
Tinggal di rumah mertua merupakan hal baru bagi Hazal. Selama ini wanita itu tidak pernah berpikir akan menikah mudah meski juga tak pernah berencana untuk menikah di usia yang sangat matang. Satu yang pasti, semenjak ia putuskan untuk jatuh cinta pada Harfei, ia ingin menikah dengan pria tersebut suatu saat nanti. Dan siapa sangka jika yang tadinya hanya sebatas impian saja, kini menjadi kenyataan. Ternyata Tuhan sangat berbaik hati padanya.
****
Satu Minggu sudah usia pernikahan Hazal dan Harfei, namun selama satu Minggu itu pula keduanya belum bercocok tanam apa lagi sekedar mendaki gunung di puncak Himalaya Hazal. Baru sekedar teori. Mau tau alasannya apa?.
Pertama, saat Hazal tinggal di rumah mertuanya, wanita paruh baya itu meminta satu malam untuk tidur bersamanya. Alasannya simpel, karena ibu mertuanya itu ingin merasakan tidur bersama menantu wanitanya.
Yang kedua. Malam selanjutnya, ketika Hazal ingin mengajak suaminya itu bercocok tanam ternyata pria tersebut sudah terlelap akibat terlalu lama menunggu Hazal yang harus menemani ibu mertuanya nonton sinetron layar terbang Suara Hati Istri hingga pukul 23.00.
Dan yang terakhir adalah, Harfei sakit perut akibat masuk angin. Jadi malam itu mereka habiskan untuk mengerok.
Perlahan Hazal melupakan keinginan untuk bercocok tanam, ia kembali pada sifat perfeksionis dan menjunjung tinggi harga dirinya. Tak mau tampak agresif lagi di depan suami, namun jika Harfei menginginkan dirinya, maka dengan senang hati wanita itu akan melayani.
"Sayang". Panggil Harfei.
"Hmmm"
"Apa kamu sudah tidur?".
"Emang kenapa kalau aku belum tidur mas?". Masih dalam posisi menutup mata.
"Aku mau mendaki gunung". Sambil menarik-narik baju tidur Hazal. Sayangnya wanita itu belum paham akan kode yang di berikan suaminya. Mungkin efek terlalu lama menunggu untuk bercocok tanam dan tak pernah kesampaian.
"Ini sudah malam, mas. Mau mendaki gunung dimana?". Tiba-tiba Hazal membuka matanya hingga Kening berkerut penuh tanya.
"Di gunung kamu la, masa mau di gunung tetangga?". Gerutu Harfei.
"Beneran kali ini kita akan mendaki gunung hingga ke puncak?". Wajah antusias terpancar jelas. Otak kecil wanita itu sudah sadar sepenuhnya.
"Ia, sekarang aku menginginkanmu". Ucapan sensual Harfei berhasil melulu lantahkan pertahanan Hazal, hingga sontak memeluk erat tubuh suaminya. Inilah saatnya. Pikir Hazal.
"Oh, iya mas lupa". Harfei menepuk jidatnya seolah melupakan sesuatu.
"Ada apa?".
"Mas lupa pasang kedap suara. Kemarin mas sudah telpon teknisi nya untuk pasang, tapi entah kenapa hari ini dia belum muncul juga. Padahal mas sudah bayar full". Tutur Harfei.
"Terus gimana dong?. Batal lagi ni?". Sendu dan sedih wajah Hazal.
"Kita mainnya pelan-pelan saja. Jangan sampai ibu dengar. Kan kamu tau sendiri kalau kamar ibu bersebalahan dengan kamar kita. Takut ibu dengar dan menggangu tidur beliau". Terang Harfei, membuat Hazal menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
__ADS_1
"Aku buka, ya?". Izin Harfei. Pria itu mulai membuka kancing baju tidur Hazal, baru tiga kancing yang terbuka, Hazal menghentikan gerakan tangan suaminya itu.
"Tunggu",
"Ada apa?".
"Mas sudah kunci pintu belum?. Coba di cek dulu". Titah Hazal. Dan tak ingin membuang-buang waktu, Harfei pun mengecek pintu kamarnya. Dan benar saja, pintu kamar itu tidaklah terkunci. Untung saja Hazal mengingatnya, kalau tidak akan panjang urusannya jika tiba-tiba saja sang mertua muncul.
"Sudah mas kunci. Kita lanjutkan lagi ya?". Hazal menganggukkan kepalanya memberi izin.
