Missing You : David

Missing You : David
Lembar Baru


__ADS_3

Suasana baru


Setelah


pernikahan itu berlangsung, kak Fadlan memilih meninggalkan rumah bersama dengan kak Desi untuk hidup mandiri berdua. Rumah terasa sepi karena kak Fadlan jarang berkunjung. Semenjak hari itu, kami membiasakan diri tanpa kak Fadlan. Sesekali ibu terlihat melamun di dapur, entah apa yang sedang ibu pikirkan.


“Ibu,”panggilku untuk membuyarkan lamunan ibu.


“Apa sayang?”


“Zea harus berangkat les sekarang bu, mungkin nanti pulangnya sedikit malam bu.”


“Baiklah sayang, jangan nakal ya hati hati di jalan.”


“Baik, ibu tidak apa-apa kan dirumah sendirian?”


“Tidak masalah sayang, kamu tenang aja ibu baik baik saja toh ayahmu akan segera


pulang setelah datang dari mengirimkan sayuran di Desa.”


“Syukurlah kalau begitu, Zea berangkat ya bu,” ucapku sembari mencium telapak tangan ibu.


“Baik sayang, hati-hati di jalan ya.”


Aku pergi meninggalkan rumah menuju tempat les. Murid kelas tiga akhir, nilai adalah pertimbangan penting untuk melanjutkan perkuliahan nanti ke kampus yang dituju. Semenjak kuliah, David dan aku jarang bertemu. Sesekali dia menyampaikan bahwa sedang sibuk belajar atau berlatih bersama dengan teman-teman lainnya. Aku mengira bahwa hal ini sangat masuk akal terlebih selain kuliah David juga fokus untuk membawa tim nya ke perlombaan tingkat nasional tahun ini.


“Tidak ingin egois tapi aku memang merindukan David yang dulu. Tapi sudahlah, sekaran saatnya fokus belajar terlebih dahulu,” ucapku pada diri sendiri sembari menunggu ojek online datang.


“Dengan kak Zeana?” tanya mas tukang ojek yang berdiri di depanku membuyarkan lamunan ku.


“Benar mas.”


“Mari mba, silahkan dipakai helm nya.”


“Saya sudah bawa dari rumah pak.”


“Baik mba, kita berangkat kalau begitu.”


 


 


*********


Tempat Les


“Zeze, sini.’


Seseorang memanggilku dari kejauhan.


“Vanessa, kamu udah datang dari tadi.”


“Iya Ze, kamu datang sendirian?”


“Iya, kenapa?”


“Kak David gak nganter kamu ya?”


“Iya, sibuk kuliah.”


“Oh ya syukur kalau jelas alasanya gapapa, dah ayo masuk Ze.”


Sebenarnya kemarin Vanessa melihat David di Mall bersama dengan seorang gadis menenteng tas belanjaan. Sesekali David tersenyum ke arah wanita tadi, dan begitu pula sebaiknya. Bahkan Vanessa memfoto kejadian itu, tapi dia tidak enak hati untuk menghancurkan hati Zea dengan foto tersebut.


“Mungkin lebih baik, jangan memberitahu Zea,” ucap Vanessa dalam hati.


**********

__ADS_1


Hari berlalu seperti biasanya. Kegiatan les hari ini juga terasa begitu cepat.


Vanessa pulang dijemput oleh teman laki-lakinya. Sementara Zea berjalan sendiri


memilih untuk masuk ke toko pakaian melihat-lihat pakaian sambil membunuh jenuh


menunggu Aslan yang akan menjemput terlambat.


“David,


menurut mu bagus yang mana?” tanya Maya.


Mendengar


nama David dipanggil Zea langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Seorang


perempuan tengah mematung di dekat ruang ganti memegang sebuah baju yang dicocokkan


ke tubuhnya. Ada sebuah kursi tunggu di depan fitting room. Seorang laki-laki kemuadian berdiri dan menunjuk kearah baju yang dipegang di tangan kanan wanita tadi.


“Bagus yang itu,” ucap laki-laki yang suaranya samar-samar aku kenali.


Firasat buruk memenuhi kepala ku, tanganku terasa dingin rasanya kakiku berat untuk


digerakkan. Tapi aku ingin melihat apa yang sedang terjadi, dan ternyata benar hal tak terduga.


“Kak David,” panggilku.


Laki-laki tadi sontak menoleh ke arahku dengan wajah kaget.


“Zea,”ucapnya dengan suara serak yang hampir tidak terdengar jelas olehku.


Entah apa rasanya dadaku terasa sesak, nafasku tersenggal-senggal. Seperti ada bongkahan batu besar yang menganggu di dadaku. Rasanya aku ingin menangis, tapi belum tentu apa yang aku lihat seperti yang aku bayangkan.


