Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 56. Positif.


__ADS_3

Hari ini, Hazal melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Karena semenjak semalam kondisi badannya kurang baik. Dimana ia selalu muntah, meriang, sakit kepala, dan sensitif terhadap bau wewangian. Tak mau menduga-duga, akhirnya Hazal memutuskan untuk memeriksakan kondisinya ke dokter. Dan ternyata dokter mengatakan jika dirinya positif hamil.


"Selamat Nyonya Hazal Kaya, Anda positif hamil dan usia kandungan Anda baru menginjak lima Minggu". Ucap dokter yang bernama Aminah itu.


"Benarkah Dok?. Dokter gak salah kan?. Saya beneran hamil kan dok?".


Rona bahagia terpancar jelas di wajah Hazal, hingga tangis haru pun pecah di ruangan pemeriksaan itu.


"Ya Allah, terimakasih ya Allah".


Hazal tak henti-hentinya mengucap syukur, hingga dokter Aminah pun merasa terharu pada Hazal.


"Nyonya Hazal, ayo silahkan duduk dulu".


Hazal bangun dari ranjang pemeriksaan lalu kemudian duduk di kursi tepat berhadapan dengan dokter paruh baya tersebut.


"Nyonya Hazal. Anda harus menjaga kondisi kandungan Anda. Jangan terlalu stres, kurangi kerja berat, harus rutin minum vitamin, dan jangan lupa makan makanan yang mengandung banyak nutrisi". Tutur dokter Aminah.


"Dan satu lagi Nyonya, tolong hindari hubungan suami istri untuk sementara waktu mengingat kondisi kandungan Anda yang masih muda dan sangat rentan mengalami keguguran". Ucap dokter paruh baya yang masih tampak cantik meski tak lagi muda itu.


"Baik dokter. Terimakasih".


Hazal tak berhenti tersenyum ketika mengetahui bahwa dirinya hamil. Wanita itu tampak tak sabar untuk memberitahukan kabar baik itu pada suaminya.


"Aku akan memberitahu mas Harfei setelah tiba di rumah. Dia pasti akan bahagia".


Akhirnya setelah hampir satu tahun menikah Hazal di percaya oleh Tuhan untuk mengandung. Selama ini baik Hazal maupun Harfei tidak pernah memikirkan prihal keturunan atupun membahasnya. Keduanya menjalani proses rumah tangga tanpa mengeluh ataupun berharap lebih. Dan siapa sangka di balik proses itu terselip cinta kasih Tuhan bagi keduanya hingga saat ini di beri kepercayaan untuk menjadi orang tua.


Hazal masih memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak ingin terburu-buru untuk tiba di rumah karena akan beresiko pada janin yang di kandungnya.


Di tengah perjalanan itu, Hazal mendapat pesan dari nomor yang tak di kenal.


'Datanglah ke hotel celisious kamar 206, kamu akan mengetahui kebenaran nya disana'.


Begitulah isi pesan dari nomor yang tak di kenalnya itu. Hazal berusaha untuk menghubungi nomor ponsel itu, namun sudah tak aktif lagi. Tak mau berputus asa, Hazal mencobanya sekali lagi, namun hasilnya tetap sama, hanya suara operator yang menjawab panggilan wanita itu.


Akhirnya Hazal memutar balik mobilnya yang berada tak jauh dari rumah. Wanita itu hampir saja sampai di tempat tinggalnya, namun karena pesan yang cukup mengganggu pikirannya itu, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti isi dari pesan tersebut.

__ADS_1


Hampir satu jam Hazal tiba di Hotel Celisious. Kini mobil putih miliknya terparkir sempurnah di pelataran parkiran Hotel. Hazal belum beranjak dari dalam mobilnya, wanita itu tampak masih menimang-nimang antara akan mengikuti keinginan orang itu atau justru pergi begitu saja.


