Missing You : David

Missing You : David
65. Gagal Kencan Pertama


__ADS_3

4 hari berlalu, tibalah di hari dimana Zea dan Harry akan bertemu untuk nonton bersama di bioskop dan makan malam bersama. Namun, sejak akan berangkat Zea saja sudah merasa kurang enak. Hal ini disebabkan oleh sebelumnya Zea memecahkan gelas tanpa sengaja. Firasat ini berakibat buruk pada mood Zea sore ini.


"Jadi pergi tanya Emily?."


“Iya.”


“Harry menjemput kemari kan?” tanya Desi, sahabat karib Emily sejak mereka berada di sekolah menengah pertama.


“Iya, maaf ya Desi. Aku tidak ada di rumah saat kamu ada di sini.”


“Tidak apa-apa, santai saja. Semoga harimu menyenangkan ya,” kata Desi kemudian.


Tin Tin


Mobil Harry terdengar membunyikan klakson. Zea yang sudah siap bergegas keluar dari rumah dan pergi. Emily tidak mengantarkan ke depan, sementara Desi melihat dari depan jendela dan melihat Harry membukakan pintu untuk Zea.


“Kamu yakin akan menyerah?” tanya Desi kepada Emily.


“Iya,” jawab Emily santai.


“Kenapa? Kamu bertemu lebih dulu dengan Harry, bahkan kamu berhak atas Harry. Seharusnya Zea yang mengalah bukan kamu.”


“Cukup Desi, aku tidak ingin membahas ini,” kata Emily enggan.


Jadi, Emily memang lebih dulu menyukai Harry semenjak pertama kali mereka bertemu. Waktu itu, Emily yang tomboy dan tidak suka berdandan melakukan kencan buta pertama kali bersama orang asing setelah putus dari mantannya. Dia datang ke kafe dengan pakaian sederhana dan rambut yang dikuncir kuda. Dia tidak berdandan dan datang seperti biasanya.


*Flashback *Pertemuan Pertama


Ketika sampai disana, dia bertemu dengan seorang laki-laki tampan yang merupakan dokter baru.  Pertama kali ketika sampai, dia masih disambut dan berbincang biasa. Hingga akhirnya semakin lama duduk, semakin menyebalkan. Laki-laki itu terlihat berdecak dan mulai mengatakan kata-kata menyebalkan menurut Zea.


“Kamu cantik natural, tapi sayang sekali ya wanita kok berpakaian begitu,” kata laki-laki itu yang ternyata bernama Rozi.


Emily saat itu kaget bukan main, terlebih dia memang kurang percaya diri untuk pergi kencan. Dia merasa tubuhnya tidak secantik wanita lain, dia yang kurus dan kurang tinggi. Emily juga tidak suka berpakaian seperti wanita contohnya mengenakan dress dan juga rok pendek. Dia lebih suka mengenakan celana yang mempermudah gerakan kakinya.


“Kamu menghina aku?” tanya Emily masih dengan nada yang biasa.


“Tidak sih, aku hanya berkata apa adanya, toh wanita mana sih yang pergi kencan pertama dengan pakaian seperti itu.”


“Aku pergi, lagipula memang siapa kamu berhak menghina penampilan seseorang. Kalau tidak suka sampaikan saja, tidak perlu menghina.”


“Hei, kamu baperan ya.”


“Aku enggan berlama-lama dengan orang aneh sepertimu,” kata Emily kemudian bangkit.


“Tunggu,” cegah Rozi dengan kesal.


“Kemana kamu mau pergi? Aku belum selesai. Lagipula lihatlah wajahmu di cermin, tubuh kurus kering itu, laki-laki mana yang mau dengan wanita seperti mu.”


Rozi tertawa kecil dan melepaskan tangan Emily. Emily kesal bukan main, dia benar-benar ingin memukul wajah laki-laki sinting di depannya ini.

__ADS_1


Tiba-tiba, seseorang berdiri dari belakang kursi Rozi. Laki-laki itu terlihat sangat tampan, tinggi dan berbahu lebar.


“Aku mau, siapa yang akan menolak wanita baik seperti ini,” kata Harry yang mendekat ke arah Emily.


“Siapa yang mau menolak wanita yang masih bisa menahan diri dan tidak berkata kasar saat dirinya dihina. Mana ada wanita sebaik ini,” tambah Harry.


“Anda yang akan menyesal,” ucapnya kemudian menarik lengan kemeja baju Emily dan pergi keluar dari kafe itu.


Semenjak hari itu, Emily merasakan menemukan pangeran berkuda putih. Tampan dan baik hati, bahkan laki-laki itu memberikan Emily air mineral yang dibeli di toko dan pergi meninggalkan kartu nama setelah menolong Emily. Semenjak itulah, Emily memiliki tekad untuk semakin dekat dengan Harry.


Flashback off


Kini, di dalam mobil hanya ada Zea dan Harry. Suasana menjadi hening karena Zea memilih menjaga sikap di kencan pertama mereka. Begitupula dengan Harry, dia hanya akan bertindak sesuai dengan rencana yang sudah dia susun. Tapi, sepanjang perjalanan terasa sepi dan canggung. Sehingga, Harry mengajukan pertanyaan untuk mencairkan suasana.


***


“Kamu ingin nonton dulu atau makan dulu?.”


