
Hai Readers. Sebelum Author lanjut nulis, Author mau sampaikan kalau dalam part ini spesial cerita seputar kehidupan Sonia. Author sengaja nulis part ini supaya kalian paham tentang wanita bar-bar yang satu ini. Setelah ini lanjut pada cerita Hazal dan Harfei. Happy Reading gengs...
-----------------------+++---------------------------+-+++-------
"Sonia".
"Hazal?".
Sonia menatap tak percaya pada sahabatnya tersebut, sementara Hazal menatap Sonia dengan tatapan tak terbaca sama sekali.
Hazal melangkah menuju tempat Sonia dan duduk di sisinya seraya melihat wanita paruh baya yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?". Tanya Hazal masih dengan raut wajah tak terbaca.
Sonia diam tak bergeming. Antara berkata yang sejujurnya atau ingin membohongi sahabatnya terus menerus. Wanita itu merasa dilema, di satu sisi ia tidak ingin hidup dalam kebohongan terus menerus. Namun disisi lain jika ia berkata jujur, maka ia tidak bisa membayangkan seberapa dalam kekecewaan Hazal dan kedua orang tua sahabatnya itu karena menikah secara diam-diam pada pria yang telah memperkosanya dulu.
"Aku juga tidak tau Hazal. Tiba-tiba Samuel menelpon ku ketika aku berada di restoran kemarin. Katanya ibu jatuh pingsan". Ucap Sonia kaku sembari meremas jemarinya guna menghilangkan rasa canggung nya. Namun Hazal menyadari sikap Sonia seolah mengkhawatirkan sesuatu.
Hazal memutar tubuh Sonia agar menghadap padanya dan menatap lekat-lekat manik mata coklat tersebut.
"Katakan padaku jika kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu". Tanya Hazal dengan raut wajah serius.
Sonia melepas tangan Hazal dan membuang wajahnya ke sembarang arah.
"Aku tidak menyembunyikan apapun". Balas Sonia bohong. Wanita itu masih tetap berusaha untuk menutupi kenyataan yang terjadi.
"Apa aku harus menelpon Tuan Riyan agar kau mau bergeming?".
DEG...
Sonia sontak menatap wajah Hazal sembari menatap tak percaya lalu menggeleng kan kepalanya seolah berkata tolong jangan lakukan itu.
"Baiklah. Ayo kita bicarakan ini di luar. Biar bagaimanapun juga meski Tante Dewi tidak sadarkan diri, tapi tidak menuntut kemungkinan jika Tante tidak mendengarkan semua percakapan kita berdua". Sonia membenarkan ucapan sahabatnya itu, lalu kemudian menyetujui ucapan Hazal untuk berbicara di luar.
****
__ADS_1
Kini dua wanita itu berada di luar ruangan tempat dimana ibu Sonia di rawat, mereka duduk di kursi panjang dan di susul oleh Harfei.
"Katakan padaku". Ucap Hazal tenang. Ia berusaha untuk menenangkan perasaan nya yang sedari tadi tak sabar untuk mengetahui cerita yang sebenarnya. Namun seperti biasa, wanita itu selalu menghadapi setiap masalah dengan tenang karena tak mau mengambil resiko.
Sebelum bercerita, Sonia mengembuskan napas berat, hingga akhirnya wanita itu menceritakan segalanya.
"Aku sangat mencintai nya Hazal. Entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta pada pria yang telah merenggut kehormatan ku itu. Saat itu aku masih berada di rumah sakit karena trauma yang aku alami. Entah mas Riyan mendengar dari siapa bahwa aku masuk rumah sakit, bahkan aku juga tidak tau dia mengetahui alamat dan asal usul ku. Dia datang menemui ku dan mengakui semua kesalahannya. Tentu saja saat itu membuatku sakit hati, marah, dan terkejut dalam waktu yang bersamaan".
"Dia meminta maaf padaku dan berkata akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Saat itu aku belum mempercayai nya sama sekali. Tapi mas Riyan datang ke rumah sakit dan merawat ku hingga aku sembuh dari trauma yang dia ciptakan".
Hazal belum bergeming, ia masih tetap ingin mendengarkan semua cerita Sonia hingga akhirnya. Sementara Harfei duduk tak jauh dari kedua wanita tersebut sembari menyaksikan.
"Dan saat itulah hatiku mulai luluh. Aku pun menerima lamaran mas Riyan sebagai suamiku. Tapi ibu menentangnya karena sakit hati pada mas Riyan. Tapi aku tidak mau mendengarkan ibu. Karena aku tidak mau putraku kehilangan sosok Ayah. Jadi aku putuskan untuk menikah diam-diam".