Lama Hazal berpikir, akhirnya wanita itu turun dari mobil dan memasuki Hotel tersebut. Hazal menemui resepsionis hotel untuk bertanya kamar 206, dan anehnya resepsionis itu seolah sudah tau bahwa wanita yang bertanya padanya adalah Hazal. Resepsionis yang bernama Rita itupun memberitahukan jika Hazal telah di tunggu seseorang di lantai 15, kamar 206. Hanya saja wanita berkulit putih itu menolak untuk memberikan informasi tentang seseorang yang menunggu Hazal, bahkan untuk sekedar memberitahukan namanya saja wanita itu menolak. Alasannya adalah ia tidak bisa melanggar peraturan hotel dengan memberikan informasi privasi tamu. Sebenarnya Hazal merasa ada yang aneh, namun rasa penasarannya mengalahkan akal sehatnya.


****


Kini Hazal berada di lantai 15 dan berdiri tepat di depan pintu kamar 206. Namun wanita itu belum mau mengetuk pintu kamar tersebut, ia masih ragu. Hazal meremas kedua tangannya yang mulai berkeringat. Wajahnya seolah cemas, hatinya bimbang, dan akhirnya ia pun memilih mengetuk pintu berwarna hitam itu.


Tok... Tok... Tok...


Dan pintu pun terbuka,


"David?".


"Hazal?".


Keduanya tampak sama-sama terkejut.


"Sedang apa kamu disini Hazal?". Tanya David bingung. Ia merasa tak percaya jika wanita yang berada di hadapannya saat ini adalah Hazal, wanita yang sampai detik ini masih di cintainya.


"Ah, sepertinya aku salah kamar".


"Tunggu".


Hazal menoleh dan melihat tangan kekar David berada di lengannya. Sontak pria itu melepas tangannya dari lengan Hazal.


"Maafkan aku. Tapi sebenarnya ada apa?. Mengapa tiba-tiba kamu ada di depan pintu kamar ini?. Apakah kamu sedang ada janji bersama seseorang di hotel ini?. Atau kamu bersama suamimu?". Tanya David secara beruntun.


Hazal tampak kebingungan, ia masih belum menjawab pertanyaan David.


Hening...


Hingga,


"Hazal, apa kau mendengar ku?". Sekali lagi David menyentuh lengan Hazal membuat wanita itu tersentak dari lamunannya.


"Ah, tidak, aku tidak bersama mas Harfei. Tadi aku mendapat pesan bahwa ada seseorang sedang menunggu ku di kamar ini, tapi sepertinya aku salah tempat". Ucap Hazal.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Harfei mendapatkan pesan yang sama persis seperti Hazal. Pria itu sedang dalam perjalanan untuk ke tempat yang sama dengan istrinya. Namun pria itu tidak mengetahui jika Hazal juga berada disana.


Kini Harfei telah sampai di Hotel, pria itu menekan tombol lantai 15. Ia melangkah keluar dari dalam lift dan mencari kamar 206.


Di ketuk nya pintu kamar itu, lalu keluar lah David, pria yang sangat di benci oleh Harfei. Kedua pria itu sama-sama tampak sangat terkejut, terutama David. Yang ada dalam pikiran pria itu adalah bagaimana jika Harfei tau bahwa Hazal berada dalam kamar hotel miliknya.


"David?".


"Harfei?".


"Sedang apa kamu disini?". Tanya David tampak sedang berusaha untuk menyembunyikan sesuatu dari balik pintu.


"Aku mungkin salah kamar". Balas Harfei. Pria itu ingin beranjak pergi, namun langkahnya tiba-tiba berhenti kala melihat kaki seorang wanita yang sangat familiar sedang terbaring di atas ranjang.


Harfei mendorong pintu kamar hotel itu dan menerobos masuk ke dalamnya. Betapa terkejutnya pria itu kala melihat istrinya terbaring di tempat tidur yang di dalamnya terdapat pria yang di bencinya.


"Hazal?".


Harfei mengeratkan genggaman tangannya hingga pucat bagai tak teraliri darah. Wajahnya menjadi tegang, hatinya bergetar, jantungnya berdegup kencang, seolah ada desiran kemarahan yang luar biasa di dalam sana.


"Apa yang sedang kau lakukan pada istriku brengsek?".


Bug...


Satu pukulan keras mendarat di pipi David, pria itu memegang sudut bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah.


"Bukankah sudah aku katakan, jauhi istriku!. Lalu apa yang kau lakukan sekarang ha?!".


Harfei memegang kerah baju David hingga jarak antara kedua sangat dekat. Deru napas Harfei sangat kentara dan mengenai wajah David.


.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut>>>


__ADS_2