“Bagaimana jika bermain di playground dulu? Sepertinya menghabiskan waktu sampai waktu film di mulai lebih bagus, kemudian kita makan setelah menonton,” kata Zea.


“Boleh.”


Sedetik kemudian hening lagi. Zea juga bingung memulai percakapan dan memilih diam sepanjang jalan. Sesampainya di mall, Zea dan Harry pergi ke playground dan bermain semua permainan di sana. Mulai dari balapan, basket hingga semuanya yang bisa mereka lakukan berdua. Zea kembali tersenyum kembali. Senyumnya secerah mentari, dn Harry merasa lega bisa melihat senyum itu setelah sekian lama. Indah sekali dilihatnya. Bahkan Zea tidak ragu menyatakan senyum dengan dan tawa ketika bersama Harry.


Satu jam setengah bermain, keduanya lelah dan keluar dari sana. Kini, mereka memilih untuk membeli minum untuk melepas dahaga.


“Kamu mau teh?” tanya Harry ketika keduanya mengantri di depan kasir.


“Baiklah, kamu bisa duduk dulu,” pinta Harry.


“Aku ingin ke kamar mandi sebentar,” kata Zea kemudian.


“Hati-hati ya,” jawab Harry mengizinkan sekaligus meminta Zea berhati-hati.


Zea lantas pergi ke kamar mandi dan berada di sana cukup lama untuk membenahi make up miliknya.


“Itu gulali kan,” gumam Zea setelah keluar dari kamar mandi dan melihat stan gulali di mall.


Dia berjalan kesana dan membeli satu untuk dirinya sendiri, dia membuka itu karena ingin mencicipi. Namun, ketika dia berjalan tiba-tiba dari belakang seorang anak kecil berlari dan menabraknya. Sehingga, Zea membentur tubuh seseorang dan permen itu jatuh ke lantai.


“Yahh,” keluh Zea saat menyadari permennya jatuh dan terinjak oleh anak yang baru saja lewat. Dia menunjukkan ekspresi sedih, namun dia langsung bangun dan meminta maaf.


“Maaf kak, saya kurang memperhatikan jalan,” katanya sembari berjalan ke depan orang tersebut dan membungkukkan kepala.


“Zea, “ panggil laki-laki dengan suara yang tidak asing di telinga nya. Suara itu milik David.


“Kita bertemu lagi,” kata David bersemangat.


“Berarti ini takdir,” kata Maya yang berjalan bersama Daniel dan anaknya yang digendong.

__ADS_1


Zea menoleh ke arah Maya, dia bingung kenapa Maya memeluk laki-laki lain dan itu bukan David. Terlebih ada bayi di gendongannya.


“Zea, maaf permenmu jadi jatuh,” kata David memungut permen yang jatuh itu dan menaruhnya di kantong plastik yang dia bawa yang tadinya juga berisikan sampah permen Daniel dan Maya.


“Aku akan belikan lagi ya,” kata David kemudian.


“Tidak!” jawab Zea tegas.


Zea lantas menoleh ke arah Maya, “Ini bukan takdir Maya, tapi kebetulan yang mengesalkan. Lihat saja kesialan yang menimpa ku hari ini,” kata Zea kemudian pergi meninggalkan mereka semua.


David kaget dan tercengang. Dia merasa sedih harus mendapati wanita yang dia cintai menjadi sangat dingin dan seasing itu.


***


Harry melihat Zea berjalan dengan wajah kesal dan berjalan cepat.


“Ada apa?” tanya Harry.


“Tidak, tadi ada kucing liar yang membuat ku kesal,” sanggah Zea kemudian.


Harry hanya mengangguk dan tiba waktunya film hampir di mulai. Keduanya pergi ke bioskop. Selama menonton, Zea kurang fokus dan terlihat asyik dengan pikirannya sendiri. Begitu pula dengan perjalanan pulang, dia hanya diam saja tanpa berkata apapun dan terlihat banyak melamun.


Ckit


Mobil Harry berhenti di depan rumah Zea. Zea masih melamun dan belum fokus. Keduanya juga tidak berbincang sepanjang jalan.


“Kita sudah sampai,” kata Harry.


Zea hanya mengangguk dan turun. Harry juga ikut turun dan membukakan pintu.


“Zea, bagaimana menurutmu hari ini?” tanya Harry.


“Ha?.”


“Bagus kok,” jawab Zea tidak fokus.


Harry menahan ekspresinya yang datar dan memilih memberikan senyum manis dan berkata.


“Aku senang kamu memberimu kesempatan, semoga kencan selanjutnya lebih baik,” kata Harry kemudian mendekat, maju selangkah ke arah Zea. Keduanya sangat dekat, hingga rasanya hanya berjarak beberapa inci saja wajah mereka.


“Ini,” kata Harry sembari mengeluarkan sebuah gelang emas dari kotak emas yang dia bawa.


Zea kaget dan langsung menutup mulut.


“Ini terlalu berlebih, Harry.”


“Tidak kok, aku senang jika kamu mau menerima. Tapi, aku juga tidak memaksa.”


“Baiklah, aku simpan dulu. Terima kasih.”

__ADS_1


Harry mengangguk dan tersenyum, dan menggapai tangan kanan Zea pelan. Membawanya ke depan wajahnya dan mengecupnya pelan, “Good night, Ze.”


Zea kaget, salah tingkah tapi memilih menahan diri dan hanya tersenyum kemudian masuk ke rumah.


__ADS_2