
Harfei memegang kerah baju David hingga jarak antara kedua sangat dekat. Deru napas Harfei sangat kentara dan mengenai wajah David.
"Lepaskan aku".
David berusaha untuk melepas tangan Harfei, namun pegangan Harfei terlalu kuat hingga pria itu meronta.
"Katakan padaku, apa yang kau lakukan pada istriku, ha?. KATAKAN!".
"Mas Harfei?".
Hazal mulai sadar dan bangun dari tempat tidur. Kedua pria yang masih bersitegang itu pun sama-sama menoleh ke arah tempat tidur dimana Hazal berada.
"Hazal?".
Harfei melepaskan David, hingga David terbatuk-batuk.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
"Kamu tidak apa-apa?". Tanya Harfei dengan suara cemas. Namun seketika kecemasan itu berubah menjadi tatapan tajam kala ia mengingat keberadaan Hazal di kamar hotel itu bersama David. Harfei memegang lengan Hazal dengan erat hingga membuat wanita itu merintih menahan sakit.
"Sedang apa kamu disini, ha?. Apa yang kamu lakukan dengan pria brengsek itu?. Sudah aku katakan, jauhi dia, jangan mau bicara dengannya. Apa kamu begitu mencintainya hingga kamu rela mengabaikan ucapan suami mu sendiri?!".
Mata Hazal membulat sempurna seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. Ia menatap tak percaya pada Harfei.
"Apa yang kamu katakan mas?. Apa maksudmu?".
Suara wanita itu bergetar, begitu juga dengan tubuhnya yang tiba-tiba gemetar karena terlalu terkejut.
"Maksud aku kamu mengkhianati ku Hazal !. Ayo pulang". Harfei menarik paksa tangan Hazal, membuat wanita itu merasa sakit.
David yang melihat Hazal tampak tak baik-baik saja pun berusaha untuk menghentikan Harfei.
"Harfei, kamu menyakiti Hazal".
"Lalu apa urusannya dengan mu?. Dia adalah istriku, ISTRIKU!". Suara Harfei semakin keras, ia sengaja menekan kata istri untuk menegaskan pada David bahwa wanita itu adalah miliknya, hanya miliknya.
__ADS_1
Harfei berjalan melewati David hingga sengaja menyenggol bahu pria itu dengan kasar, namun tak membuat David terjatuh. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan ketiganya sembari tersenyum penuh kemenangan. Orang itu merasa puas akhirnya Hazal dan Harfei masuk dalam jebakan yang sengaja di buatnya untuk menghancurkan hidup Hazal.
****
Kini Harfei dan Hazal berada di dalam mobil. Pria itu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Hazal menahan rasa takut. Wanita itu memegang dadanya untuk menahan rasa mual yang mulai melanda. Tubuhnya gemetar bagai tak bertenaga, namun bukan gemetar karena lapar, tapi karena masa mengidam yang mulai di rasakan wanita itu.😁
Mobil Harfei kini terparkir sembarang di pelataran rumah. Ia membuka pintu mobil dan menarik tangan Hazal dengan erat. Ibu yang sedang menonton TV layar terbang pun merasa terkejut. Jika adegan kekerasan yang sering di lihatnya ada di TV layar terbang, kini putranya melakukan hal yang sama.
"Ada apa, Ndu?". Tanya ibu panik. Namun wanita paruh baya itu tak mendapat jawaban. Harfei terus berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan dari wanita yang telah melahirkannya itu. Hingga kini keduanya masuk ke dalam kamar mereka.
Harfei menghempas tubuh Hazal di atas tempat tidur dengan kasar.
"Katakan padaku, apa yang sedang kamu lakukan di hotel bersama pria brengsek itu, ha?. Katakan Hazal, katakan". Suara Harfei mulai mengeras hingga memenuhi ruangan itu.
Ibu yang berada di balik pintu pun hanya bisa mendengar dari luar, tapi bukan seperti mertua yang berada di TV layar terbang yang kepo dan menaruh telinganya ke dinding kamar atau mengintip lewat lubang kunci hanya untuk menyaksikan pertengkaran putranya.😁
"Mas, dengarkan aku dulu. Mas tenanglah". Hazal berusaha untuk menenangkan Harfei, namun pria itu menolak. Ia terus memberontak seperti orang yang kesetanan.
