Missing You : David

Missing You : David
08 Pasti Ada Jalan Zeana POV


__ADS_3

Sore itu, semua anggota keluarga terguncang dengan berita jatuhnya kak Aslan dari motor. Bapak dan kak Fadlan pergi bersama pak RT dan pihak kepolisian untuk mengurus masalah kakak.


Rupanya, sore itu kakak sedang berhenti di tepi jalan karena kondisi motor yang tiba tiba rusak. Di duga karena mesin dan sekring motornya tiba tiba mati. Kakak memang sudah berusaha membenarkan motornya, namun dia bukanlah seorang teknisi jadi wajar jika gagal. Sebenarnya sore itu, aku punya firasat buruk. Kakak terus saja mengatakan kata kata seolah dia akan pergi jauh. Namun, naas kakak justru tertabrak oleh. sebuah truk yang over load muatan.


Rumah penuh dengan ibu ibu yang khawatir dan cemas. Mereka membantu menyadarkan ibu dan menenangkan ku. Aku bingung sekali, dada ku sakit mendengar berita kakak jatuh dari kendaraan tapi di satu sisi aku khawatir dengan kondisi kakak. Aku hanya duduk terdiam di samping ibu sembari menggenggam tangan ibu erat.


Ibu mulai membuka matanya. Ketika sadar, ibu langsung menangis memelukku. Aku yang sudah terisak dari tadi menangis semakin menjadi jadi. Ibu Bejo dan Bu Raden mencoba menenangkan kami.


Kesadaran ibu kini kembali dan mencoba menenangkan diriku yang masih menangis.


Sebuah panggilan masuk dari bapak. Aku mencoba menepi untuk mengangkat telepon tersebut.


Dalam panggilan...


πŸ“ž: "Assalamualaikum Ze, bapak minta tolong kamu ke rumah sakit ya nak."


πŸ“ž :"Waaalaikumsalam pak, lalu dengan ibu bagaimana pak?"


πŸ“ž :"Ibukmu sudah sadar belum? Bilang saja sama Bu Bejo titip ibumu. Sampaikan saja kamu harus ke rumah sakit."


πŸ“ž:"Baik pak, ibu sudah bangun pak. Kirimkan saja alamatnya pak."


πŸ“ž :"Tadi bapak sudah menyuruh pak RT menghubungi Dimas. Kamu datang saja dengan Dimas nak."


πŸ“ž:"Baik pak, Ze ganti baju dulu pak. Sambung nanti."


πŸ“ž:" Iya nduk, Assalamualaikum."


πŸ“ž:"Waaalaikumsalam."


*****


Zeana berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Kemudian turun dan memanggil Bu Bejo.


"Ada apa nduk?"


"Saya minta tolong Bu, jagain ibu saya. Bapak minta saya ke rumah sakit tapi jangan sampai ibu tahu dulu."


"Oh itu ngga masalah nduk, tapi mau alasan apa nduk?"


"Bilang saja Zea ada urusan dengan mas Dimas begitu Bu. Karena nanti mas Dimas yang akan datang mengantarkan saya."


"Ya sudah nduk, hati hati ya dijalan."


"Baik Bu."

__ADS_1


Zea pergi melalui pintu samping yang akan tembus ke pekarangan samping dekat warung. Warung sudah ditutup sehingga Zea keluar melalui gerbang di depan warung.


Dimas sudah menunggu di depan gerbang dengan dua helm lengkap diatas Honda CBR Hitam miliknya.


"Sudah lama mas Dimas?"


"Iya Ze, ngapain aja to kamu tu? Setahun di rumah," keluh Dimas.


"Tadi ganti baju sama bilang Bu Bejo. Ayo."


"Pakai helm dulu tuan putri."


"Baik mas Dimas."


Zea terlalu lama di dalam rumah karena dia sedang mencari buku tabungan miliknya. Meskipun tidak banyak tapi gaji dari menulis novel di web**vel memang menghasilkan uang belum lagi uang pembinaan ketika lomba.


Di Kantor Polisi


Fadlan mengurus masalah kecelakaan dengan pihak pemilik truk. Rupanya truk tersebut milik pabrik susu yang berada di peternakan di Gunung Y.


"Pada saat kejadian, korban tengah berhenti di tepi jalan. Lalu mobil truk dengan kecepatan tinggi menghantam bahu jalan sehingga korban terpental ke parit," jelas pak polisi.


