Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 34. Luar Kota.


__ADS_3

Hari yang di tentukan telah tiba, dimana Hazal dan Tuan Alexander berangkat di kota C untuk meninjau lokasi pembangunan Abang restoran. Akan memakan waktu seminggu keduanya berada di kota tersebut.


Harfei yang mulai memiliki sifat posesif pun selalu mengawasi Hazal lewat video call. Hazal tak pernah mempermasalahkan sikap suaminya itu, hanya saja terkadang ia merasa risih ketika wanita itu sedang meninjau lokasi namun Harfei meminta untuk mengirim foto dirinya, alasannya simpel. Ia merasa rindu pada istrinya itu.


"Mas, aku lagi di lokasi. Ntar kalo sudah selesai aku akan mengirim foto ku sebanyak yang mas inginkan". Ucap Hazal pada Harfei lewat video call.


"Jangan dekat-dekat pria itu". Ucap Harfei yang mendapat gelengan kepala dari Hazal. Dan panggilan video itu pun berakhir dengan sebuah kecupan dari Harfei.


"Aku sangat iri pada suami Anda". Ucap Tuan Alexander yang secara tiba-tiba muncul di sisi kiri Hazal.


"Begitulah suami istri Tuan Alexander". Balas Hazal.


"Mengapa Anda tidak menikah saja?. Agar anda tau bagaimana rasanya menjadi seorang suami". Lanjutnya kemudian.


"Sayangnya wanita yang aku taksir telah menikah. Aku terlambat mengenalnya". Ucap Tuan Alexander yang mendapatkan tatapan canggung dari Hazal.


"Ah, ngomong-ngomong jangan panggil aku dengan Tuan Alexander, aku belum setua itu. Panggil saja Alex. Aku seumuran dengan suami Anda Nona". Lanjutnya kemudian.


"Saya tidak akan melupakan rasa hormat dan sikap profesional pada rekan bisnis saya Tuan Alex. Jadi biarkan saya tetap pada batasan saya sebagai rekan bisnis". Balas Hazal lalu berlalu meninggalkan Alex ke hotel tempatnya menginap.


Sementara Alex terpaku akan ucapan Hazal barusan. Tak menyangka jika wanita sesederhana Hazal menyimpan sejuta pesona di balik wajahnya yang biasa-biasa saja.


"Mungkin itulah yang membuat Tuan Harfei jatuh cinta pada wanita itu". Ucap Alex yang masih tetap menatap punggung Hazal hingga hilang dari pandangan nya.


****


Di hotel, Hazal baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan akan turun ke lantai bawah untuk mengisi perutnya yang kosong. Ia tidak ingin memesan makanan lewat telpon, wanita itu ingin menikmati suasana kota C.


"Nona Hazal". Alex tiba-tiba saja menghampiri Hazal yang baru keluar dari lift.


"Apakah anda ingin makan malam Nona?". Tanyanya kemudian.


"Apakah aku tampak ingin berenang?". Balas Hazal dengan nada ketus. Entah mengapa ia merasa kurang nyaman dengan pria yang selalu saja memujinya itu.


"Aku pikir Anda ingin ke club. Haha". Alex tertawa sumbang dan mendapat tatapan tajam dari Hazal.


"Maaf-maaf, aku hanya bercanda. Aku rasa selera humor anda sangatlah kurang nona. Santai saja. Aku tidak akan menerkam mu hingga membuat wajah tampan ku ini terkena pukulan dari suami mu yang posesif itu. Aku lebih menyayangi wajahku ini dari pada harus merasakan pukulan". Hazal menghentikan langkahnya dan beralih melihat pria yang cukup banyak bicara itu.

__ADS_1


"Sebelum suami saya yang memukul Anda, saya orang pertama yang akan menampar wajah itu sehingga sulit untuk di kenali oleh wanita di luar sana. Apakah Anda ingin mencobanya Tuan Alexander?".


Alex menelan salavi nya berulang kali, merasa takut dengan ucapan yang begitu tajam di telinga.


"Mungkin lain kali saja aku merasakan itu. Sebaiknya kita makan malam untuk mengisi tenaga. Bukankah besok kita harus bekerja keras di lapangan?". Ucap Alex berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


Hazal pun berjalan mendahului pria itu, sementara Alex masih belum bergeming.


"Aku suka itu". Ucap Alex lalu menyusul Hazal yang sudah tiba di restoran hotel tersebut.


