
Raisa menangis tersedu-sedu setelah membaca dengan seksama isi pesan Sarah kepada Emily. Percakapan antara ibu dan anak yang cukup dalam, berat dan menyakitkan itu. Harus berujung dengan dorongan untuk mengakhiri hidup.
“Zea, sepertinya Raisa butuh waktu sendiri, sekarang juga sudah malam. Lebih baik kamu segera pulang.”
“Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit undur diri.”
“Iya, jaga diri mu ya.”
“Baik, saya permisi terlebih dahulu.”
Suami Raisa menyarankan agar Zea pulang terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan Raisa yang terus menangis tidak henti setelah membaca pesan itu. Dengan berat hati, Zea pulang kembali kerumah. Walaupun hari ini dia tidak mendapatkan hasil. Tetapi, setidaknya dia berusaha yang terbaik untuk mengungkap kenyataan kematian sahabatnya.
Sepanjang jalan pulang, dia berjalan dengan pikiran tidak tenang. Dia terus-terusan teringat kata-kata keji yang diucapkan Sarah hingga sahabatnya memilih untuk mengakhiri hidupnya.
*POV Isi percakapan Emily.
“Berhenti membuat masalah! Jika uang mama adalah uang haram, maka kamu hidup dari bayi hingga besar dengan uang haram itu.”
“Tidak, aku hidup dan dibesarkan oleh uang ayah.”
“Uang ayahmu?.”
“Siapa yang kamu panggil ayah? Laki-laki yang bahkan tidak memiliki hubungan biologis itu?.”
“Bangun Emily, kamu hanyalah anak malang yang harus hidup dengan kenyataan bahwa kamu anak haram.”
“Cukup ma! Cukup.”
“Mama yang mengizinkan anak haram ini lahir di dunia.”
“Bagus jika kamu tahu, seharusnya kamu sadar diri dan tidak mulai membangkang seperti ini.”
“Memangnya kenapa? Apa yang salah dari semua yang aku lakukan?.”
“Kamu melaporkan mama dan kini mama diperiksa. Itu bukan tindakan yang terpuji, Emily.”
“Siapa yang peduli tindakan ku terpuji atau tidak, karena pada kenyataanya mama hanya peduli harta mama akan diperiksa.”
“Iya, dari awal memang hanya harta alasan mama hidup dengan ayahmu.”
“Dia mandul! Itulah alasan mama harus memiliki anak haram, karena dengan begitu dia akan memberikan hartanya kepada anak kesayangannya.”
“Tapi, tahukah kamu. Jika mama akan lebih bersyukur jika kamu meninggal dan tidak ada lagi di dunia.”
__ADS_1
Anda memblokir kontak ini.
(Begitulah kira-kira isi pesannya).
Raisa hancur ketika dia membaca pesan bahwa kakak satu-satunya meninggal dan tidak memiliki keturunan di dunia. Bahkan dia tahu bahwa kakaknya mandul, dia juga hidup dengan menyayangi anak orang lain. Raisa merasa tidak sanggup berpikir lagi. Keponakan yang dia sayang, anak manis yang penurut itu bukanlah keturunan kakaknya.
“Pantas saja, Emily selalu malu ketika diajak ke acara keluarga kita,” ucap suami Raisa.
“Bukan itu poinnya sayang, kita harus mendukung perjuangan Emily. Setidaknya dia melaporkan kecurangan ibunya karena enggan terus-terusan hidup dalam bayang-bayang kejahatan. Maka, kita harus membantu dia.”
“Bagaimana caranya.”
“Hubungi Zea, dia dan media akan membantu kita.”
Akhirnya mereka berdua setuju untuk membawa kasus ini ke ranah yang lebih genting yaitu ranah hukum. Keduanya akan menuntut kembali harta milik kakaknya dan menuntut keadilan atas kematian keponakannya.
“Untuk kasus kematian Emily, apakah kita juga akan membawa ini ke pengadilan?” tanya suami Raisa.
Raisa yang tengah duduk di meja baca suaminya langsung berdiri dan mengangguk, “Tentu saja. Dia adalah keponakanku dan akan tetap jadi keponakanku, sampai kapanpun kebenaran harus ditegakkan.”
Setelah setuju berunding, mereka langsung menghubungi Zea dan menyampaikan bahwa keduanya akan menuntut ke pihak yang berwajib.
“Baik, tante. Zea akan urus masalah ini,” ucap Zea di ujung panggilan suara.
“Baik, sama-sama tante. Sampai jumpa nanti,” ucapnya kemudian mematikan panggilan suara itu.
“Tante Raisa ingin masalah kematian Emily di ungkap ke public.”
“Memangnya ada masalah?.”
“Iya, nanti aku akan menemui Tasya dan memintanya mengupload berita ini.
“Kamu yakin? Kasus pencemaran nama baik bukanlah hal yang baik untuk karir mu yang sedang naik ini.”
“Aku dan tante Raisa memiliki bukti, dan keluarga besar ayah Emily akan mendukung secara finansial hingga kasus ini selesai.”
“Baiklah kalau begitu, aku hanya berharap semuanya baik-baik saja. Jadi, kumohon jaga dirimu dengan baik."
"Iya Harry tenang saja.”
“Hmm, aku ingin menanyakan sesuatu,” ucap Harry gugup.
“Apa itu? Tanyakan saja.”
__ADS_1
“Apakah kamu masih berhubungan dengan David?.”
“Tidak, ada apa memangnya?.”
“Bukan apa-apa,” jelas Harry.
Padahal, 2 hari yang lalu dia melihat mantan kekasih Zea mengendarai mobil Aston Martin miliknya dan terlihat berada di sekitar rumah Zea. Tepat, di hari mereka baru saja pulang dan bertemu dengan Emily. Tadinya, Harry merasa mungkin saja David hanya mengungtit karena masih ingin memastikan keadaan Zea. Tapi, dia melihat dengan jelas bahwa hari itu David membawa bunga. Beberapa hari kemudian. Dia juga melihat laki-laki dengan postur yang sama berdiri beberapa ratus meter dari rumah Zea dan terlihat memperhatikan rumah Zea cukup lama. Tapi, selagi Zea masih merasa tidak terganggu maka itu tidak menjadi masalah.
2 hari kemudian, berita mengejutkan diangkat dan disampaikan di surat kabar, media, televisi bahkan heboh menjadi pencarian nomor satu dengan headline, “Putri tunggal konglomerat kaya dan pejabat negara bunuh diri karena dorongan ibunya.”
Berita ini sampai ke penjuru negeri, bahkan Sarah yang baru saja bisa menghindari pemeriksaan dari badan korupsi negara terpaksa di panggil. Hal ini dikarenakan berita yang sebelumnya naik tiba-tiba hilang, dan hingga saat ini Sarah belum ditangkap. Seperti melempar batu untuk dua pulau. Tangkapan Raisa dan Zea tepat sasaran rupanya. Hanya ingin menuntut keadilan atas kematian Emily, tapi netizen justru membantu mereka mendorong kasus korupsi yang sebelumnya terungkap kembali.
**
“Harry, bukankah ini temanmu?” tanya Anton yang merupakan teman Harry.
“Iya.”
“Siapa yang bisa mendapatkan berita seautentik ini?.”
“Aku tidak tahu,” jawab Harry berbohong.
Tiba-tiba, Selen datang dari ruang istirahat dokter dan perawat yang jaga malam.
“Kata ayahku, sebagai jaksa penutut umum. Ada dua saksi, dan salah satunya adalah sahabat mendiang Emily, aku tidak tahu dia siapa. Tapi, aku berharap dia baik-baik saja sekarang,” ucap Selen yang terdengar seperti pemberitahuan atau lebih tepatnya ancaman.
Harry yang panik langsung berdiri dan memilih keluar untuk menghirup udara segar.
“Biarkan saja, toh setengah jam lagi shift ku selesai,” ucap Harry.
**
Entah apa yang terjadi, Zea juga pulang cukup larut. Dia harus mengerjakan projek kemanusiaan yang akan mereka lakukan bulan depan, dan bertepatan dia ditunjuk menjadi ketua tim dalam projek ini.
Setelah selesai, dia bergegas pulang dan memesan taksi karena enggan pulang malam harus berjalan dari halter menuju ke rumah.
Sesampainya di depan, tiba-tiba ada taksi yang datang.
“Mari nona, saya antaran. Tuan Harry yang memesan ini.”
Zea tersenyum, dia merasa senang Harry peduli akan dirinya. Tapi, ketika dia masuk sopir langsung menanjap gas kencang. Bahkan menuju ke jalan tol dan pergi ke arah Pelabuhan.
“Anda mau kemana pak? Arah rumah saya bukan kesini.”
__ADS_1
“Kita akan pulang, pulang ke rumah Tuhan haha,” ejek sopir itu dengan kesal. Tibalah di jalan sepi, sopir itu menghentikan mobil dan menatap ke belakang, dia melepas sabuk pengamnnya dan turun dari mobil. Dia membuka pintu penumpang dan menusuk perut Zea dengan pisau tajam dan menarik Zea keluar.
“Tetaplah disini, hingga polisi menemukan mayatmu. Dasar anak tidak tahu diri,” ucap sopir itu kemudian pergi.