Missing You : David

Missing You : David
Gagal


__ADS_3

Gagal


***


Zeana terbangun tengah malam. Pukul 23.47 tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya karena lapar. Terlihat matanya sembab karena menangis, bergegas dia bangun dan menuju kamar mandi. Di kamar asrama tidak ada seorang pun selain dirinya, padahal ketika dia pulang Wendi dan Valerie masih ada di kamar. “Mereka pergi kemana?” tanya Zea pada dirinya sendiri.


Menghiraukan apa yang menjadi pertanyaan saat itu karena ingin pergi ke kamar mandi. Zea meninggalkan kasur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, dirinya melihat rice cooker untuk memastikan apakah masih ada nasi dan rupanya masih tersisa banyak. Di atas rice cooker terdapat sebuah kertas yang bertuliskan pesan untuk Zea. Isi pesan tersebut murni ditujukan kepada Zea.


Isi pesannya :


Dear Zea


Maaf tidak membangunkan mu, karena sepertinya kamu tertidur sangat lelap. Aku dan Valerie pergi ke rumah sakit karena ibu Valerie di rawat dirumah sakit. Kami sudah izin dengan penjaga asrama untuk keluar dan kembali besuk pagi. Jadi, jaga dirimu baik-baik dan kunci pintu ketika tidur.


Note: Aku menanakkan nasi untukmu dan ada ayam di dalam rak ambil dan makan dengan lahap


Penuh cinta dan kasih


Wendi


**


Setelah membaca pesan itu, Zea teringat untuk langsung menghubungi Wendi. Zea mengirimkan pesan karena tidak memungkinkan untuk menelpon di tengah malam seperti ini. Terlebih Wendi dan Valerie sedang berada di rumah sakit.


Pesan yang dikirimkan kepada Wendi:


“Maaf Wendi aku baru saja bangun dan membaca isi pesan yang kalian tinggalkan. Sekarang bagaimana keadaan ibu Valerie?”


Beberapa menit tidak ada jawaban, Zea nampak panik juga takut hal buruk menimpa mereka berdua. Perut yang berbunyi karena lapar sejak tadi sudah tidak di hiraukan lagi.


Tring


Sebuah pesan masuk dari Wendi, “kondisi ibu Valerie sudah membaik, kemungkinan lusa sudah boleh pulang, kau istirahat saja dan jangan lupa mengunci pintu,” tulisnya dalam pesan tersebut.


Zea merasa tenang dengan jawaban dari Wendi, memilih untuk melanjutkan tujuan utamanya bangun tengah malam yaitu makan. Zea mengambil nasi semangkuk penuh dan ayam yang dimaksud oleh Wendi. Tidak lupa Zea mengeluarkan sambel terasi kemasan andalannya yang di simpan di rak sebagai pelengkap makan malamnya waktu itu.


“Sunyi dan pedas,” ucap Zea sambil melahap makanannya.


Tidak terasa air mata mengalir di pipi Zea. “Oh pedas pantas aku sampai menangis,” ucapnya pada diri sendiri seolah-olah menjelaskan bahwa dirinya menangis karena kepedasan. Padahal dirinya berusaha memberikan dorongan semangat bahwa dia sedang baik-baik saja.


Putus bukanlah satu-satunya hal terberat dalam hubungan. Tapi fase sesudahnya, fase dimana dia harus berusaha baik-baik saja, melanjutkan hidup tanpa terpengaruh oleh seseorang yang sering mengisi hatinya.

__ADS_1


**


Setelah makan, memilih untuk login game dan bermain sembari menunggu makanannya dicerna dengan baik. Zea memilih mode rank untuk bermain dengan tim acak bersama orang-orang yang Zea belum kenal sama sekali. Zea memainkan dengan sangat baik perannya sebagai mid laner, beberapa lawan main pun menyanjung permainan Zea.


“Bagus sekali,” tulis Mr M dalam room permainan itu.


Zea menjawab terima kasih atas pujian itu. Tidak hanya sampai di situ, Mr M bahkan meminta Zea untuk kembali bermain bersama dengan dirinya, menambahkan Zea sebagai daftar teman. Zea menyetujui permintaan itu, dengan bermain rasanya hatinya menjadi lega dan kembali bersemangat.


**


Zea POV


“Jika David adalah something yang menjadi kebiasaan dalam keseharianku, maka aku akan menjadikannya seseorang yang jauh dari keseharianku mulai hari ini,” ucap ku sambil mematikan laptop setelah bermain selama 1 jam kurang lebih.


Bagaimana tidak, bermain game bersama saling melindungi, saling memuji mengingatkannya kepada David.


