Missing You : David

Missing You : David
Restu


__ADS_3

Restu


*****


Keesokan harinya Bapak tiba di rumah dengan menggunakan mobil pick up miliknya. Ibu berjalan ke luar menyambut kedatangan bapak. Aslan dan Zea sudah pergi berangkat untuk sekolah.


“Syukurlah Bapak sudah pulang,” ucap Ibu.


“Iya Bu, bagaimana kondisi ibu?”


“Ibu sehat pak, mari masuk kebetulan sarapannya sudah masak.”


Setelah berbincang sebentar bersamaan dengan menyantap makan pagi. Ibu menyampaikan hal yang ingin


disampaikan oleh Zea. Tadinya Bapak terdiam setelah mendengarkan penjelasanibu, namun akhrinya Bapak mengucapkan kalimat yang menyetujui permintaan putri bungsunya itu.


“Bapak setuju bu, keinginan anak selama itu hal yang positif haru didukung bu.”


“Syukurlah kalau bapak setuju, tapi walaupun ini beasiswa belum tentu Zea bisa lolos pak dan kalau lolos kita harus memikirkan biaya agar anak kita tidak sengsara disana.”


“Iya bu, bapak juga memikirkan sampai situ walaupun bapak sudah berumur dan tidak muda lagi tapi demi anak bapak akan berusaha semaksimal mungkin demi anak. Ibu tenang saja, kita pasti bisa.”


“Baiklah pak, ibu selalu mendukung keputusan bapak dan anak-anak.”


Setelah perbincangan itu, keluarga Zea memutuskan untuk mendukung keputusan Zea melanjutkan kuliah di luar negeri. Dengan banyak pertimbangan, Zea memutuskan untuk mengambil perkuliahan dengan jurusan ilmu komputer. Setelah berpikir cukup lama dan memikirkan hal yang sangat ingin dia lakukan, Zea tetap memilih ilmu komputer.


Persyaratan dan persiapan ujian tertulis, ujian toefl, ujian ketrampilan dan wawancara dipersiapkan dengan matang oleh Zea. Tidak ada hari libur baginya setiap hari adalah hari kerja untuk belajar, belajar dan belajar.


****


Zea POV


Hari ini, matahari bersinar cukup terang. Setelah ujian akhir berakhir setiap murid kelas 3 diizinkan untuk libur dan masuk hanya secara bergantian sembari menunggu nilai ujian akhir keluar. Beberapa murid memutuskan untuk liburan bersama dengan teman kelasnya. Sementara aku, memilih untuk menghabiskan waktu belajar di dalam kamar. Sudah hampir 1 bulan aku menonaktifkan akun media sosial ku.


Rasanya begitu tenang dan nyaman. Tidak ada hal-hal yang menganggu untuk dilihat, tidak ada lagi postingan ataupun gambar yang membutuhkan pemikiran lebih untuk diputuskan. Hariku terasa indah, nyaman dan tentram. Namun, karena terlalu sering menghabiskan waktu di dalam rumah rasanya aku butuh udara segar dan sinar matahari.


Hari ini, setelah bangun pagi aku memutuskan untuk lagi pagi mengelilingi lapangan di lingkungan kompleks ku. Banyak sekali ibu-ibu mengenakan sepeda mengayuh sepedanya sepanjang jalanan kompleks. Beberapa anak kecil juga bermain, berlari kesana kemari di dalam lapangan. Memainkan bola, bermain lempar tangkap dan hanya sekedar berlari-lari kejar-kejaran bersama dengan temannya.


Hariku terasa indah. Hari ini H-3 pengumumam penerimaan mahasiswa baru di Universitas Teknik Internasional di Negara Yin. Sebelum menghabiskan waktu di depan layar menunggu email dan pengumuman, aku memilih menikmati sinar matahari pagi dengan berlari santai.

__ADS_1


“Cuacanya sangat bagus,” ucap ku pada diri sendiri.


“Iya, cerah sekali seperti senyummu,” jawab Denis.


Aku menoleh kearah sumber suara yang aku kenal itu. Denis berdiri di sampingku dengan pakaian olahraga lengkap membalut tubuhnya.


“Kenapa kamu ada disini Den?”


“Rumah ku di daerah ini Zea.”


“Bagaimana bisa?”


“Bisa saja, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Zea. Dunia ini juga cukup sempit kau harus sadar akan konsep itu.”


“Sungguh kejadian tidak terduga bertemu dengan dirimu di sini, bagaimana kabarmu Denis?”


“Aku baik-baik saja, bagaimana dengan kamu Zea?”


“Aku baik-baik saja.”


