
Setelah ibadah bersama di waktu fajar menyingsing, Hazal kembali menjalani rutinitas sehari-hari di restoran. Memeriksa laporan keuangan dari Wawan, memastikan stok bahan makanan tersedia tanpa kurang sedikitpun, dan yang terpenting adalah menjaga kualitas makanan dan kebersihan.
Sementara Harfei di kantor sedang di sibukkan dengan proyek kedua bersama Tuan Pratama yang di bantu oleh Sonia. Kini wanita berambut ikal tersebut telah kembali menjalani rutinitas seperti biasanya, namun satu hal yang berbeda dari wanita cantik itu, dimana senyuman di wajahnya tak pernah menyurut pasca mendapatkan restu dari ibunya.
****
Hari ini genap enam bulan masa pernikahan Hazal dan Harfei. Meski belum di karuniai seorang anak, namun pasangan suami istri itu tak pernah mengeluh ataupun membahas perihal keturunan. Bagi mereka itu adalah rahasia Tuhan. Bukankah rejeki, jodoh, dan maut ada di tangan Tuhan?. Lantas mengapa harus ragu?.
Pernikahan yang di jalani Hazal dan Harfei tentu saja tak selalu berjalan mulus, terkadang ada kerikil tajam yang menghampiri pasangan suami istri tersebut, namun sebisa mungkin keduanya menampik. Bahkan teror yang di dapat selama beberapa bulan yang lalu sudah tak ada lagi. Sonia yang sejak awal mencurigai Helena dan David, kini menunjukkan sikap seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Untuk sesaat Hazal merasa heran dan bertanya-tanya, mengapa teror itu menghilang seiring dengan terungkapnya status Sonia yang ternyata telah menikah selama enam tahun. Bahkan paket yang berisikan foto-foto Harfei hampir setiap pagi di dapatnya sudah tak ada lagi.
Begitu juga Harfei yang semula mendapatkan berbagai macam gambar tentang istrinya, kini tak mendapatkan apapun lagi. Hal itu telah berlangsung selama satu bulan lebih.
Sejujurnya ada kelegaan di hati Harfei, namun pria itu tidak menelan mentah-mentah situasi saat ini. Harfei tetap saja lebih mawas diri. Bisa jadi itu hanyalah jebakan. Pikir Harfei.
"Sonia, tolong bantu aku menyiapkan laporan untuk Tuan Pratama. Nanti siang kita ada meeting bersama beliau di restoran Hazal". Tutur Harfei pada Sonia yang merupakan sekretaris pribadinya.
"Baik. Akan saya siapkan. Tapi apakah Hazal tau jika kita akan meeting di restoran nya?".
"Aku sudah memberitahu dia sebelumnya".
"Baiklah".
****
Di restoran, Hazal tampak tengah menemani Anton di dapur guna memastikan masakan yang akan di sajikan buat Tuan Pratama yang merupakan rekan bisnis dari Harfei tak kurang satu pun. Ini pertama kalinya Harfei mengajak rekan bisnisnya untuk makan siang di restoran milik mereka.
"Anton, pastian semuanya tak ada kesalahan. Dan satu lagi, tolong buatkan menu spesial restoran kita khusus buat Tuan Pratama". Titah Hazal.
"Baik Nyonya Harfei Iskandar". Balas Anton dengan suara yang di buat-buat. Pria itu merasa jengah dengan kecerewetan sahabatnya yang sedari tadi tak pernah diam selama berada di dapur.
"Baiklah. Aku serahkan semuanya padamu". Hazal menepuk pundak Anton lalu kemudian pergi meninggalkan pria tersebut di dapur.
Anton mengembuskan napas lega ketika Hazal pergi meninggalkan dirinya.
"Kalau bukan sahabat, sudah lama gue cuci mukanya dengan air kobokan ini". Gerutu Anton. Namun Hazal yang masih berada di ambang pintu mendengar ucapan Anton lalu kemudian memutar tubuhnya menghadap pria tersebut sembari berkata,
__ADS_1
"Sebelum itu lo minum dulu air kobokan itu sampai habis". Balas Hazal tak kalah ketusnya.
Anton yang mendengar suara Hazal pun terperangah. Di kiranya wanita itu telah pergi, alhasil pria tersebut menjadi salah tingkah.