“Dia pacarmu David?” tanya Maya.


“Oh halo Zea, aku Maya teman dekat David,” jawab Maya sembari memeluk salah satu tangan David.


Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Rasanya lidahku kelu, suaraku tidak keluar sama sekali.


“Kita hanya teman,” ucap David menjelaskan sembari melepaskan tangan Maya.


“Kenapa harus dilepas? Dia harus tahu dong kalau kita sedang dekat,” ucap Maya tanpa


tahu malu.


 Rasanya darahku mendidih melihat tingkah laku mereka berdua terlebih lagi melihat tingkah laku dan ucapan Maya yang sangat tidak dapat aku terima. Tanpa basa basi aku langsung memilih untuk pergi saja meninggalkan mereka berdua.


Tanpa mengucapkan kata perpisahan ataupun aba-aba aku langsung memanlingkan tubuh memunggungi mereka berdua keluar dari toko.


“Ze,” ucap David sambil mengejarku.


“Kamu mau kemana David?” tanya Maya yang samar-samar terndengar olehku.


 Aku pergi tanpa terpengaruh oleh mereka berdua. Air mataku terus mengalir tanpa diminta membasahi kedua pipiku.


“Zea tunggu sebentar,” pinta David sambil menarik tanganku.


Aku tidak terpengaruh sama sekali dan terus berjalan sambil melepaskan tangan David dari tanganku.


 David tidak kehabisan akal dan langsung memegang tanganku dan berdiri di depanku menghentikan langkahku.


“Zea, tung,” ucapanya terputus ketika melihat air mataku mengalir deras membasahi kedua pipiku.


Entah apa yang dia pikirkan, dia langsung merangkulku dan membawaku menepi untuk berbicara. David mengajakku untuk duduk di sebuah kursi taman dekat dengan mall tersebut.


“Berhenti menangis dan dengarkan ucapanku, Maya dan aku hanya teman aku memang salah

__ADS_1


karena tidak mengabarimu tapi tidak ada hal lain yang terjadi diantara kami.”


 Aku masih terdiam sambil berusaha mengatur emosi agar tidak menangis lagi.


“Cukup Ze jangan menangis lagi.”


Aku berusaha menabahkan hati untuk tidak menangis lagi. Hatiku yang sudah mulai tenang akhirnya memberanikan diri untuk tidak menangis lagi.


“Kamu bilang sibuk tidak ada waktu, kenapa bisa pergi bersama dengan Maya?” tanyaku.


“Aku hanya menemani Maya membeli baju itu saja.”


Teman diantara laki-laki dan perempuan tidak ada yang benar-benar teman, entah kamu atau Maya yang akan kalah karena perasaan,” ucapku.


“Tidak Ze, kami hanya teman saja.”


“Mana ada teman memeluk tangan laki-laki yang sudah memiliki kekasih bahkan di depan kekasihnya.”


“Maya memang wanita yang seperti itu, dia berani dan frontal seharusnya kamu paham.”


“Mana bisa aku paham Vid, sudah seminggu lebih kita tidak gak chattingan kamu juga gak pernah cerita masalah Maya."


"Vid? Setelah jadian kamu ga pernah manggil aku David yang."


"Kamu dari tadi manggil aku Zea, sadar nggak?"


"Maaf sayang maaf, aku salah nggak kasih kabar tapi udah ya jangan dibahas lagi."


"Kenapa ngga dibahas? Kamu takut salah jawab?" tanyaku dengan nada sedikit meninggi karena marah.


"Sayang, aku sama Maya cuma teman udah itu aja. Jangan dibahas lagi aku malas."


Setelah mengucapkan kalimat itu, David memilih membuka ponsel dengan tangan kiri dan tangan kanannya memegang tanganku. Aku tidak tahu tapi rasanya hatiku juga tidak tenang walaupun David sudah minta maaf.


"Aku mau pulang," ucapku.


"Kesini sama siapa?"


"Sendiri."


"Yaudah aku antar pulang ya sayang."


"Ga usah gapapa, aku pulang sendiri aja."


"Ini udah malam."


"Aku bisa minta kak Aslan jemput."


"Kenapa sih? Kamu masih marah ya?" tanya David.


"Aku capek aja pengen pulang."


"Ya udah bentar dulu ya."


David kemudian menelpon seseorang dengan ponselnya. Tangan kanannya masih memegang erat tanganku.


"Halo kak, Ze pulang sama aku ya gausah dijemput," ucapnya dalam panggilan bersama seseorang.


"Makasih kak."


"Siapa tanyaku?"


"Ada pokoknya kamu gausah khawatir aku dah izin kak Aslan. Ayo pulang sayang," ajaknya.


********************


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2