Missing You : David

Missing You : David
Hidup Masing-Masing


__ADS_3

David dan Zea berangkat ke pantai dengan pasir putih dan golden sunset menurut informasi dari teman Martin yang kuliah di sana. Zea tertidur selama perjalanan, dia merasa lelah karena perjalanan darat yang ditempuh kali ini cukup panjang. Ditambah setelah makan siang, dia semakin kenyang.


Pemandangan indah mulai terlihat dari tepi jalan yang hanya terhalang pembatas, pemandangan pantai terlihat jelas di samping.


“Zea, lihat itu,” panggil David sembari menoleh.


David lantas tersenyum ketika melihat Zea tersenyum dalam tidurnya.


“Sudah lama, aku tidak melihat dia setenang ini,” ungkap David.


David melajukan mobilnya menuju ke tempat pemberhentian yang diizinkan.


“Hmm,” kata Zea yang terbangun dan mengucek mata. Dia terbangun karena mendengar suara seseorang berteriak memberitahu arah. David terlihat turun dan berbincang dengan orang itu.


“Ada apa?” tanya Zea yang ikut turun.


David menoleh dan melihat Zea berjalan ke arahnya, “kamu sudah bangun?.”


Zea mengangguk dan pria paruh baya yang tadi berbincang dengan David pergi meninggalkan mereka berdua.


“Kenapa paman itu berteriak?.”


“Bukan apa-apa, aku menanyakan arah pergi ke mercusuar, tapi paman itu bilang kalau petang suasananya sangat seram, terlebih ombak lautnya cukup kuat.”


Zea hanya mengangguk dan menatap ke arah lepas pantai.


“Aku memang ingin sekali main ke ruang terbuka seperti ini,” ocehnya.


“Mari, kita pergi ke jembatan itu,” ajak David.


Zea pun menuruti dan membuntuti berjalan di belakang David. Keduanya bahkan tampak sangat bahagia berkeliling di sekitar. Dia mengambil foto sunset, pantai, ombak dan semua hal termasuk memotret David yang tengah berdiri menghadap ke arah pantai. Siluetnya sangat indah. Dia merasa senang hingga melupakan sesaat penat dan kesedihan hati bertemu David hari ini. Harinya yang semula sedih dan gelisah menjadi lebih ceria dan indah.


Malam harinya, David dan Zea masih berada di pinggir pantai dan memanggang masakan laut, kepiting, cumi dan ikan tangkapan pria paruh baya yang tadi siang ditanyai oleh Martin.


“Makan ini, sudah matang,” kata David sembari menjulurkan cumi panggang yang dia masak sendiri.


Zea tersenyum dan menerima itu. David kemudian kembali memanggan tapi Zea memanggilnya, “David,” panggilnya.


David menoleh ke arah Zea, dan Zea menepuk kursi pertanda memintanya duduk.

__ADS_1


David menuruti dan duduk di sampingnya.


“Kamu tidak perlu memanggang semua itu, kita hanya berdua. Lebih baik nikmati ini selagi hangat,” kata Zea kemudian menaruh piring itu tepat di depan David. David mengangguk dan tersenyum. Ia lantas setuju dan memakan itu. Keduanya berbincang dan membahas indahnya laut.


“Iya, sangat indah,” tambah David kemudian menatap ke arah Zea. Tatapannya tidak beralih dari Zea. Hingga Zea melihat itu dan kedua matanya bertemu.


“Kamu membuat ku berdebar, tidak pernah seharipun aku melupakan mu,” ungkap David.


Zea masih terdiam, dia merasa seperti tersihir oleh tatapan tulus dan jarak dekat antara keduanya.


“Can I kiss you?” tanya David tiba-tiba.


Zea tidak menjawab, dia juga merasa bahwa hatinya masih berdebar untuk David. Tanpa jawaban dan David masih diam saja, mencium bau gosong, dia lantas berdiri dan meninggalkan Zea dim kursi. Dia mengangkat ikan yang gosong tadi. 4 ikan gosong karena dia lupa membaliknya ketika ditinggal makan.


“Semuanya gosong, mungkin kita tidak bisa memakannya lagi,” kata David tanpa menoleh ke arah Zea.


