Missing You : David

Missing You : David
63. Kebetulan yang menyesakkan


__ADS_3

Emily mengumpat, dia menyesali temannya harus bertemu dengan laki-laki gila yang membuat hidup dan kepercayaan kepada laki-laki hancur begitu saja. Zea yang ceria, semangat dan murah senyum itu hilang dari muka bumi menjadi wanita ambisius dan obses akan kedudukan. Dia yang baru saja kenal semenjak keduanya menempuh magang bersama di perusahaan software terbesar di negara Paman Sam itu membuat keduanya semakin dekat dan saling terbuka.



POV* Zea Dimata Emily dulu.


Emily bahkan rindukan Zea yang murah senyum dan bersemangat seperti dulu. Namun, mendengar mantan kekasihnya semakin sukses dan berjaya tanpa dirinya. Bahkan merekrut wanita penghancur hubungan mereka sebagai anggota dari tim e-sport yang baru mereka bentuk membuat Zea semakin marah dan hancur dalam waktu bersamaan.




POV* Zea setelah putus, memotong rambut indahnya, hanya bermain game dengan teori dan skill tanpa perasaan lagi.


"Sayang sekali jika hidupmu yang baru mulai bersinar ini harus gelap lagi karena laki-laki itu," kata Emily dengan kesal.


Keesokan harinya, Emily tidak membangunkan Zea. Tidak menganggu Zea dan menyiapkan makanan seperti biasanya. Emily memang suka memasak, sehingga mereka berbagi tugas bagian kebersihan dapur itu tugas Zea dan memasak tugas Emily.


"Good morning," sapa Zea.


"Good morning, Ze."


"Hari ini kamu libur kan Lili?."


"Iya."


"Apakah kamu akan pulang ke rumah."

__ADS_1


"Benar, maaf sekali aku tidak bisa menemani mu karena ibuku mengadakan acara keluarga. Sehingga, aku harus pulang."


".


"It's okay."


Zea lantas pergi ke kantor memulai hari seperti biasanya. Sesampainya di kantor, dia mulai berdandan dan bekerja seperti biasanya tanpa memikirkan kejadian kemarin.


"Zea, hari ini ada tamu khusus. Pihak divisi kita meminta kamu menjadi MC, jadi nanti kamu kerja lembur."


"Ha? Lembur lagi?."


"Iya Zea. Maaf ya," kata Alex yang merupakan ketua divisi.


Zea terdiam karena kesal. Tapi, apa boleh buat. Ini adalah tanggung jawab dan pekerjaan yang harus dia lakukan.



"Halo Alex," sapa David kepada semua kru lainnya.


Zea kaget, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal bukan main. Tapi, dia harus mengontrol ekspresi dirinya sendiri.


"Tidak Zea, fokus," kata Zea pada diri sendiri kemudian menepuk pipinya dan kembali sadar.


Dia akan bekerja profesional dan menyelesaikan ini semua dengan baik. Setelah itu, dia pergi ke panggung tepat di kursi dan mulai membaca skripct pertanyaan yang akan disampaikan.


David masih di depan panggung berbincang dengan Alex dan sesekali menatap.

__ADS_1


Setelah waktu mulai mendekati mulainya acara talk show. Zea semakin fokus dan mengerjakan ini semua dengan baik. David juga terlihat cerdas dan lancar menjawab pertanyaan hingga semuanya selesai.


"Zea. good job." Puji Alex.


Zea mengangguk dan tersenyum, dia lantas pergi meninggalkan David, tapi David memanggilnya tiba-tiba.


"Zea."


Zea hanya menoleh ke arah David dan tidak mengatakan satu kalimat pun. David berjalan ke arahnya dan berkata.


"Satu kali mungkin kebetulan, dua kali bisa jadi kebetulan. Namun, jika untuk ketiga kalinya maka itu adalah takdir. Bukankah begitu Zea," kata David tanpa sungkan.


Zea terlihat kesal, namun memilih menahan demi reputasinya di depan semua kru.


"Aku sibuk, aku permisi dulu," pamitnya kemudian pergi meninggalkan panggung.


**


Sepanjang jalan pulang, dia yang berjalan dari halte bus ke rumah terus memikirkan kejadian dan omongan David.


"Takdir katamu? Ini hanya kebetulan yang menyebalkan," oceh Zea kemudian.


Hampir dekat dengan rumah, dia melihat Lili yang memeluk Harry. Tepat di depan rumah mereka, Lily tampak memeluk Harry dengan tatapan yang sedih. Mereka seperti mengatakan sesuatu dan Harry tidak membalas pelukan itu justru terdiam.


"Apa yang mereka lakukan?" pikir Zea yang kemudian membalikkan wajah dan pergi kembali ke halte bus.


"Lebih baik malam ini aku tidur di luar saja," katanya.

__ADS_1


__ADS_2