“Syukurlah, mau duduk di kursi itu dan berbincang?” tanya Denis sambil menunjuk kearah kursi yang kosong di dekat lapangan.


Aku menganggukkan


berjalan mengikutiku menuju ke arah kursi kosong tersebut.


“Bagaimana Zea, sudah memilih akan masuk perguruan mana?” tanya Denis.


Aku terdiam, perihal keinginan ku untuk pergi ke Negara Yin untuk kuliah tidak boleh sampai tersebar. Terlebih lagi, ini bukanlah hal yang harus disampaikan kepada semua orang yang belum pasti akan terjadi. Lagi pula Denis adalah orang baru, jadi tidak perlu mengerti keadaanku.


“Hmm, sedang dipertimbangkan Denis. Kamu sendiri bagaimana?”


“Oh begitu, aku mengambil jurusan Ilmu Hukum dan Politik di Universitas yang sama dengan kekasihmu dan sudah diterima juga.”


“Oh baguslah kalau begitu, tapi Denis aku dan dia sudah tidak ada hubungan. Ku harap kedepannya jangan membahas perihal dia lagi di depanku.”


Denis terdiam ketika aku mengucapkan penggalan kalimat yang menyampaikan bahwasanya aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi. Tapi, tidak perlu ditutupi toh kami memang sudah berhenti bersama. Lebih cepat semua orang paham akan lebih baik. Dengan begitu kesalahpahaman buruk di masa depan tidak akan terulang kembali.


“Baik Ze, maafkan aku.”

__ADS_1


“Tidak masalah Denis, semua yang tidak baik akan pergi namun jika yang pergi adalah hal baik maka dia akan kembali lagi dalam keadaan terbaik,” ucapku pada Denis.


“Kalau David bukan lagi kekasihmu apa bisa aku dekat dengan kamu Ze?” tanya Denis jujur.


“Tidak,” jawabku.


“Kenapa?”


“Aku sedang tidak ingin membuka hati, maaf Denis sepertinya aku harus segera pulang,” ucapku seraya beranjak pergi meninggalkan Denis.


Kejadian di taman hari itu masih mengganggu pikiranku hingga beberapa hari. Bahkan di hari-H pengumuman aku masih memikirkan bagaimana bisa Denis mengucapkan kalimat seperti itu. Ketika berpacaran maka pertemanan akan lebur menjadi hubungan baru yaitu kekasih. Ketika menjadi kekasih bukanlah hal yang tidak mungkin akan menemui batu sandungan di dalam menjalani hubungan. Jika tidak berhasil maka berpisah adalah keputusan yang pas, dengan begitu akan lebih sulit untuk menjalin hubungan baik sebagai teman seperti sebelumnya.


“Aku tidak ingin hal itu terjadi,” ucapku spontan tanpa sadar.


“Apa Ze?” tanya Aslan kaget.


“Bukan apa apa kak, kenapa belum ada email masuk ya kak?” tanyaku.


“Sudah ditunggu saja jangan buru-buru.”


Aku dengan fokus memperhatikan layar laptop ku, mengecek email, sesekali juga membuka website untuk melihat apakah sudah ada pengumuman penerimaan. Dengan gelisah dan penuh harapan aku menantikan detik-detik pengumuman disampaikan. Kak Aslan memilih tidur di kasur dan memainkan ponselnya. Kesal menunggu dari tadi aku juga mengikuti langkah kak Aslan dengan tidur di kasur dan berguling kesana kemari untuk menyembunyikan rasa deg-deg an di hatiku.


“Sudah Ze, jangan banyak bergaya diam saja nanti juga ada pengumuman,” ucap Asalan.


Toktok


“Masuk,” jawabku.


Sosok laki-laki berbadan tegap dengan tinggi lebih dari 170 cm kurang lebih memasuki kamar ku dengan menenteng makanan ringan dan susu di tangan kirinya. Sosok yang tidak asing itu adalah kak Fadlan. Dengan cepat aku berlari kearah kak Fadlan dan memeluknya untuk melepaskan kerinduanku selama ini.


“Apa kabar Ze?" tanya kak Fadlan seraya mengelus membalas pelukanku.


“Baik kak, kakak datang kapan?”


“Baru saja.”


“Zeeeeeezeeee, kamu lolos dik,” ucap Aslan dengan posisi yang sudah berganti yaitu duduk di depan layar laptop milikku.


Aku dan kak Fadlan seraya menoleh ke arah suara kak Aslan dengan tatapan menelisik dan tidak percaya.

__ADS_1


*****


Bersambung............***


__ADS_2