Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 32. Ada Apa Dengan Harfei?.


__ADS_3

Hazal seakan terpuruk dalam lamunan, larut dalam pemikiran ketika melihat Helena dan David di sebrang jalan, bercerita seolah saling akrab satu sama lain. Memikirkan hal itu, Hazal kembali mengingat pesan masuk dari ponselnya dari orang asing. Bahkan foto-foto yang di kirim untuknya pun terasa sangat menggangu wanita itu. Apakah semuanya ada sangkut pautnya dengan David dan Helena?. Apakah mereka sengaja berkerjasama?. Pikir Hazal.


Sementara di kantor, Harfei dan Sonia berada di dalam ruang meeting. Sonia yang merupakan sekretaris baru Harfei menggantikan Meli baru saja selesai mempresentasikan hasil kerjanya di depan Tuan Pratama.


Wanita itu pun mendapatkan predikat pujian dari Tuan Pratama karena kelihaiannya dalam menjelaskan. Dan tak butuh waktu lama Tuan Pratama pun menyetujui ide Harfei dan Sonia, bahkan Tuan Pratama juga menyerahkan sepenuhnya pada Harfei proyek itu.


"Pak, selamat ya atas pencapaian bapak". Ucap Sonia sembari mengulurkan tangannya pada Harfei.


"Terimakasih. Oh iya, tolong jangan panggil saya bapak jika hanya berdua saja. Panggil saja mas Harfei. Lagi pula aku belum setua itu untuk di panggil bapak". Ucap Harfei sembari mengedipkan matanya pada Sonia.


Sonia pun tersipu malu pada suami dari sahabatnya itu.


"Ah, mas Harfei bisa aja. Kalau mas Harfei mengedipkan mata padaku, kok rasanya dag dig dug ser ya?".


"Itu tandanya karena kamu lapar. Makanya jantung mu gemetaran. Haha". Tutur Harfei sambil tertawa sumbang.


"Kalau begitu bagaimana kita ke restoran mas saja?. Mungkin ada Hazal disana. Aku kangen sama sahabatku itu". Ucap Sonia sambil merapikan beberapa berkas yang berada di atas meja.


"Ya sudah, ayo".


Keduanya pun berjalan menuju restoran minimalis yang dulunya hanya berupa kedai kecil itu.


****


"Sayang...". Ucap Harfei secara tiba-tiba masuk dalam ruangan Hazal dan mengecup kening istrinya itu dengan lembut.


"Kok mas bisa ada disini?. Mas gak kerja?".


"Ini sudah jam istirahat sayang. Aku butuh nutrisi. Apa boleh aku bercocok tanam disini?". Tanya Harfei secara sarkatis sembari tersenyum, tatapannya sangat mendamba, berada di dekat Hazal membuat jiwa kelakian pria itu bangkit. Menyentuh kulitnya yang halus pun bagai tersengat listrik.


"Ini masih di restoran mas, bercocok tanamnya nanti di rumah dulu. Lagi pula katanya mas mau makan tadi". Hazal memindahkan tangan suaminya yang sudah mulai nakal bermain di temani favorit nya.


"Baiklah. Nanti malam kamu adalah milikku. Tapi gak landasan becek lagi kan?". Mata Harfei penuh selidik.


"Hehe. Gak kok, jaringan aku bagus. Belum jadwalnya, jadi kita bisa online sepanjang malam". Hazal mengecup bibir Harfei sekilas, namun pria itu menahannya agar tetap bertahan di posisi yang membuat adrenalin nya berpacu. Masih terus bertukar air liur, menyusuri lembah gunung yang berukuran besar dan kenyal, hingga...

__ADS_1


"Hazal aku lapar... Oh astaga".


Sonia menutup matanya kala melihat adegan yang baru saja di lihatnya. Sontak Harfei dan Hazal menghentikan kegiatan mereka, Harfei tampak salah tingkah, sementara wajah Hazal berubah menjadi merah bagai kepiting rebus.


"Kalian merusak mata polos ku ini. Apa kalian tidak tau jika aku ini masih pucuk?". Tukas Sonia.


"Bukalah matamu, adegannya sudah selesai". Balas Hazal santai, padahal sejatinya hati wanita itu benar-benar malu.


"Kalian mencemari gadis pucuk seperti diriku. Gak tau apa kalau aku ini pucuk yang sedang jomblo sejak lahir?!". Gerutu Sonia sambil melipat tangan ke dadanya.


"Kamu itu pucuk yang sudah berulat tau gak. Makanya nikah supaya kamu tau bagaimana rasanya bertani bersama suami". Ucap Hazal yang mendapatkan tatapan tajam dari Harfei. Sementara Sonia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung akan kalimat Hazal yang barusan.


"Emang kalian sudah mulai bersawah ya?. Kok bertani?". Hazal dan Harfei saling menatap dan menahan tawa, tak lama tawa itu pun pecah.


"Hahaha. Sonia, Sonia. Pantas saja kamu jomloh sejak lahir, kalimat plesetan saja kamu gak tau". Hazal menggelengkan kepalanya.


"Ya mana aku tau, aku kan sudah bilang kalau aku ini masih pucuk".


"Kalau masih pucuk, lalu mengapa kamu mengajarkan Hazal berbagai macam gaya untuk melayani suami di tempat tidur?". Harfei membungkam mulut Sonia dengan pertanyaan yang sukses membuat wanita itu malu.


"Hehe. Itu kan cuma teori saja. Prakteknya ma belum. Lagi usaha nyari. Hehe". Malu-malu Sonia mengungkap kalimat itu.


"Kamu mau aku bantu gak?". Tanya Harfei. Dan di balas anggukan antusias dari Sonia.


"Tuh, ada Wawan yang jomblo karatan. Haha". Sumpah demi apapun, Sonia ingin mencakar wajah tampan Harfei saat ini juga. Bagaimana bisa pria itu menawarkan Wawan si gigi kuning dan bertubuh kurus kerempeng?.


"Sudah-sudah. Ayo kita makan siang. Aku juga sudah lapar". Ucap Hazal.


Dan ketiganya turun kelantai bawah, lalu kemudian duduk di sudut ruangan sebagai tempat favorit mereka.


Di tengah-tengah keasikan bersenda gurau, Helena mengantarkan makanan untuk mereka. Seketika mimik wajah Harfei berubah menjadi tak terbaca. Hazal yang menyadari perubahan gestur tubuh suaminya, pun terdiam bagai memikirkan sesuatu.


'Ada apa dengan mas Harfei?. Apa dia masih menyimpan rasa pada Helena?. Tatapannya sungguh tak terbaca'. batin Hazal.


"Kenapa bukan Siska yang mengantar makanan ini?". Tanya ketus Sonia.

__ADS_1


"Maaf mba Sonia, mba Siska nya sedang sakit perut tadi. Jadi dia memintaku untuk menggantikan". Balas Helena dengan kepala tertunduk. Wanita itu benar-benar takut dengan tatapan tajam Sonia, bagai ingin membunuh dirinya.


"Baiklah, kamu boleh pergi. Lama-lama aku yang sakit perut karena melihatmu berlama-lama disini". Usir Sonia. Wanita bar-bar itu benar-benar tidak menyukai Helena. Entah apa yang membuat wanita itu membenci mantan kekasih sahabat itu, setiap kali melihat Helena, emosinya tidak stabil.


"Terimakasih ya Helena". Ucap Hazal sembari tersenyum. Hazal memang merupakan wanita yang tegas dan disiplin, namun ia tidak pernah berspekulasi buruk akan perbuatan seseorang sebelum ia melihatnya secara langsung.


Helena pun pergi meninggalkan ketiganya, sementara Harfei masih saja bungkam. Pria itu tak bergeming sedari tadi. Matanya masih saja tetap mengawasi Helena.


"Mas, ayo makan". Hazal menyadarkan Harfei dari lamunannya hingga pria itu pun memakan makanan yang di pesan tadi.


Mereka pun makan dalam diam, larut dalam pikiran masing-masing.


'Apa benar kata orang itu jika mas Harfei selingkuh?. Ataukah Helena berusaha untuk merebut posisiku menjadi istri mas Harfei?'. Batin Hazal.


.


.


.


.


.


.


.


Hai-hai pecinta Hazal dan Harfei mana suaranya?. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Like, komen, dan vote yang banyak ya?. Beri bintang juga. Seumpama ikhlas beri tip juga. Haha.


Oh iya, Readers. Semua novel author adalah fiktif belaka ya?. Jangan di ambil hati atau dengan kata lainnya baper akan adegan uwik-uwiknya. Kalau seumpama kalian gak suka baca novel author, di skip saja atau gak usah baca. Jangan tinggalkan komen yang justru membuat author bad mood.


I love you para Readers ku. Kalian memang luar biasa.😘😘


Happy reading.

__ADS_1


*Dede...


__ADS_2