
Wanita paruh baya itu mentap tak percaya akan kehadiran wanita yang membuat anaknya hilang kepercayaan diri untuk beberapa lama hingga Lina dan Hazal masuk dalam kehidupan putra nya.
"Helena?".
"Assalamualaikum. Ibu". Helena mencium punggung tangan wanita paruh baya itu lalu kemudian memeluk tubuhnya.
"Ibu, saya mohon maaf atas apa yang terjadi di masa lalu. Semuanya adalah murni kesalahan saya". Melepas pelukan sejenak lalu memegang lengan ibu Harfei,
"Kedatangan saya kemari hanya ingin meminta maaf atas segala kesalahan saya. Tidak ada maksud dan tujuan jahat. Ibu, mohon maaf karena sudah menghancurkan kepercayaan ibu di masa lalu. Sekarang saya paham, bahwa saya dan mas Harfei tidak berjodoh karena Tuhan ingin memberikan istri sebaik mba Hazal. Sekali lagi mohon maaf Bu. Hiks... Hiks...". Helena memeluk kembali wanita paruh baya itu dengan isakan. Sementara Hazal merasa terharu akan pengakuan Helena. Namun bagaimana dengan ibu mertuanya?.
Ibu Harfei melepas pelukan Helena sembari melihat wajah wanita yang pernah mengisi hari-hari putranya itu dengan tatapan datar.
"Kenapa kamu tidak meminta maaf sejak dulu?. Kenapa baru datang sekarang di saat putra saya sudah berhasil menata hati dan hidupnya?. Apa kamu tahu bagaimana susahnya Harfei menumbuhkan kepercayaan dirinya sewaktu kamu mencampakkan dirinya?". Menarik napas panjang,
"Kamu tidak tahu apa-apa Helena. Ibu sampai takut jika putra ibu satu-satunya tidak akan pernah tertarik lagi dengan seorang wanita karena kekecewaan yang sengaja kamu berikan. Hingga Lina datang merubah hidup Harfei saat itu. Namun mungkin Tuhan berkehendak lain dan menjadikan Hazal sebagai istri putra ibu. Karena Tuhan lebih tahu jika wanita yang ada di samping mu itu adalah wanita yang tepat untuk putra ibu satu-satunya".
Helena semakin terisak mendengar ucapan ibu dari mantan kekasihnya itu dan melihat Hazal yang masih belum bergeming.
"Tapi ibu menghargai permintaan maaf mu Helena. Tidak ada gunanya ibu menyimpan dendam padamu. Toh, putra ibu sudah memiliki kehidupan yang baru. Hanya satu yang ibu minta". Ibu Harfei menjedah kalimatnya dan memegang kedua tangan Helena sembari berkata,
"Tolong jangan ganggu rumah tangga putra ibu. Dia satu-satunya harta berharga yang ibu punya. Jika dia hancur, maka hidup ibu juga akan hancur berkeping-keping". Satu garis air mata tak dapat terbendung hingga lolos begitu saja di wajah wanita paruh baya itu.
Melihat air mata itu turun bagai tak bertepi, Helena pun semakin merasa bersalah.
"Ibu, Helena tidak ada niat untuk menghancurkan rumah tangga mas Harfei Bu. Sumpah". Ibu Harfei menatap lekat-lekat mata Helena berusaha untuk mencari kebohongan disana agar menumbuhkan lagi rasa percaya nya. Namun sebelum wanita paruh baya itu menjawab ucapan Helena, Hazal yang sedari tadi diam tak bergeming pun mengangkat suara. Ia merasa iba akan ucapan Helena yang benar-benar tulus di matanya.
"Bu, Helena sudah menyesali perbuatannya di masa lalu. Jadi maafkan dia Bu".
"Tapi Hazal..."
"Bu, tidak ada gunanya menyimpan dendam. Dia sudah jauh-jauh datang kesini untuk meminta maaf sama ibu. Kata ayah, dengan meminta maaf tidak akan menjatuhkan atau meninggikan derajat manusia, dan orang yang memaafkan pasti memiliki hati yang mulia". Memegang tangan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Dan yang Hazal tau, ibu adalah wanita yang memiliki hati mulia. Hazal benar kan Bu?". Rasa haru menghampiri ibu Harfei, ia benar-benar tidak menyangka jika menantunya itu berbesar hati untuk menerima permintaan maaf mantan kekasih dari suaminya sendiri.
