
Pagi itu Hazal melakukan aktivitas dengan bermalas-malasan, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Semangat wanita itu seolah terkubur dengan kepergian Harfei yang secara diam-diam.
Dan diamnya Harfei berimbas pada pembangunan cabang restoran di kota C. Hazal tak bisa berpikir dengan tenang, semua otak wanita itu di kuasai oleh suaminya Harfei.
Jika biasanya Hazal bekerja dengan secara profesional, namun kali ini hanya lamunan yang menjadi sahabat nya. Beruntung Tuan Alexander yang merupakan rekan bisnis Hazal bisa mengertikan wanita tersebut.
****
Hazal kembali ke rumah dan menyiapkan makan malam kesukaan Harfei, namun pria itu justru memilih makan di luar bersama seseorang yang tidak di ketahui oleh Hazal. Tentu saja hal itu membuat hati wanita tersebut sakit dan kecewa dalam waktu yang bersamaan. Namun ia tak mau berputus asa.
Masih tetap terus berusaha, Hazal mencoba untuk mengajak Harfei bicara, namun pria berparas tampan itu tetap saja menghindar, dan itu berlangsung sudah seminggu lamanya. Masih tetap sama. Diamnya Harfei membuat Hazal semakin di landa rasa cemas dan takut kehilangan.
Pernah suatu ketika Hazal menceritakan proses pembangunan cabang restoran nya di kota C. Bahkan wanita itu juga meminta pendapat Harfei, ia sengaja melakukan itu agar ia bisa membuka komunikasi dengan Harfei. Setidaknya itu adalah awal yang baik, namun bukannya mendapat jawaban ataupun predikat pujian, pria itu justru menghindar sembari berkata,
"Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan".
Hanya itulah kalimat yang terakhir di dengar oleh Hazal hingga satu Minggu pun berlalu. Hazal pikir semuanya sudah membaik setelah ia membiarkan Harfei mendiamkan dirinya, tapi sayangnya itu hanyalah angan-angan wanita tersebut. Semuanya masih tetap sama.
"Hazal".
"Sonia. Kamu mengagetkan aku saja". Sonia tiba-tiba muncul di restoran Hazal. Wanita itu tampak tergesa-gesa seolah baru saja menyaksikan sesuatu.
"Ada apa?". Tanya Hazal kemudian.
"Apa kamu tau, tadi aku melihat Helena dan David di depan restoran ini". Tutur Sonia antusias.
"Lalu?". Tanya Hazal santai. Bukannya ia tak berminta untuk mengetahui tentang hubungan Helena dan David, hanya saja wanita itu belum bisa membagi pikiran nya. Saat ini Harfei lah pusat dari pemikiran wanita tersebut.
"Hazal, apa kamu tidak ingin tau rencana mereka?. Apa kamu akan tetap diam?. Ayolah Hazal, apa kamu mau menyerah begitu saja?". Tanya Sonia secara beruntun. Hazal memijit pelipisnya lalu kemudian beralih melihat Sonia.
"Sonia, rasanya aku ingin menyerah saja". Kening Sonia berkerut hampir menyatu, merasa heran dengan sahabat yang di anggapnya kuat kini tampak lemah bagai tak bertenaga.
"Hazal, apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui?". Tanya Sonia penuh selidik.
__ADS_1
Hazal mengembuskan napas berat, lalu beralih duduk di kursi sofa yang berada di sudut ruangannya.
"Mas Harfei telah berubah, Sonia". Ucapnya lirih setelah beberapa saat diam.
"Maksud kamu apa?".
"Selama seminggu ini mas Harfei mendiamkan ku. Aku juga tidak tau mengapa dia begitu mengabaikan ku. Awalnya aku pikir dia hanya lelah karena Ayah memberinya pekerjaan yang banyak. Terlebih lagi proyek bersama Tuan Pratama sudah membuahkan hasil dan mulai banyak pebisnis yang melirik mas Harfei, bahkan menawarkan untuk bekerjasama". Hazal menjedah kalimatnya.
