
Zea berjalan masuk ke dalam rumah. Rumah terlihat sepi dan gelap. Hanya ruang tamu dan lampu taman yang dinyalakan. Emily juga tidak terlihat keluar dari kamar menyambutnya.
Zea berjalan ke arah dapur, menyalakan lampu dan menuangkan air di gelas untuk dirinya.
“Huft,” keluhnya.
Dia kemudian duduk di meja dan menyadari ada secarik kertas di sana.
“Aku pindah, biaya sewa untuk kamar ku bulan ini ada di meja kamar. Semua barangku sudah aku ambil. Terima kasih untuk semuanya,” tulis Emily.
Ada tanda tangan dengan inisial Lili di sana. Tulisan tangan itu juga khas milik Emily.
Namun, apa yang membuat sahabatnya ini menghilang begitu saja. Dia hilang ditelan bumi, tanpa kabar dan tanpa pertengkaran yang bisa menjadi alasan. Tapi, dia menghilang dalam waktu semalam.
Zea panik dan kaget, dia langsung menelpon Emily. Namun, panggilan masuk itu tidak diangkat. Beberapa kali menelpon juga tetap tidak diangkat. Hingga akhirnya Zea menelpon Desi untuk menanyakan apakah Emily ada bersamanya.
“Halo,” terdengar jawaban dari panggilan itu.
“Desi, apakah kamu bersama Lili?.”
“Zea, kumohon berhenti menjadi benalu di hidup Lili. Dia berhak bahagia, jadi jalani saja hidupmu yang indah dan tidak tahu diri itu,” kata Desi kemudian mematikan telepon.
Zea kaget bukan main, bagaimana bisa tadi sore saja masih baik-baik saja. Kini berubah menjadi sangat kacau seperti ini.
Tok tok
Pintu rumah Zea diketuk, dia berjalan kedepan dan mendapati ayah, ibu dan kakak keduanya berada di depan pintu.
“Ibu,” sapanya setelah membuka pintu.
“Surprise,” kata Aslan dengan menyunggingkan senyuman khas dari wajah tampannya.
Zea tersenyum, tapi juga menangis dalam waktu bersamaan. Adam dan Mima kaget. Setelah lama tidak bertemu dengan putrinya yang memutuskan bekerja di kota lain, dia jarang berkunjung. Aslan juga bekerja di daerah tempat mereka tinggal. Sehingga Adam dan Mima tinggal bersama dengan Aslan. Lelah merindukan putri kecilnya yang tumbuh dewasa, mereka memutuskan berkunjung ke kota. Namun, ketika sampai mereka justru melihat anak kesayangan menangis. Mima langsung memeluk putrinya dan masuk ke rumah itu.
Aslan dan Adam membawa masuk barang bawaan mereka. Mereka juga hendak tinggal di sini selama 2 hari, selama Aslan libur kuliah Pascasarjana, sehingga mereka semua bisa pergi bersama.
“Ada apa?” tanya Aslan kepada Zea.
*Di ruang tamu
Zea tengah duduk bermanja-manjaan di samping kakaknya. Ibu dan ayahnya tengah menyiapkan makan malam. Kebetulan tadi setelah menonton, Zea dan Harry tidak jadi makan karena mood Zea yang kacau.
“Aku hanya lelah saja kak.”
“Kamu mau pulang saja? Kakak bisa menghidupimu. Sekarang ibu dan ayah juga hanya tinggal bertani, warung sudah ada yang menjaga.”
__ADS_1
“Benarkah kakak ingin menghidupi ku?.”
“Tentu saja, rumah kakak sebentar lagi juga jadi. Kamu bisa tinggal disana, dan jual saja rumahmu ini.”
“Tapi dulu aku bersusah payah membeli rumah ini kak.”
Aslan menoleh ke arah adiknya, dia kemudian menyentuh pipi Zea, “Ze, kamu masih dan akan selalu menjadi adik kecilku. Kamu tidak harus bekerja terlalu keras untuk ibu dan ayah. Ada kakak dan Mas Fadlan. Jika disini tidak bahagia, maka pulang saja,” kata Aslan.
Aslan memang selalu bersikap dewasa dan sabar. Dulu dia memang pendiam dan tidak begitu dekat dengan Zea. Namun, semenjak kakak pertamanya menikah. Zea sering sekali mengeluh merindukan kakaknya. Jadi, Aslan terus dan terus berusaha mendobrak egonya dan lebih memperhatikan adik kecilnya. Zea berhak bahagia dan dia tidak boleh sampai sakit karena ini.
“Kamu berhak bahagia, Zeze.”
Aslan kembali duduk menghadap ke televisi. Sementara Zea tersenyum dan memeluk kakaknya dari samping.