"Ibu memaafkan mu, nak". Ucap ibu Harfei akhirnya. Dan tiga wanita itu pun tersenyum sambil menghabiskan waktu bercerita akan banyak hal.
*****
Sebuah mobil berwarna putih terparkir di halaman rumah milik Harfei. Pria tampan itu baru saja pulang dari kantor dan mendapati istri serta ibunya tengah asik tertawa, dan juga...
"Helena?".
"Mas Harfei?".
Hazal berlari menghambur ke pelukan suaminya lalu mencium punggung tangan suaminya tersebut. Namun Harfei tidak bergeming akan istrinya, pria itu memfokuskan pandangannya pada wanita yang tidak ingin di lihatnya lagi.
"Aku ke kamar dulu". Ucap Harfei. Dan Hazal pun menyusul suaminya di kamar, namun sebelum itu ia meminta izin pada ibu mertuanya dan juga Helena.
"Mas, bagaimana kerjaan di kantor hari ini?. Apa semua berjalan lancar?". Harfei tidak bergeming, pria itu tampak menyibukkan dirinya membuka dasi, kemeja dan juga masuk dalam kamar mandi.
Hazal menyadari akan sikap suaminya itu, ia ingin menjelaskan keberadaan Helena, namun ia masih menunggu waktu yang tepat. Menunggu Harfei keluar dari kamar mandi dan tenang akan pikirannya.
"Katakan padaku, apa yang terjadi?". Tanya Harfei akhirnya.
"Mas, dia cuma mau meminta maaf sama ibu dan juga mas Harfei". Ucap Hazal.
"Apa kamu tau siapa dia?". Suara Harfei mulai meninggi menandakan emosi.
"Mantan mas Harfei kan?".
Harfei di buat heran sekaligus bingung akan istrinya. Bagaimana bisa ada seorang wanita yang membukakan pintu rumah untuk mantan kekasih dari suaminya?.
"Mas, aku tau Helena adalah mantan kekasih mas dulu. Tadi dia dan ibu sudah cerita sama aku. Sebagai wanita dan juga istri mas, jujur saja awalnya aku terkejut dan juga cemburu. Karena dia merupakan bagian dari masa lalu mas Harfei. Tapi terlepas dari itu semua, apa gunanya aku membenci seseorang yang tidak memiliki masalah denganku?". Terang Hazal.
__ADS_1
"Tapi dia memiliki masalah dengan suami mu ini". Gerutu Harfei. Hazal tersenyum akan sikap suaminya yang begitu manis di matanya. Seperti sedang merajuk.
"Mas, kalau mas mau membuka hati untuk memaafkan semuanya akan terasa ringan. Tidak masalah jika mas tidak mau berteman dengannya, tapi jangan mendendam. Yang aku tau sih suami aku ini orangnya bijaksana". Ucap Hazal sembari memencet hidung suaminya dengan manja.
Dalam hati Harfei mengucap syukur yang tak terhingga karena mendapatkan istri sedewasa Hazal, meski tak jarang menyebalkan juga. Hehe.
"Apa hati kamu terbuat dari berlian?" Harfei mulai meraba tubuh istrinya seolah memiliki maksud tertentu. Hazal paham akan sentuhan itu, namun ia hentikan sebelum berlanjut ke lahan kebun dan bercocok tanam.
"Mas mau menggoda ku ya?. Nanti malam saja bercocok tanamnya. Sekarang kita temui dulu Helena. Beri dia kesempatan untuk bicara pada mas". Dengan bermalas-malasan Harfei keluar kamar dan berbicara ala kadarnya pada Helena sang mantan.
Sebenarnya Harfei merasa curiga akan kehadiran Helena yang secara tiba-tiba, namun karena menghargai istrinya, ia pun membiarkan wanita itu berinteraksi dengan istri yang di cintai nya tersebut, namun masih tetap dalam pengawasan. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Istri nya. Meski tak menemukan kebohongan di mata Helena ketika meminta maaf, namun bukankah tidak ada yang tahu isi hati manusia?. Dalamnya laut dapat di ukur, dalamnya hati siapa yang tahu?.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Pecinta Hazal dan Harfei, jangan lupa like, komen, dan vote ya Readers. Salam hangat dari pecinta halu. 😘😘
__ADS_1
Happy reading.
*Dede...