Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 63. Mengetahui Fakta.


__ADS_3

Akhirnya Sonia melanggar janjinya, bahkan wanita itu juga berhenti untuk memberikan uang pada Sintia yang di ambilnya dari rekening Hazal. Kartu ATM itu di curinya sewaktu berada di restoran. Sonia terpaksa melakukan itu, karena kalau tidak Sintia akan melaporkan perihal pernikahannya pada ibu. Ya, Sintia mengetahui fakta, bahwa Sonia telah menikah sewaktu berusaha untuk kabur dari rumah sakit jiwa dan mendapati Sonia sedang melangsungkan pernikahan secara sembunyi-sembunyi di masjid yang letaknya tak jauh dari rumah sakit jiwa dimana Sintia di rawat.


Sintia menggunakan Sonia untuk melancarkan aksinya agar membalas dendam pada Ayah Hazal karena memasukan wanita itu ke rumah sakit jiwa. Tetapi tak lama wanita itu tertangkap dan di masukan kembali ke rumah sakit jiwa tersebut. Entah bagaimana ceritanya wanita psikopat itu tertangkap, mungkin Tuhan memang menginginkan wanita gila itu berada di tempat yang seharusnya.


"Jadi, kita satu sama kakak ku tersayang". Ucap Sintia dengan senyum mengejek pada Sonia.


"Sintia, kamu salah paham. Ayah Hazal melakukan itu semua demi kebaikan mu. Jika kamu rutin menjalani perawatan, dan konsisten, maka kamu akan sembuh".


"Bohong!. Kata dokter aku tidak akan pernah sembuh dan selamanya akan berada di tempat jahanam itu".


Suara Sintia menjadi lebih keras hingga memenuhi ruangan itu.


"Sayang, dengarkan aku dulu". Sonia terus berusaha untuk membujuk saudara kembarnya itu agar mau melepaskan Hazal.


"Bahkan ibu, wanita tua bangkah itu juga menyetujui dengan suka rela agar aku di masukan ke rumah sakit jiwa. Jadi aku membunuh wanita itu dengan memberinya racun. Haha".


Baik Hazal maupun Sonia, keduanya sama-sama terkejutnya. Mata wanita itu membulat, tubuhnya bergetar, jantungnya berdegup kencang. Air mata yang sedari tadi di tahan oleh Sonia akhirnya tumpah juga.


"J--jadi kamu yang membunuh ibu?".


"Tentu saja. Lagi pula dia sudah tua, sudah waktunya untuk mati. Haha".


PLAK...


Sonia menampar Sintia dengan keras. Lalu kemudian pistol yang tadinya berada di kepala Hazal, kini beralih pada Sonia. Sintia menatap tajam pada saudara kembarnya itu seolah ingin menerkamnya mentah-mentah.


"Kamu berani menamparku, akan aku bunuh kamu!".

__ADS_1


"Bunuh saja aku!". Ucap Sonia.


"Tidak!. Jangan lakukan itu Sintia. Aku minta maaf atas nama Ayahku yang telah membuatmu menderita selama ini". Tandas Hazal.


"Wah, lihatlah dua sahabat sejati ini. Sepertinya mereka benar-benar saling menyayangi. Sementara aku?. Aku bahkan tidak memiliki teman. Hanya Ayah yang selalu menyayangiku, bahkan dia rela menggadaikan perusahaannya untuk diriku". Ya, sebenarnya Ayah Sonia memiliki utang yang banyak karena demi kebahagiaan Sintia. Pria paruh baya itu memenuhi semua kebutuhan Sintia karena wanita itu berbeda dari Sonia yang normal, bahkan memiliki banyak teman. Sementara Sintia, wanita itu justru seperti seorang figuran dunia. Keberadaannya di tolak oleh lingkungan sosialnya, sementara ibu yang melahirkannya pun mengatakan bahwa Sintia gila. Padahal yang Sintia mau adalah kasih sayang seorang ibu meskipun putrinya gila sekalipun.


"Kamu memang wanita gila!". Ucap Hazal di sela-sela situasi yang semakin mencekam.


"Hahaha. Apakah kamu baru sadar bahwa aku gila?. Apakah kamu tau Hazal siapa yang mencuri ATM mu?. Dia, Sonia sang sahabat sejati". Tunjuk Sintia pada Sonia. Dan Sonia pun tertunduk malu pada Hazal. Ia tidak mampu menampakan wajahnya kepada wanita yang di sayanginya itu.


"Dan apakah kamu tau siapa yang membantuku untuk mengkambing hitamkan mantan kekasih suamimu itu?. S.O.N.I.A". Sintia mengeja nama Sonia dengan wajah yang di buat-buat.


