
Minggu yang cerah menjadi pilihan banyak orang untuk berolahraga, sama halnya dengan Harfei. Pria itu selalu menyempatkan dirinya ke taman kota untuk sekedar berolahraga. Dia memang hanya seorang penjual sate ayam, namun bukan berarti ia tidak memperdulikan kesehatan nya. Meski di sandang Mr. Jorok oleh Hazal.
Sementara di tempat yang sama, Hazal dan Sonia juga sedang berolahraga di taman kota tersebut. Kedua wanita itu sedang joging, namun ketika di sela-sela keletihan yang melanda, Hazal memutuskan beristirahat sejenak untuk melepas lelah.
"Capek juga ya". Hazal meminum air mineral yang di bawahnya dari rumah. Keduanya duduk di kursi taman.
"Ia aku juga. Oh iya, bagaimana rencana kamu membalas si tampan?. Apa berhasil?". Tanya Sonia sambil membasuh keringat yang turun di dahinya.
"Si tampan?". Hazal tampak bingung dengan dahi berkerut.
"Maksudku Harfei".
"Apa gak ada nama lain yang kamu sematkan dari pria itu?. Aku aja manggilnya Mr. Jorok". Balas Hazal.
"Terserah kamu deh. Jadi gimana?". Tanyanya lagi.
"Lumayan berjalan lancar sih. Hanya saja aku ingin Harfei meminta maaf padaku karena sudah mengatakan aku wanita menyebalkan".
"Jadi itu juga alasan kamu menyetujui ide ku menggunakan jasa biro jodoh dan menerima cinta David?". Sonia tampak tak percaya dengan keputusan sahabat nya itu. Memang beberapa waktu yang lalu Hazal sudah memberitahu rencananya itu, namun Sonia pikir rencana itu sudah di hentikan nya. Tapi ternyata dugaan wanita itu salah.
"Apa lagi kalau bukan itu?. Aku sakit hati tau gak waktu itu. Terus gayanya yang sok pamer itu bikin mataku sakit tau gak?". Emosi Hazal tiba-tiba meletup ke permukaan wajahnya yang sederhana.
"Tapi, Zal. Kamu kan bisa hentikan semuanya itu sebelum terlambat. David juga bukan pria sembarangan yang pantas kamu jadikan umpan". Sonia berusaha untuk menasehati Hazal, namun wanita itu terlalu keras kepala. Ia memfokuskan pembalasan pada Harfei.
"Kalau misi ku sudah selesai, baru berhenti. Anggap saja biro jodoh itu adalah langkah awal untuk membalas pria jorok itu. Emang cuma dia saja yang bisa punya pacar?. Aku juga bisa kali". Hazal terus berceloteh tanpa ia sadari Harfei telah berdiri tepat di belang nya sejak tadi dan mendengar semua pembicaraan nya. Sonia yang lebih dulu mengetahui keberadaan Harfei pun menelan salavi nya dengan susah payah. Wajah wanita itu berubah jadi tegang, hingga kening Hazal berkerut heran.
"Wajah kamu kenapa tegang begitu?. Di sambar jin dari taman ini?". Tanya Hazal, namun Sonia tidak bergeming. Ia terus menatap Harfei yang juga menatap dirinya.
Merasa penasaran dengan mimik wajah Sonia yang berubah drastis, Hazal pun memutar kepalanya untuk memastikan apa yang di lihat oleh sahabatnya itu. Dan mata Hazal pun membulat sempurna seperti akan keluar dari wadahnya. Jantung wanita itu terasa berdetak kencang seolah ia baru saja melakukan lari maraton.
Hazal menelan salavi nya berkali-kali, takut akan sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.
"Sonia, sejak kapan pria ini ada disini?". Tanya Hazal dengan cara berbisik ke telinga Sonia, namun wanita itu masih saja bungkam. Ia benar-benar takut akan situasi yang menurutnya sangat mencekam. Bagaimana tidak, tatapan mata Harfei yang begitu tajam seolah menghunus ke jantung dua wanita itu.
"Zal, aku gak ikut-ikutan ya, aku cabut dulu". Akhirnya Sonia bersuara setelah beberapa saat terdiam dalam takut.
Sonia pun meninggalkan Hazal bersama Harfei yang masih setia dengan tatapan tajamnya. Hazal memanggil-manggil Sonia, namun wanita itu tidak memperdulikan panggilan Hazal.
__ADS_1
Harfei berjalan mendekati Hazal, namun langkah wanita itu mundur ke belakang hingga gerak tubuhnya berhenti ketika punggung wanita itu terkena batang pohon yang cukup besar.
Wajah Harfei semakin mendekat, mendekat, dan terus mendekat, hingga...
Plak...
Harfei menyentil kening Hazal dengan jari telunjuknya, membuat wanita itu merintih kesakitan.
"Awww. Kamu apa-apaan sih?". Gerutu Hazal.
"Kamu yang apa-apaan. Jadi ini caramu membalas ku?. Apa tidak ada cara lain?. Mengikuti biro jodoh. Apa kamu sebegitu tidak lakunya?". Harfei mengejek Hazal yang wajahnya mulai merah akibat menahan malu sekaligus marah.
"Aku tidak sejelek itu". Bantah Hazal.
"Aku memang menggunakan jasa biro jodoh. Terus masalah buat kamu?". Lanjutnya kemudian.
"Tentu saja tidak ada masalah buat ku. Masalahnya adalah, kamu ingin membalas dendam padaku atas dasar apa?. Apa karena aku selalu mengejek akan sikapmu yang selalu sok perfeksionis tapi wajahmu biasa-biasa saja?. Atau... Karena aku mengatakan kamu sangat menyebalkan dan suka menggigit?". Harfei berbicara sambil memutari tubuh Hazal.
"Yah, kamu memang menyebalkan. Aku kan memberimu saran sesuai dengan apa yang aku pikirkan, lagi pula itu untuk kebaikan mu juga". Hazal tetap bersih kukuh dengan pendiriannya yang mengganggap dirinya tidak salah.
"Sejak kapan kamu perduli padaku?". Mata Harfei menatap Hazal penuh selidik.
"Lalu apa bedanya dengan mu yang membawa pacar di kedai ku dan sayang-sayangan?. Ah, aku lupa, dia pacar biro jodohmu. Itu artinya pacar kontrak kan?. Hahaha". Harga diri Hazal terasa di jatuhkan, namun ia masih ingin bertahan sampai memenangkan perdebatan.
"Dia bukan pacar kontrakku!. Dia memang kekasihku. Yah, aku akui. Aku bertemu dengannya lewat agen biro jodoh, tapi hubungan kami bukanlah sandiwara". Wanita berambut warna madu itu masih berusaha untuk meyakinkan Harfei yang meragukan hubungannya. Tapi bukankah tadi Harfei sudah mendengar alasan Hazal mengikuti biro jodoh?. Dasar Hazal keras kepala.😄
"Hazal... Hazal, kamu ini wanita pintar atau bukan sih?. Jelas-jelas tadi kamu mengatakan bahwa kamu menerima kekasihmu, siapa lagi namanya?. David, Ya David".
"Apa kamu sebegitu tidak lakunya hingga kamu harus menggunakan jasa agen biro jodoh?. Aku tau wajah kamu pas-pasan, tapi tidak seharusnya kamu memilih jalan yang justru merendahkan harga dirimu. Dan lagi, untuk apa kamu membalas ku dan kekasihku?. Apa aku menyakitimu akan hubunganku itu?".
"Dan, ya. Apa selama ini tidak ada yang tertarik padamu karena wajahmu yang tidak menarik namun sok bersikap perfeksionis, membuat aku muak tau gak?!".
Telak...
Hazal merasa dunianya jungkir ke dasar jurang, harga dirinya hancur ketika mendengar penghinaan Harfei barusan, hatinya begitu sakit akan kalimat itu, hingga satu garis air mata lolos di pipinya. Harfei yang menyadari akan ketersinggungan Hazal, wajahnya pun berubah menjadi merasa bersalah.
"Hazal, aku---".
__ADS_1
"Cukup!".
Harfei ingin mencoba untuk mengklarifikasi ucapannya tadi, namun Hazal sudah terlanjut sakit hari dan marah.
"Apa hak mu mempertanyakannya harga diriku?. Apa hak mu mengatakan itu semua?. Apa hak mu menghinaku? Apa, ha?".
Luapan emosi Hazal meletup-letup hingga ke otak kecilnya yang terasa berang.
"Hazal, kamu salah paham. Maksud aku bukan begitu". Masih terus mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman.
"Lalu apa?. Apa aku salah menggunakan agen biro jodoh?. Aku memang merencanakan itu untuk membalas hinaan mu tempo lalu, tapi kamu tidak berhak untuk menghujat ku, meragukan karakterku. Ingat baik-baik Harfei, aku membencimu, sangat membencimu!".
Hazal berlari meninggalkan Harfei yang terdiam dalam penyesalan. Ya, Harfei menyesal akan ucapannya sendiri. Sebenarnya ia tidak bermaksud menghina wanita itu, ia hanya ingin bermain-main dengan Hazal agar wanita itu kesal. Karena baginya, wajah Hazal yang kesal sangatlah manis, dan ia menyukai itu. Tapi ternyata kali ini ia di luar kendali. Lagi pula, apa Harfei tidak tahu kalau wanita itu mahluk sensitif?. 😁.
"Mati aku. Apakah tadi aku sudah keterlaluan?. Sepertinya iya, aku harus bagaimana ini?". Harfei bermonolog. Hatinya gusar akan sikapnya sendiri. Seperti ada sesuatu yang bergetar di dalam sana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Hay Readers. Mulai sekarang novel ini update tiap hari ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Terimakasih.
__ADS_1
Happy Reading 😊
*Dede...