"Ibu tidak pernah tau aku menjalani rumah tangga yang rumit selama ini. Kami harus bertemu secara diam-diam di belakang ibu. Dan rumah tangga yang rumit itu kami jalani hingga enam tahun lamanya sampai saat ini".
Sonia menatap ke depan seolah membayangkan rumah tangga nya bersama Riyan.
"Kami sangat bahagia Hazal. Bahkan kami berencana untuk memberikan Samuel adik yang lucu-lucu. Tapi kami masih membutuhkan restu ibu. Hingga saat itu tiba. Kemarin Aku dan mas Riyan serta Samuel sedang merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke-enam tahun di sebuah restoran kecil yang jauh dari jangkauan ibu. Tapi mungkin saat itu Tuhan menginginkan ibu tau segalanya. Dan tiba-tiba saja, Hiks...Hiks...".
Sonia tidak sanggup lagi melanjutkan ceritanya. Wanita itu mulai terisak kala mengingat raut wajah kecewa ibunya pada dirinya kala itu.
"Saat itu ibu pingsan ketika melihatku dan mas Riyan". Lanjutnya setelah merasa tenang.
"Dan kami pun membawa ibu ke rumah sakit ini".
"Apakah selama ini Samuel tidak pernah cerita pada Tante Dewi jika ia memiliki seorang Ayah?". Tanya Hazal.
"Kamu tau sendiri Hazal, putraku itu sangat pandai menyimpan rahasia. Dia seperti manusia dewasa yang sadar akan posisi ibunya". Air mata Sonia kembali menetes di pipinya kala mengingat bagaimana putranya itu membantunya untuk menutupi segalanya.
"Apakah kamu akan menceraikan Riyan?". Tanya Hazal kemudian.
"Aku tidak tau Hazal. mas Riyan dan ibu sangat berarti untukku. Aku tidak bisa memilih di antara keduanya". Ucap Sonia dengan suara lirih. Wanita itu bagaikan merasa di ambang kebimbangan.
"Lalu mengapa kamu tidak memberitahu ku dan juga ayah serta ibu?". Pertanyaan yang sedari tadi di tahan akhirnya keluar juga. Hazal memantapkan hatinya untuk bertanya.
__ADS_1
Sonia menatap sendu wajah Hazal. Ia paham betul jika saat ini sahabatnya itu merasakan kekecewaan yang terdalam akan kebohongan nya.
"Karena aku sudah banyak merepotkan mu dan juga Ayah serta ibumu Hazal. Aku tidak sanggup lagi jika harus merepotkan kalian. Aku memilih jalanku sendiri atas keinginan ku. Dan aku bahagia hingga saat ini". Ucap Sonia lirih.
Hazal menatap lekat-lekat mata Sonia, berusaha mencari kebohongan disana. Namun wanita itu tak menemukan kebohongan sama sekali.
"Setidaknya kamu harus berkata jujur padaku. Tapi kali ini aku memaafkanmu. Jika kedepannya kamu masih saja berbohong. Maka aku pastikan kamu akan keluar dari perusahaan Ayah". Ancam Hazal. Namun itu hanyalah gertakan sambal saja alias tak serius. Setelah itu keduanya pun tersenyum sambil berpelukan. Sonia tidak menyangka jika Hazal mau memaafkan dirinya tanpa syarat.
Harfei yang sedari tadi diam menyaksikan dua wanita yang saling mengasihi itu kini ikut tersenyum bahagia. Akhirnya Sonia mau terbuka akan masalahnya.
"Kemana suamimu?". Tanya Hazal setelah beberapa saat diam.
"Dia sedang dalam perjalanan menuju kemari". Hazal menganggukkan-anggukan kepalanya pertanda mengerti.
"Mas Harfei". Kini Sonia beralih pada pria yang menjadi atasannya itu.
"Iya".
"Aku minta maaf saat itu tidak berkata jujur pada mu". Ucap Sonia tulus penuh sesal.
Harfei tersenyum sembari berjalan mendekati sahabat dari istrinya tersebut.
"Aku tidak berhak untuk tidak memaafkanmu Sonia. Aku tau saat itu kamu tidak memiliki pilihan lain. Jika aku berada di sisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama". Tutur Harfei tulus.
Sonia tersenyum pada pria tampan tersebut.
"Terimakasih". Sonia menggenggam tangan Harfei sembari tersenyum tulus.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut>>>