
Zea yang memilih tidak pulang kampung rupanya pergi ke tempat pemandiam umum atau sauna dan memilih menginap disana. Di sauna, banyak sekali orang tua dan anak muda yang bermalam di sana.
Kini, Zea tengah duduk sembari memakan telur rebus yang dia beli.
"Hei anak muda, kenapa kamu tidur di sini?" tanya seorang nenek tua yang kini tengah duduk bersama beberapa temannya.
Zea menoleh dan menjawab, “saya ingin bermalam saja nek,” jawab Zea yang hanya sebagai basa-basi mengingat yang bertanya adalah orang yang lebih tua. Nenek itu berdecik dan berkata, “anak muda zaman sekarang, sibuk mempercantik diri tapi tidak memiliki uang dan rumah,” kata nenek itu dengan nada mengesalkan. Zea yang disindir merasa kesal, tapi dia merespon dengan bijak dan justru mendekatkan dirinya dengan rombongan nenek-nenek paruh baya itu.
“Nenek, saya setuju dengan apa yang nenek katakan,” ucap Zea sembari mendekat dan membawa alas tidur dan makanannya mendekat ke rombongan nenek tadi.
“Is, apa yang dia lakukan,” kata seorang nenek lain yang merasa Zea mendekat.
“Oh ya, bagian mana?” tanya nenek yang tadi mengejek Zea.
“Bagian anak muda sibuk mempercantik tanpa menyimpan uang untuk dirinya sendiri.”
“Aku juga begitu nenek, aku bekerja untuk mempercantik diri karena aku pembawa acara,” tambah Zea.
Gerombolan nenek-nenek itu merasa tertarik dan menatap Zea dengan senyuman bersemangat.
“Oh iyakan, bagus sekali pekerjaanmu,” kata seorang nenek.
Nenek lain juga menyaut dan bertanya. Akhirnya mereka berbaur dan saling mengenal satu sama lain.
Keesokan harinya, Emily tidak melihat Zea berada di rumah. Dia juga mendapati dirinya tengah berada di ruang tengah dengan selimut. Dia tidak ingat kejadian dan apa yang menyebabkan dirinya tidur di ruang tamu. Malah memikir, Emily lantas pergi mandi dan berangkat kerja.
“Pagi Lili, tumben tidak berangkat bareng Zea.”
“Memangnya Zea sudah berangkat?”.
“Sudah.”
“Oh, ya sudah sana lanjut kerja,” kata Emily mengalihkan pembicaraan.
Dia langsung duduk di kursi kerjanya sebagai bersama beberapa rekan kerjanya. Dia juga melihat ke arah kantor pribadi Zea bersama beberapa presenter lainnya yang tengah duduk di sana dengan pakaian yang masih sama seperti kemarin.
“Apa dia tidak pulang?” pikir Emily penasaran.
Tiba-tiba, ada pesan masuk dari Harry untuk Emily.
“Aku tidak bisa membalas perasaanmu Lili, tapi aku berharap kamu tidak menjauh. Aku mau kita tetap berteman, dan kamu tahu aku menyukai Zea. Jadi, aku akan menganggap kamu tidak mengatakan apapun kemarin,” tulis Harry di dalam pesan itu.
Emily langsung kaget. Dia bingung kenapa Harry berkata demikian, apakah kesalahan yang dia lakukan hingga membuat Harry mengatakan hal tersebut. Dia berjalan ke kantor Zea dan memanggil Zea.
“Zea, bisa tidak kita bicara sebentar?.”
“Iya, sebentar ya,” kata Zea sembari mengetik sesuatu di laptop Zea.
Emily mengangguk dan menuju ke pastry. Zea yang sudah selesai juga langsung menyusul.
“Ada apa Lili?” tanya Zea.
“Kenapa kamu tidak pulang?.”
“Aku pergi ke pemandian umum untuk menyegarkan diri, ada apa memang?.”
“Berarti kamu tidak tahu, apa yang terjadi semalam?.”
__ADS_1
“Semalam? Tidak.”
“Ada apa memangnya?” tambah Zea bertanya lagi.
“Sepertinya aku melakukan kesalahan kepada Harry, kamu tahu kan, aku cukup menyukai wajah Harry yang mirip mantanku. Tapi, aku lupa apa yang aku lakukan karena aku mabuk semalam.”
Zea terdiam, tidak mungkin dia mengatakan apa yang dia lihat semalam. Karena jika iya, maka Lili akan memikir dia menghindari mereka berdua. Alasan dia pergi ke pemandian umum pun tidak akan dibenarkan. Setelah itu, mereka juga bisa saja menjadi canggung.
“Ze, Zeze” panggil Emily.
“Ha?” jawab Zea kaget.
“Tumben memanggilku Zeze.”
“Kamu tidak nyaut saat aku panggil Zea.”
“Maaf, aku sedang pusing.”
“Oh begitu, hm pokoknya kamu tenang saja. Aku dan Harry hanya teman, sudah itu saja. Aku akan kembali bekerja,” jelas Emily yang langsung meninggalkan Zea.
Zea hanya tersenyum dan memilih sekalian mengambil minum. Zea memilih kembali kerja dan fokus untuk hari ini.
Sorenya dia pulang lebih awal karena tidak ada pekerjaan tambahan. Dia pulang lebih dulu, karena Emily harus lembur.Dia juga harus bertemu dengan Harry karena ada yang ingin Harry katakan.
“Zea, bisa tidak kita bertemu sebentar,” tulis Harry dalam pesan singkat yang tadi siang Zea terima.
