
Zea langsung pulang dengan Harry. Namun, David yang melihat semua kejadian itu di depan matanya. Ketika dia keluar dari bioskop terakhir, dia melihat Zea terlihat cukup akrab dengan laki-laki tersebut.
“Aku mungkin tidak akan memiliki kesempatan bersama denganmu lagi,” begitulah kata David ketika dia melihat Zea cukup akrab dengan Harry.
Keesokan harinya, Zea berangkat kerja seperti biasanya. Tidak ada pertengkaran ataupun kegaduhan. Hanya bekerja dan pulang, itulah yang semula direncanakan. Namun, sesampainya di kantor, Zea diminta untuk menjadi MC atau host seperti biasanya kemudian pergi bersama direktur untuk bertemu dengan klien dalam pertemuan makan malam bisnis.
Begini ceritanya*
Zea tengah bersiap di ruang make up, tiba-tiba Robert berjalan masuk dan menemui Zea.
“Zea, setelah pekerjaan selesai. Kamu temani saya bertemu klien untuk membahas kerjasama kita dengan pihak YW Entertainment untuk membawa beberapa talent mereka dalam variety show.
Zea menatap ke arah Robert dengan tatapan kaget sekaligus sedikit kesal.
“Malam ini? Harus lembur?.”
“Betul sekali.”
Zea hanya terdiam tanpa menjawab, dan Robert langsung pergi.
“Sisy, apakah boleh menolak lembur? Dulu ketika aku tanda tangan kontrak, lembur dari atasan tanpa alasan jelas boleh ditolak. Kali ini, apakah bisa?’ tanya Zea kepada Sisy.
Sisy yang tengah menata rambut Zea menjawab masih dengan posisi menata rambut, “Dulu pernah ada yang menolak lembur, karena dia sakit. Atasan waktu itu namanya Daniel, yang sekarang menjadi kepala Divisi di atas Robert. Keduanya memiliki sifat yang sama, cenderung tidak suka ditolak. Ketika keinginan mereka tidak dituruti, maka siap-siap saja kamu turun lantai,” jelas Sisy.
“Maksudnya turun lantai?.”
“Ya kalau kamu tidak turun jadi manajer artis di lantai bawah, kamu akan berakhir dipecat karena alasan tidak jelas.”
“Sampai segitunya?.”
“Iya, keduanya suka mengeksploitasi sumber daya manusia. Tapi, sebenarnya mereka berdua baik kok.”
“Baik darimana, masa lembur dadakan tanpa pemberitahuan. Mana aku ada rencana pulang ke rumah.”
“Baik darimana, masa lembur dadakan tanpa pemberitahuan. Mana aku ada rencana pulang ke rumah.”
“Ikuti saja Zea, tapi sebelum itu, kabari dulu orang rumah kalau kamu akan pergi dan kirim lokasi terkini. Sehingga mereka bisa membantu memantau mu,” kata Sisy kemudian minggir karena dia sudah selesai menata rambut Zea.
“Sudah selesai,” tambahnya kemudian.
Sisy mundur, menata barang-barang miliknya.
“Memang harus sampai sebegitunya, Robert kan atasan kita.”
“Ya bukan apa-apa Ze, hanya berjaga-jaga, toh kita tidak tahu isi hati manusia,” kata Sisy lagi.
Zea mengangguk setuju, dan langsung berdiri setelah siap untuk memulai bekerja. Talkshow hari ini akan cukup panjang, karena ada spesial episode dengan pihak dinas sosial untuk membahas tentang isu pelecehan berkedok suka sama suka di kalangan anak remaja.
Pukul 18.00
Zea baru saja mematikan laptopnya dan mengambil tas untuk segera pulang.
“Ayo pulang,” ajak Tasya yang menunggu di depan pintu divisi Zea.
“Tidak bisa, Zea harus pergi lembur,” kata Robert.
Zea hanya menatap ke arah Robert yang entah muncul dari mana. Tidak menjawab, dia hanya memilih diam dan membereskan barangnya.
“Oh begitu, kalau begitu aku pulang duluan Zea,” kata Tasya yang merasa canggung.
Zea mengangguk dan berkata, “Hati-hati ya, Tasya.”
__ADS_1
“Ayo,” ajak Robert.
Zea hanya berjalan mengekor di belakangnya. Keduanya pergi dengan mobil dinas dari kantor milik Robert.
“Klien suka makanan jepang, jadi kita akan makan di restoran jepang.”
“Baik pak.”
Robert tidak menjawab dan hanya diam sepanjang jalan. Sesampainya di restoran dan masih menunggu klien, mereka juga tidak berbincang. Robert tidak terlihat tertarik kepada Zea. Dia hanya diam dan memilih memainkan ponsel selama menunggu klien datang.
“Dia tidak seperti yang dikhawatirkan oleh Sisy tuh,” kata Zea.
Robert berdiri tiba-tiba dan menatap ke kanan kiri.
“Ada apa?” tanya Zea.
“Itu klien kita.”
Zea melihat ke arah sana dan mendapati ada seorang laki-laki paruh baya dan perempuan yang tidak asing di mata Zea, Maya.
“Selamat datang, Mr. Han,” sapa Robert.
