
Menjelaskan
****
“Ze, jawab aku, kamu masih sayang kan?” tanya David sambil memegang tangan Zea.
Tubuh Zea serasa membeku, mulutnya ingin mengatakan tidak tapi hatinya berkata dia masih menyimpan rasa kepada David. Bukan perkara gampang melupakan laki-laki yang sudah sejak awal disukainya itu.
David bingung dan kehabisan akal, dirinya sudah berlutut, menjelaskan dan meminta maaf. Namun, masih tidak ada jawaban dari Zea. Rasanya dia ingin berteriak karena frustasi, bagaimana tidak. Jika dia benar-benar kehilangan Zea, maka dia mungkin akan menjadi tidak waras. Bagaimana tidak, setelah kedatangan Denis saja, David sudah menggila dan tidak fokus karena merindukan dan mengkhawatirkan Zea. Belum lagi Zea memutuskan komunikasi dan hubungan dengannya bahkan berpindah Negara untuk menjauh dari David menggunakan alasan untuk sekolah.
Sekali lagi dirinya bertanya kepada Zea, “apakah sudah tidak ada kesempatan untuk diri ku?” tanya nya kepada Zea.
Tanpa berpikir panjang, Zea langsung menganggukkan kepala menjawab pertanyaan David.
David terpukul, dadanya sesak rasanya suaranya tidak keluar. Dengan berat hati, David melepaskan tangan Zea dan berdiri dari posisi berlutut. David berdiri dan membelakangi Zea. Orang mengira bahwa jatuh cinta adalah hal yang mudah, tidak perlu dipikirkan secara berlebih. Tapi, bagi David, Zea adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Menemukan gadis yang bisa mengerti dunianya, gadis baik dan sopan. Namun, sayang sekali Zea mendorongnya untuk pergi. Tanpa disadari, air mata mengalir di pipi David. Tidak deras, namun cukup untuk membuatnya matanya merah karena air mata, wajahnya menjadi sendu. Tidak berani dirinya menampakan diri menatap wajah Zea.
Zea mengira David sudah menyerah karena melepaskan tangannya. Rasanya seperti ada yang menganjal. Ada yang hilang, sesuatu yang besar yang sedari awal memenuhi ruangan di dadanya. Somenthing yang membuat dirinya merasa sangat berharga, membuat harinya rainbow dan butterfly setiap hari. Sesekali membuat dirinya over thinking, tapi itu yang menjadi pesona dalam sebuah hubungan. Benar, hati Zea tiba-tiba hampa karena dia merasa akan kehilangan semua itu. Mimpi yang di inginkan untuk dijalankan bersama sayang sekali harus kandas jika mereka benar-benar berpisah.
Zea melihat kearah David, dilihatnya dengan seksama David sedang berdiri mematung di pojok tembok sambil mengapus sesuatu di wajahnya dengan tangan kanannya. Merasakan bahwa David sudah memunggungi tubuhnya pertanda bahwa dia akan benar-benar kehilangan David, Zea langsung berdiri untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tanpa sengaja dirinya menyenggol kotak kado yang dibawa oleh David. Kotak tersebut terguling dan terlihat jelas ada sebuah boneka, dan beberapa foto mereka disana. Ada sebuah botol kaca berisi kertas nyaris penuh terisi dengan kotak yang tergulung di dalamnya. Perhatian Zea tertuju pada botol kaca tersebut. Dirinya menundukkan kepala dan mengambil botol tersebut. Dibukanya botol tersebut, belum sampai mengambil semua isinya David langsung datang dan membereskan hadiah yang berserakan keluar dari kotak kado tersebut.
“Bukan hal penting, tidak usah dibuka,” ucap David.
Zea menjadi merasa bahwa David sedikit dingin dengan diirnya. Niat untuk mencari tahu pun terkubur kembali. Namun, bukan Zea jika menyerah begitu saja, dia membuka botol tersebut dan mengambil satu gulungan paling atas lantas membukanya.
Ada sebuah tulisan di dalam gulungan tersebut,” hari ini adalah hari dimana aku akan bertemu dengan dirimu, semua rindu yang ku tabung dalam botol ini akan segera bertemu dengan pemilik dari rindu itu. Gadis cantik dengan senyum yang menjadi candu.”
David-
Zea lantas melihat kearah David, “bisa kita bicara?” ucap nya.
David melihat ke arah Zea dan mengangguk pertanda mengiyakan.
Mereka berdua seraya duduk di kursi tersebut dan menaruh kotak kado di kursi samping David. Zea masih mengenggam erat botol kaca yang mengalihkan perhatiannya itu.
