
Hazal membuka tas miliknya yang terletak di atas meja lalu kemudian ia mengambil amplop berwarna coklat yang berisikan foto suaminya dan Helena.
Helena mengambil foto tersebut, betapa terkejutnya wanita itu kala melihat benda berukuran 3x3 cm itu. Tangan Helena bergetar, lututnya seolah kehilangan tenaga.
"Hampir setiap hari foto itu di kirim untukku. Anehnya lagi, paket yang berisikan foto itu di kirim setiap kali aku tak ada di restoran. Bahkan aku hampir kehilangan uang dengan jumlah yang banyak. Entah siapa pelakunya".
"Bahkan orang itu juga selalu mengirimkan ku pesan yang bernada ancaman. Dia ingin memisahkan aku dan mas Harfei".
Hazal masih terus bercerita tanpa melihat raut wajah Helena yang sudah berubah menjadi tegang.
"Tapi ini foto editan".
DEG...
Suara Helena tampak bergetar karena memendam ketakutan. Hazal meraih foto yang berada di tangan Helena lalu kemudian menatap dengan intens gambar tersebut. Dan benar saja, foto itu hasil editan. Terbukti dari garis tengah yang menyatukan Harfei dan Helena.
Mengapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya?. Pikir Hazal.
"Bahkan kami tidak pernah berfoto ketika bersama dulu. Mas Harfei sangat benci berfoto".
DEG...
Kalimat Helena membuat Hazal teringat akan sesuatu. Bahwa selama hidup bersama Harfei, ia tidak pernah melihat suaminya itu berfoto bersama siapapun. Bahkan bersama dirinya pun tidak pernah selain foto pernikahan.
Hazal kembali bimbang dan bingung. Jika Harfei tidak suka berfoto, lantas dimana gambar ini di dapat?. Bahkan Harfei tidak memiliki sosial media berbentuk apapun itu.
"Mengapa beberapa bulan yang lalu Sonia memarahi mu di restoran?". Tanya Hazal secara tiba-tiba, membuat Helena menoleh padanya.
"Saat itu aku sedang bertemu mas David di depan restoran. Seperti yang aku katakan tadi jika mas David memberiku uang. Tapi tiba-tiba saja saat itu mba Sonia muncul dan menarik tanganku secara paksa".
"Mas David yang tiba-tiba mendapatkan telpon dari bosnya tak bisa melakukan sesuatu untuk membantuku. Dan aku pun menyuruh mas David pergi agar dia tak mengkhawatirkan diriku".
"Lalu mengapa Sonia menamparmu waktu itu?".
"Aku juga tidak tau mba Hazal. Mba Sonia sepertinya tidak menyukai ku sejak awal. Aku bahkan tidak tahu menahu tentang mba Sonia. Alasan mengapa dia membenciku aku benar-benar tidak tau. Bahkan saat itu aku sangat terkejut mba Sonia menuduhku merencanakan hal jahat pada mba Hazal bersama mas David. Bahkan jika aku menukar nyawaku atas kemurahan hati mba Hazal dan mas Harfei rasanya tidak akan cukup. Lalu mengapa aku harus menghancurkan wanita yang bagiku sangat baik ini?".
Hazal kembali ragu dan bimbang. Banyak pertanyaan dalam hati wanita itu. Mengapa Sonia membenci Helena, hingga menuduh wanita itu sebagai pelaku teror sebenarnya. Bahkan Hazal yang merupakan istri dari Harfei tampak santai seolah tak menghiraukan teror demi teror yang di dapatnya.
__ADS_1
"Jadi yang aku pikirkan itu benar?".
Ucap Hazal dengan suara lirih. Suara wanita itu bergetar, air bening menetes di pipi mulusnya. Tangan wanita itu sekali lagi bergetar memegang foto editan antara suaminya dan Helena, lututnya seolah tak memiliki tenaga lagi untuk berpijak.
Rentetan peristiwa beberapa bulan yang lalu seolah bermain-main di atas kepala wanita berparas sederhana tersebut.
"Hiks...Hiks... Hiks...".