Tuan Han menyambut dengan baik dan mereka berdua duduk bersama, berbincang kemudian memesan makan. Maya terlihat sangat profesional dan bekerja dengan sepenuh hati. Hingga akhirnya kesepakatan dicapai. Kemudian, projek itu akan dilakukan pada dua bulan kedepan.
“Terima kasih,” kata Maya sebelum pulang setelah makan malam selesai.
“Saya yang berterima kasih, semoga kerjasama kita berjalan lancar,” kata Robert kepada Maya.
Maya tersenyum dan mengantarkan Tuan Han sampai di depan dan menunggu mobilnya datang.
“Zea, mari minum dulu untuk merayakan kesuksesan hari ini,” ajak Robert tiba-tiba.
Zea melotot, dia ingin menolak tapi bingung. Posisinya dia tidak membawa kendaraan dan hanya datang menumpang Robert.
“Oh iya Zea, bukankah kita harus membahas tentang konsep itu bersama. Kebetulan aku ingin membahas ini malam ini,” kata Maya tiba-tiba.
Zea bingung, dia tidak merasa memiliki rencana seperti itu, tapi Dia ingat sekali Tuan Han ingin Maya dan Zea bekerja sama membantu para talent membangun kemistri selam proyek ini berlangsung.
Brumm
Mobil Maya tiba di depan dan pihak parkir dari valet memberikan kuncinya.
“Mari Zea,” ajak Maya.
“Maaf ya tuan Robert, saya pinjam waktu Zea dulu. Lain kali, kalian bisa merayakan bersama rekan divisi yang lain,” kata Maya sembari tersenyum.
Zea langsung setuju tanpa pikir panjang. Dia merasa kali ini kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Robert terlihat kesal saat Zea setuju, tapi apa boleh buat. Dia hanya bisa mengatakan sementara waktu ini. Demi menyelamatkan dirinya dari laki-laki aneh.
Di dalam mobil, Zea hanya diam dan Maya yang memulai pembicaraan.
“Bagaimana kabarmu Zea?.”
“Seperti yang kamu lihat Maya, aku bekerja dari pagi hingga malam.”
“Haha, sarkas yang bagus. Bos mu gila kerja rupanya.”
“Ya begitulah, namanya juga manusia,” kata Zea.
Keduanya mulai akrab dan sementara melupakan kejadian sebelumnya. Hingga akhirnya ada panggilan dari ponselnya.
__ADS_1
“Ada apa Dadid?.”
“Apa?.”
“Sebentar aku akan segera kesana,” kata Maya panik lalu mematikan panggilan tersebut dan bergegas pergi dan memutar arah.
Zea panik juga, “Ada apa?” tanya Zea.
“Anakku sakit, dia bersama David di rumah sakit.”
“Astaga, semoga dia baik-baik saja.”
Maya mengangguk dan berterimakasih atas ucapan dan doa dari Zea. Keduanya di dalma mobil dengan kecepatan penuh menuju ke rumah sakit.
Sesampainya disana, mereka melihat David berdiri di depan ruang periksa sembari menggendong bayi.
“Bagaimana ini David?.”
“Kata Dokter, bayimu demam. Tapi, bisa dibawa pulang.”
“Astaga, kenapa bisa sampai begini? Dimana suami ku?” tanya Maya panik.
“Suami mu harus pergi keluar negeri, dia pergi tadi ketika kamu kerja dan menitipkan bayimu kepada ku. Karena pengasuhnya sudah pulang.”
“Lalu, kenapa bisa panas? Kamu beri makan apa?.”
“Maya, jangan berlebihan,” jawab David sembari menyerahkan bayi Maya di gendongannya.
“Lalu apa?.”
“Bayimu ikut denganku dari siang, dan suamimu lupa membawakan asi. Sudah ku berikan susu formula. Tapi, sepertinya dia masih lapar dan kurang cocok dengan kondisi rumah ku yang terlalu dingin mungkin.”
“Halah, ayo pulang,” ajak Maya.
“Tidak bisa,” kata David.
“Apa lagi?” tanya Maya yang menoleh ke arahnya.
“Mobilku mogok di pertigaan, dan tidak tahu masih ada disana atau di bawa oleh towing.”
“Sudah biarkan saja, aku akan mengantarkan kamu pulang.”
“Lalu, bagaimana dengan mobilku?.”
“Biarkan saja.”
“Iss, kenapa begitu.”
“Siapa suruh membeli mobil bekas, sudah sana menyetir saja,” kata Maya.
Zea hanya dia mengikut mereka berdua yang terus-terusan bertengkar dan beradu mulut. Zea tadinya hendak duduk di belakang, tapi Maya lebih dulu duduk di belakang.
“Kamu di depan saja ya, aku ingin duduk di belakang,” kata Maya.
Zea hanya mengangguk.
“Kita pulang ke rumahku dulu, baru kamu antarkan Zea,” kata Maya.
“Aku bisa kok pulang sendiri,” kata Zea.
“Sudah malam,” kata David dan Maya bersamaan.
__ADS_1
Zea hanya diam dan tidak berkata apapun.
"Kenapa aku bisa terlibat dengan mereka berdua sih," batin Zea dalam hati.