
Sebelum lanjut baca, Author mau sampaikan kepada kalian para Readers. Tolong bijak dalam memberi komentar. Jangan tinggalkan komentar yang membuat mood Author down. Jangan gunakan kata-kata yang menyakitkan. Kalian gak tau kan bagaimana susahnya mengumpulkan ide cerita hingga berjam-jam lamanya, makan tidak tepat waktu, tidurpun susah karena memikirkan ide cerita hingga enak di baca agar kalian merasa terhibur. Jadi tolong hargai itu. Karena saya bukanlah penulis plagiat yang tinggal main copy paste saja. Terimakasih.
---------------------------------------------------------
Sepulang Hazal dari gedung pernikahan tadi. Wanita itu langsung ke rumah, ia tidak kembali lagi ke restoran yang seharusnya ia menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan yang sempat tertunda akibat kesalahpahaman antara dirinya dan Harfei.
Sementara di rumah Harfei tampak tengah menelpon seseorang di dalam kamar.
"Mas".
Harfei menoleh pada Hazal yang saat ini berdiri tepat di belakangnya. Lalu kemudian Harfei mengakhiri percakapannya dari balik ponsel miliknya.
"Kamu sudah pulang?. Bagaimana hasilnya?".
Tanya Harfei santai seolah melupakan peristiwa beberapa jam yang lalu seraya mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Mas, katakan padaku. Bagaimana bisa mas berada di gedung pernikahan itu tadi?".
Pertanyaan ini yang sedari tadi mengganjal di benak wanita bertubuh ramping itu. Hanya saja, ia masih memendamnya karena situasi yang tidak memungkinkan, dimana emosi Harfei tidaklah stabil.
Harfei membuang wajahnya ke sembarang arah, tak mau menatap mata Hazal.
"Katakan padaku mas. Tadi mas bilang mau bertemu Dino di rumahnya. Tapi kenapa bisa mas ada di tempat itu tadi?. Apa mas mengikutiku?".
Desak Hazal. Kali ini wanita itu tak bisa lagi menahan rasa yang mengganjal di dalam sana.
"Aku memang bertemu dengan Dino, lalu kami jalan-jalan untuk menghabiskan waktu. Bahkan kami tidak tau bahwa di tempat tadi kamu mendapatkan orderan". Ucap Harfei bohong.
^^^'Maafkan aku sayang, aku terpaksa berbohong, aku belum bisa menceritakan semuanya padamu'. Batin Harfei.^^^
'Kenapa aku merasa kalau mas Harfei bohong ya?'.
"Apakah Dino mengenal David?".
"Tentu saja tidak. Untuk apa Dino mengenal mantan biro jodoh mu itu?".
Eng... Ing... Eng...
Hati Hazal seperti di gelitik kala melihat raut wajah Harfei yang berubah menjadi merah karena menahan cemburu.
__ADS_1
"Setidaknya aku memiliki mantan kekasih, dari pada gak ada sama sekali?. Atau mas Harfei mau jadi mantan aku?".
Tiba-tiba Harfei menutup mulut Hazal dengan tangannya yang lebar.
"Jangan pernah berpikir untuk menjadikanku mantanmu, atau kamu akan melihatku mati perlahan".
Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci, dua manik mata coklat itu saling bertatapan.
Hazal menyingkirkan tangan Harfei dari mulutnya seraya berkata,
"Mas Harfei memang mantanku sekarang. Maksudnya mantan pacar yang kini menjadi suami. Hehe".
Plak...
"Awww".
"Itu bayaran karena menggoda suamimu".
Harfei menyentil kening Hazal dengan menggunakan jari telunjuknya, membuat sang empunya kening menahan sakit.
'Maafkan untuk kebohongan ku sayang. Akan aku pastikan setelah ini tak akan ada lagi kebohongan di antara kita. Untuk sesaat biarlah dulu seperti ini sampai aku bisa membuktikan bahwa yang aku pikirkan ini salah'.
****
"Ndu, sarapan dulu". Titah Ibu. Wanita paruh baya itu sedang membuat nasi goreng di dapur.
"Nanti saja Bu, Harfei buru-buru. Assalamualaikum".
