Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 60. Surat Cerai.


__ADS_3

Seminggu setelah Harfei meminta cerai, Hazal masih tetap dengan pendiriannya, bahwa ia tidak akan pernah menceraikan Harfei sampai maut sendiri yang akan memisahkan mereka. Terlebih lagi ada mahluk kecil yang tak berdosa sedang bernaung di rahim wanita berdarah campuran tersebut. Mahluk kecil yang bahkan sampai detik ini belum bisa di terima Harfei. Dan selama seminggu itu pula Harfei tidak menampakan dirinya di rumah. Bahkan untuk sekedar ganti baju pun tak pernah lagi. Entah dimana keberadaan pria itu, Hazal sudah tak perduli lagi. Saat ini yang menjadi prioritas wanita itu adalah menjaga kondisi kandunga nya agar tetap baik-baik saja. Meski begitu Hazal tidak akan pernah mau menceraikan suami yang dinikahinya hampir setahun ini.


"Tanda tangani surat cerai ini".


DEG...


Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Harfei pulang dan membawa surat yang seumur hidup Hazal tak pernah bayangkan. Jika selama ini bentuk dan isi surat cerai itu di lihatnya hanya di sinetron layar terbang, kali ini nyata di depan mata Hazal.


Hazal menatap nanar surat cerai yang terletak di atas meja ruang keluarga. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca, hatinya remuk hingga menghujam ke jantung.


"Aku tidak mau bercerai". Singkat, padat, dan jelas.


"Lalu apa yang akan kamu pertahankan dengan pernikahan bodoh ini?". Ucapan Harfei untuk kesekian kalinya menorehkan luka yang teramat sangat dalam hingga merasuki seluruh pori-pori wanita tersebut. Bagai penyakit stadium akhir.


Apakah pernikahan ini tak bisa di selamatkan lagi?. Pikir Hazal.


"Anggap saja pernikahan yang kita jalani saat ini adalah sebuah kebodohan. Tapi mas Harfei harus ingat satu hal,". Hazal berjalan mendekati Harfei. Lalu berkata,


"Aku bukan tipe wanita yang mudah mempermainkan makna pernikahan". Hazal duduk kembali ke kursi sofa, lalu kemudian melanjutkan kalimatnya,


"Jadi jangan harap aku Akan menceraikan mu. Silahkan mas Harfei hidup dengan anggapan bahwa aku adalah wanita bodoh, bagiku itu tidak masalah. Aku tetap memegang teguh prinsip ku".


Telak mati.


Kalimat Hazal sungguh tak bisa terbantahkan lagi. Hingga Harfei lebih memilih untuk pergi entah kemana tanpa membawa surat cerai yang di berikannya tadi.


Hazal kembali menatap nanar surat cerai itu, dan menangis sesenggukan. Sejujurnya wanita itu tak kuat ketika mengucapkan kata demi kata pada suaminya tadi, hanya saja wanita itu berusaha untuk tenang agar ia tidak goyah.


"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu mas. Hiks... Hiks...".


****


Di sebuah hotel tempat Harfei menginap selama satu Minggu terakhir. Pria itu tampak kacau, rambutnya acak-acakan, bahkan bentuk kamar itu seperti kapal pecah. Pria itu frustasi karena persoalan yang di hadapinya saat ini.


"Aaaak---. Kenapa semua ini harus terjadi?. Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Aaaak---".


Harfei berteriak seperti orang kesetanan. Di satu sisi pria itu sangat mencintai istrinya, namun di sisi lain ia tidak bisa jika tak menceraikan Hazal.


"Hazal.... Hu... Hu...Hu...".


Tangis Harfei pun pecah kala mengingat momen kebersamaan mereka ketika bersama dulu. Momen masa lalu itu seolah bermain-main di pelupuk matanya.


"Hazal, apa yang harus aku lakukan. Aaakkkk---".

__ADS_1


Suara tangisan, teriakan, dan isakan pria bertubuh tinggi itu pecah hingga memenuhi ruangan yang sudah tak berbentuk lagi itu. Hatinya hancur, jiwanya terkoyak, tubuhnya gemetar karena menahan gejolak yang teramat sangat besar di dalam sana, yaitu gejolak rindu, cinta, amarah, benci, kecewa, dan terluka. Komplit sudah perasaan Harfei.


Jika selama ini pria itu tampak kuat dan tegar, maka kali ini Harfei menunjukkan sisi terlemahnya. Ya, Harfei lemah akan cinta. Pria itu memendam rasa yang teramat sangat, dimana hanya dirinya saja yang tau.


"Kenapa rasanya sesakit ini Tuhan?. Apa yang harus aku lakukan?. Tidak kah Engkau berbelas kasih padaku Tuhan".


Harfei bersujud seolah sedang berkomunikasi pada sang pencipta. Pria itu berkata dengan suara lirih, tangannya memukul-mukul dada bidangnya seolah menunjukkan pada Tuhan, bahwa ada luka yang sangat besar di tempat itu. Luka yang hanya dirinya saja yang tau seberapa besar.


Tak lama ponsel Harfei berbunyi menandakan panggilan masuk. Harfei menyeka air matanya, lalu kemudian menggeser tombol berwarna hijau pada ponselnya.


"Halo".


"...".


Raut wajah Harfei berubah menjadi tegang kala mendengar ucapan seseorang dari balik ponselnya.


"Baiklah. Aku akan segera kesana".


Dan panggilan itu pun berakhir. Harfei merapikan rambutnya yang berantakan seperti pria tak terurus. Dan mengganti bajunya dengan menggunakan baju kaos putih hingga mencetak dada bidang pria tersebut.


Harfei meraih kunci mobil di atas nakas, lalu berlalu meninggalkan kamar yang masih berantakan tak berbentuk lagi itu tanpa merapikan terlebih dahulu.


****


BRAK...


Suara pintu terbuka keras mengagetkan Hazal hingga ia menutup buku yang di bacanya dan berjalan menuju sumber suara tersebut.


"Mas Harfei?".


"Apa kamu sudah menandatangani surat cerai itu?".


Hazal memutar tubuhnya hingga membelakangi Harfei.


"Tidak. Aku sudah katakan padamu aku tidak akan pernah mau bercerai".


Harfei memutar tubuh Hazal dan menghadap ke wajahnya hingga jarak antara keduanya sangat dekat. Deru napas dua insan itu seolah saling bersahutan. Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci. Hazal menatap Harfei dengan tatapan rindu dan cinta, sementara Harfei menatap Hazal dengan tatapan tak terbaca. Dan tiba-tiba saja,


CUP...


Harfei mengecup kening Hazal dengan lembut. Sontak hal itu membuat wanita berambut panjang tersebut sangat terkejut. Kening mereka pun menyatu, hingga deru napas keduanya kembali saling bersahutan. Harfei memejamkan matanya seraya berkata,


"Aku mohon ceraikan aku, em".

__ADS_1


Suara Harfei mulai melunak, entah mengapa hati Hazal kembali berdesir seolah ucapan pria tersebut adalah ungkapan cinta.


"Mas".


Suara Hazal tercekat di tenggorokannya, ia tak mampu lagi berkata-kata.


"Kamu boleh mempertahankan janin itu, bahkan aku akan memberikan nama untuknya. Tapi aku mohon, ayo bercerai".


Suara Harfei masih dengan suara melunak, ia menekan gejolak amarah yang akan meluap-luap.


"Baiklah. Aku akan menceraikan mu".


Harfei memejamkan matanya ketika mendengar kalimat yang sejujurnya sangat menyakitkan itu.


"Tapi sebelum itu, kamu akan melihat ku mati di depan matamu".


"Hazal!".


Akhirnya suara Harfei mulai mengeras, amarah yang di tahannya keluar hingga memenuhi ruangan itu.


PLAK...


sekali lagi Harfei terkena tamparan dari ibunya yang baru pulang dari rumah tetangga.


"Jika kamu datang kesini hanya untuk menyakiti putri ibu, maka jangan pernah menampakkan dirimu di rumah ini lagi".


Tatapan mata ibu menunjukkan kekecewaan yang teramat sangat dalam pada putra semata wayangnya itu.


"Ibu".


"Jangan panggil aku ibu. Kamu bukan putra ibu lagi. Sekarang Hazal adalah putri ibu satu-satunya. Apa kamu paham?. Sekarang pergi dari sini!".


Tandas ibu seraya menunjuk pintu. Dan Harfei pun pergi meninggalkan wanita paruh baya itu. Sementara Hazal merasa terharu pada wanita yang berstatus sebagai ibu mertuanya itu, karena hingga detik ini dialah satu-satunya orang yang mendukung dirinya dalam persoalan yang rumit tersebut.


.


.


.


.


Lanjut>>>

__ADS_1


__ADS_2