Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 7. Sikap yang Aneh.


__ADS_3

Pertemuan antara ayah Lina dan Harfei berjalan lancar, meski hati pria itu seolah menolak akan sesuatu di dalam sana, namun Harfei tetap berusaha memantapkan hatinya bahwa keputusannya memang benar, tapi entah bagaimana dengan jiwa pria itu. Seolah ia berada di tempat lain.


Kehadiran Hazal seolah mengubah prinsip hidup Harfei yang selalu bersikap cuek akan pandangan wanita, selalu berkata yang penting happy. Masa bodoh dengan wanita yang selalu menilainya jorok atau tampan tapi miskin. Namun Hazal?. Wanita itu seolah mampu membuat dunia Harfei jungkir balik. Semuanya berubah semenjak interaksi keduanya. Perdebatan yang hampir tiap hari terjadi, justru menumbuhkan benih-benih... Cinta?. Apakah itu Cinta?. Entahlah, yang jelas Harfei masih ingin menikmati segala yang di jalaninya saat ini.


*****


Sementara di rumah, Hazal sedang makan malam bersama kedua orang tuanya serta David yang merupakan kekasihnya. Ya, semenjak mereka mengikuti biro jodoh ternyata David langsung menyukai Hazal dan menyatakan cintanya pada wanita itu. Dan tak tanggung-tanggung, Hazal pun menerima cinta David saat itu juga. Bukannya murahan, hanya saja Hazal sedang merencanakan sesuatu. Namun semua di luar kendali wanita itu, David yang di anggapnya sebagai objek pemanfaatan dirinya justru serius akan hubungan mereka, bahkan pria itu sempat melamar Hazal secara pribadi, namun wanita itu menolaknya dengan alasan bahwa mereka baru saja saling kenal, harus butuh penjajakan terlebih dahulu. Begitulah alasan Hazal kala itu.


"Kapan kalian akan meresmikan hubungan yang kalian jalani ini?". Tiba-tiba ayah Hazal melontarkan pertanyaan yang selalu di hindari oleh wanita tersebut.


"David sudah berusaha untuk melamar putri, Om. Tapi tampaknya putri Om belum berkenan untuk itu". Jawab David sambil memotong stik daging miliknya.


"Hazal, apa itu benar?".


"Hazal, bukannya menolak Yah. Hanya saja Hazal masih harus mempelajari banyak hal. Lagi pula untuk menjadi seorang istri itu butuh kemantapan hati yang benar-benar kuat. Hazal tidak mau salah mengambil keputusan, lagi pula kami baru dua bulan pacaran, Yah". Jawaban yang lugas bagi Hazal, namun tidak bagi ibu wanita itu.


"Pacaran terlalu lama gak baik sayang. Takut setan menyerang".


"Emang negara api?. Menyerang". Hazal berdecak kesal.


"Tante tenang saja. Selama putri Tante belum siap, maka David tidak akan memaksa. David akan menunggu sampai waktu itu tiba". Mengulun senyum manis di wajah pria itu.


Hazal yang mendengar kemantapan ucapan David pun seolah merasa bersalah. Karena ia tidak akan mengira bahwa hubungan mereka akan sampai sejauh ini.


*****


Keesokan harinya, Harfei tak henti-hentinya tersenyum. Bahkan pria itu memaafkan kelalaian Wawan yang salah membeli bahan makanan untuk di masaknya.


"Maaf bang, saya salah". Ucap Wawan sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Gak apa-apa, Wan. Kamu kan gak sengaja. Ya sudah, lanjutkan kerjaan mu". Jawaban yang bijak, bukan?.


"Sayang, apa kamu sedang memenangkan lotre?". Tanya Lina yang sedari tadi heran melihat kekasihnya itu tak berhenti tersenyum.


"Emang kenapa?".


"Kok kamu senyum-senyum terus?. Apa karena pertemuan semalam sama Ayah, ya?". Binar mata Lina terpancar di wajah mulusnya.

__ADS_1


"Bisa jadi karena itu". Harfei tersenyum canggung seolah memaksakan jawaban.


"Ya sudah. Ayo kita makan, sudah waktunya makan siang". Mendengar kata ' makan siang ' pun membuat Harfei semangat. Entah apa yang membuat hati pria itu senang.


Kini Harfei dan Lina sedang menikmati makan siang mereka, dan tiba-tiba saja ia mendengar suara yang selalu membuat hatinya berdenyut.


"Sayang, apa setiap hari kamu makan di tempat ini?". Tanya David yang meluangkan waktunya untuk menemani Hazal makan siang. Kali ini wanita itu tidak di temani oleh sahabatnya Sonia.


