
Empat bulan kemudian pasca insiden penculikan Hazal. Harfei kembali bekerja di perusahaan menjalankan amanah Ayah mertuanya. Sementara Hazal sudah tidak mengelola restoran lagi, semuanya di percayakan pada si kurus Wawan. Pria remaja itu sudah menguasai tehnik mengelola restoran berdasarkan pengalamannya selama ini serta ajaran Hazal yang hampir setiap hari di berikan. Bahkan pria itu pun di bantu oleh Anton. Meski pria berdarah Manado itu hanya seorang koki, tetapi kemampuan nya dalam urusan bisnis tidak bisa di ragukan.
Sementara cabang restoran yang berada di kota C Hazal mempercayakan pada Tuan Alexander. Pria berlesung pipi itu mengajak kekasihnya untuk mengelola restoran tersebut. Ya, Alexander kini memiliki seorang kekasih setelah Hazal menolak mentah-mentah cintanya. Lah wong orang sudah punya suami juga. 😏
Usia kandungan Hazal kini memasuki lima bulan. Wanita itu tampak sudah tidak sabar untuk menunggu kelahiran anaknya yang berjenis kelamin laki-laki itu. Begitu juga dengan Harfei, pria itu tampak antusias untuk menyambut kelahiran putra pertamanya. Semua keperluan melahirkan dan perlengkapan bayi sudah di beli oleh kedua orang tua Hazal serta ibu Harfei. Mereka tak mau ketinggalan momen membahagiakan itu. Maklum saja, ini adalah yang pertama bagi Hazal dan Harfei, dan cucu pertama bagi kedua orang tua mereka.
Hazal sudah kembali ke rumah Harfei yang berjarak 10 km dari kediaman kedua orang tuanya. Sebenarnya ibu Hazal masih menginginkan putri semata wayangnya itu untuk tinggal di rumahnya, tetapi Hazal bersih kukuh untuk pulang mengingat ibu mertuanya tinggal sendiri di rumah yang cukup besar itu.
"Sayang, apakah kamu menginginkan sesuatu lagi?". Tanya Harfei ketika baru saja masuk dalam kamar.
"Aku mau martabak telor, sate, buah anggur, melon, durian, soto ayam, bakso, dan nasi goreng". Hazal tampak sedang berpikir apa lagi yang akan di pesannya dengan memegang dagunya.
"Buah naga, itu saja". Harfei menelan salavinya dengan susah payah kala mendengar ucapan Hazal yang memiliki banyak keinginan. Harfei berjalan mendekati Hazal lalu kemudian duduk di tepi ranjang.
"Beneran mau itu semua?". Tanya Harfei ragu. Hazal pun menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Harfei.
"Apa gak kebanyakan?". Hazal menggelengkan kepalanya.
"Yakin di habisin semua itu?". Sekali lagi Harfei bertanya.
"Yang makan kan bukan aku". Jawab Hazal membuat kening Harfei berkerut.
"Lalu siapa yang makan?".
"Mas Harfei".
"Ha?". Hazal tersenyum dan menunjukkan giginya yang putih seperti tanpa beban sama sekali. Sementara Harfei sekali lagi menelan salavinya berulang kali. Bagaimana bisa dia menghabiskan makanan sebanyak itu?. Dia bukanlah kanibal yang bisa memakan segalanya. Pikir Harfei.
"Aku mana bisa menghabiskan semua makanan itu sayang?". Protes Harfei dengan nada hati-hati. Ia tidak ingin membuat Hazal kecewa lalu menangis. Hormon kehamilan wanita itu semakin meningkat hingga sering kali sensitif bahkan menangisi hal-hal kecil yang di lakukan oleh Harfei. Anehnya Hazal hanya bisa menangisi perbuatan Harfei ketika pria itu melakukan kesalahan sekecil apapun, tapi tidak dengan ibu mertuanya, bahkan wanita paruh baya itu pernah memakan habis martabak telur Hazal hingga tak tersisa dan Hazal pun tidak memprotes sama sekali. Namun ketika Harfei yang meminum air mineral miliknya, dia justru marah dan menangis semalaman. Aneh bukan?.
__ADS_1
"Apa mas Harfei sudah tidak mencintai ku lagi?". Wajah Hazal berubah menjadi sendu. Ia menundukkan kepalanya dan hampir saja menitikan air mata. Sejujurnya Hazal juga tidak merasa nyaman dengan hormon kehamilannya yang mengubah dirinya menjadi sensitif. Bahkan dulu dia yang perfeksionis kini berubah menjadi jorok. Suka mengupil, kentut sembarang, bahkan BAB sambil mengejang seperti yang di lakukan Harfei selama ini. Mungkin itulah yang di sebut karma. 😅
"Tidak sayang, bukan seperti itu". Harfei memijit pelipisnya, ia tampak bingung harus menenangkan wanita itu yang sudah mulai terisak.
'Kenapa dia menjadi cengeng dan menyebalkan sih?. Kalau bukan cinta sudah lama aku cubit paru-parunya'. Batin Harfei.
Harfei memeluk Hazal dan mengecup kening wanita itu dengan penuh kasih sayang guna menenangkan istrinya. Dan benar saja, Hazal mulai tenang dan tak terisak lagi.
"Baiklah, aku akan memakan semua makanan itu". Ucap Harfei akhirnya. Hazal pun menarik tubuhnya dari pelukan Harfei lalu kemudian menatap wajah pria tersebut dengan mata berbinar.
"Beneran?. Mas gak bohong kan?. Gak di buang kan semua makanan itu?". Tanya Hazal antusias, dan Harfei pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Tapi dalam hati pria itu sedang mengumpati istrinya yang sangat menyebalkan itu dengan perasaan berkobar-kobar.
"Baiklah kalau begitu, aku mau melihat mas memakan semua makanan itu sekarang juga". Pinta Hazal. Dan membuat Harfei menelan salavinya dengan susah payah.
"Yang benar saja sayang?. Aku baru saja selesai sarapan tadi sama ibu". Protes Harfei. Namun kalimat itu sukses membuat Hazal kembali menangis. Harfei pun menenangkan istrinya itu kembali. Sumpah demi apapun, Harfei lebih memilih untuk mengerjakan proyek besar hingga waktunya habis dari pada harus membujuk istrinya yang sensitif, sedikit-sedikit menangis.
"Baiklah-baiklah, aku akan makan sekarang. Apa kamu senang?". Harfei memaksakan senyumannya. Dan Hazal pun mencium pipi Harfei dengan senyum antusias.
"Sebentar lagi sampe".
"Jadi kau sudah memesan semua makanan tadi?". Hazal menganggukkan kepalanya.
'Mengapa dia sangat rakus sih?. Untung dia yang makan, tapi ini kan aku yang makan. Bisa pecah perutku nanti'. Harfei menangis dalam hati ketika memikirkan istrinya yang sangat menyebalkan itu.
Tak lama ibu membawa semua pesanan Hazal ke dalam kamar mereka lalu menyuruh Harfei memakan semua makanan itu sampai habis tak tersisa. Harfei pun mengikuti keinginan Hazal. Ingin rasanya pria itu memuntahkan semua makanan yang di makannya, namun mata Hazal selalu mengawasi Harfei.
Harfei pun merasa mual, dan dengan jahatnya Hazal berkata,
"Minum air putih mas supaya semangat mas Harfei semakin tumbuh. Jangan jadi pria yang lemah dong". Sumpah demi apapun ingin rasanya Harfei meninju tembok kamarnya hingga jebol.
__ADS_1
Harfei pun mengikuti ucapan Hazal dengan meminum air putih, ia seperti kehilangan tenaga untuk sekedar membantah.
"Sayang aku sudah menghabiskan semuanya. Apa kamu senang sekarang?". Akhirnya Harfei menyanggupi keinginan Hazal untuk menghabiskan semua makanan tadi. Wajah pria itu pun berubah menjadi merah karena menahan rasa ingin muntah.
"Baiklah. Aku pergi dulu menemani ibu nonton film layar terbang". Hazal meninggalkan Harfei di kamar tanpa beban sama sekali. Sementara Harfei buru-buru lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang di makannya tadi ke kamar mandi setelah memastikan Hazal tak kembali lagi ke dalam kamar mereka.
Hoe... Hoe... Hoe...
Seketika perasaan Harfei menjadi lega setelah memuntahkan semua makanan tadi.
"Ah, senangnya. Sumpah rasanya sangat eneg. Mengapa Hazal jadi menyebalkan seperti ini sih?. Kalau bukan karena aku mencintainya sudah lama aku buang ke got makanan tadi sampai tikus yang menghabiskan semuanya".
Harfei bergidik ngeri kala mengingat makanan yang di makannya tadi. Bahkan dia tidak percaya bisa menghabiskan makanan itu hingga tak tersisa. Ternyata cinta membuat manusia melakukan segalanya hingga melupakan akal sehat. Bahkan kotoran ayam di sangka coklat.😅
.
.
.
.
.
TBC.
Hargai aku lewat like dan vote kalian ya. Dan tolong komen yang bijak. Terimakasih.
Happy reading 😊.
__ADS_1
*Dede...