
Suster menghampiri Zea dan memberitahukan bahwa kakaknya akan segera di operasi. Seseorang sudah membayar tagihan rumah sakit milik Aslan.
Zea merasa sangat bersyukur. Dia bersujud dan bergegas menghubungi bapak.
sedang dalam panggilan
π :"Halo assalamualaikum pak, mas Aslan sudah bisa di operasi."
π:"Waaalaikumsalam, apa nduk? Lalu bagaimana dengan biaya administrasi?"
π:" Pihak rumah sakit bilang sudah ada yang melunasi pak. Maka dari itu, cepat bapak kesini karena dokter bilang mas Aslan butuh donor darah pak."
π:" Alhamdulillah nduk, bapak dan masmu jalan kesitu. Jangan kemana mana ya."
π:"Baik pak."
Dimas yang dibonceng bapak kemudian berputar arah kembali ke rumah sakit. Bapak kemudian menghubungi Fadlan yang sudah lebih dulu pergi bersama pak RT.
Fadlan dan pak RT mengendarai Mobil Avanza Veloz milik pak RT baru saja tiba di ATM untuk menarik sejumlah uang miliknya. Namun, siapa sangka seseorang sudah dengan sangat baiknya melunasi tagihan rumah sakit milik adiknya. Untuk jaga jaga, Fadlan mengambil uang kas sebanyak 3 juta di ATM. Kemudian bergegas menuju rumah sakit bersama pak RT.
Flashback On
Di parkiran
Bapak dan Fadlan sedang berdiskusi untuk mencari dana untuk biaya operasi Aslan. Di sana ada pak RT dan Dimas yang menunggu.
"Kamu hendak mencari uang kemana le?" tanya Bapak.
"Saya ada sedikit uang pak ditabungan. Sekitar 12 juta. Bapak tidak perlu pusing sisanya biar Fadlan yang mencarikan."
"Astaga le, uang sebanyak itu kamu dapat dari mana. Wes, bapak ada uang di rumah simpanan dengan ibu tidak banyak tapi ada sekitar 3 juta."
"Sisanya biar Fadlan pak yang mencarikan."
"Butuhmu berapa Dam?" tanya pak RT
"Anakku harus di operasi No biayanya 17 juta. Makanya ini aku dan Fadlan sedang mencari uang untuk biaya itu karena Aslan harus segera di operasi."
"Yowes, kurang e berapa sini tak bantu." ucap Pak RT yang bernama Setiono.
"2 juta kurang lebih," jawab Adam.
"Wes ayo, sini kita ke ATM Lan biar bapakmu pulang ambil sisa uangnya diantar Dimas."
"Baik pak," jawab Fadlan.
"Terimakasih banyak No, kamu mau menolong keluarga ku."
"Welha sesama orang di perantauan harus begitu. Toh kamu banyak berbuat baik dengan keluarga ku. Jangan sungkan sekarang yang terpenting anakmu selamat. Ayo."
"Ya sudah kita berpencar, nanti langsung ke bagian administrasi saja."
Fadlan pergi bersama pak RT sementara Adam pergi bersama Dimas.
Flashback off
10 Menit kemudian, Bapak tiba bersama Dimas di rumah sakit. Zea sudah mengirimkan pesan bahwa dirinya sedang ada di ruang donor darah. Sedangkan Aslan sudah mulai di operasi. Zea bersikeras mendonorkan darah miliknya karena mendengar bahwa stok darah golongan A sangat sedikit dan hanya pas untuk operasi Aslan. Karena takut kakaknya akan kekurangan darah, Zea memaksa suster untuk mengambil darah miliknya. Untung saja hari itu Zea sedang tidak dalam periode, jadi dia bisa mendonorkan darah untuk Aslan.
"Sudah mbak, silahkan istirahat sebentar selama beberapa menit baru boleh berdiri."
"Tapi sus, saya pengen nungguin kakak saya sus."
__ADS_1
"Jangan bergerak dulu ya mbak, tunggu beberapa menit dulu baru boleh bergerak."
"Yasudah kalau begitu."
Dengan pasrah Zea berbaring di kasur menunggu beberapa menit. Di depan ruang operasi, bapak dan Dimas sedang duduk menunggu kabar. Operasi berjalan selama 2 jam. Luka Dimas cukup parah karena dia sampai terpental ke sawah akibat terdorong oleh truk.
"Bapak," panggil Fadlan.
"Sini le," sambil menepuk kursi di ruang tunggu.
Fadlan duduk menghampiri bapaknya. Tapi dia tidak melihat keberadaan adiknya. Fadlan menoleh ke segala arah.
"Kondisi Aslan bagaimana pak?"
"Adik mu luka di bagian lengan sebelah kanan dan perut bagian kirinya. Dokter bilang ususnya sedikit terkoyak karena terlempar tapi tidak ada cidera atau patah tulang lainnya."
"Astagfirullah pak," jawab Fadlan sedih mendengar kondisi adiknya.
"Berdoa saja, Aslan anak yang kuat."
"Aamiin pak."
"Anakmu yang kecil mana Dam?" tanya Pak RT.
"Sedang mendonorkan darah."
"Owalah, lalu istrimu bagaimana?"
"Astagfirullah, ibu mu Lan. Cepat hubungi dia."
"Baik pak."
Sementara itu, Zea berjalan menuju ruang operasi menghampiri Bapak dan Dimas disana.
"Bapak," panggil Zea langsung mencium tangan bapaknya.
"Nanti Ze pulang sama mas Dimas ya."
"Ngga, mau disini saja menunggu mas Aslan."
"Nduk, kamu ngga ingat ibuk?" tanya bapak lembut.
Hiks hiks
Air mata Zea jatuh mengingat kejadian hari ini. Ibunya pasti sedang khawatir di rumah sementara itu kakaknya sedang terbaring di ruang operasi.
"Zea anak baik kan?" tanya bapak.
"Hiks, i..iya."
"Nah jangan nangis kasihan mas Aslan. Do'akan mas Aslan kuat supaya cepat sembuh. Anak baik ngga boleh nangis nggih."
"Iya pak."
Zea menurut dengan perintah bapaknya. Dengan cepat Zea menghapus air mata di pipinya.
"Nak Dimas titip Zea nggih, mohon diantarkan sampai rumah."
"Baik Pak Adam."
"Kamu tenang saja Dam, anakmu aman sama aku dan anakku. Aku pulang dulu ya Dam," ucap Pak RT.
__ADS_1
"Iya, hati hati di jalan dan jaga anakku ya."
"Tunggu pak," panggil Fadlan.
"Kenapa le?"
" Fadlan ikut pulang untuk ambil mobil pak. Nanti kita pulang atau pergi bagaimana kalau tidak ada kendaraan."
"Oh iya benar. Ya sudah kamu bareng saja."
"Baik pak, bapak disini sebentar ya pak."
"Iya le, ibumu jangan lupa dikasih pengertian agar tidak khawatir."
"Masalah ibu sudah beres pak, ini untuk bapak jaga jaga."
Fadlan menyodorkan dompet miliknya.
"Lhu ngga usah le, bapak tidak usah diberi uang. Kamu saja yang bawa nanti buat beli bensin pas kesini."
"Saya masih ada pak, cukup. Ini untuk bapak pegangang selama Fadlan pulang."
"Ya sudah, hati hati ya."
Mereka berempat pulang bersama. Zea duduk di kursi belakang bersama Dimas. Sementara Fadlan mengendarai motor milik Dimas.
"Sabar ya Ze," ucap Dimas.
"Makasih mas Dimas," jawab Zea dengan memaksakan seulas senyum di bibirnya.
"Kamu ngga perlu bersikap dewasa nduk, jangan ditahan," ucap Pak RT
Menyadari perkataan pak RT air mata Zea kembali pecah. Dimas hanya sanggup menggelengkan kepalanya karena ulah bapaknya yang membangunkan anak kecil yang minta es krim.
"Sudah Ze, sudah mas Aslan akan baik baik saja," sambil menepuk nepuk pundak Zea.
Sesampainya di rumah, Zea turun dan berterimakasih kepada Dimas dan Pak RT.
Fadlan lebih dulu memasuki rumah dan menghampiri ibunya yang duduk termangu di sofa bersama Bu Raden.
"Assalamualaikum,"
"Waaalaikumsalam, sini Lan ibuk mau tanya."
"Ada apa Bu?"
"Bagaimana dengan biaya operasi Aslan?"
"Seseorang sudah membayarnya Bu."
"Masyaallah, siapa orang baik hati yang mau membayarkan biaya rumah sakit adikmu Lan."
"Fadlan tidak tahu Bu, pihak rumah sakit merahasiakan siapa yang membayarnya."
"Malaikat tanpa sayap Bu," tambah Zea dari kejauhan.
"Benar nak, manusia berhati malaikat yang sudah membantu kakakmu. Semoga dia selalu dalam lindungan_Nya."
"Aamiin," ucap Fadlan dan Zea berbarengan.
Setelah mandi, Fadlan pergi ke rumah sakit dengan membawa makanan untuk bapak. Ibu tidak diizinkan untuk ikut karena Zea hanya sendirian di rumah.
__ADS_1