Missing You : David

Missing You : David
11 Sedikit Bohong banyak Barengnya


__ADS_3

David duduk manis di samping Zea memangku piala milik Zea. Sementara Zea masih tertidur lelap.


30 Menit kemudian mereka tiba di depan gerbang masuk kompleks. David membangunkan Zea sejak 2 halte sebelum turun.


"Kamu yakin ngga mau mampir?"


"Ngga Ze, lain kali saja."


"Ya udah aku duluan ya. Makasih kak," jawab Zea sambil mengambil alih piala dari tangan David.


David masih duduk di dalam bus, sedangkan Zea sudah turun. Zea melambaikan tangan kepada David dengan gemasnya.


David tidak mampu menahan senyum melihat tingkat Zea yang seperti anak kecil.


Zea berjalan dari halte menuju rumah sambil membawa piala. Tiba tiba Dimas lewat.


"Ze, kamu darimana?"


"Mas Dimas, ini dari sekolah mau pulang."


"Kasihan bawa berat, sini ayo aku antar pulang."


"Ngga ngrepoti mas?"


"Ngga kok, sini ayo."


Zea duduk di kursi belakang membonceng Dimas. Sesampainya di rumah, bapak dan Aslan sedang duduk di teras.


"Makasih mas Dimas."


"Sama sama Ze, aku pulang dulu ya."


"Mampir dulu nak Dimas," sapa Bapak.


"Tidak pak, sudah mau petang lain kali saja."


"Yasudah kalau begitu, hati hati ya nak Dimas. Terimakasih sudah mengantarkan Zea pulang."


"Sama sama pak."


Bapak berjalan menuju gerbang menghampiri Zea.


"Assalamualaikum pak," sambil mencium tangan bapak.


"Waaalaikumsalam, ini apa nak?"


"Piala pak."


"Iya bapak tahu, tapi piala apa?"


"Zea menang lomba baca puisi pak."


"Alhamdulillah, ayo masuk dulu dibahas di dalam. Biar bapak bawakan pialanya."


Bapak dan Zea menuju rumah sambil membawa piala. Aslan dan ibu menyambut dengan gembira kemenangan Zea.


*****


David turun di halte berikutnya. Dia menghubungi orang rumah untuk menjemputnya. Setelah menunggu selama 10 Menit akhirnya orang rumah datang menjemput.

__ADS_1


"Maaf tuan muda, apakah tuan muda sudah menunggu lama?"


"Tidak pak, tidak masalah. Ayo pulang."


"Oh iya pak, minta tolong ambilkan mobil saja di Hotel Grade."


"Baik tuan."


Sesampainya di rumah, David menuju ke kamar. Tapi siapa sangka di dalam kamarnya ada dua orang perusuh sedang mengacak acak kamar miliknya.


"Woy, apa yang kalian perbuat dengan kamarku?" tanya David.


"Haha, baru pulang dia. Habis darimana lu Vid. Sampai pulang aja ga bawa mobil."


"Tadi ada urusan."


"Semenjak kapan urusan loe jadi rahasia?"


"Tadi gue ketemu Zea di jembatan perlintasan dia mau naik bus. Ya udah gue ikut makanya mobil ditinggal di hotel."


"Wahhh gila lor Vid. Bener bener dimabuk cinta ya loe," goda Kelson


"Terus Zea gimana? Dia ngga curiga loe naik bus?"


"Ngga sih, dia ngga nanya. Mungkin karena dia kecapekan kali jadi lebih sedikit ngomong."


"Terus loe bilang mau kemana naik bus?" tanya Alvin.


"Bilang mau pulang. Padahal gue tadinya mau ambil mobil di hotel."


"Wihh udah mulai bohong lu Vid," ucap Alvin.


"Sedikit bohong gapapa lah ya," jawab David santai.


David hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tingkah Kelson sambil menahan senyum. Yups sudah bukan rahasia lagi jika David sepertinya mulai tertarik dengan Zea.


David dan Zea terpaut selisih umur 1 tahun. Mereka juga akan lebih sering bertemu karena berada di club yang sama. Belum lagi Zea adalah seseorang yang menyukai game. Sama seperti David.


Hari berlalu begitu cepat. Tiga bulan sudah berlalu, Aslan sudah mulai kembali ke rutinitas setiap harinya.


Masalah kecelakaan hari itu, diselesaikan dengan pihak kepolisian. Pihak manajemen peternakan yang dikenai denda karena lalai dalam menjalankan tugasnya. Sopir truk tidak dipenjara karena pada saat mengemudi beliau bersih dari Alkohol dan pengaruh obat obatan lainnya.


Pihak peternakan memberikan uang ganti rugi kepada Aslan dalam jumlah yang cukup banyak. Kekurangan biaya rumah sakit milik Aslan juga ditanggung pihak manajemen peternakan. Sedangkan biaya operasi Aslan masih belum diketahui siapa yang membayarnya.


Bapak dan ibu ingin membalas siapa yang sudah membayar tagihan rumah sakit tersebut. Namun nihil, sampai saat ini tidak diketahui identitas siapa yang membayarkan.


Hari itu, klub panahan sedang mengadakan latihan rutin. Tapi kali ini berbeda, pihak sekolah memberitahukan bahwa ada donatur yang mau meminjamkan resort miliknya di pinggir pantai yang luas dan memiliki lapangan panahan yang cukup baik di kota itu untuk dijadikan tempat latihan.


Akhir pekan Minggu ini akan berbeda. Zea harus menginap di luar selama satu malam untuk mengikuti latihan. Memang tidak mengherankan jika kegiatan semakin digencarkan pasalnya awal tahun depan perlombaan tingkat nasional akan diadakan untuk cabang olahraga memanah.


"Persiapan sudah beres nak?" tanya ibu.


"Sudah bu."


"Ya sudah ayo ibu antar ke depan."


Bapak dan Aslan sudah menunggu di ruang tamu. Sedangkan Fadlan ada di dapur menata rantang makanan dan beberapa camilan.


"Bapak ibu, Zea berangkat dulu."

__ADS_1


"Hati hati ya nak, nurut dengan bapak ibu guru disana."


"Baik Bu."


"Oh iya ini dibawa," sambil menyodorkan rantang berisi makanan.


"Astaga, banyak sekali ini Bu. Ze sudah makan Bu disana juga disediakan makanan."


"Nanti kalau kamu lapar bagaimana?" tanya ibu khawatir.


"Sudah dik, bawa saja kresek putih itu. Jangan hiraukan ibu," pinta Aslan.


"Kamu tu ya As, kalau adikmu lapar bagaimana?."


"Tidak akan Bu, disana Zea diberi makan. Sudah nanti dia ketinggalan bus."


Bapak melerai ibu dan Aslan yang sedang beradu argumen.


"Sudah sudah, nanti Zea terlambat."


Zea menggelengkan kepalanya heran dengan ibu dan kakaknya yang suka sekali berdebat. Bapak menuntut Zea menuju teras. Sedangkan Fadlan membawa kantong plastik berisikan camilan untuk Zea sampai di mobil.


Zea berangkat diantar oleh Fadlan sampai SMA. Di sana dia masih menunggu rombongan berkumpul. David tidak terlihat disana.


Tidak dipungkiri jika semenjak bertemu di jembatan hari itu. Hubungan Zea dan David membaik. Mereka sering bertemu dan jajan bersama di kantin. David juga sering memberi Zea susu kedelai dan yogurt tanpa tujuan. Entah iseng atau perhatian tapi itulah David.



David berjalan dari kejauhan bersama dengan Kelson dan Alvin menuju koridor tempat anggota klub yang lainnya berkumpul.


"Vid, itu Zea bukan?"


"Wihh cantik banget," goda Kelson.


"Bener bener cantik, dari samping aja kaya bidadari," tambah Alvin menggoda.


Lagi lagi David terpana melihat kecantikan Zea. Wajah yang polos tanpa riasan itu justru terlihat sangat bersinar diterpa angin. Dengan rambut Zea yang hanya panjang sebahu.


"Cantiknya," gumam David dalam hati.


Tiba tiba seseorang menghampiri zea. Lelaki yang tak lain adalah Cio. Cio adalah anak berprestasi jurusan MIPA yang satu angkatan dengan David.


Entah mengapa hati David kesal melihat Cio yang menghampiri Zea.


"Ada urusan apa Cio disini? Ini kan akhir pekan?" tanya David tanpa sadar.


"Lah lahh, lu cemburu bro hahha," goda Kelson.


"Ngga nanya doang."


"Halah ngaku aja kali," goda Kelson lagi.


"Gue dengar sih sebentar lagi lomba debat internasional mungkin itu anak kutu buku mau ikut," jelas Alvin.


"Bisa jadi bro," jawab Kelson merangkul pundak Alvin.


David yang geram menghampiri Zea dan Cio tanpa basa basi.


"Ze?"

__ADS_1


"Iya?"


"Eh kak David."


__ADS_2