**


Aku bangun lebih pagi karena akan berkunjung ke rumah sakit. Pukul 7 pagi aku bangun dan mandi, membersihkan kamar dan bersiap-siap menuju rumah sakit. Pukul 8 lewat 15 menit, aku sudah siap. Bergegas aku turun menuju gerbang untuk pergi ke halte bus. Karena hari ini hari libur, tidak banyak mahasiswa yang bangun pagi, terkadang mereka bangun pukul 9 atau lebih, karena ketika libur mereka akan menggunakan waktunya untuk istirahat atau bermain hingga larut malam sehingga tidak bisa bangun pagi.


Tidak sampai 10 menit aku berjalan kaki, aku tiba di halte bus. Jarak dari asrama putri menuju depan gerbang kampus lumayan cukup menguras energi dan waktu ketika berjalan, namun ini menyehatkan untuk dilakukan.


Setelah menunggu selama 15 menit, akhirnya bus datang dan aku bergegas menaiki bus tersebut menuju rumah sakit. Sebelumnya aku sudah menghubungi Wendi menanyakan kamar rawat ibu Valerie. Aku juga membawakan pakaian milik Valerie dan buah yang tadi ku beli di depan pintu masuk.


“Hai Val, bagaimana kondisi bibi?” tanya ku.


“Sudah membaik, ayo masuk,” ajak Valerie.


Aku menganggukkan kepala pertanda mengiyakan dan berjalan mengekor di belakang Valerie.


“Ibu, ada yang ingin menemuimu,” ucap Valerie.


“Siapa?” tanya ibu Valerie yang tengah terbaring di kasur dengan Wendi yang tengah menyuapinya makan.


“Halo bibi, saya Zeana teman satu kamar Valerie,” ucap ku sembari menaruh buah buahan itu di atas meja.


“Oh hai nak Zea, kenapa repot-repot membawa barang segala.”


“Bukan apa-apa, bibi.”


Setelah basa-basi itu, aku kemudian duduk dan berbaur dengan keluarga Valerie. Mereka sangat ramah dan baik, menyambutku dengan hangat bahkan memperlakukan ku dengan sangat sopan. Kami berbincang hingga pukul 9 lewat 15.

__ADS_1


Ada sebuah pesan masuk dalam ponselku. Sebuah pesan dari Jordan yang menanyakan keberadaan ku. Merasa tidak begitu penting, aku memilih tidak menjawab dan menutupnya kembali.


**


Di Depan Asrama


David masih setia menunggu di dalam mobil sembari berharap pesan nya akan terkirim. Namun, sayang Zea masih tidak membukakan blokiran miliknya. David yang tidak kehilangan akal meminta Jordan untuk menanyakan keberadaan Zea. Namun, Jordan juga tidak mendapatkan jawaban dari Zea. David mulai resah pasalnya dirinya sudah menunggu dari jam 9 kurang 10 sampai dengan sekarang 9 lewat 30.


“Tidak biasanya Zea telat, dia juga bukan tipe orang yang ingkar,” gumam David pada dirinya sendiri.


David masih setia menunggu dengan harapan bahwa Zea akan datang dan menepati perjanjian mereka berdua.


Pukul 11.20


Zea datang dengan berjalan kaki sendirian menuju asrama. Dari kejauhan Zea melihat mobil David terparkir di depan gerbang kemudian teringat.


“Astaga, David,” ucapnya sambil menutup mulut reflek kaget.


Zea bergegas lari menghampiri mobil David. “Dav,” panggilnya di samping jendela.


David membukakan jendela dan mendapati Zea ada disampingnya. “Baru bangun? Atau baru pulang dari pergi?” tanya David dengan nada cemburu.


Zea tersenyum tipis, “bukan, maaf ya aku lupa soalnya tadi ada urusan mendadak jadi pergi lebih pagi,” jelas Zea.


David hanya diam tanpa jawaban, dirinya turun dari mobil dan berdiri di dekat Zea. Tiba-tiba terdengar suara perut Zea lapar.


Krucuk


David yang tadinya ingin merajuk menjadi tidak tega dengan keadaan itu, “ayo temani aku makan, aku belum sarapan,” ajak David agar Zea mau dan tidak tersinggung.


“Boleh,” jawab Zea.


David melajukan mobilnya menuju tempat makan yang di maksud oleh David. David melaju dengan kecepatan sedang, sedangkan Zea hanya duduk sambil memainkan ponsel. Ketika di permberhentian karena lampu merah, David mengambil sebuah kotak di tengah antara kursinya dan Zea yang sudah disiapkan sedari tadi.


“Susu pisang,” ucap David sambil menyodorkan.


Zea menoleh kearah David, tapi David menyodorkan tanpa menoleh sama sekali. “Makasih,” ucap Zea.


“Apa kita gagal pergi?” tanya David.


********

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2