
Sesuai dengan ucapan Harfei, bahwa ia juga mencintai Lina, maka keduanya pun resmi berpacaran dan semenjak hari itu Lina selalu berada di samping Harfei selama berada di kedai satenya. Hal itu tidak membuat Harfei terganggu atau merasa di kekang, tetapi pria itu justru merasa bahagia karena Lina tidak mempermasalahkan profesi nya sebagai tukang sate, dan tak tanggung-tanggung, wanita itu juga turut andil dalam membantu Harfei. Namun lain halnya dengan Hazal. Wanita itu merasa heran pada Lina yang tiba-tiba muncul di kedai Harfei dan tampak sangat dekat dengan pria tersebut.
"Wan, itu cewek siapa?". Tanya Sonia yang sedari tadi memperhatikan interaksi Harfei dan Lina yang menurutnya tampak mesra. Dan pertanyaan itu seolah mewakili isi kepala Hazal yang tampak aneh ketika melihat pria dan wanita itu bersama. Namun Hazal berusaha untuk menutupi rasa ingin tahunya. Dan beruntung sahabatnya yang sangat cerewet itu bertanya terlebih dahulu.
"Konon katanya cewek itu pacar bang Harfei". Jawab Wawan yang sedang menyiapkan menu makanan pesanan Sonia dan Hazal.
Mendengar jawaban Wawan membuat sesuatu dalam hati Hazal bergejolak. Ada sebuah tumpukan yang ingin meledak di dalam sana, namun sebisa mungkin wanita itu mengendalikan perasaannya.
"Pacar?. Yang benar Wan?. Sejak kapan?". Tanya Sonia secara beruntun.
"Sejak hari ini". Jawaban Wawan santai dan meninggalkan dua wanita yang tampak larut dalam pikiran masing-masing.
"Yah, hilang deh kesempatan ku memacari si tampan itu". Tutur Sonia setelah beberapa saat keheningan menyelimuti keduanya. Wajah wanita itu berubah menjadi sendu. Sedangkan Hazal masih setia dalam diamnya, entah apa yang di pikirkan oleh wanita itu, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Hazal... Hazal... Hazal...". Sonia memanggil-manggil Hazal yang sedang menghayal, namun wanita itu tidak menjawab panggilan sahabatnya, setelah Sonia menyentuh lengannya barulah Hazal tersentak.
"Ah, iya. Aku akan memakan makanan ku". Tutur Hazal yang tampak gugup dan salah tingkah.
"Siapa yang menanyakan makananmu?. Aku memanggilmu dari tadi untuk menanyakan apa kamu tidak merasa aneh dengan pasangan di depan itu". Sonia menunjuk Harfei dan Lina menggunakan dagunya. Hazal pun mengikuti kemana arah mata Sonia tertuju.
"Aku tidak peduli dengan mereka Sonia, mau mereka aneh atau apapun itu bukan urusanku. Mereka menikah sekalipun tidak ada pengaruhnya buatku". Jawab Hazal dengan sedikit suara meninggi, membuat Sonia heran dan keningnya pun berkerut penuh tanya.
"Kenapa kamu marah?. Apa jangan-jangan kamu cemburu ya sama wanita itu?". Tanya Sonia dengan senyum mengejek.
"Apa?. Cemburu?. Ogah". Wajah Hazal seolah cuek, namun dalam hati wanita itu seperti ada sesuatu yang menggumpal di dalam sana.
"Terus, kenapa wajah mu jadi cemberut kaya gitu?. Dan kenapa jawaban mu harus narsis?".
"Wajahku memang sudah seperti ini Sonia". Hazal mulai kesal dengan sahabat nya yang selalu saja cerewet.
"Tapi---".
"Makan makanan mu atau aku tinggal dan bayar sendiri". Ancam Hazal membuat Sonia bungkam. Dari pada harus bayar sendiri lebih baik diam akan aman.
'Kenapa mereka tampak mesra sekali?. Apa mereka gak tau ini tempat umum?. Sok pamer'. Cibir Hazal dalam hati.
*****
__ADS_1
Sekembalinya Hazal dan Sonia dari makan siang di kedai sate Harfei, wanita itu tidak konsentrasi dengan pekerjaan nya. Ia selalu saja terbayang-bayang akan kemesraan Harfei dan Lina di kedai tadi.
"Aaaaaakkkk---". Hazal berteriak frustasi. Sonia yang baru saja akan masuk di ruangan Hazal di buat terkejut.
"Kamu kenapa Zal?. Apa kamu baik-baik saja?". Tanya Sonia sambil mendekati Hazal dan dengan wajah khawatir.
"Aku gak apa-apa. Tadi aku hanya melihat tikus sedang pacaran". Jawaban yang konyol bukan?.
"Tikus pacaran?. Dimana?". Tanya Sonia dengan kening berkerut hampir menyatu.
"Di kedai". Jawab Hazal spontan, namun seketika ia mengganti topik pembicaraan agar sahabatnya yang cerewet itu tidak curiga padanya dan bertanya lebih lanjut lagi.
"Ah, lupakan saja. Ada apa kamu kemari?".
"Aku kesini buat mau ngasih kamu ini". Sonia memberikan Hazal sebuah kartu nama. Kening Hazal berkerut penuh tanya.
"Apa ini?".
"Itu kartu biro jodoh. Aku akan memperkenalkan mu pada kenalanku yang berprofesi sebagai agen biro jodoh". Senyuman Sonia mengembang di bibir tipisnya.
"Apa aku sebegitu tidak lakunya hingga kamu mau menggunakan jasa biro jodoh?. Apa aku menyuruhmu melakukan ini?". Hazal tampak tak terima dengan ide dari sahabat nya itu dan membuang kartu nama tersebut di atas menjadi kerjanya.
Hazal tampak berpikir sejenak menimbang-nimbang ide dari Sonia.
"Baiklah, akan aku coba. Tapi kalau saja prianya brewokan atau berantakan, aku gak akan segan-segan memecat mu dari perusahaan ini"
"Ia Tuan putri". Sonia merasa puas dengan jawaban Hazal. Ia tersenyum seolah merencanakan sesuatu.
*****
Di kedai, Harfei dan Lina sedang menikmati makan malamnya. Ya, Lina menemani Harfei hingga malam hari di kedai.
"Sayang, kamu gak apa berlama-lama disini bersama ku?. Nanti papa kamu nyari".
"Gak apa-apa kok bang. Tadi pagi Lina udah izin sama papa, dan papa juga tau kalo Lina ada disini untuk membantu Abang". Jawab Lina sambil tersenyum.
"Ya sudah, yang penting kamu gak apa-apa. Ntar Abang antar pulang ya". Lina menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Puas menyantap makanan mereka, keduanya pun hendak bersiap-siap untuk pulang. Harfei ingin mengantar Lina pulang ke rumahnya seperti yang di katakan tadi. Namun sebelum keduanya benar-benar pulang, tiba-tiba saja Hazal muncul di kedai membuat Harfei terkejut.
"Apa yang kamu lakukan disini?". Pertanyaan itu sontak membuat kening Hazal berkerut, ia merasa seolah kedatangan nya tak di inginkan.
"Mau bakar sate". Jawab Hazal santai sambil menarik kursi dan mendaratkan tubuhnya di kursi tersebut.
"Wah, sejak kapan sang Miss perfeksionis mau membakar sate?". Harfei tersenyum mengejek pada Hazal. Selama mengenal Hazal sebagai pelanggan tetap nya, wanita itu selalu saja tidak pernah suka bau asap ketika ia membakar sate.
"Sejak hari ini. Bila perlu kamu juga aku bakar. mau coba?". Jawaban Hazal membuat Harfei merinding. Bagaimana tidak, ekspresi wajah Hazal tampak sangat serius dan penuh ancaman. Bahkan wanita itu pun berkata sambil memandang Lina kekasihnya.
"Apa kamu kesambet hantu di jalan tadi sampai wajahmu persis Jin?. Kenapa kamu marah-marah?".
"Bang, dia siapa?. Kok sepertinya dia kesal sekali sama kita berdua". Lina yang sedari tadi diam di buat penasaran dan akhirnya ia pun memutuskan untuk bertanya pada Harfei yang tampak akrab pada pelanggannya itu.
"Dia ini salah satu pelanggan tetap Abang. Kalau soal kesal, wajahnya emang kaya gitu setiap hari. Dia suka ngeselin". Harfei sengaja membesarkan volume suaranya, namun seolah berbisik pada Lina, ia sengaja melakukan itu agar Hazal kesal. Entah bagaimana ceritanya hingga Harfei sangat menyukai wajah kesal Hazal setiap kali ia marah.
"Aku masih bisa dengar Harfei". Hazal mengeratkan giginya.
"Baguslah, berarti organ pendengaran kamu masih berfungsi. Ayo sayang, kita pulang". Harfei meninggalkan Hazal di kedainya dengan santai seolah tanpa beban. Hazal yang merasa terpojok kan pun mengeratkan tangannya,
"Sialan lo Harfei, mentang-mentang punya pacar, terus jadi tukang pamer. Awas saja kamu. Akan aku balas nanti". Kekesalan Hazal sudah tampak di ubun-ubun, ia terus memperhatikan Harfei dan Lina hingga keduanya hilang dari pandangan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC.