Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 39. Kumpulan Foto.


__ADS_3

Di kantor Harfei begitu di sibukkan dengan proyeknya bersama Tuan Pratama. Tak memiliki kesempatan untuk sekedar memikirkan istrinya bahkan untuk menghubungi wanita itu pun ia tak memiliki waktu. Jika biasanya Harfei selalu menyempatkan sedikit waktu untuk menghubungi Hazal, tapi kali ini bahkan hingga malam hari tiba pria itu masih tetap bergelut dengan berbagai macam pekerjaan di kantor hingga larut malam.


Ayah Hazal sudah mengingatkan Harfei jika tak perlu terburu-buru untuk menyelesaikan pekerjaan, namun pria berparas tampan itu tak menghiraukan ucapan mertuanya. Dia justru berkata,


"Aku hanya ingin Hazal melihatku sukses".


Ya, begitulah jawaban Harfei. Pria itu selalu ingin tampak sempurnah di mata Hazal, meski wanita itu tak mengharapakan lebih darinya, yang terpenting adalah kebersamaan dan juga cinta di antara mereka sudah cukup bagi wanita itu.


Masih terus dengan laptop di atas meja kerjanya, Harfei mendapat pesan di ponsel miliknya.


Tanpa melihat ponsel yang tersimpan di atas meja dengan sembarangan, dan mata tetap fokus pada laptop, Harfei mengambil ponsel tersebut, dan di bukanya sebuah pesan multimedia yang menampakkan sejumlah foto Hazal bersama beberapa pria yang berbeda.


Kening Harfei berkerut hampir menyatu. Harfei pun menekan nomor ponsel tersebut untuk menelpon, namun nomor itu sudah tidak aktif lagi.


Masih tetap ingin menghubungi kembali, namun sebuah pesan masuk menambah kegundahan hati Harfei.


'Istri yang kamu sanjung pekertinya ternyata selingkuh. Lihatlah video di bawah ini'.


Dan kemudian masuk pesan berupa video yang menampakkan Hazal dan David tengah berada di sebuah restoran sedang berbincang-bincang.


Dalam video itu tampak Hazal tersenyum kala melihat David yang baru saja datang, sementara David mengulurkan tangan pada Hazal.


"Bukankah ini kejadian yang di restoran Tempo hari?. Bukankah Hazal mengatakan dia tidak sengaja bertemu dengan David?. Lalu bagaimana bisa ini terjadi?". Harfei bermonolog tampak berpikir. Ada desiran kegundahan di dalam sana. Antara ingin percaya istri yang selalu bernilai baik di matanya, ataukah video dan pesan yang baru saja di lihatnya?.


Harfei masih termenung sejenak, lalu kemudian ponselnya kembali berbunyi. Namun kali ini panggilan itu dari Hazal. Harfei menolak panggilan dari wanita tersebut dan menonaktifkan ponselnya. Pria itu masih ingin menenangkan pikiran dan hatinya yang mulai goyah.


****


Di rumah, Hazal mondar mandir di ruang tamu. Wanita itu tampak tidak tenang karena suaminya belum juga pulang. Bahkan waktu telah menunjukkan pukul 23.30. Tidak biasanya Harfei seperti ini. Jika ia terlambat pulang, maka Harfei akan memberitahu pada Hazal.


Lama menunggu, akhirnya suara mobil Harfei terdengar dari luar. Sehingga Hazal tersenyum dan menarik napas lega.

__ADS_1


"Itu pasti mas Harfei". Gumam Hazal.


Dan benar saja, Harfei telah pulang. Namun ada yang berbeda dari wajah pria itu. Jika biasanya ia mencium kening Hazal ketika pulang kantor, maka lain halnya saat ini. Harfei justru tak menyapa Hazal yang nyata-nyata nya berdiri tepat di depan nya.


Hazal merasa heran dengan sikap Harfei, namun ia tidak ingin berpikiran negatif sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Mas, aku tadi menghubungi mu". Ucap Hazal basa-basi ingin mencairkan suasana.


"Aku sibuk". Balas Harfei dengan suara datar.


"Apakah Ayah merepotkan mu di kantor?". Hazal ingin melepas kancing baju Harfei, namun pria itu menepis tangan Hazal. Jujur saja, hati Hazal terasa sakit dan kecewa dalam waktu yang bersamaan. Namun sebisa mungkin ia menepis rasa itu.


Harfei masih belum bergeming, ia memasuki kamar mandi guna untuk membersihkan diri. Suara percikan air di kamar mandi yang begitu deras dan lama membuat Hazal khawatir. Tidak biasanya Harfei mandi dengan menggunakan air keran dan berlama-lama di dalam sana.


Hampir satu jam Harfei berada di dalam kamar mandi, namun Hazal masih tetap setia menunggu pria tersebut. Hazal ingin mengajak Harfei tidur, namun pria itu menolak dan beralih tidur di sofa. Sontak hal itu membuat Hazal semakin bingung.


"Mas, katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?. Kenapa mas mendiamkan ku sejak tadi?. Apa aku berbuat salah?. Jika aku salah, maka beritahu padaku, apa salahku?". Tanya Hazal secara beruntun. Wanita itu benar-benar tidak tahan di diamkan. Melihat sikap acuh suaminya membuat hati wanita itu sakit dan terluka dalam waktu yang bersamaan.


"Lalu mengapa mas tidur di sofa?. Dan kenapa tidak tidur bersama ku di tempat tidur?". Hazal masih terus mendesak Harfei.


Sejujurnya Harfei juga tidak tega mendiamkan wanita yang di cintai nya. Hanya saja pria itu masih butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sudah mulai gundah. Mungkin yang terbaik saat ini adalah diam tak berkata. Setidaknya itulah yang di pikirkan Harfei saat ini.


Harfei masih belum bergeming. Ia justru berbaring membelakangi Hazal. Hati Hazal pun semakin sakit.


"Mas".


"Tidurlah Hazal. Aku benar-benar lelah. Setidaknya biarkan aku tidur di sofa malam ini". Hazal pun akhirnya memilih diam, mungkin dengan menuruti keinginan suaminya, hati pria itu akan tenang.


'Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu. Hanya saja aku masih butuh waktu untuk meyakinkan diri bahwa ini hanyalah salah paham'. Batin Harfei.


'Mas, ada apa denganmu?. Jika aku salah, setidaknya beritahu aku. Dengan mendiamkan ku seperti ini justru akan membuatku semakin terluka'. Batin Hazal.

__ADS_1


Air mata wanita itu mulai mengalir tanpa bisa di bendung lagi. Suara isakan Hazal pun mulai terdengar hingga ke indra pendengaran Harfei. Namun pria itu memilih diam. Bukannya tega atau tak cinta, hanya saja sekali lagi alasannya masih sama. Butuh ketenangan.


****


Keesokan paginya Hazal bangun dan tak mendapati Harfei di kamar ataupun di ruang lainnya. Kata ibu, Harfei sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, bahkan tanpa sarapan. Pria itu beralasan jika ia akan sarapan di kantor karena jadwal kerjaan yang padat. Ibu yang tidak tahu menahu pun hanya bisa percaya tanpa bertanya sedikitpun.


Pagi yang sungguh menyedihkan. Pikir Hazal.


Wanita itu mulai terisak kembali kala mengingat peristiwa semalam, dimana ia harus tidur terpisah dengan pria yang di cintanya meski dalam ruangan yang sama. Dan pagi ini pun Hazal tak melihat suaminya itu ketika bangun tidur.


Jika biasanya pagi-pagi Hazal sudah memprotes kebiasaan Harfei yang suka kentut sembarang, bahkan tak jarang ia BAB dengan suara mengejang seolah ingin melahirkan. Namun saat ini tak ada lagi si Mr. Jorok yang selalu menyebalkan di pagi hari.


"Aku merindukanmu mas, sungguh merindukanmu. Hiks... Hiks... Hiks...". Akhirnya Hazal pun menangis terisak. Wanita itu benar-benar merindukan suaminya yang jorok. Suami yang selalu membuatnya berteriak di pagi hari karena tingkahnya yang konyol. Suka meminta jata online sebelum berangkat ke kantor. Semua hal manis itu di rindukan oleh wanita berambut warna madu tersebut.


.


.


.


.


.


.


TBC.


Jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak ya. Terimakasih.


Happy reading 😊

__ADS_1


*Dede...


__ADS_2