Missing You : David

Missing You : David
35 Hanya Penenang


__ADS_3

"Kenapa sayang?" tanya David.


"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Zea dengan wajah lesu.


"Kenapa mikirnya gitu?" tanya David.


"Aku ada firasat kamu bohong sama aku. Entah cuma perasaan atau apa tapi kamu beda."


"Aku minta maaf kalau aku jarang ada waktu buat kamu. Maaf aku kurang perhatian dan jarang kasih kabar," ucap David menatap lekat wajah Zea.


David mengangkat dagu Zea untuk menatap wajah David.


"Maaf sayang," ucap David lembut.


Zea menatap dengan wajah iba. Entah siapa yang menaruh bawang di bawah mata Zea tapi dia menitikkan air mata. Hatinya terasa sedikit lega mendengar ucapan permintaan maaf dari David.


Tapi tetap saja, Zea merasa hatinya masih sesak. Memikirkan hal hal buruk tentang kekasihnya, menghawatirkan hal yang tidak pasti selama ini.


Hiks hiks


"Aku tu takut kamu selingkuh huaa," ucap Zea sambil menitikkan air mata.


"Sayang jangan nangis, astaga maaf."


David mengelus elus rambut Zea dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menggenggam tangan Zea erat.


"Cup cup, udah jangan nangis aku nggak selingkuh kok."


Zea masih menangis sesenggukan tanpa mendengarkan ucapan David. Namanya juga baru pertama pacaran, baru awal tahu rasanya ditinggal sibuk pasangan.


David mengambil inisiatif untuk mengusap air mata di pipi Zea.


"Udah ya, jangan nangis lagi," ucap David kepada Zea.


Air mata Zea berhenti mengalir. Kini dia menatap lekat David yang ada tepat di depan wajahnya.


Zea hanya mengangguk dan menghapus air matanya dengan tangan. David mengambil tisu untuk menghapuskan air mata Zea.


"Sini aku aja," pinta David.


Setelah menghapus air mata Zea, David memeluk Zea sambil mengelus elus kepala Zea.


"Maaf ya," ucap David kepada Zea.


"Iya gapapa," jawab Zea polos.


Sebenarnya David meminta maaf karena David tidak bisa mengatakan masalah Agnes kepada Zea sekarang. Karena Minggu depan Zea harus ikut ujian akhir semester. Jika David mengatakan sekarang takutnya akan mempengaruhi semangat belajar Zea.


Apalagi hari ini, Zea menangis di depan David seperti anak kecil. David tidak membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai Zea mengetahui masalah Agnes. David memilih mengubur masalah ini hingga ujian akhir semester selesai.


"Lapar yang?" tanya David.


"Nggak kok."


"Yakin?" tanya David sekali lagi memastikan.


"Iya," jawab Zea.


Krucuk


Bunyi suara perut Zea tiba tiba. Tanpa aba aba perut Zea berbunyi tanpa tahu malu. David yang masih dalam posisi memeluk Zea yang menyenderkan kepalanya di pundaknya mendengar jelas suara tersebut.


"Bohong, itu perutnya bunyi tuh."


"Aku nggak lapar kok."

__ADS_1


"Pokoknya harus makan, dah ayo makan," ajak David.


David melajukan mobilnya mencari tempat makan terdekat sebelum mengantar Zea pulang. Tidak mungkin dia mengantarkan Zea pulang posisi dia sedang lapar begitu.


David menyuruh Zea duduk dengan tenang karena dia akan kembali melajukan mobilnya mencari tempat makan. Saat melepaskan pelukannya, David menatap lekat wajah Zea yang sendu karena menangis.


Entah mengapa, hari itu bibir Zea seperti lebih merah dari biasanya. Membuat iman David tidak kuat melihatnya. David mendekati Zea entah apa yang dipikirkannya tapi dia meminta izin kepada Zea.


"Cium boleh?" tanya David dengan wajah yang sudah mendekat ke wajah Zea.


Zea gugup, jantung nya berdebar kencang seperti dipacu lari keliling stadion. Entah mengapa pipinya serasa memanas padahal AC mobil masih tetap menyala. Pipinya memerah melihat wajah David yang sudah mendekat dengan wajahnya.


Zea mengangguk pertanda mengiyakan permintaan David. Sedetik kemudian Zea meremajakan matanya.


David yang mendapatkan izin dari Zea semakin mendekatkan bibirnya dengan bibir Zea. Semakin dekat semakin dekat jantung mereka berdetak kencang karena atmosfer yang canggung itu. David tersenyum melihat Zea yang gugup sambil menutup matanya.


Entah mengapa, tapi David merasa jika bukan hari ini waktunya. Dia membelokkan bibirnya dari depan bibir Zea menuju kening Zea.


Cup


Beberapa detik David mengecup dan melepaskan bibirnya kemudian mengelus elus rambut Zea.


"Aku sayang kamu Ze," ucap David lirih setelah mencium kening Zea.


Zea kaget langsung membuka matanya. Dia tersenyum dengan tingkah David. Bukan kecewa tapi Zea merasa lebih dihargai dengan dicium di kening.


"Terimakasih," jawab Zea.


"Iya, udah ayo makan."


*********


Setelah menempuh perjalanan 10 menit, David melihat sebuah tempat makan di kanan jalan.


"Makan ayam gapapa yang?"


"Nakal ya jawabnya gitu."


"Terserah, aku apa aja mau."


"Ya udah ayam aja ya."


Zea mengangguk pertanda setuju dengan ajakan David.


David menepikan mobilnya dan memarkirkan di tempat parkir. Tempat makan tersebut lumayan ramai.


"Ayo," ajak David turun sambil membukakan pintu untuk Zea.


"Makasih."


David menyuruh Zea untuk mencuci muka dan duduk menunggu sementara David memesan makanan.


Zea pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya dengan air. Setelah selesai kemudian Zea menggunakan lip tint agar tidak terlihat pucat pasi.


Sebelum membasuh muka, Zea tersenyum cengar cengir sambil memegang kening nya yang di kecup David tadi. Dia sangat senang karena permasalahan dengan David selesai. Dia sudah mengutarakan hal buruk yang dia pikirkan mengenai David dan juga David tidak jadi mencium bibir justru mencium kening dan memperlakukan Zea dengan sopan.


Setelah selesai di kamar mandi ,Zea keluar dan mendapati David tengah duduk di kursi menunggu Zea.


"Kamu lama ngapain aja?" tanya David.


"Cuci muka aja kok."


"Bukan karena apa apa kan?"


"Iya, cuma cuci muka."

__ADS_1


"Ya udah sini ayo duduk."


"Oh iya yang, tadi aku pesen ayam bakar buat kamu."


"Makasih ya," jawab Zea.


"Sama sama cantikku, jangan nangis lagi ya," ucap David sambil menyentuh pipi Zea.


Zea menganggukkan kepalanya.


"Oh iya, tadi kok bisa tahu aku ada di halte?" tanya Zea.


"Owalah, tadi aku dikirimi foto dadi anak Club' panahan ya udah aku samperin kamu aja."


"Tapi jarak rumah ke sekolah kan lumayan."


"Iya, tadi aku kebetulan ada urusan di warnet yang dekat sekolah jadi bisa cepat otw nya."


"Owalah yaudah," jawab Zea.


"Kamu dekat sama Gavin?"


"Nggak kok."


"Terus kenapa bisa Gavin duduk bareng kamu? Bukannya dia juga punya mobil."


"Aku juga nggak tahu, tapi waktu aku nunggu di halte dia nawarin buat pulang bareng," jawab Zea polos.


Seorang pelayan datang mengantarkan minuman yang di pesan David.


Zea berterimakasih sambil menyuguhkan senyum manis kepada pelayan tersebut.


David semakin cemburu dengan tingkah Zea terlebih ada lelaki yang mendekati kekasihnya di sekolah.


"Ze, jangan senyum."


"Lhu yang kok manggil nama?" tanya Zea polos.


"Makanya jangan tebar senyum."


"Ya udah nggak lagi ya," ucap Zea dengan sikap sok imut kepada David.


David yang gemas, luluh melihat tingkah laku menggemaskan Zea.


"Ya udah."


"Makasih," jawab Zea sambil tersenyum.


"Jangan dekat dekat Gavin ya yang, kalau pulang nggak dijemput wa aku aja biar aku yang jemput."


"Iya, besuk nggak lagi dekat dekat sama Gavin."


"Janji jangan gitu lagi."


"Iya iya janji," ucap Zea.


David lega mendengar ucapan Zea, mengelus kepala Zea.


Sesaat kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Selamat makan," ucap Zea kepada David.


"Iya sayang, makasih," jawab David.


Mereka berdua makan dengan tenang dna menikmati hidangan yang disajikan.

__ADS_1


___________________


__ADS_2