Kancing baju telah terlepas sempurna dari masing-masing lubangnya. Dan muncullah puncak gunung Himalaya milik Hazal. Mata Harfei tak berkedip sedikitpun kala memandang ciptaan Tuhan yang begitu mengagumkan. Sungguh puncak yang sangat bersih nan putih. Ada kesejukan di puncak itu.
Harfei mengecup kening Hazal sebagai awal sentuhan, hingga berubah menjadi ci****. Tangan pria tampan nan rupawan itu pun bergerilya mengelilingi puncak gunung yang sangat kenyal, memutar-mutar puncaknya seperti mencari siaran.
Puas mencari siaran, kini bibir tipis pria itu beralih ingin merasakan kesejukan pada puncak gunung Hazal. Menggigit dan memberi tanda cap ungu seolah gunung itu adalah miliknya seorang.
Sementara tangan yang satunya lagi memeriksa pintu masuk kebun Hazal. Harfei meraba area itu ingin memastikan apakah lahan itu berumput atau tidak, namun ternyata lahan itu... Botak?. Gersang tak berumput.
"Sayang, kok punya mu botak?". Tanya Harfei dengan mata melirik sedikit ke liang itu.
"Emang kebun aku gersang mas, gak berumput. Warnanya juga masih pink". Balas Hazal.
"Ya sudah, gak apa-apa. Gersang juga gak masalah, asal bisa berbuah nanti".
Harfei yang berusaha untuk menerobos masuk dalam lahan itu pun tertahan akan pintu yang begitu kokoh. Tidak mudah bagi pria itu untuk menerobos masuk, hingga Hazal menghentikan gerakan suaminya.
"Mas, tunggu bentar".
"Apa lagi?. Ini mas lagi usaha masuk". Gerutu Harfei.
"Tapi aku belum potong kuku".
"Apa hubungannya bercocok tanam dengan potong kuku?". Kening Harfei berkerut dalam.
"Kata Mpo Neti kalau mau uwik-uwik itu harus potong kuku dulu supaya nggak kena cakaran di punggung mas. Karena rasanya pasti akan sakit. Ini kan yang pertama kalinya buat kita mas".
Harfei yang tidak mau ambil resiko pun mengikuti ucapan istrinya itu, dan adegan bercocok tanamnya berhenti sejenak hanya untuk memotong kuku.
Puas memotong kuku, Hazal dan Harfei pun kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan aksi cocok tanam yang sempat tertunda untuk beberapa saat.
"Gak ada lagi kan?. Sekarang boleh lanjut?". Tanya Harfei. Keinginan bertani pisang pun sudah sampai ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Tapi pisang mas sudah turun lagi". Sambil melihat bagian bawah Harfei.
"Gampang naiknya, cukup di belai juga akan tegang. Ayo". Tak mau menyia-nyiakan waktu yang sudah menjelang tengah malam, pemanasan yang awal tadi di lakukan kini terulang kembali untuk menegakkan sang pisang agar lebih mudah tertanam di lahan Hazal. Beruntung lahan itu gundul tanpa rumput, jadi tak terhalang apapun ketika ingin mengetuk pintu.
Harfei berusaha untuk mengetuk pintu pertahanan kebun Hazal, namun masih juga belum berhasil. Percobaan kedua pun gagal.
Tak mau berputus asa, Harfei mencoba kembali hingga Hazal tak bisa menahan rasa.
"Panas mas, panas". Pekik Hazal.
"Pakai kipas kalau panas". Titah Harfei.
"Bukan badanku yang panas mas, tapi lahan ku yang panas". Air mata itu sudah memenuhi wajah Hazal. Merasa kasihan dengan kondisi istrinya, Harfei pun menghentikan acara bercocok tanamnya, anggap saja tadi baru perkenalan lahan kebun pisang.
"Sakit banget ya?". Mengelus pipi Hazal dengan lembut dan membenamkan kecupan di puncak kepala istrinya itu.
"Sakit dan panas mas. Nanti kita lanjutkan lagi besok ya?. Anggap saja malam ini kredit malam pertama".
Harfei mengelus dada untuk bersabar karena pisang yang tadinya sudah sempat masuk untuk berkenalan belum berhasil mengeluarkan getahnya dalam kebun Hazal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Hay Readers. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Silahkan like, komen, dan vote. Terimakasih. Salam halu dari Author.😘😘
__ADS_1
Happy reading.
*Dede...