"Bagaimana baiknya pak, saya ingin adik saya mendapatkan keadilan."


"Korban dan truk masih sama sama dalam keadaan kritis. Mari kita tunggu saja pihak pemilik truk sudah dihubungi."


"Baiklah mari kita mulai," minta pak polisi.


Setelah menginvestigasi rupanya kesalahan memang di bebankan kepada sopir truk. Pihak manajemen peternakan yang akan bertanggung jawab atas kecelakaan korban dan tersangka. Pihak kepolisian menyerahkan ini kepada keluarga.


Fadlan meminta untuk menangguhkan sementara kasus tersebut hingga adiknya sadar. David yang masih muda pun setuju dengan permintaan Fadlan untuk menangguhkan sementara.


David di utus kakeknya untuk menjadi wakil mengurus masalah tersebut. Karena jarak dari warnet menuju kantor polisi lumayan dekat.


Fadlan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Bapak dan Zea sudah disana. Tanpa disadari David juga disana untuk mengecek kondisi sopir truk tersebut.


"Bapak," panggil Fadlan.


Zea menoleh dengan air mata yang terus mengalir di pipi. David yang berada tepat di belakang Fadlan merasa iba melihat Zea yang menangis tersedu di kursi tunggu.


David tidak ingin menguping pembicaraan mereka. Tapi dia ingin tahu alasan perempuan itu menangis.


"Bagaimana keadaan Aslan pak?"


"Adikmu belum siuman. Dokter menyarankan operasi biayanya 17 juta dan itu harus segera. Bapak akan menjual sawah."

__ADS_1


"Jangan pak, itu aset masa tua bapak nanti."


"Hiks, kakak benar pak. Adek ada uang sekitar 2.7 juta di dalam tabungan ini. Pasti ada jalan pak kita jangan buru buru."


"Uang adik disimpan saja, kakak ada tabungan sisanya biar kakak yang cari."


"Tapi uang sebanyak itu dapat dari mana kak?"


"Kata adik pasti ada jalan kan? Kita berdoa saja ya. Mas pergi dulu."


Fadlan meninggalkan bapak dan Zea di ruang tunggu. Bapak memilih menyusul Fadlan untuk mencari kekurangan biaya operasi puteranya.


"Ze disini sebentar ya, bapak mau keluar sama kakakmu."


"Baik pak."


Zea tertunduk menangis mengingat peristiwa yang baru saja menimpa keluarganya. Siapa sangka musibah itu akan datang kepada keluarganya.


Tidak dipungkiri jika bapak memang sedang tidak punya uang sebanyak itu. Untuk masuk biaya masuk sekolah bapak memang tidak membayar karena Zea merupakan murid beasiswa. Tapi untuk membayar seragam seharga 2 juta. Sedangkan biaya perbaikan mobil Bapak yang turun mesin serta perbaikan kandang sapi dan ayam di belakang rumah. Jika tahu akan membutuhkan bapak pasti akan menyimpan sementara uang yang ada.


Kini Zea duduk termenung di depan IGD menunggu kabar dari bapak dan kakaknya.


David merasa jika itu adalah tanggung jawab yang harus dipikulnya. Dia menghampiri pihak administrasi rumah sakit untuk membereskan biaya operasi milik kakak Zea.


"Permisi sus, bisa saya tahu rincian biaya milik saudara Aslan?"


"Mohon maaf kami tidak bisa memberitahukan informasi korban begitu saja."


"Saya keluarga korban sus, hendak mengurus biaya administrasi."


"Baik sebentar,"


"Biaya operasi tuan Aslan Rp 17.090.000."


"Bayarkan dengan ini sus serta sisakan 3 juta untuk keperluan pasien nanti ambilkan dari situ. " sambil menyodorkan kartu ATM.


"Baik mohon tunggu sebentar."


"Terimakasih atas nama siapa?"


"Jangan beritahu nama saya, tuliskan saja X."


"Baik pak kalau begitu."


Setelah membayar biaya rumah sakit Aslan, David duduk di pojokan kursi tunggu memperhatikan Zea yang hanya sendirian bersender di tembok.

__ADS_1


Seorang suster berjalan dari kejauhan menghampiri Zea. Sesaat kemudian dia bersujud dan tersenyum. Zea mengambil telepon genggam miliknya dan menekan tombol menghubungi seseorang.


__ADS_2