****


Di rumah, Harfei tampak uring-uringan karena di tinggal oleh Hazal. Perasaan nya campur aduk, ada rindu, kalut, cemburu, dan juga takut kehilangan. Semua rasa itu menggantikan prinsipnya dulu yang merasa bahwa tanpa wanita ia baik-baik saja. Namun sekarang, tanpa wanitanya hidup terasa hampa.


Akhirnya Harfei putuskan untuk menyusul Hazal di kota C tanpa memberitahu wanita itu terlebih dahulu. Anggap saja surprise.


Malam itu juga Harfei berangkat ke kota C dimana Hazal berada. Ia menelpon istrinya itu,


"Sayang kamu dimana?". Tanya Harfei dari balik ponselnya.


"Aku sedang berada di kamar". Balas Hazal.


"Ha?".


Hazal terdiam sesaat melihat ponsel miliknya, lalu kemudian membuka pintu kamar hotel tempatnya berada.


"Surprise...". Ucap Harfei seraya memeluk tubuh Hazal dengan agresif. Ia menghirup aroma tubuh wanita itu seolah lama tidak bertemu.


"Aku merindukanmu sayang".


"Kok mas Harfei bisa ada disini sih?". Tanya Hazal tak percaya. Harfei melepas pelukannya dan melihat Hazal penuh selidik.


"Apa kedatangan ku tak di harapkan?. Baiklah aku pulang saja". Kesal yang di buat-buat.


"Mas Harfei apaan sih. Aku tuh cuma kaget saja mas tiba-tiba ada disini". Menutup pintu lalu berjalan menuju tempat tidur.


"Mas sudah makan?". Tanya Hazal selanjutnya.

__ADS_1


"Aku tidak lapar". Tatapan Harfei pun berubah menjadi tatapan mendamba. Hazal menjadi waspada,


"Kecuali untuk yang satu ini". Harfei mulai mencium Hazal tanpa aba-aba, membuat Hazal tak bisa mengimbangi ciuman itu.


"Mas, landasan aku lagi becek, gak bisa online". Ucap Hazal. Harfei menghentikan ciumannya sejenak lalu berkata,


"kredit aja gak apa-apa". Kemudian Harfei melanjutkan aksi pertukaran air liur itu dan berakhir di kamar mandi meski tak pakai sabun mandi, Hazal membantu mengeluarkan getah pisang Harfei dengan cara yang pernah di ajarkan oleh sahabat bar-bar nya Sonia.


[Silahkan berhalusinasi ya gengs cara si bar-bar Sonia]😁.


****


Keesokan harinya Harfei menemani Hazal meninjau lokasi pembangunan cabang restoran mereka. Alex yang mengetahui kedatangan Harfei pun merasa tak leluasa untuk menggoda wanita itu. Terlebih lagi Harfei tidak pernah menjauh dari sisi Hazal. Seperti prangko yang menempel.


"Tuan Harfei, sepertinya Anda sangat merindukan istri Anda". Ucap Alex ketika Hazal meminta izin untuk ke toilet dan meninggalkan keduanya.


"Aku selalu merindukan Istriku dimana pun dia berada. Terlebih lagi jika dia harus menghabiskan waktu dengan seorang pria muda seperti Anda". Ucap Harfei dengan suara datar namun penuh penekanan.


"Sepertinya Anda sedang cemburu tuan Harfei". Balas Alex.


"Anggap saja begitu Tuan Alex. Jadi berhenti memperhatikan istri saya dan mengagumi dirinya". Harfei berkata penuh penekanan di setiap kalimatnya.


"Jika anda mempercayai istri anda, maka anda tidak akan secemburu ini Tuan Harfei. Seorang suami jika kepercayaan nya goyah, maka pertahanannya pun sia-sia. Jangan biarkan istri Anda merasa tertekan akan sikap cemburu Anda tuan Harfei. Karena jika anda lengah sedikit saja, maka aku akan masuk ke tempat Anda, atau bisa jadi orang lain yang akan menggantikan posisi Anda tuan Harfei".


Ucapan Alex barusan menciptakan desiran panas di dalam hati Harfei. Gundah dan juga kalut. Takut akan kehilangan Hazal semakin besar. Terlebih lagi ia mengingat akan sosok David yang beberapa waktu lalu berada satu hotel bersama Hazal, dan sekarang muncul lagi orang baru yang secara terang-terangan mengangumi istrinya. Alex.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2