Harfei pun pergi meninggalkan rumah yang bahkan lampu terasnya masih menyala.
Harfei memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tampak sangat terburu-buru. Pandangan nya fokus ke depan. Hingga mobil yang di pacunya itu berhenti di sebuah gedung tua yang tak terawat.
Harfei turun dari mobilnya, dan berjalan memasuki gedung tua tersebut. Langkahnya di percepat seolah tak sabar untuk masuk ke dalam sana.
Tibalah Harfei di depan pintu gedung tua itu. Ia menekan tombol yang tersembunyi dari balik semak-semak yang menjalar ke dinding gedung itu.
Pintu gedung terbuka, dan tampaklah seorang pria muda di dalam sana sedang mengoperasikan komputer.
"Bagaimana hasilnya Dino?".
__ADS_1
Ya, pria itu adalah Dino sang Intel. Dino merupakan sahabat Harfei yang bertugas di luar kota sebagai Intel. Hanya saja Harfei sengaja menghubungi pria itu untuk membantunya menyelidiki sesuatu.
"Aku sudah menemukan lokasi orang itu. Tapi ingat, kamu harus hati-hati. Karena dia tidak sendiri melakukan aksinya. Orang ini memakai jasa mafia yang sulit untuk di tangkap. Bahkan kami mencari mafia ini hampir sepuluh tahun lamanya. Tapi sampai detik ini kami selalu kehilangan jejak". Ucap Dino.
"Baiklah. Terimakasih atas bantuan mu. Aku akan membalas semua bantuan yang kau berikan". Balas Harfei seraya menepuk pundak Dino.
"Mentang-mentang sudah jadi penerus perusahaan besar, main bayar saja. Belikan aku satu Apartemen di Andara dekat artis yang di beri gelar Sultan Andara itu. Siapa tau bisa numpang tenar disana. Hehe".
Dino menampakkan giginya yang putih bagai tanpa dosa.
"Selesaikan dulu semua tugasmu baru akan aku pikirkan permintaan mu itu. Bila perlu kamu yang menjadi Rajanya Andara menggeser posisi sang Sultan. Hahahaha".
Harfei tertawa sumbang karena lelucon nya. Dan akhirnya pria itu mendapat tatapan tajam dari sang sahabat.
"Bilang saja kalau gak mau. Aku tau kamu tidak akan menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi mu". Ucap Dino dengan senyum mengejek.
"Kamu pikir aku koruptor yang salah menggunakan jabatan?. Makanya, tugas kamu itu adalah melindungi negara dari koruptor yang menghabiskan uang negara, jangan minta di belikan Apartemen dekat artis untuk tenar". Cibir Harfei tak kalah pedasnya.
"Sebelum aku melindungi negara dari koruptor, aku harus melindungi sahabat ku dulu dari seseorang yang bersembunyi di tempat jauh seperti pengecut!".
Nada suara Dino berubah menjadi serius, seketika mengalihkan perhatian Harfei.
"Kamu benar. Aku harus berhati-hati. Terimakasih ya sudah membantuku sampai sejauh ini". Ucap Harfei tulus.
"Sama-sama".
****
Di rumah, Hazal bangun dari tidur dan tak mendapati Harfei di sisinya. Ia beranjak dari tempat tidur lalu mencari Harfei ke semua ruangan. Hingga pencariannya berhenti ketika melihat ibu di taman belakang rumah sedang menyiram bunga.
"Bu, lihat mas Harfei gak?".
Ibu menghentikan aktivitas menyiramnya lalu melihat Hazal yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Dia sudah pergi pagi-pagi sekali, sepertinya dia buru-buru karena tidak sempat sarapan tadi".
Kening Hazal berkerut penuh tanya kala mendengar ucapan wanita paruh baya itu.
"Baiklah Bu, terimakasih".
__ADS_1
Hazal meninggalkan ibu yang sedang melanjutkan aktivitasnya kembali menuju kamar.
"Kenapa mas Harfei sudah pergi sepagi ini?. Bahkan dia tidak sarapan dan tidak membangunkan aku. Aku rasa mas Harfei sedang menyembunyikan sesuatu dariku".