Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 27. Mengintip.


__ADS_3

**❤Pecinta Hazal dan Harfei, jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak ya. Seumpama ikhlas beri tip juga serta beri bintang.


Happy reading**


******


Hari ini Hazal ingin menyampaikan kejanggalan dalam hatinya. Tidak ingin berlama-lama menyimpan sendiri masalah yang membuatnya bingung. Namun belum juga wanita itu menyampaikan maksud dan tujuannya, Harfei lebih dahulu mengajaknya untuk menikmati malam Minggu di pinggir taman kota. Hal yang baru pertama kali di lakukan setelah menikah. Harfei mengajak istrinya itu karena merasa bahagia akan pencapaian nya saat ini. Sebenarnya pria itu ingin mengajak Hazal ke Bali, hanya saja pekerjaan yang begitu menyita waktu membuat pria itu mengundurkan niatnya dan mengajak sang istri bermalam mingguan di tempat yang biasa muda mudi menghabiskan malam Minggu yang panjang.


Tak ingin merusak momen bahagia suaminya, akhirnya Hazal memutuskan untuk mengikuti keinginan suaminya tersebut dan melupakan keinginannya bercerita untuk sementara waktu.


****


Kini Harfei dan Hazal telah berada di taman kota, menghabiskan malam disana sembari meminum minuman kesukaannya masing-masing serta cemilan sehat. Di tengah-tengah keasikan menikmati malam, tiba-tiba saja Harfei mendengar suara yang sangat familiar di telinga nya.


"Sayang, apa kamu mendengar suara itu?". Tanya Harfei sembari memasang telinganya dengan seksama berusaha untuk mengenali suara itu.


"Suara apa sih mas?. Aku gak dengar apa-apa selain cerita mas tentang gaya main ular tangga di kamar". Ujar Hazal sembari meminum minuman nya.


"Makanya dengerin dulu". Hazal pun mengikuti ucapan suaminya agar lebih memasang telinganya untuk mempertajam pendengaran. Dan benar saja, suara itu akhirnya di dengarnya juga. Di liriknya kiri dan ke kanan, namun keduanya tidak menemukan sosok familiar itu. Merasa penasaran, keduanya pun memutuskan untuk mencari sumber suara itu. Bagai seorang penguntit, Hazal dan Harfei berjalan mengendap-endap tak ingin mengeluarkan suara dan akhirnya ketahuan.


"Wawan?". Ucap Hazal dan Harfei secara bersamaan. Dua orang itu sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya barusan. Wawan bersama seorang wanita sedang duduk di sebuah kursi berwarna putih di pojokan taman yang cukup sunyi.


"Ngapain anak itu di tempat pojokan sunyi begini?". Ucap Hazal.


"Ya biasalah, dia juga anak muda yang ingin bahagia. Sama seperti kita". Menaik turunkan alisnya. Hazal Memutar bola matanya merasa jengah.


"Mas diem dulu. Sebaiknya kita intip tuh anak apa yang akan di lakukan selanjutnya sama cewek itu". Pada akhirnya Hazal dan Harfei menjadi seorang pengintip malam ini. Memasang Indra pendengar dengan seksama.


"Sayang, kamu tau gak bedanya bulan sama kamu?". Ucap Wawan seolah merayu kekasihnya.


"Gak tahu, emang apa bedanya Yang?". Jawab wanita itu.


"Kalau bulan munculnya di malam hari, kalau kamu munculnya setiap hari". Balas Wawan sembari melempar senyum terbaiknya pada wanita pujaan hatinya itu menunjukkan giginya yang sedikit kuning.


"Ih, mas Wawan bisa aja". Memukul manja dada kurus Wawan sembari tersipu malu. Wawan pun melanjutkan pertanyaannya lagi.

__ADS_1


"Sayang, kamu tau gak persamaan bintang itu dengan mu?"


"Apa yang?"


"Sama-sama memiliki cahaya sendiri. Cuma cahaya mu lebih terang di bandingkan cahaya bintang". Wanita itu semakin di buat tersipu malu.


"Rayuan yang payah". Umpat Harfei.


Wawan ingin melanjutkan aksi rayuannya, namun sebelum itu ia mendengar suara aneh.


Pret... Pret... Preeeeeeeet...


Suara kentut Harfei terdengar sangat keras hingga sampai ke telinga pasangan muda itu, membuat Hazal ingin menendang pan tat suaminya saat itu juga.


"Kenapa mas Harfei kentut?. Bisa ketahuan kita nanti. Panjang pula kentutnya". Gerutu Hazal.


"Habis aku masuk angin mendengar rayuan Wawan tadi. Bikin mules, gak tahan mau kentut". Bela Harfei. Mereka pun melanjutkan aksi mengintipnya, tapi Hazal sambil memegang hidungnya karena bau kentut suaminya itu seperti bau naga.😄


Sementara di tempat lain, kekasih Wawan tampak kebingungan mendengar suara aneh itu.


"Gak kok. Masa aku kentut sih yang?". Bela Wawan. Ia juga merasa aneh akan suara itu. Tiba-tiba saja suara ranting patah terdengar seolah di injak oleh seseorang.


Wawan dan kekasihnya itu mulai panik dan merasa takut, namun sebagai pria Wawan berusaha untuk tampak macho di depan kekasihnya itu, tidak ingin harga dirinya jatuh, meski sebenarnya dia juga takut.


"Siapa itu?". Tanya Wawan ragu-ragu.


"Kuciong...". Jawab Harfei. Ya, tadi Harfei tak sengaja menginjak ranting pohon yang patah. Pria itu menirukan suara kucing agar Wawan merasa bahwa itu hanyalah seekor kucing saja.


"Wan, kok kucing bisa menjawab sih?". Tanya kekasih Wawan itu dengan suara gemetar. Wawan yang di buat bingung sekaligus takut itu pun bertanya sekali lagi.


"Siapa itu?. Kalau berani ayo keluar, jangan main sembunyi saja". Dengan suara sombong Wawan bertanya, seolah ia tidak takut apapun di depan kekasihnya itu.


Harfei merasa kesal karena sikap sombong yang di tunjukan Wawan. Dengan sengaja Harfei pun membalas karyawan kurusnya itu dengan sedikit menakut-nakuti.


"Poecong...". Ucap Harfei akhirnya dengan suara seram yang di buat-buat hingga Wawan lari terbirit-birit meninggalkan kekasihnya dalam kebingungan. Namun karena melihat di sekitarnya sunyi, kekasih Wawan itu pun juga lari sembari memaki Wawan,

__ADS_1


"Dasar pria kurus kerempeng, tidak bertanggung jawab, gigi kuning karatan di makan kutu busuk. Kita putus...". Teriak wanita itu dengan penuh kekesalan.


"Hahahaha". Harfei dan Hazal tidak sanggup menahan tawanya, akhirnya tawa itu pun pecah seketika.


"Mas Harfei sungguh keterlaluan. Kenapa sih mas ganggu mereka tadi?". Sambil memegang perut dan dengan suara terbata-bata Hazal bertanya karena tak sanggup untuk menahan tawa.


"Itu pelajaran buat dia. Anak gadis orang di bawa ke tempat sunyi begini. Pake acara merayu segala lagi". Tutur Harfei.


"Hala... Bilang saja kalo mas Harfei iri, kan?". Senyum mengejek.


"Enak saja. Ngapain iri sama cucuruyut itu?. Kalau ada yang bening di rumah?". Ucap Harfei sambil mencubit gemas pipi istrinya.


"Apaan bening?. Emang sayur?".


"Ya udah, pulang yuk. Banyak nyamuk disini. Ntar ada pocong beneran lagi". Ucap Harfei membuat Hazal merinding ketakutan. Tanpa Harfei dan Hazal sadari ada seseorang berpakaian putih, rambut di ikat keatas, muka putih, gigi hitam, berdiri tepat di belakang mereka. Tak lama satu tangan memegang pundak Harfei membuat pria itu menoleh, Harfei pun berteriak gemetaran sambil memegang tangan istrinya itu untuk lari dari tempat yang cukup menyeramkan itu.


"Pocong beneran. Lari...". Hazal dan Harfei pun berlari bagai orang kesetanan.


Sementara orang yang memegang pundak Harfei tadi merasa bingung akan sikap keduanya. Ia pun berkata,


"Aku kan cuma mau tanya, toilet sebelah mana?". Ternyata orang itu adalah pria tua yang merasa kebelet ingin BAB, namun nyasar karena tidak menemukan toilet.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2