
Perubahan yang sangat signifikan begitu menonjol di mata dan hati Lina kekasih Harfei. Selema kepergiannya 6 bulan yang lalu di kampung halaman ibunya begitu kontras dengan situasi dan keadaan saat ini.
Entah apa yang bergejolak di hati wanita mudah itu, namun tak bisa di pungkiri jika perubahan kondisi Harfei membuat ia tertegun. Antara sedih, haru, bahagia dan juga... kecewa. Ya, dia kecewa karena tidak bisa mendampingi Harfei di saat-saat pria itu menaiki tangga kesuksesan nya karena situasi yang tidak memungkinkan. Dimana ia harus merawat neneknya yang sedang sakit keras di kampung halaman dan akhirnya wanita tua itu menghembuskan nafas terakhirnya.
"Bang, Lina minta maaf karena tidak bisa mendampingi Abang selama bekerja keras mengubah hidup dan juga kesuksesan Abang". Pancaran sesal begitu kentara di wajah imut wanita yang berumur 21 tahun itu.
"Gak apa-apa, Lin. Dengan kamu sudah kembali ke samping Abang pun, Abang sudah bersyukur". Ucap Harfei masih dengan berusaha mengusap rambut lurus yang di biarkan tergerai.
"Tapi Lina seperti gak ada gunanya bagi Abang karena gak bisa mendampingi Abang selama masa proses itu terjadi". Wajah sendu, suara lirih, dan juga hati bersalah, itulah yang saat ini ada dalam diri seorang Lina Rahayu.
"Proses itu masih terus berjalan, Lin. Masih banyak yang belum Abang capai. Nah, selama itu juga mulai saat ini kamu bisa mendampingi Abang. Bagaimana?". Lina menganggukkan kepalanya antusias. Tanpa mereka sadari, ada pasang mata dan telinga yang menyaksikan adegan romantis keduanya.
"Mba Hazal".
Ya, Hazal tanpa sengaja mendengar percakapan antara Harfei dan Lina saat ia ingin menyampaikan jika ada seorang pengusaha sukses yang ingin merekrut Harfei sebagai motivator mudah dalam mengembangkan bisnis kuliner hanya dalam jangka waktu yang 6 bulan. Namun kenyataan bahwa ia mendengar Lina merupakan satu-satunya wanita yang di beri kesempatan untuk mendampingi Harfei meraih kesuksesan hingga akhir, maka hati wanita itu berubah menjadi gejolak asmara yang tertolak. Sakit, kecewa, marah, dan juga... Cemburu.
"Eh, Wawan. Ada apa, Wan?". Tanya Hazal berusaha untuk menetralkan hati dan jiwanya yang meronta sakit.
"Mba Hazal mau ketemu sama bang Harfei?" Hazal menganggukkan kepalanya sebagai Jawaban.
"Kenapa tidak masuk saja?".
"Gak enak, Wan. Soalnya di dalam lagi ada adegan romantis. Takut pecah konsentrasi mereka. Hehe". Berusaha untuk ngelawak, tapi dalam hati pecah-pecah. Dasar Hazal bisanya nutup hati aje lo.😁
"Kita intip saja mba, siapa tau bisa di jadikan referensi?. Biar jadi bahan edukasi Wawan mba kalau punya pacar nanti. Hehe".
"Dasar otak mesum. Kamu pikir di dalam itu pantas untuk di tiru?. Itu adegan khusus usia 21 tahun keatas, bukan 19 tahun seperti mu". Bantah Hazal.
"Tapi kan bulu betis Wawan sudah mulai tebal mba, itu artinya sudah dewasa. Yang di betis aja sudah tebal, apa lagi yang di antara paha mba". Masih dengan alasan yang konyol dan berusaha untuk di anggap dewasa.
"Kayanya otak mu tertinggal di tempat kasir deh, Wan. Sudah sana ambil dulu otak mu baru kembali lagi disini. Dasar remaja mesum". Gerutu Hazal. Baru kali ini ia jumpai anak remaja yang sangat berpikir selayaknya orang dewasa. Sungguh Memalukan bagi Hazal yang nyatanya ia merupakan wanita dewasa namun kalah pamor dari Wawan si anak remaja.😄
"Ehem". Suara itu sangat mengejutkan Hazal.
"Ah, mas Harfei".
"Ada apa kamu berdiri bengong di balik pintu ini?. Lagi ngintip atau menguping?". Tanya Harfei seraya memicingkan matanya penuh selidik.
"Dua-duanya bang". Timpal Wawan sambil berlalu meninggalkan Hazal dan juga Harfei dalam kecanggungan yang mulai tercipta.
Buru-buru Hazal membantah ucapan Wawan si remaja receh tadi.
