
Sebelum lanjut baca, author mau bilang kalau semua novel ku adalah murni karya saya sendiri, karena saya suka membaca dan menulis. Saya benci kegiatan plagiat dalam bentuk apapun itu. Terimakasih. Selamat membaca.😘
---------------------------------------------------------------------------
Sepulang Hazal dan Harfei dari luar kota, kini keduanya menjalankan aktivitas masing-masing. Harfei yang di landa cemburu pun selalu saja posesif pada Hazal. Tidak boleh terlalu dekat dengan Tuan Alexander, Jarak antara keduanya harus satu meter. [Sudah kaya social distance saja]😏. Begitulah pesan yang di berikan pada Hazal sang istri.
Urusan pembangunan cabang restoran di kota C pun berjalan dengan lancar, Hazal tak henti-hentinya berucap syukur karena ia bisa maju selangkah selama menikah bersama Harfei. Membantu suaminya itu dengan sepenuh hati, meski tak jarang sifat cemburu Harfei yang secara tiba-tiba muncul, membuat Hazal heran, namun bagi wanita itu bukanlah masalah, bukankah cemburu tandanya cinta?.
Tibalah Hazal di restoran, baru saja ia duduk di kursinya, wanita itu telah di suguhkan dengan kotak persegi empat yang hampir sama dengan kotak sebelumnya.
Kening Hazal berkerut dalam hampir menyatu. Di raihnya ponsel miliknya guna menghubungi Wawan,
"Wawan, ke ruangan saya sekarang". Titah Hazal. Dan tak butuh waktu lama, pria bertubuh kurus itu pun masuk dalam ruangan Hazal.
"Ada yang bisa saya bantu Mba?". Tanya Wawan seraya mendaratkan tubuhnya di kursi tepat depan Hazal.
"Siapa yang menyimpan paket ini dalam ruangan saya?. Bukankah sudah aku katakan jangan ada yang masuk dalam ruangan ini sebelum saya datang". Ucap Hazal dengan nada yang mulai meninggi.
"Tapi tidak ada seorang pun yang masuk dalam ruangan mba Hazal. Saya, Anton, Siska dan juga karyawan lainnya baru datang mba. Mana mungkin kami berani masuk dalam ruangan mba Hazal".
"Lalu paket ini siapa yang membawanya masuk kesini?. Tidak mungkinkan ada penyusup dalam restoran ini?".
"Bisa saja mba, buktinya itu ada paket masuk. Apa tadi Mba Hazal sewaktu masuk dalam ruangan ini gak kekunci?".
Hazal membernarkan ucapan Wawan, jika tadi ruangannya terkunci sewaktu masuk, itu berarti memang benar ada penyusup yang masuk dalam ruangannya.
"Kamu benar, Wan. Tadi sewaktu saya masuk, pintunya terkunci. Lalu bagaimana paket ini bisa masuk?".
"Mungkin paket ini sudah ada sejak kemarin mba". Ucap Wawan berasumsi.
"Tapi kemarin aku tidak melihat apapun di meja ini, mana mungkin aku lupa. Dan lagi, kunci ruangan ini cuma ada 3, satu sama saya, mas Harfei dan yang ketiga padamu. Apa jangan-jangan kamu yang penyusup nya?". Tutur Hazal dengan mata penuh selidik.
"Mana berani saya masuk dalam ruangan mba Hazal kalau bukan atas perintah mba. Semenjak mba Hazal melarang saya untuk masuk dalam ruangan ini, saya tidak pernah sekalipun masuk sebelum mba Hazal sendiri yang memanggil saya". Terang Wawan merasa tak terima dengan asumsi bosnya itu.
"Kalau begitu memang benar, jika ada penyusup. Tapi siapa?". Hazal di buat bingung dengan berbagai rentetan peristiwa yang mengganjal. Bertanya pada Harfei pun ia tidak tega karena akan menambah beban pikiran suaminya itu. Pria itu sudah cukup terbebani dengan urusan kantor dan proyek barunya.
"Bagaimana kalau Mba Hazal menyewa seorang detektif saja untuk mencari tau semuanya?. Gampang kan?". Saran Wawan.
__ADS_1
"Bingo!. Ternyata otak kamu bisa juga di andalkan". Puji Hazal. Wawan pun menepuk dadanya seolah menandakan kebanggaan.
"Tapi siapa detektif itu?. Aku tidak mengenal seorang detektif". Lanjutnya kemudian.
"Mba tenang saja, Wawan punya kok kenalan seorang detektif. Ya... meskipun tak secerdas detektif Conan yang ada di TV itu, tapi setidaknya dia sudah terbukti memecahkan beberapa masalah". Tutur Wawan.