“Gemas ya pak, melihat mereka,” kata Mima kepada Adam.
Mereka berdua berada di dapur berkutat memanasi makanan yang dibawakan untuk putrinya.
“Iya bu.”
“Ibu khawatir, senyum Zeze akan menghilang setelah berpisah dengan David.”
Adam terdiam dan melepas celemeknya. Dia berjalan mengambil piring dan kembali ke sisi Mima.
“Mereka memang saling mencintai dulu, tapi cinta masa remaja memang begitu bu. Semoga saja, Zeze dan David menemukan kehidupan dan kebahagiaan masing-masing,” kata Adam.
“Mari makan anak-anak,” panggil Adam.
Aslan mematikan televisi dan berjalan ke arah dapur. Mereka makan dengan lahap dan bercanda gurau. Suasana rumah ini hidup seperti sebelumnya. Indah dan sangat harmonis seperti yang mereka inginkan.
Keesokan harinya, Zea bangun pagi karena harus bekerja. Dia mandi dan turun saat sudah siap.
“Zeze, cepat turun,” panggil Aslan.
“Sebentar,” teriak Zea sembari memakai sepatu dan turun.
“Cepat sarapan sayang, kakak akan mengantarkan kamu,” kata Mima lembut.
“Benarkah?.”
“Iya, kakak ada urusan di kota.”
“Baiklah, tapi mana bapak bu?.”
“Bapak pergi ke kebun belakang, dia akan membuatkan kebun buah dan sayur untuk mu.”
__ADS_1
Zea hanya menganggukkan kepala mulai makan. Setelah selesai, Aslan langsung mengantarkan Zeze dan pergi ke tempat lain untuk bertemu dengan klien.
***
“Itu ya, anak yang dipindahkan dari pembawa berita ke MC talkshow? Kasihan sekali,” kata seorang karyawan di kantor Zea dalam gerombolan manusia di dalam Lift.
Zea terdiam walaupun dia merasa ditunjuk. Dia berjalan dengan santai ke ruangannya dan dia melihat kursinya sudah diduduki oleh Emily. emily juga tampil beda, dia terlihat berdandan seperti dirinya. Mulai mengenakan rok dan bermake-up.
“Kamu belum membaca pesan ya? Kamu dipindahkan ke divisi lain. Barang-barangmu juga sudah disingkirkan,” kata Emily sombong.
“Lily, sebentar lagi mulai ya. Cepat bersiap-siap,” perintah Alex. Alex juga terlihat tidak menggubris Zea dan melewati Zea, seolah tidak melihatnya. Tidak berbeda, Emily juga melakukan itu.
Tasya berjalan ke arah Zea dan berkata, “Sudah Ze, terima saja dulu. Ini kartu mu, kamu dipindahkan menjadi pembawa acara talkshow,” kata Tasya.
Zea melihat papan nama baru miliknya dan berjalan turun ke lantai 10, dia tadinya bekerja di lantai 11. Kini harus turun ke lantai 10, dan bekerja bersama dengan divisi baru.
Setibanya di kantor barunya. Dia mendapatkan satu ruangan khusus untuk pembawa acara dengan meja dan kursi khusus. Dia ditempatkan di kantor yang sepertinya tempat berkas disimpan. Bersih, memiliki jendela hanya saja penuh dengan buku di sisi kanan dan kiri.
“Halo, Zea. Aku Robert yang akan menjadi direktur mu. Sebelumnya kantor mu belum jadi, sedang diperbaiki. Lokasinya ada di samping kantor ku, untuk itu kamu sementara akan di tempatkan di sini,” kata Robert.
“Terima kasih, Robert.”
“Sama-sama, ini skript mu. Bersiap ya, satu jam lagi kita akan syuting.”
“Baik, terima kasih.”
Zea memutuskan untuk bersiap-siap dan mulai menghafal sekaligus membaca.
**
Di studio
“Zea, 5 menit lagi kita mulai ya,” kata Robert meminta Zea yang sudah ada di panggung mulai bersiap.
*Penampilan Zea kali ini
“Dia cantik ya,” oceh kameramen.
“Huft, fokus saja bekerja,” kata Robert menepuk kepala kameramen dengan kertas di tangannya.
"Sayang sekali dia dipindah dari berita menjadi pembawa acara," kata asisten sutradara waktu itu.
"Lagipula siapa yang berani melawan pimpinan. Setidaknya bagus dia tidak dipecat," kata Robert.
__ADS_1
Robert memang menadapat informasi siapa yang akan menjadi pembawa acara di acara yang dia buat. Sekaligus, informasi dari para manajer tentang alasan pemindahan Zea yang merupakan anak kesayangan direktur itu.