“Apa tujuan mu datang kemari?” tanya Zea.
“Menemui mu,” jawab David singkat, matanya terlihat merah seperti habis menangis.
__ADS_1
“Kamu menangis David?” tanya Zea menggoda.
“Iya,” jawab David.
“Oh, bagaimana mungkin menangis kamu sendiri sudah pergi bersama dengan wanita lain.”
Zea memang keceplosan mengatakan hal tersebut, bagaimana tidak. Perilaku cemburu yang seperti itu tidak berlaku untuk David karena Zea merasa David menginginkan kekasih yang dewasa. Sehingga selama ini, dirinya hanya berpura-pura tidak apa-apa, berusaha ikhlas dan membiasakan diri untuk mengatakan tidak masalah atas semua tingkah laku David. Mengkritik karena cemburu bukanlah hal yang biasa dia lakukan sedari bersama dengan David.
“Apa? Kapan aku bersama dengan gadis lain? Jika, karena masalah di mall aku sudah menjelaskan dengan baik.”
“Sudahlah tidak perlu dibahas,” ucap Zea seraya berdiri ingin meninggalkan David sambil membawa botol kaca tersebut.
“Tunggu!” pinta David sambil berdiri di depan Zea untuk mencegah Zea pergi.
“Minggir,” pinta Zea.
“Bukankah menuduh tanpa bukti berarti fitnah Ze. Itu bukan kamu,” pancing David agar Zea menjelaskan.
Zea yang kesal langsung menaruh botol kaca yang dipegangnya itu dibawah dan mengambil ponsel miliknya dari dalam tas.
“Itu foto bersama, banyak teman yang lainnya bagaimana bisa dianggap pergi dengan wanita lain.”
“Sudah jelas pergi dengan wanita lain, coba lihat jumlah laki-laki dan perempuannya sama bahkan Maya juga menuliskan pesan untuk meninggalkan m…”
Tidak sampai menyelesaikan kata-katanya, Zea memilih langsung dia dan hendak pergi. Namun, dirinya menyenggol botol kaca hingga pecah. Zea yang kaget langsung berjongkok dan memunggut isi dari botol kaca tersebut.
“Oh tidak,” ucap nya.
“Sudah biarkan saja,” pinta David.
Zea tidak menuruti ucapan David karena menurut hatinya botol itu akan berisi keseharian dan poin-poin penting yang David tujukan kepada dirinya. Tanpa menyahut ucapan David, Zea masih sibuk memungut hingga tanpa sengaja tanganya tergores.
“Aw,” teriak Zea.
“Sudah ku bilang biarkan saja, bebal,” keluh David sambil memegang kedua bahu Zea agar berdiri dari duduknya dan membawa Zea menuju kursi yang tadi di dudukinya.
__ADS_1
“Pelayan,” ucap David.
Seorang pelayan datang dengan segera menghampiri David.
“Tolong bawakan kotan P3K,” pinta David.
“Baik,” jawab pelayan tersebut.
David langsung membersihkan luka Zea dan memberinya obat agar tidak membekas. Zea masih diam dengan kesal.
“Jangan cemberut, nanti akan aku jelaskan,” ucap David sambil meniup tangan Zea yang terluka.
“Sudah,” ucap Zea sambil menarik tangannya dengan wajah tersipu.
“Kenapa?”
“Sudah cukup, dikira aku anak kecil kalau ditiup tidak akan terasa sakit.”
“Haha,” goda David.
“Kenapa tertawa? Kamu mengejekku? Ini juga karena botol kaca yang kau bawa itu harusnya jangan menggunakan botol dari bahan kaca, dari plastic kan bisa lebih aman dan,” omel Zea yang tidak habis habis dengan nada marah seperti anak kecil, namun David dengan segera menghentikan omelan Zea dengan menutup mulut Zea dengan bibirnya dalam waktu sekejap.
Zea kaget, David tiba-tiba mengecup bibirnya terlebih lagi mereka sudah putus. Rasanya canggung dan berdegup kencang sama seperti ketika pertama kali jalan berdua, bergandengan tangan.
“Berhenti mengomel, kita makan saja dulu aku akan menjelaskan setelah perutmu di isi.”
Zea tidak menjawab justru membentuk pola manyun dengan kedua bibirnya sambil mengatakan sesuatu sepeti ocehan marah dalam suara yang lirih.
“Haha, masih sama saja,” ucap David sambil mengelus kepala Zea.
Kedua pelayan datang sambil membawa sapu untuk membersihkan pecahan kaca.
“Jangan,” ucap Zea.
****
Bersambung>>>>>>>>
__ADS_1