Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 62. Rahasia Harfei.


__ADS_3

Harfei POV.


Aku melihat Hazal sedang membeli susu di minimarket yang berada tak jauh dari rumah. Betapa sakit dan terlukanya hatiku kala melihat wanita yang sangat aku cintai harus berjuang sendirian melawan rasa sakit. Terlebih lagi aku mendengar seorang wanita menanyakan aku yang merupakan suami Hazal merasa bahagia mendengar kabar kehamilan istriku. Saat itu aku melihat Hazal berusaha untuk menahan air matanya agar tak tumpah hingga membasahi pipi. Sungguh mengejutkan, Hazal masih tetap menyanjungku lewat sorot matanya yang bohong pada wanita tersebut.


Hazal pun pulang dan aku mengikuti istriku itu sampai ke rumah. Setibanya di rumah, Hazal meminum susu khusus ibu hamil seraya tersenyum bahagia dan mengelus perutnya yang masih rata. Sejujurnya aku ingin memeluk Hazal dan menyapa anakku, namun aku harus menahan diri agar tidak menunjukkan rasa itu sebelum semua rencanku hancur berantakan.


Akhirnya aku memilih untuk meminta cerai dari Hazal. Ketika itu hatiku hancur berkeping-keping, aku berharap Hazal tidak akan mau bercerai. Dan benar saja, Hazal tidak mau menceraikan ku.


"Maafkan aku sayang, aku harus menyakitimu untuk yang kesekian kalinya. Aku rela meninggalkan mu dari pada harus melihat mu mati tepat di depan mataku".


Aku menangis dari balik pintu kamar sembari melihat Hazal dari kejauhan yang duduk terkulai lemah karena luka yang sengaja aku torehkan hingga berdarah. Ingin rasanya aku merengkuh tubuh Hazal dan membenamkan dalam pelukan ku agar ia tau betapa aku sangat mencintai nya. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa ada aku untukmu, dan semuanya akan baik-baik saja. Alih-alih ingin mendekati Hazal, aku memilih untuk pergi sebelum aku tidak bisa menahan diriku lagi untuk memeluk tidak Hazal, wanitaku, istriku, cintaku.


Aku kembali mendapat teror secara beruntun, jika aku tidak berhasil membujuk Hazal, maka wanita psikopat itu akan membunuh Hazal dengan jarak dekat dan mengirimkan jenazahnya ke hadapanku detik itu juga.


Aku tidak ada pilihan lain, hatiku kembali bergejolak, aku menangis meraung seperti orang gila dalam kamar hotel yang aku tempati selama satu Minggu terakhir. Akhirnya aku sampai pada keputusan ku untuk menemui Hazal dan meminta cerai darinya. Namun wanita itu masih saja keras kepala, bagaimana aku harus membujuknya. Sebesar itu kah cintanya padaku?. Lalu apa yang aku lakukan sekarang?. Bahkan ketika aku meminta cerai, hatiku berkata 'Tolong jangan kabulkan permintaan ku ini'. Dan ternyata wanita keras kepala yang memiliki cinta yang besar untukku itu seolah tau apa kata hatiku yang menolak untuk bercerai juga. Namun siapa sangka, di balik penolakan Hazal itu, wanita psikopat ini tahu dan menculik Hazal lalu menyekapnya.


FLASHBACK OFF.


Author POV.


"Jadi apa yang harus kita lakukan Harfei?. Apakah kamu akan menemui mereka sendirian?". Tanya Dino yang masih tetap mengusap belakang Harfei untuk menenangkan pria tersebut.


"Aku harus menemuinya sendirian. Dan jika selama satu jam aku belum juga keluar dari tempat laknat itu, maka jalankan rencana B kita".


"Baiklah".


Dan dua pria yang berbeda profesi itu pun berpisah. Dimana Harfei pergi menemui orang yang menyekap Hazal, sementara Dino menunggu kabar dari Harfei untuk menjalankan misi selanjutnya di tempat lain.