Jadi, demi menemui Harry, Zea pergi ke kafe di tempat yang dipesan oleh Harry. Harry terlihat sudah duduk menunggu Zea datang. Ada kue kesukaan Zea di meja, dan dua gelas minuman yang sepertinya sengaja Harry pesan. Punya Zea terlihat menggunakan gelas plastik dan disegel plastik.
“Harry,” sapa Zea.
“Kamu sudah menunggu lama?.”
“Baru saja kok.”
“Oke,” jawab Zea kemudian duduk.
Harry yang tadinya berdiri juga ikut duduk. Mulanya mereka berbincang biasa dan ngobrol biasa, hingga tiba-tiba Harry berkata, “Aku menyukaimu Zea, bisakah kamu memberiku kesempatan.”
Zea terdiam, dia kaget bukan main. Dia merasa ada yang salah dengan ini semua. Jelas sekali ada perbedaan ucapan dan tindakan. Dia melihat kemarin Harry bersama Lili walaupun, Harry tidak membalas pelukan itu.
“Aku tahu kamu mengkhawatirkan aku dan Lili, tapi kami tidak memiliki hubungan apa-apa,” tambah Harry.
“Aku tahu kamu melihat apa yang terjadi kemarin. Aku datang kerumahmu untuk membawakan makanan yang diberikan ibu ku untuk mu, tapi Lili berjalan dengan mabuk dan mengoceh hal yang tidak jelas,” kata Harry menjelaskan.
Zea terdiam, dia bingung sekali. Sebenarnya dia juga tidak ada pemikiran untuk cemburu atau memilih Harry untuk menjadi partner. Tapi, seiring semakin dekat. Dia tahu Harry pria yang baik yang tidak akan menyakiti dia, tapi apa boleh buat. Dia juga enggan bertengkar dengan sahabatnya sendiri hanya demi laki-laki.
“Zea,” panggil Harry lagi.
“Eh, iya?.”
“Kenapa kamu diam saja?.”
“Aku harus memikirkan ini dulu Harry, ku harap kamu bersabar.”
“Baiklah, aku akan menunggu jawabanmu. aku juga berharap itu jawaban yang positif,” kata Harry.
***
__ADS_1
Malam harinya, di kediaman rumah David. Dia berdiri mematung di depan jendela rumah yang menghadap ke pekarangan dan kebun di samping rumah.
“Apakah dia baik-baik saja?” kata David yang masih memikirkan Zea.
“Kamu memikirkan siapa?” tanya Maya yang berjalan menggendong bayi di tangannya.
“Ya siapa lagi kalau bukan mantan kekasihnya,” jawab Daniel yang merupakan sepupu David sekaligus suami Maya.
“Kalian kenapa masih di sini, selalu menggangguku,” kata David kesal.
Jadi, semenjak David pulang dari kampus Zea. Dia ditolak untuk balikan dan kembali ke rumahnya. Dia mengurung diri dan sibuk menyakiti diri sendiri. Bahkan, David pernah memaksa diri untuk bekerja tanpa istirahat dan makan hingga jatuh sakit. Bahkan, semenjak itu dia jarang bermain dan pulang. Sampai akhirnya dia menemukan harapan kembali untuk bertemu dengan Zea dalam pertandingan terakhir Maya sebagai atlet esport sebelum menikah waktu itu. Dia justru melihat Zea sangat berambisi dan berapi-api. Bahkan, di mata David dia bisa melihat Zea yang dulu sudah hilang.
“Cari saja dia, dan katakan kamu masih mencintainya,” kata Daniel.
“Apakah aku harus menjelaskan kepada dia, bahwa aku adalah sepupu mu saat in?” tanya Maya sekaligus mengejek.
“Tidak usah, biarkan saja semuanya berjalan sesuai takdir. Jika sekali lagi kita bertemu, tidak peduli ada laki-laki yang dia suka, aku akan mengejarnya.”
Daniel dan Maya tersenyum dan mengangguk setuju. Mereka senang, saudaranya kali ini memiliki smeangat hidup dan cinta. Mereka bahkan takut David suka dengan laki-laki.
***
Zea mondar-mandir di ruang tamu, sementara Emily tengah menelpon mantan kekasihnya yaitu Leo.
“Ada apa sih? Mondar-mandir kaya setrika,” oceh Emily yang kesal.
“Ada laki-laki yang tertarik dengan ku, dan kurasa dia orang baik. Tapi, aku takut,” jawab Zea.
“Terima saja, aku tahu dia orang baik kok,” kata Emily meyakinkan.
“Lalu kamu?.”
“Bukankah aku sudah menjelaskan,” kata Emily.
Zea tersenyum dan mengambil ponselnya yang di charger di meja depan Emily menelpon dan pergi ke dekat kolam.
Drrtt
Ponsel Harry berbunyi, dan dia melihat ada nama Zea di sana.
“Tolong gantikan saja dulu,” kata Harry yang tengah mengecek berkas pasien memberikan kepada anak magang dan pergi mengangkat telepon Zea.
“Halo, Ze. Ada apa?.”
“Kamu sedang sibu?.”
“Tidak, ada apa memangnya?.”
“Aku ingin mengatakan bahwa aku akan memberimu kesempatan untuk mengenal aku terlebih dahulu,” kata Zea.
Harry tersenyum senang dan berterima kasih kepada Zea. Keduanya lantas berbincang mempertimbangkan kencan pertama mereka akan dilakukan dimana. Akhirnya keduanya sepakat bertemu di mall pada sore hari untuk menonton film sekaligus makan malam.
“Dokter Harry, ada pasien,” teriak salah satu perawat wanita yang terdengar di telepon.
“Sana kembali bekerja,” kata Zea yang peka.
“Baiklah, sampai bertemu nanti,” kata Harry kemudian.
__ADS_1