Hazal terisak setelah mengingat semua peristiwa dimana ia di diamkan oleh Harfei selama satu Minggu, bahkan ia sempat memiliki rencana untuk memecat Helena jika Harfei benar-benar kembali memiliki hubungan bersama wanita itu di belakang nya.
"Apa mba Hazal baik-baik saja?".
Helena menjadi panik. Raut wajah wanita itu tampak gusar, ia sungguh tidak paham dengan situasi saat ini.
"Aku tidak baik-baik saja Helena. Tidak ada yang baik-baik saja. Rasanya sakit sekali. Disini, disini Helena. Sakit".
Hazal memukul-mukul dadanya, seolah memberitahu pada Helena bahwa ada luka di dalam sana yang teramat sangat besar.
Helena yang melihat isakan tangis Hazal pun merasa iba. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya lalu kemudian memeluk Hazal dan membenamkan kepala wanita itu ke dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk pundak Hazal berusaha untuk menenangkan wanita yang merupakan bosnya tersebut.
Hazal tak mampu lagi menahan tangisnya. Isakan kecil tadi berubah menjadi tangisan besar hingga memenuhi ruangan itu.
Helena tidak ingin bertanya, ia masih setia memeluk Hazal sembari menenangkan wanita tersebut.
Hampir 10 menit Helena menenangkan Hazal ke dalam pelukannya. Setelah merasa Hazal tenang dan tangisannya perlahan menyurut, Helena melepas tubuh Hazal dari pelukannya, lalu kemudian menghapus air mata wanita itu.
"Mba tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku".
Hazal menyeka sisa-sisa air matanya, lalu kemudian menatap Helena sembari tersenyum.
"Terimakasih". Ucap Hazal tulus.
Helena kembali ke tempat duduknya lalu kemudian meminum teh hijau miliknya yang sudah dingin.
"Sebenarnya apa yang terjadi mba?. Apakah mba Hazal memiliki seorang musuh?. Atau mba memiliki masalah lain?". Tanya Helena secara beruntun.
"Aku tidak tau mengapa dia melakukan semua ini padaku Helena. Bahkan aku tidak pernah merasa curiga padanya. Hiks... Hiks...".
__ADS_1
Hazal kembali terisak ketika mengingat seseorang yang ada dalam pikiran nya. Entah siapa orang itu, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Apakah mba Hazal sedang mencurigai seseorang?".
Pertanyaan sederhana itu membuat hati Hazal sakit, terluka, kecewa, dan marah dalam waktu yang bersamaan. Matanya kembali berkaca-kaca, tubuh wanita itu kembali bergetar setelah beberapa waktu yang lalu merasa tenang.
"Entahlah Helena, aku belum bisa pastikan sebelum semuanya jelas". Hazal menjedah kalimatnya lalu kemudian menatap manik mata coklat Helena dalam-dalam.
"Dan tolong kamu rahasiakan pertemuan kita ini pada siapapun itu termasuk David. Ini adalah rahasia kita berdua. Aku harap kamu mau membantuku". Pinta Hazal dengan tatapan penuh harap.
"Baiklah mba. Aku akan merahasiakan ini. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mba Hazal".
Kedua wanita itu saling melempar senyuman. Berusaha untuk menutupi segala rasa yang ada. Berusaha untuk saling menguatkan di tengah kerapuhan yang ada.
Tak bisa di pungkiri jika Hazal merasa kecewa dan terluka. Luka yang masih terasa baru itu seolah mengeluarkan darah segar di dalam sana. Rasanya sangat sakit tak tertahankan.
Sementara dalam hati Helena merasa iba yang teramat sangat pada Hazal. Wanita berparas cantik itu tak bisa menahan perasaannya untuk tidak memberikan kekuatan pada Hazal lewat genggaman tangan yang begitu erat.
.
.
.
.
.
TBC.
Hai-hai Readers. Apa kabar nih, tidak terasa sudah hari Selasa aja. Mohon maaf ya Readers jika update dari novel ini lambat, karena proses review yang lama.
Gak bosan-bosan author mengingatkan jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya. Atau mungkin ada yang mau beri tip seikhlasnya boleh juga.😁
Happy reading 😊
*Dede...
__ADS_1