****


Harfei kini memacu mobilnya untuk menemui Hazal dan menyelamatkan wanita yang sangat di cintainya itu. Namun sebelum itu, Harfei memberitahu pada Ayah mertuanya bahwa Hazal telah di culik. Tak main-main, pria paruh baya yang terkenal bar-bar itu langsung mengambil langkah cepat untuk menelpon polisi. Tetapi Harfei menghentikan langkahnya, karena orang yang menyekap Hazal adalah bukan orang sembarangan, melainkan mafia yang sangat di takuti di penjuru negeri ini.

__ADS_1


****


Di sebuah gedung tua, Hazal duduk di kursi berwarna putih. Tangan wanita itu terikat, serta mulutnya ditutup. Selama hampir empat jam Hazal pingsan akibat pengaruh obat bius.


Tak lama Hazal pun sadar, wanita itu mengerjakan matanya. Dan melihat seseorang berjalan kearahnya dengan sangat anggun. Suara sepatu orang itu sangat kentara di indra pendengaran Hazal, seolah suara musik yang mengiringi langkahnya.


Tap... Tap... Tap...


Byur....


Orang itu menyiram wajah Hazal dengan air.


"Aaakkkk---".


"Hai Nona manja".


Hazal mengerjakan matanya lalu melihat ke arah orang tersebut. Mata Hazal membulat sempurna seolah ingin keluar dari tempatnya. Tubuhnya gemetar, namun bukan karena lapar, jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena sakit jantung koroner, hatinya sakit, namun bukan karena liver, tetapi karena wanita itu merasa kecewa dan terluka pada orang yang berdiri tepat di depan nya.


"SONIA?".


"A--apa maksudmu?".


Wanita itu tertawa sumbang,


"Hahaha. Ternyata kamu tidak cukup pintar untuk mengenali sahabat kecilmu itu".


Wanita itu melipat tangannya ke dada.


"Baiklah, akan aku beritahu fakta yang sebenarnya".


"SINTIA!".

__ADS_1


Hazal dan wanita itu menoleh pada sumber suara yang terdengar sangat familiar itu.


"SONIA?".


"Oh, kakak tersayang ku. Akhirnya kamu datang juga untuk menyelamatkan sahabat kecilmu yang manja ini. Ckckck".


"Sintia, tolong lepaskan Hazal. Kakak mohon".


"Apakah kamu lebih memilih wanita bodoh ini di bandingkan aku saudara kembarmu?".


"Kembar?".


Hazal menatap pada dua wanita yang wajahnya sangat mirip itu. Ya, Sonia memiliki saudara kembar yang bernama Sintia. Namun Sintia memiliki gangguan jiwa sejak kecil. Tetapi wanita itu selalu menolak untuk di masukan ke rumah sakit jiwa. Ia selalu menampik ketika di katakan gila. Namun Sonia sangatlah menyayangi saudara kembarnya itu, hingga ia meminta bantuan Ayah Hazal untuk memasukan Sintia ke rumah sakit jiwa agar menjalani perawatan.


"Ckckck. Bahkan kamu tidak tau bahwa sahabat mu itu memiliki saudara kembar. Biar aku beritahu. Namaku adalah Sintia, aku hidup seperti di penjara selama setengah dari usiaku. Dan Ayahmu yang bar-bar itu memasukkan aku dalam Rumah Sakit jiwa. Sementara Sonia, dia mendapatkan segalanya". Sintia berkata dengan suara lirih.


"Kasih sayang ibu dan kedua orang tuamu. Bahkan orang-orang di lingkungan kita menerima keberadaan Sonia, sementara aku?. Aku hidup di rumah sakit jiwa yang bagai penjara. Padahal aku tidak gila. Tapi Ayahmu si tua bangka itu terus saja mengatakan bahwa aku gila. Dan saatnya lah aku menunjukkan kegilaan ku".


Sintia menodongkan pistol di kepala Hazal.


"Sintia!. Jangan lakukan itu. Tolong lepaskan dia. Kakak mohon sayang. Kakak sudah mengikuti semua keinginan mu, kamu sudah berjanji untuk tidak menyakitinya. Kamu ingkar janji Sintia!". Ya, Sintia dan Sonia membuat kesepakatan jika Sonia mau mengambil uang dari rekening Hazal untuk Sintia, maka dia tidak akan meneror lagi wanita itu. Tapi nyatanya Sintia terus saja meneror Hazal.


.


.


.


.


Lanjut>>>

__ADS_1


__ADS_2