"Seperti yang kamu lihat". Jawabnya santai khas Hazal.


Keduanya menduduki kursi yang tidak jauh dari Harfei dan Lina, hingga mata David seolah menangkap sosok familiar.


"Bukankah dia pria yang dua bulan lalu bertemu di hotel De****?. Apa dia pemilik kedai ini?". Ingatan yang tajam menurut Hazal.


"Begitulah. Ayo kita pesan makanan. Aku sudah lapar dari tadi". Jawab Hazal.


"Wawan, tolong buatkan seperti biasa ya?. Kamu mau pesan apa?". Lanjutnya kemudian.


"Di samakan saja sama kamu".


Wawan pun menyajikan makanan pesanan Hazal dan David, dan keduanya pun sangat menikmati menu makanan yang tersedia. Tanpa Hazal sadari ada pasang mata yang terus mengawasi mereka dari bangku lain.


"Ah, tidak apa-apa. Kamu lanjutkan saja makannya. Aku sudah kenyang". Tiba-tiba saja Harfei meninggalkan Lina dalam kebingungan yang melanda, sejak kedatangan Hazal dan David di kedai nya, entah mengapa hati pria itu seolah berubah menjadi panas.


"Apakah aku sedang... Cemburu?. Tidak, tidak,aku tidak mungkin cemburu sama wanita angkuh itu". Harfei bermonolog sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menolak akan kata perasaannya.


Melihat Harfei yang tiba-tiba saja meninggalkan Lina sendirian, Hazal tersenyum puas. Ia seolah berhasil membuat Harfei kesal, itu artinya rencananya mulai berhasil. Ya, sebenernya awal dari rencana Hazal menerima cinta David adalah ingin membalas perbuatan Harfei yang seolah memamerkan kekasihnya di depan matanya dan seolah menunjukan pada dunia bahwa ia memiliki kekasih, bahkan kala itu Hazal merasa terpojokkan oleh pria tersebut.


"Kamu kenapa sayang?. Kok kamu senyum-senyum gitu?". David yang sadar akan perubahan sikap Hazal, pun bertanya.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya teringat akan sesuatu. Ayo kita lanjutkan lagi". Tutur Hazal seolah meyakinkan David. Namun pria itu bukanlah seseorang yang tidak mengerti apa-apa. Ia mencurigai sesuatu, namun David tidak ingin terburu-buru berspekulasi.


****


Di kantor, Sonia sedang melakukan pekerjaan yang di berikan Hazal padanya, namun kegiatannya itu terhenti seketika karena mendengar tawa Hazal yang tiba-tiba menggema di ruangannya. Mengacaukan konsentrasi wanita bermata perak tersebut.


"Apa kamu sedang memenangkan undian berhadiah mobil mahal?. Sampai tawa mu rasanya ingin memecahkan gendang telinga ku". Kesal Sonia. Hazal masih belum menghentikan tawanya, ia justru merasa geli akan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Sonia, kamu tau gak?. Tadi aku melihat wajah Harfei cemberut". Tutur Hazal yang sedang mendaratkan tubuhnya di atas kursi kebesaran nya.


"Terus?".


"Aku puas membuat pria itu marah".


"Maksud kamu apa, Zal?. Jangan gantung kalimat mu deh". Gerutu Sonia, ia tidak ingin main tebak-tebakan pada sahabat yang di anggapnya aneh itu.


"Aku membuat Harfei marah karena melihatku makan siang bersama David tadi di kedainya. Aku sudah bilang kalau aku akan membalas pria itu". Tutur Hazal, pandangannya kosong kedepan.


"Jadi kamu menerima David sebagai kekasihmu untuk membalas dendam pada Harfei yang memojokkan mu waktu itu?".


"Anggap saja begitu".


Sonia menatap tak percaya pada sahabat sekaligus rekan kerja nya itu.


"Apa kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?. Kamu akan terjebak oleh permainan mu sendiri, Zal". Sonia berusaha untuk menasehati sahabatnya itu agar tidak melanjutkan rencananya.


"Aku akan berhenti ketika waktunya tiba. Akan aku buat pria jorok itu meminta maaf padaku". Senyum menyeringai menghiasi wajah Hazal.


"Terserah kamu saja deh. Aku gak ikut-ikutan". Sonia mengangkat tangannya untuk menandakan bahwa dirinya tidak ingin terlibat akan permainan sahabat nya itu.


"Kamu cukup jadi penonton manis saja. Aku adalah pemeran utamanya disini". Tutur Hazal masih tetap dengan senyum menyeringai.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2