"Tapi aku salah, Sonia. Semakin hari mas Harfei berubah drastis. Aku hampir tidak mengenalnya". Hazal menatap kosong kedepan. Ia membayangkan hal-hal manis bersama suaminya ketika bersama dulu. Berbagi suka dan duka, tertawa bersama, bahkan mandi bersama pun di ingat oleh wanita bermata coklat tersebut. Hazal benar-benar merindukan suaminya, Harfei Iskandar.
"Apa mungkin mas Harfei memiliki wanita lain?".
DEG...
Satu kalimat sederhana itu sukses membuat Hazal tersentak kaget, marah, sakit hati, dan takut dalam waktu yang bersamaan. Tidak mungkin suaminya selingkuh, apa lagi memiliki wanita lain di luar sana dan melupakan dirinya, tidak mungkin!. Pikir Hazal.
"Tidak. Itu tidak mungkin!".
"Hazal".
"Sonia, mas Harfei tidak mungkin melakukan hal yang memalukan itu. Aku tau bagaimana mas Harfei". Lanjutnya kemudian setelah beberapa saat diam.
Sonia tampak ingin menenangkan sahabatnya itu, ia memegang tangan Hazal berusaha untuk menguatkan wanita yang merupakan sahabat kecilnya tersebut.
"Hazal. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menambah beban mu. Aku hanya tidak ingin sahabat ku ini merasakan kekecewaan dan sakit hati". Ucap Sonia seraya menghapus air mata yang mulai menetes di pipi Hazal.
"Aku takut Sonia. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi?. Aku tidak siap Sonia. Kami bahkan berencana memiliki anak yang banyak dan merawat mereka bersama-sama hingga tua. Hiks... Hiks...".
Melihat Hazal mulai terisak, Hati Sonia pun merasa iba, ia menarik tubuh Hazal dan membenamkan wanita itu dalam pelukan nya. Mungkin saat ini yang di butuhkan Hazal adalah pelukan hangat dari seorang sahabat.
"Sssst, tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku". Sonia mengelus rambut Hazal dengan lembut, berharap sahabatnya itu tenang.
Dan benar saja, perlahan isakan Hazal mulai menyurut. Hanya keheningan yang membaluti dua wanita berbeda karakter itu.
__ADS_1
****
Di kantor, Harfei membuka laci meja kerjanya dan melihat semua foto Hazal yang di dapatnya dari beberapa paket tanpa nama pengirim.
Harfei melihat foto itu dengan raut wajah yang tak terbaca. Kemudian Harfei meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja dan menghubungi seseorang. Entah siapa yang di hubungi pria tersebut, hanya dia dan Tuhan tau.
"Aku mengandalkan mu".
****
Tepat pukul 01.00 dini hari Harfei pulang ke rumah. Ia melihat Hazal telah tertidur pulas. Ia kemudian duduk di tepi ranjang dan menyentuh kepala wanita yang selama seminggu ini di diamkan nya itu. Ada desiran rindu yang menggelora di dalam sana. Tak bisa di pungkiri, hati Harfei sangat merindukan Hazal, merindukan belaian wanita yang di nikahinya itu. Namun mengingat rentetan gambar Hazal bersama beberapa pria yang berbeda membuat hati pria tersebut berdenyut kembali, rasanya sakit.
Ia menarik tangannya lalu kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Hazal membuka matanya. Ternyata wanita itu hanya berpura-pura tidur. Ia menyadari kehadiran Harfei ketika pria itu membuka pintu kamar mereka.
Air mata Hazal yang sedari tadi di tahan akhirnya menggenangi wajahnya yang tampak pucat tanpa bisa di bendung lagi.
Tak lama setelah itu terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Harfei. Hazal menutup kembali matanya seolah berpura-pura tidur. Pria itu naik ke tempat tidur dimana Hazal berada. Kening wanita itu berkerut. Ingin rasanya ia bangun dan memeluk suami yang di rindukannya itu, tapi sebisa mungkin Hazal menahannya.
Dan tiba-tiba saja,
CUP.
Harfei memeluk dan mengecup puncak kepala Hazal lalu membenamkan tubuh wanita itu kedalam pelukannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut.