
Berhenti
******
“Kita istirahat aja dulu, sendiri mungkin lebih baik,” ucap Zea.
David terdiam mendengar kata-kata Zea. Ini memang di luar ekspektasi David, dimana biasanya Zea akan lebih sabar dan mau mengalah. Namun, kali ini berbeda Zea justru lebih memilih untuk menyerah daripada menunggu hingga badai ini reda.
“Jangan, jangan meminta untuk berhenti.”
David mengucapkan kalimat tersebut seraya dengan menyentuh tangan Zea. Tangannya yang tadi tertutup rapat sambil menunduk kini terbuka lebar menggengam erat tangan Zea. Sorot mata David nampak sendu, tapi terasa kosong. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di perasaan David yang belum terungkapkan tapi tidak berani untuk diungkapkan.
“Aku mohon Ze, jangan minta untuk berhenti kalau kamu males sama aku oke gapapa aku bisa jaga jarak dulu. Kamu pengen sendiri aku gak akan ganggu, tapi jangan minta buat udahan.”
“Kamu tidak sadar ya ada yang berubah, yang berubah itu kamu. Sikapmu ke aku berubah, kamu gak ada waktu buat aku. Kita jarang ketemu, dan kamu pergi sama cewek lain. Aku udah usaha buat ngertiin tapi rasanya nggak etis pergi sama cewek lain dengan alasan teman padahal sama pacar sendiri selalu bilang sibuk. Aku capek bilang
gapapa terus.”
“Hmmm, aku tahu aku salah. Aku gamau kehilangan kamu Ze, kita udah bareng lama dan semuanya udah tahu kalau kamu pacarku jadi tolong jangan pisah sama aku. Jangan udahan sama aku Ze. Aku sayang sama kamu, aku minta maaf karena udah salah sama kamu.”
“Aku pengen istirahat, bisa nggak kalau kita ga pacaran.”
“Gak. Aku gamau pokoknya titik.”
“Jangan egois Vid, aku dah coba buat sabar tapi ini ga gampang jadi tiling dong jaga perasaanku.”
“Aku dah ga pernah main sama Maya, chattan aja udah nggak ini coba kamu lihat,” sambil menyodorkan ponsel.
“Tidak, terima kasih ponselmu privasi mu aku gak butuh tahu itu,” ucapku sambil mendorong pelan ponsel David kembali ke arah David.
Huftt
Ucap David frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Walaupun tidak seperti yang terlihat, David sangat takut kehilangan Zea. Mungkin memang hanya bualan atau omong kosong bagi perempuan yang sudah mati rasa ketika mendengar ucapan David. Tapi itu memang benar adanya, setalah mengantarkan Zea pulang waktu itu, dia sadar betapa tidak mudahnya perjuangan untuk bersama saat ini. Mungkin bagi beberapa orang ini adalah hal yang mudah. Tapi tidak bagi David, bersama dengan Zea adalah hal yang dia nantikan sejak awal. Walaupun di tengah dia sempat goyah dengan hadirnya Maya. Tapi dia sadar, Maya bukanlah rumah yang nyaman untuk pulang. Zea tetaplah satu-satunya rumah yang pas untuk pulang.
“Oke, aku gak akan maksa kamu lagi. Aku setuju buat berhenti tapi berhenti untuk istirahat bukan berpisah, jadi tolong ya jangan tiba tiba hilang atau gimana. Aku mau bukan karena aku udah ga sayang, tapi kamu mungkin memang butuh waktu buat istirahat.”
“Gabisa dong, kalau nggak berhenti buat berpisah tu maksutnya apa?” tanya Zea.
“Kita break aja, istirahat sebentar kamu boleh ngapain aja aku bakal nungguin kamu sampai kamu siap balik lagi ke aku.”
__ADS_1
“Kalau aku nggak balik?” tanya Zea kepada David.
David terdiam memikirkan jawaban Zea. Jika benar nantinya Zea tidak kembali ke hidupnya apa yang akan terjadi nantinya. Apakah benar dia akan baik-baik saja tanpa Zea.
“Kok diam aja sih, ini jadi nganterin pulang gak sih.”
“Dengerin dulu sayang,” ucap David sambil memegang tanganku lagi dan menoleh ke arahku.
Zea hanya mengangguk dan menatap wajahnya David.
“Aku harap kamu tetap kembali padaku, terlepas apa yang terjadi selama kita nggak bareng aku mohon kamu tetap menjaga diri. Aku siap nungguin kamu kapan aja, jadi tolong jangan pergi atau hilang ya.”
Setelah dipikirkan matang-matang sepertinya yang diucapkan oleh David meluluhkan hati Zea.
“Iya,” jawab Zea sambil mengangguk.
“Iya doang masa?”
“Iya bawel,” jawab Zea langsung memalingkan pandangan karena malu.
Seketika tanpa hitungan menit, David menarik tangan Zea dan mendaratkan ciuman di kening Zea.
*****
Setelah berpisah hari itu, semuanya terasa biasa saja. Di awal Zea tidak merasakan kehilangan sama sekali. Hari demi hari dilewati tanpa David. Ujian kelulusan dijalani dengan baik tanpa hambatan sedikitpun.
“Syukurlah ujian hari ini selesai juga,” ucap Vanessa.
“Benar juga, ujian akhir sudah dilewati tinggal menunggu pengumuman,” timpal Mita.
Kedua gadis perempuan itu terdiam ketika tidak ada tanggapan sama sekali dari sahabat perempuan nya yaitu Zea. Zeana hanya terdiam dengan tatapan kosong entah dimana yang diapikirkan tapi dia tidak mendengar apa yang kedua sahabatnya katakana. Fokusnya teralihkan dengan sebuah foto dari nomor tidak dikenal yang mengirimkan foto David dengan seorang perempuan cantik mengenakan pakaian seksi di sebuah kapal di pantai bersama dengan beberapa lelaki lainnya. Semua pesan dikirimkan bersamaan dengan foto tersebut yang bertuliskan, “kamu paham harus pergi kan jangan ganggu David lagi.”
Mereka memang sudah berpisah dan sebelumnya Zeana baik-baik saja tanpa menangis sama sekali. Tapi kali ini, rasanya hatinya runtuh. Ada hati untuk menunggu David kembali hingga hati dan percayanya pulih kembali.
Tanpa bisa berpikir jernih, Zeana tanpa disadari menitikkan air mata. Pandangannya kabur seketika dan rasanya dadanya sesak.
“Ze, kamu kenapa?” tanya Vanessa heran.
“Ze, are you okay?” tanya Mita.
__ADS_1
Tidak ada respon atau tanggapan sama sekali. Zea masih menangis dan tiba-tiba memegang kepalanya dan berkata, “ kepala ku sakit.”
Mita dan Vanessa dibuat kaget dengan sikap Zea langsung mengambil tindakan dengan mengambil ponsel Zea dan menyimpannya di saku rok milik Mita. Vanessa berlari meminta bantuan untuk membawa Zea ke Unit Kesehatan Sekolah. Sementara, Mita disamping Zea memeluk dan menenangkan Zea yang sedari tadi menyampaikan kepalanya sakit.
Andrian dan beberapa temannya datang bersama dengan Vanessa langsung menggedong Zea seperti seorang putri menuju UKS. Seorang guru sudah berdiri disana menunggu Zea.
Setelah menaruh Zea di kasur, mereka memutuskan keluar demi memberikan batasan yang pas untuk Zea dan dokter untuk konsultasi.
“Kenapa bisa seperti itu?” tanya Andrian kepada Mita dan Vanessa.
“Entahlah, ketika ditanya dia tidak menjawab namun sibuk memperhatikan ponsel dan sesaat selanjutnya langsung menangis tersedu-sedu,” jelas Mita.
Vanessa hanya mengangguk mengiyakan pernyataan Mita atas kejadian tadi.
“Ya sudah, aku akan mengambil tas dulu nanti kalian bertiga pulang dengan aku saja,” ucap Andrian menawarkan.
“Oh boleh kalau gratis,” jawab Vanessa.
“Gratislah kau pikir aku supir taksi,” ucap Andrian menjawab Vanessa dengan gurauan.
Mita dan Vanessa hanya tertawa kecil menjawab ucapan Andrian.
Di dalam UKS, Zea masih menangis tersedu-sedu sembari menutup matanya dengan tangan kananya. Dokter memeriksa dengan seksama dan tidak ada tanda tanda vital yang menunjukkan bahwa Zea sedang tidak sehat. Semua pemeriksaan menujukkan bahwa kondisi Zea baik-baik saja.
Sesaat kemudian, dokter itu paham sebagai perempuan muda dengan usia belia, remaja yang baru saja dianggap dewasa oleh Negara tentu saja masih bisa dikatakan fase anak menuju dewasa. Kenapa tidak, ketidakstabilan mental seorang remaja di uji ketika mereka menjalin sebuah hubungan. Emosi, bahagia, cemburu, iri atau bahkan benci tidak jarang akan mempengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang.
“Zea, ibu tidak tahu apa yang salah dengan dirimu tapi badanmu sehat. Jika hatimu sedang sakit, maka menangislah. Menangis secukupnya, bersedih secukupnya karena kamu masih muda, begitu banyak hal yang dapat kamu perjuangkan nak,” ucap bu dokter tadi.
***********
Bersambung
Terima kasih atas dukungan dari para pembaca sekalian. Saran dan kritik yang membangun sangat penulis nantikan. Sampai bertemu di episode selanjutnya
Selamat membaca :)
Jangan lupa like dan komen ya
Terima kasih
__ADS_1
https://news.ddtc.co.id/pemeriksaan-dan-denda-saja-tidak-cukup-membuat-wajib-pajak-patuh-29572?page_y=1000