"Hehe. Tadi itu hanya tes suara saja".
Hazal tak menjawab ucapan sahabatnya itu, ia pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Sementara Anton mengembuskan napas lega karena wanita yang merupakan bos sekaligus sahabatnya itu tak melanjutkan aksi protesnya.
****
Tepat jam 12 siang Harfei dan Tuan Pratama serta Sonia telah tiba di restoran Hazal.
Ketiganya duduk di sudut ruangan dekat jendela sesuai dengan permintaan Tuan Pratama. Pria paruh baya itu bahkan menyewa restoran Hazal hari ini, jadi tak ada pelanggan lain selain mereka.
"Tuan Harfei, saya sangat salut pada prestasi Anda. Tak di ragukan lagi jika Tuan Kaya Keremcem merekomendasikan Anda sebagai rekan bisnis saya". Ucap Tuan Pratama di sela-sela kesibukan nya memotong stik daging spesial menu restoran itu.
"Suatu kehormatan bagi saya untuk mendapatkan kepercayaan dari Anda Tuan".
"Semua juga berkat sekretaris Anda tuan Harfei. Jangan lupakan itu".
Sonia menghentikan gerakannya memotong daging yang di olesi saos sambal lalu kemudian melihat pria paruh baya yang tengah menatapnya kagum.
Sonia tampak profesional setiap kali menghadapai klien, hingga Harfei merasa kagum akan sosok wanita berambut ikal tersebut.
Selama hampir dua jam ketiganya membahas tentang rencana kerjasama selanjutnya. Sonia yang merupakan sekretaris pribadi Harfei, di percaya untuk terus membantu pria tampan tersebut. Sementara Harfei merasa bersyukur karena Tuan Pratama yang merupakan pebisnis handal justru tak membuat Harfei kerepotan dengan segala tuntutan.
"Jadi bagaimana hasilnya mas?". Tanya Hazal yang kini sedang berada di samping suaminya serta Sonia setelah Tuan Pratama pergi 15 menit yang lalu.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Oh iya, Tuan Pratama menitip pesan untukmu".
"Apa?".
"Pertahankan kualitas rasa makanan mu, siapa tau beliau tertarik untuk merambah ke dunia kuliner".
Hazal merasa tersanjung dengan pujian yang di sampaikan pria paruh baya tadi melalui suaminya.
"Dengan senang hati aku akan menyambut beliau". Rona bangga sangat jelas terpancar dari wajah Hazal. Keduanya pun saling melempar senyum, membuat Sonia yang sedari tadi diam merasa jengah.
__ADS_1
"Ingat, masih ada aku disini. Aku seperti obat nyamuk saja di antara kalian". Gerutu Sonia. Wanita itu memutar bola matanya.
"Masih bagus jadi obat nyamuk, coba kalau jadi setan. Pernah dengar gak istilah dari orang tua zaman dulu?. Katanya, kalau duduk berdua maka orang ketiganya adalah setan". Balas Hazal dengan senyum mengejek.
"Jadi maksud kamu, aku setan begitu?". wanita bar-bar itu mulai kesal pada Hazal yang sedari tadi di rasa sangat menyebalkan.
"Mungkin saja". Jawab Hazal santai seraya menaikan bahunya. Dan hal itu sukses membuat hati Sonia semakin kesal.
"Dasar teman setan".
"Sudah-sudah".
Harfei menghentikan perdebatan antara istri dan sekretaris nya itu. Pria itu merasa risih dengan suara berisik keduanya.
"Sayang, aku ke kantor dulu ya. Sampai ketemu di rumah". Harfei mengecup kening Hazal, lalu berbisik ke telinga Hazal,
"Kalau gak ada wanita bar-bar ini, bibirmu yang tipis manis ini sudah aku buat bengkak".
Dengan penuh percaya diri Harfei mengedipkan matanya pada Hazal. Sementara Sonia yang mendengar bisikan Harfei pada Hazal tampak ingin muntah.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Mohon maaf jika update dari novel ini sangat lama. Karena proses review yang cukup lama juga. Jadi kesannya membosankan.
Happy reading 😊.
__ADS_1
*Dede.