Missing You : David

Missing You : David
Belum Menerima


__ADS_3

Belum Menerima


***


Kecupan dari David bertahan selama beberapa detik sebelum akhirnya David kembali duduk. Zea masih kaget dengan apa yang terjadi. Rasanya seperti mimpi.


“Ze,” panggil David membangunkan Zea dari lamunannya.


“Kamu kenapa sih nyosor terus dari tadi,” ucap Zea dengan wajah salting.


Zea langsung duduk kembali, tapi rasanya separuh kesadarannya belum terkumpul kembali. “Jantungku seperti mau meletup,” gumam Zea dalam hati sambil menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk tangan kanannya.


“Maaf ya, nanti aku izin deh kalau gitu,” jawab David sambil tersenyum.


“Siapa bilang kamu boleh kaya gitu lagi,” jawab Zea dengan kesal tapi salting.


“Hm, udah jelas kan masalah Maya. Berarti sekarang kita baikan kan,” kata David.


“Tidak, aku belum bisa,” jawab Zea.


“Kenapa?”


“Kamu memang tidak salah, tapi aku sedang ingin sendiri,” jawab Zea.


David tidak bisa berkata-kata setelah mendengar jawaban dari Zea. Bagaimana tidak jelas sekali bahwa Zea menolak dirinya. Pemikiran David tertuju pada ucapan Denis beberapa minggu yang lalu. Denis menyatakan bahwa Zea tidak ingin lagi terlibat dengan David. Tiba-tiba muka David terlihat sayu dan tidak bersemangat. Dia hanya diam dan duduk.


Zea melihat dari posisi duduknya David terdiam sambil menunduk.


“Bukan karena aku sudah tidak menyukai mu, munafik jika aku berkata sudah tidak menyukai mu. Tapi, aku merasa lebih baik kita berdua berjalan masing-masing terlebih dahulu. Lihat saja banyak orang di luar sana yang tetap berhubungan baik dengan mantan kekasihnya. Kita bisa melakukan hal yang sama,” jelas Zea.


David terlihat tersenyum simpul kearah Zea. Terlihat bahwa senyumnya sedikit terpaksa karena dia merasa ucapan Zea hanyalah penenang. Terlebih lagi, tanpa kepastian hubungan mereka tidak terikat, jarak yang jauh dan keduanya tidak dapat memastikan keadaan masing-masing setiap harinya. Kekhawatiran David di dukung dengan argumen bahwa Zea sudah menemukan laki-laki lain yang bisa membuat dirinya nyaman saat ini.


“David,” panggil Zea.


“Iya.”


“Tatap aku,” pinta Zea.


David menatap sorot wajah Zea dengan serius. Terlihat bahwa sorot mata Zea serius dan terlihat tegas. “Aku hanya ingin kita fokus dengan masa depan kita masing-masing, fokus belajar dan intropeksi diri sendiri. Aku masih sama dan kamu paham itu, tidak ada yang berubah,” jelas Zea menenangkan David.


 


David hanya mengangguk dengan raut wajah sayu. Sedih adalah hal yang wajar dimana David memang sangat menyukai Zea. Terlepas dari beberapa hal yang pernah terjadi mulai dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan David, tapi hatinya selalu ingin kembali kepada Zea.


“Ya sudah kalau tidak mau, sekarang maumu apa?” tanya Zea.


“Aku tidak ingin memaksa Ze, aku akan menuruti apa keinginan mu saja. Satu hal yang pasti, aku masih menunggu dirimu pulang,” ucap David.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian sepakat untuk tidak kembali bersama saat ini, tapi fokus belajar dan mengejar cita-cita. Tapi, di sisi lain mereka berkomitmen bahwa tetap membuka hati dan jika jodoh pasti akan kembali.


***


“Ayo aku antar pulang,” ucap David.


“Oke.”


Zea pulang diantarkan oleh David menggunakan mobil milik David.


*****


Di Mobil


“Ini mobilmu?”


“Tidak, mobil milik ayahku.”


“Ayahmu? Bagaimana bisa?”


“Ayah ku memiliki usaha di sini, jadi ada vila keluarga ku disini beserta kendaraan.”


“Oh begitu, kalau begitu percuma juga aku lari kemari kamu masih menemukanku dengan mudah,” gumam Zea lirih.


“Apa?” tanya David yang pura-pura tidak dengar.


“Bukan apa-apa,” jawab Zea.


Setelah turun dari mobil, Zea berjalan menuju mobil kembali kearah David mengemudi. Seraya bertanya, “kapan pulang?” tanya Zea.


“Lusa paling,” jawab David.


“Besuk mau main ke taman hiburan? Aku tidak ada kelas kebetulan,” ajak Zea sambil tersenyum.


“Boleh-boleh,” jawab David.


“Oke, jemput aku jam 9 pagi,” ucap Zea.


“Baiklah,” jawab David.


Zea langsung pergi meninggalkan David. David masih di posisi yang sama memperhatikan langkah Zea yang semakin menjauh meninggalkan David.


“Walaupun kamu sudah memalingkan punggung dariku, aku akan berusaha membuat dirimu kembali padaku, tunggu aku,” ucap David pada dirinya sendiri.


Setelah Zea pergi, David langsung melajukan mobilnya menuju vila. Di vila, Jordan sedang duduk sambil memainkan PS di sofa kamar milik David.


“Bagaimana tadi?” tanya Jordan saat melihat David masuk.

__ADS_1


“Rumit,” jawab David sambil menaruh jaket.


Jordan menoleh kearah David dengan tatapan menelisik dan bertanya, “Zea marah?”


“Iya, sedikit tapi yang pasti kami tidak bisa bersama dalam waktu dekat,” jelas David.


“Kenapa?” tanya Jordan kepo.


“Entahlah, oh iya Jordan apakah ada laki-laki yang sedang dekat dengan Zea atau suka dengan Zea?”


Jordan terdiam mendengar pertanyaan dari David, bagaimana tidak selama ini demi menjaga Zea sesuai dengan permintaan David. Jordan sudah terlanjur lupa batasan dan maju terlalu jauh. Rasanya kepada Zea semakin dalam, takjub dan salah tingkah yang tidak bisa di definiskan dengan mudah. Jordan sadar dirinya bergetar ketika dekat dengan Zea, tapi sadar bahwa David sangat menyukai Zea. Tidak pantas rasanya jika dirinya maju tanpa memikirkan kebaikan David selama ini.


“Jordan?” panggil David membuyarkan lamunan Jordan.


“Oh,” jawab Jordan kaget.


“Sedang memikirkan apa? Aku bertanya sedari tadi,” ucap David.


“Oh maaf, seperti Zea jarang bergaul dengan laki-laki terlepas dari itu, aku tidak tahu siapa yang sedang dekat dengan dirinya.”


“Oh baiklah kalau begitu,” ucap David.


 


David pergi ke kamar mandi untuk mandi sementara itu Jordan melanjutkan bermain PS.



**Di Asrama


“Habis dari belanja Ze?” tanya Wendi.


“Tidak, ini dari David.”


“David siapa?”


“Mantan kekasihku,” jawab Zea.


“Apa? Bagaimana bisa?” tanya Wendi.


“Ya seperti itulah, aku ingin tidur sebentar,” ucap Zea.


Zea langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan pergi ke kasur untuk tidur. Dirinya tidur dengan menghadap tembok, menutupi tubuhnya dengan selimut. Di dalam selimut, dirinya menangis tanpa suara mengingat kejadian hari ini. Hatinya memang menginginkan David, tapi kembali kepada David dalam waktu dekat dirasa bukan pilihan yang pas dimana masalah di Mall hari itu masih menganggu pikiran Zea. Bagaimana bisa Maya mengirimkan pesan dengan kepercayaan diri yang tinggi jika itu hanyalah sebuah kesalah pahaman. Rasanya Zea merasa ini kesalpahaman tapi juga sebuah kecurigaan. Jika memang mereka pergi waktu itu, kenapa David bahkan tidak mengirimkan pesan atau mengabari Zea.


Tidak banyak kesempatan bersama yang mereka habiskan berdua semenjak David kuliah. Selain itu, David juga jarang mengirimkan pesan, jarang membalas pesan Zea tepat waktu. Banyak kecurigaan yang muncul di dalam pikiran Zea tapi juga ketakutan. Ketakutan akan kehilangan David lagi, karena dia sudah melepaskan uluran tangan David untuk kembali bersama. Rasanya pikirannya campur aduk. Perasaannya kepada David yang masih sama, namun pemikiran realistis dan beberapa hal yang bergejolak di dalam pikirannya menambah riuh perasaan Zea yang campur aduk.


Zea menangis dalam selimut tanpa mengeluarkan suara dan itu rasanya sangat sakit dan sesak. Tanpa disadari Zea akhirnya tertidur dalam tangisannya.

__ADS_1


****


Bersambung>>>>>>>


__ADS_2