menunggu martabak yang sedang di masak.


"Enak dik?"


"Enak kak, mau?" tanya Zea.


"Tidak untuk kamu saja dik."


"Kak, aku mau tanya tadi kan kita bisa lewat jalan Mangga 2 kenapa lewat Jl. Kemuning yang lebih jauh?"


"Gapapa biar bisa refreshing."


"Owalah okedeh kalau begitu."


"Martabaknya sudah jadi mas," ucap mamang penjual martabak.


"Iya pak, terimakasih," ucap Aslan sambil mengulurkan uang bayaran.


Zea duduk di jok motor menunggu kakanya datang memabawa martabak yang dipesan tadi.


"Ayo pulang kak, keburu makin malam."


"Lha ini kan memang sudah malam dik."


"Iya maksutnya itu nanti keburu tengah malam."


"Ada ada saja kak, orang baru juga jam 9."


"Iya de iya, dasar nakal kamu mah Ze."


Mereka berdua pergi mengendarai motor pulang ke rumah.


"Jangan muter-muter lagi ya kak," ucap Zea.


"Oke siap laksanakan."


Sesampainya di rumah mereka berdua langsung masuk ke ruang tamu yang nampak sepi. Hanya ada bapak yang duduk sambil menonton TV.


"Asaalamualaiku," sapa Zea.


"Waalaikumsalam," jawab bapak.


"Loh kok nggak ada temannya pak?" tanya Zea.


"Lha maumu sama siapa Ze? Sekampung? hehe."


"Ih bapak, bukanya gitu maksudnya."


Ibu datang dari dapur membawa pulpen dan kertas ke arah Zea.


"Ze, besuk pagi kamu sama kak Aslan bantuin ibu ke pasar ya."


Bersambung........


Hallo readers tercinta...


Mohon maaf sebelumnya author lama sekali tidak update episode


Dikarenakan beberapa kendala. Sehingga sekarang author kembali lagi


Selamat membaca dan jangan lupa like, komen dan vote ya

__ADS_1


Jadikan favorite soalnya author bakal update terus setiap hari cerita ini


Babayy


__ADS_2