
"Maaf," jawab David.
"Aku tanya ini punya siapa?"
"Punyaku."
"Kenapa bisa tagihan biaya rumah sakit kak Aslan ditangan kamu?"
"Jangan marah dengerin dulu," pinta David.
Zea menuruti permintaan David untuk tenang. Kini Zea duduk di kasur sementara David menarik kursi di sudut untuk menghadap Zea.
David mulai menjelaskan bagaimana dia bisa menyimpan tagihan biaya rumah sakit milik Aslan.
Flashback On
David POV
Hari itu aku sedang bekerja di warnet milik temanku. Disitu pula aku pertama kali melihat mu bermain game online bersama dengan kakakmu. Ketika kamu pulang aku tidak mengikuti mu atau membuntuti mu. Aku hanya melihat mu bermain dan bagaimana caramu memenangkan pertandingan itu saja.
Ketika sore hari, tiba tiba kakek menghubungi ku untuk datang ke kantor polisi mengurus masalah kecelakaan truk milik peternakan.
Aku datang ke tempat kejadian karena Kakek memberitahukan bahwa pihak manajemen peternakan butuh waktu untuk sampai di sana tepat waktu. Sehingga aku menggantikan mereka untuk sementara waktu.
Ketika sampai disana korban sudah dilarikan ke rumah sakit. Hanya ada pihak kepolisian dan beberapa orang yang melihat kejadian itu berkerumun di pinggir jalan. Aku menghampiri pihak kepolisian untuk mengurus masalah itu. Mereka sempat ragu karena aku seperti anak dibawah umur. Lalu aku menyampaikan pesan dari kakek dan Paman Sam yang akan segera menyusul. Mereka akhirnya percaya bahwa aku memang di kirim kesana.
Akhirnya aku diminta datang kek kantor polisi bersama pihak kepolisian. Disana aku bersama seseorang bernama Fadlan membahas tentang perkara tersebut. Pihak manajemen peternakan yang di salahkan karena lalai membawa barang melebihi muatan. Karena sopir juga terluka atas insiden itu akhirnya kakakmu meminta untuk mengurus kasus itu tetapi menunda hukuman sementara hingga kak Aslan keluar dari rumah sakit.
Aku tidak tahu jika orang yang mengurus korban kecelakaan itu adalah kakak pertama mu.
Setelah urusan di kantor polisi di bereskan kakakmu pergi entah kemana. Aku datang ke rumah sakit untuk menjenguk sopir truk yang sedang terluka tetapi siapa sangka jika disana aku bertemu denganmu. Aku melihat mu menangis di sudut kursi tunggu. Sejenak aku memperhatikan mu bersama anggota keluarga mu.
Aku memang salah menguping pembicaraan mu dengan bapak dan kakakmu. Tadinya aku tidak tegas melihat mu menangis tetapi setelah aku ingat sepertinya lelaki itu adalah kakakmu yang tadi ku temui di kantor polisi. Aku kembali mengingat nama orang yang menjadi korban kecelakaan tersebut.
Akhirnya aku memutuskan untuk membayar biaya rumah sakit kakakmu. Setelah membayar tagihan rumah sakit kakakmu. Akuu menunggu mu hingga kamu tenang baru aku pulang.
Off
*****
"Aku tahu aku salah mencampuri urusan keluarga mu. Aku hanya ingin membantu dan ini tulus dari dalam hatiku," jelas Kevin.
__ADS_1
Zea terdiam dia tidak tahu harus berkata apa. Dia sangat bersyukur waktu itu David mau membantu sehingga kakaknya bisa segera dioperasi. Tetapi bagaimana, dia berhutang kepada kekasihnya sendiri. Sementara itu, selama ini David tidak pernah berusaha jujur kepada Zea. Dia bingung harus merespon seperti apa.
"Aku tahu kamu marah aku tidak jujur masalah ini. Aku tidak berniat memberitahu perihal ini karena aku melakukan itu ketika kita juga belum dekat. Membantu orang lain bukanlah hal yang salah? Iya bukan?"
"Heem," jawab Zea sambil menganggukkan kepala.
"Jangan marah sayang," ucap David duduk di depan Zea.
Raut wajah David terlihat jelas seperti sedang panik. Terlihat dari mata David dia panik menghadapi Zea yang hampir menangis.
Zea merasa seperti dibohongi terlalu lama oleh David. Tapi sayang dia masih sangat menyayangi David. Mungkin Zea harus sedikit mengalah karena mereka baru saja bersama. Butuh waktu untuk terbuka lebih dalam. Mungkin itu alasan David belum memberitahukan kepada Zea mengenai biaya rumah sakit tersebut.