"Baiklah. Aku serahkan semuanya padamu, Wan. Atur pertemuan ku dengan detektif itu sesegera mungkin. Aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut". Titah Hazal dan Wawan pun mengacungkan jempol nya sebagai tanda setuju.
**
Kini tinggallah seorang diri Hazal dalam ruangannya. Memikirkan rentetan peristiwa yang mengganjal membuat otak wanita itu pening. Tak ingin memendam sendiri, akhirnya ia menghubungi Sonia sang sahabat karib.
"Sonia, aku butuh dirimu". Ucap Hazal.
"Giliran butuh kamu menelpon ku, giliran gak butuh kamu lupa siapa aku. Awas saja kalau kamu gak terima saran dariku". Gerutu Sonia dari sebrang sana.
Kini panggilan yang tidak berlangsung lama itu pun berakhir, dan tak butuh waktu lama Sonia telah sampai di restoran tempat Hazal berada.
"Mau curhat apa kali ini?. Foto lagi?". Tanya Sonia seraya menduduki kursi. Kening Hazal berkerut.
"Kok kamu bisa tau?".
"Oh iya. Aku lupa".
"Aku bingung Sonia, akhir-akhir ini banyak hal yang membuat ku bingung. Terlebih lagi sikap Mas Harfei yang semakin protektif. Dia seperti menyimpan sesuatu hingga membuatnya cemburu di setiap waktu. Terkadang dia menggunakan kalimat khiasan yang sulit untuk aku artikan". Sonia belum bergeming, wanita itu masih tetap setia mendengarkan setiap detail curhat sang sahabat.
"Dan yang terbaru, aku mendapat lagi paket berupa foto ini lagi tadi. Dan anehnya, ruangan ini terkunci sewaktu aku masuk, itu artinya paket ini di kirim semalam oleh seorang penyusup".
"Itu Helena". Celetuk Sonia.
"Mana mungkin Helena, Son?. Dia bahkan tidak memiliki kunci cadangan dari ruangan ini. Hanya mas Harfei dan Wawan yang punya". Bantah Hazal. Ia masih belum bisa menerima dugaan jika di balik semua kejadian itu Helena lah pelakunya.
"Ya bisa jadi kan dia minta kunci itu sama Wawan?. Si Wawan kan di beri umpan tulang ikan juga mau. Apa lagi cewek secantik dan seseksi Helena. Anton saja mengejar-ngejar wanita rubah itu".
"Aku belum bisa memutuskan apapun. Tadi Wawan menawarkan aku untuk menyewa seorang detektif".
"Wawan yang memberi saran itu?. Apa dia punya kenalan seorang detektif si kurus kerempeng itu?". Sonia meragukan Wawan.
__ADS_1
"Saya juga gak tau, apa salahnya nyoba".
"Apa mas Harfei tau?". Tanya Sonia.
"Aku tidak ingin menambah beban pikiran nya Sonia. Mas Harfei saat ini sedang berada di puncak karirnya. Mendapatkan kepercayaan dari tuan Pratama adalah proyek pertama yang sudah membuahkan hasil, meski baru setengah jalan".
"Jika aku memberitahu semua masalah ini, maka tidak mungkin mas Harfei akan melepas pekerjaannya dan fokus mencari tau pelakunya. Dan aku tidak mau itu terjadi".
"Setidaknya masih ada kamu sahabat ku yang selalu setia mendampingi ku. Benarkan?". Hazal memeluk Sonia sembari mencium pipi sahabatnya itu.
"Aku akan selalu membantumu, Zal. Hanya saja, apa kamu tidak berniat untuk menyelidiki Helena sembunyi-sembunyi?. Maksudmu jika kamu menyewa seorang detektif, maka mulailah dari wanita itu dulu". Ucap Sonia. Hazal melepaskan pelukannya.
"Nanti akan aku pikirkan. Yang terpenting adalah aku akan mencari tau siapa pemilik nomor ponsel yang beberapa waktu lalu mengirinkan ku pesan".
Sonia dan Hazal terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Baiklah, aku mendukung setiap keputusan mu. Aku pergi dulu, suami dari sahabatku ini sedang membutuhkan ku di kantor". Izin Sonia setelah beberapa saat diam seraya menepuk pundak Hazal.
"Baiklah. Terimakasih atas Bantuan mu. Tolong jaga mas Harfei untukku".
"Sip".
Hazal menatap punggung Sonia hingga hilang dari balik pintu. Wanita itu memijit pelipisnya,
"Aku tidak percaya pada siapapun, termasuk sahabat ku sendiri. Mungkin aku butuh saran dari Ayah". Batin Hazal.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC.