
Di sebuah kedai sederhana yang terletak di kota B, seorang pria yang berparas tampan sedang membuat sate ayam sebagai menu utama dari jualannya. Setiap hari pria itu berjualan sate di kedai yang tergolong sederhana namun ramai pelanggan. Sebagian besar pelanggan dari pria itu adalah wanita muda, bahkan wanita bersuami sekalipun rela antri demi melihat wajah tampannya. Namun tak jarang pula para pria menjadi pelanggan tetapnya.
Namanya Harfei Iskandar. Dia mendirikan kedai sate ayamnya sudah sekitar 2 tahun. Hal itu di lakukan untuk membantu perekonomian ibunya yang seorang Singel parent.
Pernah suatu ketika ada seorang emak-emak sedang mengidam ingin makan sate ayam. Dan beruntung nya kedai sate ayam Harfei buka hingga pukul 23.30, sehingga bagi siapa saja yang mengidam di jam tersebut mereka bisa menikmati sate buatan Harfei.
"Bang, sate nya 20 tusuk ya". Kata emak-emak yang mengidam tersebut pada Harfei. Harfei yang memposisikan diri membelakangi emak-emak itu seketika membalikan badannya ketika ada suara seseorang memesan sate ayam 20 tusuk. Dan yah, emak-emak yang berusia sekitar 40-an itu mendadak ileran karena melihat ketampanan Abang satenya.
"Duh... ganteng banget sih bang. Mau ta adopsi jadi anak ya bang?". Tutur wanita itu dengan genitnya sambil mengusap liur yang menetes di sudut bibir bawahnya. Harfei yang merasa lucu pun menjawab,
"Maaf Bu, saya masih punya ibu kandung. Kecuali ibu mau jadi bini saya, boleh deh". Balas Harfei sambil mengedipkan matanya pada wanita itu. Dia sengaja menggoda pelanggannya sebagai daya tarik dari penjualan satenya. Namun bukannya mendapat balasan menggoda dari wanita itu, ia justru kena semprot suami dari wanita tersebut karena cemburu.
"Enak saja bini saya mau di jadikan istri. Jangan mentang-mentang wajah sampean ganteng seperti aktor Tom Keras, sampean seenak jidat mau merebut bini saya!". Tutur pria yang bertubuh kurus tersebut sambil berkacak pinggang. Harfei di buat geli melihat pasangan suami istri yang menurutnya cukup tua itu.
"Mas, bukan Tom Keras namanya aktor itu. Tapi Tom Cruise. Kalo Tom Keras itu punya Mas yang hampir tiap malam keras". Tutur wanita itu secara sarkatis membuat kedua pria yang berbeda generasi itu menahan tawa dan malu.
"Nih Bu satenya". Tutur Harfei.
"Terimakasih ya bang. Besok ta mampir lagi ya". Balas wanita itu ambil mengedipkan matanya pada Harfei. Merasa di duakan suami dari wanita itupun merangkul erat pundak istrinya dan berkata,
"Beb, ayo pulang. Tom ku sudah mengeras".
Mendengar kalimat sarkatis dari pasangan suami istri itu membuat Harfei merasa geli dan tawanya pun pecah.
"Hahahaha... Tom Cruise kok di bilang Tom Keras. Kalau mau main keras-kerasan nanti di rumah bukan di kedai sate saya. Bikin jiwa jomloh ku meronta saja. Hedew... Apalah daya aku yang jomblo setengah dewa ini. hehe. Tau ah, yang penting happy.".
Begitulah hampir setiap malam Harfei terkena gombalan emak-emak. Ada juga yang gadis sih, hanya saja mereka malu-malu meong. Pura-pura gengsi, padahal mau. Terbukti dari mereka yang sengaja mengabadikan foto Harfei ketika sedang membakar sate ayamnya.
*****
Di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pertambangan. Seorang wanita muda berparas biasa saja sedangkan mengerjakan tugas yang di berikan oleh Papanya. Hazal Kaya, wanita perfeksionis yang angkuh, namun tak jarang juga tersenyum pada orang yang membuatnya tertarik.
__ADS_1
"Hazal, apa sudah rampung tugas yang Papa berikan semalam sama kamu?". Tanya Papa Hazal yang bernama Kaya Keremcem tersebut.
"Sudah Pa. Nih, Hazal sudah bereskan semuanya. Sekarang Hazal mau makan siang dulu, laper". Tutur Hazal sambil membereskan peralatan yang sedikit berantakan di atas meja kerjanya dan meraih tas yang tergantung di belakang kursi kerja miliknya.
Setelah mendapat izin dari bos sekaligus Papanya itu, Hazal keluar dari ruangannya dan mencari tempat makan yang menurutnya menggugah selera makannya. Hazal menghentikan langkahnya di sebuah kedai sederhana yang tertulis "KEDAI SATE AYAM HARFEI". Merasa tertarik dengan gambar menu yang terpampang di papan nama tersebut, Hazal pun memesan sate dan nasi putih satu porsi.
"Mas, sate ayamnya lima tusuk dan nasi putihnya sepiring ya?". Titah Hazal pada karyawan Harfei. Oh ia, Harfei memiliki karyawan bernama Wawan. Usianya 19 tahun.
Wawan yang mendengar seseorang memesan sate tersebut mulai menyiapkan menu yang di maksud dan menatanya di atas nampan. Namun ada sedikit bumbu sate yang melekat di bibir piring nasi pesanan Hazal, membuat wanita itu merasa jijik.
"Kok, gak di bersihin sih piringnya mas?". Tutur Hazal dengan ekspresi jijik.
"Apanya yang perlu saya bersihkan mba?. Semuanya sudah saya bersihkan kok mba". Balas Wawan dengan wajah bingungnya. Pria itu merasa tidak melakukan kesalahan,
"Yang kotor itu piring nasi ini, kenapa ada bumbu sate disini?".
Wawan belum sempat menjawab pertanyaan dari Hazal, Harfei yang mendengar ada sedikit keributan pun menghampiri keduanya.
"Karena Mba makan di kedai sate ayam. Coba Mba makan di kedai ikan bakar, pasti bumbu yang ada di piring itu bumbu ikan bakar atau sambel nya". Jawab Harfei secara sarkatis, membuat Hazal merasa kesal.
"Baiklah mba, kalo mba gak mau nasi yang ini. Saya akan ganti, tapi dengan syarat". Harfei menggantungkan kalimatnya dan menunggu jawaban dari wanita yang menurutku menyebalkan itu.
"Apa syaratnya?". Tanya Hazal dengan wajah angkuh.
"Mba mau jadi pelanggan tetap saya. Setiap hari mba harus makan siang di kedai saya. Bagaimana?". Tanya Harfei sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Baiklah, hanya jadi pelanggan tetap sih gampang. Tapi kedai kamu harus bersih, jangan ada sampah yang berserakan dimana-mana. Terus piring makan saya juga harus bersih dan tidak boleh terkena bumbu sate ayam".
Mendengar kalimat Hazal yang begitu panjang kali lebar itu pun membuat Harfei jengah.
"Kalau begitu nasinya di makan terpisah dengan sate, supaya gak tercampur juga dalam mulut dan perut kamu. Bukannya nanti juga akan tercampur di dalam tubuhmu. Lagi pula, setau saya makan sate itu ya bumbunya akan tercampur di nasi. Emang satenya gak tertampung dalam lambung kamu bersama nasi?. Apa satenya nyangkut di ginjal kamu terus nasinya lari ke lambung, gitu?". Jawab Harfei. Membuat Hazal tak mampu menjawab ucapan pria itu. Memang benar kan sate itu di makan pake nasi dan akan tercampur dalam perut?. 😄
__ADS_1
"Ehem. Baiklah. Saya makan yang ini. Tapi ingat, selama saya menjadi pelanggan tetap disini, semuanya harus bersih dan Perfect Termasuk kamu, penampilanmu juga harus rapi".
Merasa jengah dengan ucapan wanita yang menurutnya sangat cerewet itu pun, Harfei menyetujuinya, meski terpaksa.😄
'Dasar wanita aneh, cantik juga kagak. Tapi perfeksionis nya minta ampun' Batin Harfei.
'Dasar pria jorok, untung ganteng. Kalau tidak, bumbu sate ini aku jadikan makeup ke wajahnya'. Batin Hazal
Begitulah awal mula pertemuan Harfei dan Hazal. Bagai Mr. Jorok dan Mrs. Perfeksionis sedang mengadu argumen.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Hay Readers. Ketemu lagi di novel ku yang ketiga ya. Semoga kalian suka. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar. Jangan lupa pula like dan vote serta beri bintang juga. Terimakasih.
__ADS_1
Happy Reading 😊
*Dede**...