Hazal menatap Sonia yang masih


tertunduk penuh sesal. Sejujurnya wanita itu tidak memiliki pilihan lain karena Sintia adalah wanita gila yang bisa melakukan apa saja. Dan Sintia sengaja menyuruh Sonia untuk mencuri ATM Hazal. Sebenarnya awalnya Sonia menawarkan sejumlah uang pada saudara kembarnya itu, tetapi Sintia menolak, ia tetap kekeuh bahwa Sonia harus menggunakan uang Hazal, alasannya adalah agar ketika Hazal mengetahui fakta bahwa Sonia yang mengambil uang Hazal dan mengkambing hitamkan Helena, maka wanita itu pasti akan membenci Sonia. Dan hal itu tentu saja akan membuat Sintia merasa puas karena ikatan persahabatan yang di jalin selama bertahun-tahun lamanya hancur seketika karena sebuah pengkhianatan.


"Ckckck. Ikatan yang sungguh luar biasa. Dan Helena adalah wanita yang tepat untuk di jadikan kambing hitam". Ucap Sintia dengan wajah yang sangat menyebalkan. Ya, Sintia sengaja menyuruh Sonia untuk mengkambing hitamkan Helena agar supaya Hazal percaya bahwa suaminya kembali menjalin hubungan pada wanita yang merupakan mantan kekasihnya itu. Dan Sonia pun berusaha untuk menyakinkan Hazal bahwa Helena lah pelaku teror yang sebenarnya selama ini. Bukan tanpa alasan Sonia melakukan itu, melainkan karena nyawa Samuel putra semata wayangnya yang menjadi taruhannya kala itu.


Sintia memiliki wajah yang sama persis dengan Sonia, jadi Samuel mengira Sintia adalah ibunya ketika wanita psikopat itu sedang berada di rumah Sonia untuk mencari saudara kembarnya. Namun siapa sangka, wanita itu justru menemukan mangsa yang baru. Akhirnya dia mengancam akan membunuhnya Samuel saat itu juga jika Sonia tidak mau menggunakan Helena sebagai pion nya.


"Sintia, cukup. Hentikan semua kegilaan ini". Bentak Sonia.


"Aku akan menghentikan jika wanita sialan ini mati!. Dan aku akan melihat pria tua bangkah itu bersedih seperti orang gila".


"Sintia, kakak mohon sayang. Lepaskan Hazal". Ucap Sonia dengan suara lirih. Ia kembali menangis karena dua wanita yang ada di depannya saat ini sama pentingnya dalam hidup Sonia.


Sementara Hazal kembali diam. Ia seolah menikmati semua fakta baru yang di dengarnya secara bertubi-tubi. Bahkan dirinya tidak cukup baik mengenal Sonia yang di pikirnya selama ini sangatlah baik.

__ADS_1


"Kakak, apakah kamu tau seberapa takutnya aku berada di tempat itu?. Aku di kurung, bahkan aku tidak memiliki siapapun disana. Ayah, ibu, Kakak, tidak ada yang mendampingi ku disana. Aku bahkan tidak bisa membaca, sementara kakak mengeyam pendidikan hingga setinggi langit. Bahkan Ayah Hazal rela membiayai seluruh hidupmu, sementara aku?. Aku di masukan ke rumah sakit jiwa karena di anggap gila. Padahal aku hanya butuh perhatian dan kasih sayang dari kalian. Apa aku salah?". Ucap Sintia dengan suara lirih. Air mata wanita itu mulai turun dari pelupuk matanya.


"Kamu tidak salah sayang, kamu tidak salah". Suara Sonia kembali bergetar, ia benar-benar menyesali sesuatu yang teramat sangat besar di dalam sana.


"Bahkan kamu menikah dan memiliki putra, sementara aku?. Tidak ada yang mau melihatku sama sekali".


Hati Sonia semakin teriris, ia sangat menyesal dan menyayangi Sintia. Hingga wanita itu rela melakukan apa saja yang di perintahkan wanita gila itu padanya.


"Lalu apa mau mu Sintia?". Tanya Sonia dengan suara gemetar.


"Berikan suamimu dan Samuel untukku".


DEG...


Kalimat yang sungguh luar biasa sakitnya yang pernah di dengar oleh wanita berambut ikal tersebut. Bagaimana bisa suami serta putranya di serahkan pada orang lain selayaknya properti yang bisa di tukar dengan benda lainnya.


"Apa kamu sudah gila?".


"Ya, aku memang gila!. Atau berikan Harfei padaku. Maka aku akan melepaskan kalian berdua sekaligus".


.


.


.


Next>>>

__ADS_1


__ADS_2