Tiba-tiba sebuah tangan meraih lengan David, dia menoleh dan Zea mencium pelan bibir David. David kaget dan masih tidak merespon. Sesaat kemudian, Zea melepaskan ciuman itu dan menatap lekat ke arah David. Kedua mata yang bertemu itu masih penuh dengan hasrat dan cinta. Tapi, tembok dan kepercayaannya hancur tanpa dijelaskan.


“You drive me crazy, “ kata David kemudian menarik tengkuk Zea dan mencium bibirnya. ******* bibir Zea, menyesap, dan merasakan manis bumbu bakaran dari bibir Zea. Lidahnya bertemu dan mereka beradu di mulut Zea yang kecil.


***


“Ayo kita pulang, “ ajak David kemudian.


Zea mengangguk dan pulang. Selama perjalanan dia tidak bicara dan tidak bisa tidur karena masih memikirkan hal yang terjadi tadi.


Sesampainya di depan asrama, tepat 45 menit sebelum gerabng ditutup.


“Terima kasih,” kata Zea kemudian.


“Iya, aku juga berterima kasih,” kata David.


Zea langsung membalikkan tubuh memunggungi David dan berusaha untuk pergi masih. Sementara David merassa bahwa mereka sudah balikan. Namun, siapa sangka Zea justru menjauh semenjak hari itu.


3 Hari kemudian


David di markas sedang mondar-mandir memikirkan Zea yang tak kunjung membalas pesannya.


“David, apa yang kamu lakukan?” tanya salah satu anggotanya.

__ADS_1


“Aku khawatir, Zea tidak kunjung membalas pesan ku.”


“Memang kalian balikan?.”


“Iya.”


“Kamu yakin? Atau itu hanya pikiranmu saja.”


Tepat setelah temannya berbicara, dia mendapatkan panggilan masuk dari Zea.


“Zea,” panggil David bersemangat.


“Bisa kita bicara?.”


“Tentu,” jawab David mengiyakan.


David menanyakan banyak hal termasuk apakah Zea sakit, kenapa tidak membalas pesan bahkan menanyakan apakah dia mengalami kesulitan selama disana.


“David,” panggil Zea menghentikan omelan David.


“Iya.”


“Aku tidak ingin kita balikan.”


David terdiam, Dia tidak habis pikir, Setelah hari yang indah itu dan bahkan ciuman yang dia mulai lebih dulu. Zea memilih untuk tidak rujuk dengan dirinya.


“Aku tidak ingin kembali kepadamu. Ketika kamu sendiri belum menjadi cukup baik, dan belum sepenuhnya paham posisi kita sekarang.”


“Aku tahu, hidup itu panjang. Jadi, mari kita jalani hidup kita seperti biasanya,” tambahnya kemudian.


“Kenapa? Bukankah kemarin semuanya baik-baik saja?” tanya David masih tidak percaya.


“Takdir adalah rahasia, sementara itu mari kita jalani hidup masing-masing. Jika, nanti pada akhirnya kamu adalah takdirku maka aku akan menerima kamu,” kata Zea.


“Terima kasih untuk liburannya mengasikkan kemarin,” tambahnya kemudian mematikan panggilan suara itu.


Zea menangis kencang setelah mematikan telepon. Berapa sakit dan pedih dadanya, ia baru saja berbohong atas hal yang tidak dia inginkan. Dia memang masih mencintai David, tapi sulit untuk mengulang hal yang menurut rumit dan pelik.


****

__ADS_1


Zea kembali ke rutinitas biasanya, kuliah dan kuliah. Dia memang tidak di izinkan bekerja oleh kedua orang tuanya. Walaupun biaya hidup di luar negeri sangat mahal, tapi kedua orang tuanya enggan putri kecilnya bekerja dan kuliah. Karena ini akan mempengaruhi kehidupan kuliah putrinya. Mereka hanya ingin Zea fokus kuliah tanpa memikirkan banyak hal. Namun, setelah memutuskan untuk tidak berbaikan dengan David dia menjadi resah dan menangis sesekali. Maka dari itu, dia mencari pekerjaan paruh waktu untuk menemukan kembali kehidupan yang dia ingikan dan membuat dirinya terlahir kembali menjadi Zea yang bersemangat.


__ADS_2