"Tidak. Terimakasih karena sudah membantu keluarga ku. Aku akan mengembalikan uang milikmu tapi dengan tanganku sendiri," ucap Zea pelan.
"Tidak perlu mengembalikannya. Aku sudah ikhlas. Aku tulus membantu mu."
"Bukan masalah itu, jangan sampai ada beban di dalam hubungan kita. Biarkan aku mengembalikan uang milikmu."
"Meskipun kamu tidak mengembalikan uang tersebut tetapi aku juga tidak akan menjadikan hal ini sebagai beban dalam hubungan kita."
"Bukan kamu David tapi aku."
"Maksud mu?"
"Zea. Kamu masih anak sekolah bagaimana mencari uang sementara kamu bersekolah. Jangan berpikir untuk bekerja," ucap David tegas.
"Lalu bagaimana dengan biaya operasi kak Aslan. Aku tidak bisa jika aku merasa bergantung pada dirimu. Ku mohon."
"Hm baiklah begini saja. Kembalikan uangku dalam waktu 40 tahun."
"Ha? 40 tahun itu sangat lama. Bagaimana aku bisa mengembalikan uang mu pada saat itu."
"Tentu saja bisa, karena aku akan menua bersama mu. Kita akan bersama dan pada tahun ke 40 kita bersama pada waktu itu kamu bisa mengembalikan uang ku."
"Itu terlalu lama Dav. Bagaimana bisa seseorang mengatakan sesuatu yang belum pasti. 40 tahun kedepan aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita," jawab Zea.
"Memang kenapa? Kamu ragu dengan perasaan ku?"
"Bukan seperti itu, kita memang bersama. Berjalan bersama di dalam sebuah hubungan, tetapi ketika berjalan seseorang bisa saja menemui kerikil ditengah jalan yang bisa membuatnya terjatuh atau goyah. Aku hanya ingin kita bersama tanpa terlalu berpikir banyak."
"Kamu tidak mengharapkan masa depan hubungan kita Ze?"
__ADS_1
"Bukan seperti itu, kita masih anak SMA. Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku hanya tidak ingin terlalu berharap. Mari jalani apa yang ada di depan mata saja," ucap Zea meyakinkan.
"Hm baiklah," jawab David lesu.
"Berarti aku boleh mengembalikan uang milikmu kapan pun aku memilikinya?" tanya Zea memastikan.
"Tentu saja tidak boleh. Masih pada kesepakatan awal 40 tahun. Jika memang hal buruk maka kembalikan saja dengan mengirimkan hal itu ke ku ke rumah. Anggap saja silahturahmi."
David kemudian berdiri membelakangi Zea. Entah mengapa dia menjadi tidak bersemangat. David yakin hubungan ini akan bertahan lama karena dia ingin Zea menjadi yang pertama dan satu-satunya. Tapi Zea juga tidak salah jika mengkhawatirkan hal yang tidak perlu mungkin Zea hanya ingin mereka fokus dengan apa yang ada sekarang.
"Tidak masalah aku akan meyakinkan Zeze sedikit demi sedikit," batin David dalam hati.
Zea yang menatap David langsung memunggungi Zea merasa hal aneh. Mungkin David marah karena Zea meminta dirinya untuk tidak begitu memikirkan masa depan.
"Tapi apa salahnya. Jika kita jatuh terlalu dalam atau berharap terlalu banyak justru kita sendiri yang akan terluka," batin Zea dalam hati.
"Dav?" panggil Zea.
"Iya?"
"Kamu marah?"
"Ngga sayang, ayo makan siang aku bawain makan sekaligus susu hangat."
David berjalan menuju meja dimana dia menaruh secangkir susu hangat yang dibawakan untuk Zea tadi. Sayang sekali sudah dingin rupanya.
"Yah udah dingin yang," ucap David.
"Gapapa dingin juga enak kok. Makasih ya," ucap Zea sambil memegang tangan kiri David yang kosong tidak memegang apapun.
"Sama sama, ya udah dimakan ya."
"Iya sama kamu ya tapi," ajak Zea.
"Aku temenin aja udah makan tadi sama anak anak lain."
"Ya udah deh."
Zea makan dengan lahap di dampingi oleh David.
___________________________________________
__ADS_1
Hari itu, mereka membuat sebuah perjanjian yang akan dilunasi 40 tahun yang akan datang. Akankah mereka berdua masih tetap bisa bersama?