"Kamu menyuruhku tenang?. Apa aku harus tenang ketika melihat istriku berada di tempat tidur pria lain?. Dan itu di hotel. Apa aku harus tenang, ha?. JAWAB!".
"Mas, setidaknya dengarkan aku dulu". Hazal masih terus berusaha untuk menjelaskan, namun Harfei tetap tidak mau mendengarkan. Akhirnya Harfei pergi meninggalkan Hazal di kamar. Ia membuka pintu dengan kasar dan membanting pintu kamar tersebut.
BRAK...
Ibu yang masih berada di depan pintu kamar pun merasa terkejut. Wanita paruh baya itu tidak menyapa Harfei, melainkan ia masuk dalam kamar untuk melihat kondisi Hazal.
"Sayang". Ibu memegang pundak Hazal yang duduk di atas tempat tidur.
"Ibu". Hazal memeluk tubuh ibu dan menangis dalam pelukan wanita paruh baya itu seolah menumpahkan segala kesedihan yang terpendam.
FLASHBACK ON.
Hazal berdiri di depan pintu kamar hotel David dan berusaha menjelaskan bahwa ia hanya salah tempat. Namun Wanita itu tampak menahan sesuatu. Tubuhnya gemetar, rasa mual mulai menyerang, kepalanya pusing, dan penglihatannya pun mulai kabur, hingga...
Bug...
__ADS_1
Hazal jatuh pingsan, beruntung David menahan tubuh Hazal hingga jatuh dalam pelukan pria tersebut.
David mengangkat tubuh Hazal dan membaringkan di atas tempat tidur. David menyentuh kening Hazal untuk memastikan apakah wanita itu demam. Namun suhu tubuh wanita itu normal.
David akhirnya menelpon seorang dokter kenalannya untuk memeriksa kondisi Hazal, namun belum sempat dokter itu sampai, pintu kamarnya sudah di ketuk oleh seseorang. Dan ternyata orang itu adalah Harfei, suami dari Hazal.
David sangat terkejut, begitu juga dengan Harfei. Sebenarnya David ingin menelpon Harfei setelah ia menelpon dokter tadi, namun perhatiannya teralihkan ketika melihat sebuah kertas jatuh dari tas Hazal yang merupakan laporan hasil pemeriksaan Hazal yang menyatakan bahwa wanita itu sedang hamil.
FLASHBACK OFF.
"Katakan pada ibu, apa yang sebenarnya terjadi?".
Ibu mengusap belakang Hazal berusaha untuk menenangkan wanita tersebut.
"Hazal juga tidak mengerti Bu, tadi mas Harfei tiba-tiba berada di hotel".
"Hotel?".
"Iya hotel, Bu. Tadi Hazal pergi ke hotel. Ada seseorang yang menunggu Hazal di sana, tapi Hazal juga gak tau siapa orang itu. Namun yang ada disana justru David, teman Hazal Bu. Dan tiba-tiba saja mas Harfei juga ada disana.Tapi Hazal sudah berada dalam kamar hotel itu, sepertinya Hazal pingsan Bu". Hazal berusaha untuk menjelaskan pada ibu mertuanya itu setelah isakan nya mulai menyurut.
"Kamu tenang ya. Nanti kalau Harfei sudah pulang, jelaskan padanya baik-baik sebelum semuanya menjadi rumit".
Hazal pun menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan Hazal dalam kamar yang kembali meratapi nasibnya. Entah bagaimana kondisi rumah tangganya setelah insiden ini. Harfei mau menerima penjelasan nya, atau justru menolak untuk mendengarkan.
.
.
.
.
Hai Readers. Tolong tinggalkan jejak kalian ya. Like, komen, dan vote yang banyak sebagi bentuk cinta kalian pada author ya. Tapi komen yang etis, jangan tinggalkan jejak yang membuat mood author down.
Happy Reading.
__ADS_1
*Dede...