Missing You : David

Missing You : David
07 Jatuh di Aspal


__ADS_3

David masih belum beranjak dari duduknya dengan memperhatikan Zea yang sedang bermain.


"Victory"


Begitu yang tertulis di layar komputer Zea. Sudah merasa cukup dan puas bermain. Kemudian Zea mengajak Aslan pulang.


"Kak, udah mainnya ayo pulang."


"Bentar dik, kakak baru aja masuk lobi. Sebentar lagi ya."


"Ayo buruan kak, bentar lagi siang. Kasihan kak Fadlan di rumah sendirian. Nanti dia galau ga ada kerjaan lhu," rengek Zea.


Aslan menoleh kesal ke arah adiknya yang sedang merengek dengan muka sok imut.


"Huhh, yaudah sebentar lagi ya."


"Yaudah, sekali main aja ya kak."


"Iya dik, sekali main doang."


Zea kemudian pasrah dan menunggu Aslan. Selama menunggu, dia memilih menoleh ke segala arah. Hampir saja dia melihat David, namun lebih dulu memalingkan wajahnya.


Zea kembali fokus menatap layar monitor di depannya. Dia kemudian memilih mematikan komputer dan duduk manis bermain telepon genggam miliknya. Aslan masih sibuk bermain sampai akhirnya dia menyelesaikan satu pertarungan dengan Win**r C*iken D*nner.


"Udah dik ayo pulang," ajak Aslan.


"Yaudah ayo kak."


Zea mengekor di belakang Aslan menuju pintu keluar. Mereka memilih kembali ke rumah. David memperhatikan Zea dari ujung ke ujung sampai tak lagi nampak sekuter matik milik Aslan disana.


"Semoga kita dapat bertemu kembali," ucapnya.


David kembali dengan rutinitasnya dengan menjaga warnet bersama Yasmin.


Zea tiba di rumah bersama Aslan dengan selamat. Fadlan menunggu warung yang waktu itu kebetulan ramai dengan ibu ibu yang mampir berbelanja. Beberapa hanya membeli sabun atau sampo sekedar untuk bisa menanyakan kabar Fadlan.


Ibu ibu di kompleks menyukai Fadlan terlebih mereka memiliki anak perempuan yang seumuran atau lebih muda dari Fadlan. Anggap saja sebuah tawaran perjodohan. Sangat sering ibu ibu datang silih berganti ke rumah sekedar memberi semur atau membawakan hasil kebun yang di atas namakan putri mereka.


"Kak, itu kenapa warung ramai banget si?"


"Biasa lah dek kaya ngga hafal aja."


"Ohh pasti Bu Bejo dkk ini kak," jawab Zea menerka nerka.


"So pasti dek, dah sana cuci tangan terus bantuin kak Fadlan di warung."


"Siap kak,"


"Eitss tunggu, terus kakak sendiri mau ngapain?"


"Benerin motor ini dek, kakak ngrasa ada yang aneh dari motor kita. Kaya kurang gaul gituhh," jawab Aslan ngasal.


"Hilihhh," jawab Zea sambil memonyongkan bibir.


"Nakal ya kamu nyemir gitu sama kakakmu. Kalau kakak pergi nanti kamu sedih awas lhu."


"Ngomong apa sih kak, emang mau pergi kemana hayoo? Ngaco ah ngomongnya, Ze ngga suka."


Zea kemudian berlari masuk ke dalam rumah setelah selesai mencuci tangan dan kembali keluar setelah berganti dengan pakaian rumahan. Dia membawakan teh hangat untuk Aslan dan Fadlan.


"Kak, aku taruh di meja ya."


"Wihh tumben dik," goda Aslan


"Yaudah kalau ngga mau adik minum sendiri."

__ADS_1


"Janganlah Ze, bercanda doang. Makasih ya dik Zea."


"Sama sama kak."


Zea kemudian beralih menuju warung menghampiri Fadlan.


"Kakak udah makan?" tanya Zea


"Belum itu, adik udah lapar po? Mau kakak bikinin telur goreng?" tanya Fadlan khawatir.


"Ngga kak, adik ngga lapar. Dah ini diminum teh nya mumpung masih anget."


"Makasih ya dik, ini manis kan?"


"Yajelas dong kak, kaya yang bikin hihi."


"Iya deh dek iya, ngikut aja adik kakak yang paling manis."


"Tadi warung kenapa ramai banget kak?"


"Tadi ibu ibu belanja sayur sama keperluan rumah."


"Udah itu doang?"


"Heem udah itu doang."


"Ngga pakai basa basi kak?"


"Kamu mau nanya apa to dik? Langsung aja intinya," tanya Fadlan serius sambil memperhatikan adiknya yang tengah duduk manis di sampingnya.


"Kirain Bu Bejo ngapain gituh hihi?"


"Kamu tu ya dik, Bu Bejo tadi kesini belanja sayur sama sabun."


"Yaudah itu doang dik."


"Ga ada bahas tentang pasangan gituh?"


"Zea mau nanya apa to? Soal Jeni ya?"


"Iya kak, Bu Bejo kesini nyuruh kakak pacaran sama mbak Jeni ya?"


"Ngga kok dik, Bu Bejo cuma bilang aja kalau misal jodoh itu ada yang ngatur tapi manusia boleh usaha. Makanya Bu Bejo lagi usaha."


"Owalah begitu to rupanya," jawab Zea manggut-manggut.


"Yah sama dong kak, artinya Bu Bejo mau kakak jadi sama mbak Jeni kak."


"Anak kecil ngga usah mikirin urusan itu dulu ya. Udah sini kamu duduk manis aja tungguin warung kakak mau ke kamar mandi sebentar."


"Pasti mau pup ya, ayoo ngakuu?" ledek Zea.


"Kalau iya, adik mau ikut?"


"Ihh jorok, ya jelas ngga lah kak. Sana kak pergi keburu nanti kentut disini," goda Zea sambil menutup lubang hidungnya.


Zea mengambil alih tugas menunggu warung.


Aslan datang menghampiri Zea dengan baju yang berlumur oli.


"Dik."


"Iya?"


"Kakak cobain motor dulu ya dik,"

__ADS_1


"Emang motornya kenapa?"


"Kayaknya mesinnya minta ganti tapi kakak udah usaha benerin."


"Kakak yakin bisa ngga? Nanti kalau makin rusak malah bahaya lhu."


"Zea bener As, coba dibawa ke bengkel dulu. Nanti kalau makin rusak malah jadi bahaya."


"Insyaallah aman mas, gini gini aku tu juga paham sedikit masalah motor," ucap Aslan.


"Yasudah hati hati," pinta Fadlan.


"Jangan jauh jauh ya kak, dekat rumah aja sekitaran kompleks."


"Iya adik kecil, jaga rumah ya jangan nakal."


"Apaan sih orang udah gede dan juga kenapa pamitan kaya orang mau pergi jauh aja huh."


Brem


"Berangkat dulu, Assalamualaikum."


"Waaalaikumsalam," jawab Fadlan dan Zea berbarengan.


Setelah satu jam mengendarai sekuter keliling kompleks, Aslan belum juga kembali ke rumah. 10 menit setelah Aslan pergi, ibu dan bapak tiba di rumah.


"Assalamualaikum,"


"Waaalaikumsalam."


"Bapak sama ibu udah pulang mas," teriak Zea dari warung. Sesaat kemudian Fadlan datang dari pekarangan samping.


"Aslan mana lan?" tanya ibu.


"Tadi nyoba motor bu," jawab Fadlan.


"Lhu, memangnya motor itu kenapa lagi?" tambah bapak.


"Kurang tau pak, toh motor itu sudah lama sekali pak."


"Heem le besuk kalau ada uang ya beli," jawab bapak.


Pukul 16.20


"Kok adikmu belum pulang lan?" lagi lagi ibu bertanya.


Entah mengapa ibu merasa perasaan yang tidak enak. Sedari di sawah tadi, ibu sudah rewel mengajak bapak untuk pulang ke rumah.


"Mungkin belum beres Bu," jawab Fadlan.


"Sudah berapa lama adikmu pergi?"


"Satu jam kira kira Bu."


Ibu mondar mandir di teras, sementara bapak yang sudah mandi menghampiri ibu.


"Sek tenang Bu, insyaallah ngga papa."


"Aamiin pak, semoga saja."


Tiba tiba pak RT datang bersama kepolisian memberitahukan bahwa Aslan mengalami kecelakaan beruntun dengan sebuah minibus di dekat Perumahan.


Ibu yang sedari tadi khawatir merasakan ngilu di kakinya. Badanya kaku dan dingin mendengar kabar puteranya jatuh dari motor. Ibu jatuh pingsan di teras dan tidak sadarkan diri. Bapak membopong ibu ke dalam rumah. Sementara Zea mengambilkan minum untuk ibu.


Beberapa tetangga datang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2