__ADS_1
"Ah, tidak mas. Dia cuma menggoda mas Harfei saja. Saya kesini itu mau memberi tahu sama mas kalau ada seorang pengusaha mengadakan seminar dan mas Harfei di undang jadi pengisi acaranya dalam artian mas Harfei jadi pemberi inspirasi di acara itu". Jelas Hazal tentang maksud dan tujuan nya datang menemui Harfei.
"Benarkah?. Kapan?". Binar bahagia begitu terpancar di wajah tampan Harfei yang mulai bersih.
"Pagi ini jam 9 mas". Tutur Hazal.
"Sayang, ada apa?". Lina bergelayut manja di lengan Harfei membuat Hazal memalingkan wajahnya tak ingin menyaksikan adegan yang membuat hatinya seolah terbakar.
"Ah, Abang dapat undangan sama salah satu pengusaha untuk mengisi seminar di acara beliau". Ucap Lina.
"Benarkah?. Apa dia yang membuatmu di undang bang?". Tanya Lina dengan sedikit posesif.
"Iya". Jawaban yang singkat, padat, dan jelas. Namun begitu sakit di hati Lina. Tanpa sadar hati dan jiwa wanita itu meronta ingin bersikap egois bahwa harus dia yang menjadi ujung tombak dari kesuksesan Harfei, karena dia adalah kekasihnya. Jadi dia yang berhak untuk mendampingi Harfei, titik!.
"Apa boleh Abang menolak undangan itu?".
Baik Harfei maupun Hazal sontak berbalik menatap tak percaya akan permintaan Lina yang lebih terdengar sebagai kalimat... Perintah?.
"Maaf mba Lina. Saya tidak ingin ikut campur dalam urusan pribadi kalian berdua. Tapi seminar ini sangat penting untuk kelanjutan usaha mas Harfei. Ini adalah langkah awal untuk mengembangkan usahanya agar supaya lebih di kenal di kalangan pengusaha". Hazal berusaha untuk memberi Lina pemahaman meski hatinya sedikit emosi.
"Ini urusan antara aku dan bang Harfei. Dan satu lagi, sejak kapan mba Hazal memanggil bang Harfei Mas?. Apa terjadi sesuatu di antara kalian semenjak Lina gak disini?".
Pertanyaan Lina sukses membuat mata Harfei membulat sempurna. Pria itu tak habis pikir akan jalan pikiran wanita itu. Ada apa dengan Lina hari ini?. Begitulah pikiran Harfei.
"Tapi Lina gak suka Abang deket-deket sama dia bang. Bisa jadi kedekatan kalian akan menumbuhkan benih-benih cinta. Kalau Abang mungkin Lina bisa percaya. Tapi bagaimana dengan wanita ini?. Apa dia bisa di percaya?".
DUAAARRR......
Bagai petir di pagi hari yang menyambar ulu hati Hazal. Kalimat itu bagai belati yang menusuk-nusuk urat nadinya. Katakanlah Hazal mencintai Harfei, namun tidak ingin menjadi perebut kekasih orang, meski itu sempat terlintas sih di kepalanya. 😁
"Cukup!. Lina, mungkin kamu butuh istirahat setelah 6 bulan pergi. Aku akan menyuruh Wawan mengantar mu pulang ya?". Bujuk Harfei. Dan Lina yang merasa lelah hayati pun pulang, tak ingin membuat si Abang tripleks nya marah dan berakhir dengan perpisahan.
Dengan berat hati Lina meninggalkan Harfei dan Hazal di tempat itu.
"Hazal, maaf kan sikap kekanak-kanakan Lina tadi ya?. Tolong jangan di ambil hati. Aku tau jika kamu tidak bermaksud merebut ku darinya seperti yang dia ucapkan tadi". Kalimat panjang nan rumit itu sukses membuat hati Hazal berdenyut.
"Bagaimana jika yang di katakannya benar?. Apa kamu akan menolak ku?".
Telolet... Telolet... Telolet...
Kalimat Hazal bagai klakson mobil yang memberi peringanan untuk berhenti atau justru menghindar dari situasi yang mulai canggung ini.
__ADS_1
Masih terdiam,
Hening...
Hening...
Hingga,
"Aku lagi belajar menulis naskah novel, mungkin itu kalimat yang pas buat karakter tokoh utamanya". Alasan yang pas, singka, padat dan jelas dari Hazal.
Harfei menghembuskan napas lega. Di kiranya itu nyata. Tapi beneran nyata kok bang Harfei, si Abang saja yang gak peka.😂
"Syukurlah, aku pikir itu beneran. Ayo kita berangkat". Tutur Harfei.
"Kemana?"
"Ke hati adek. Apa ada pelabuhan di hati adek?. Mas mau dong masuk berjelajah di dalam sana". Berusaha untuk menggoda guna mencairkan suasana. Namun hati Hazal justru tersentuh akan godaan itu. Tidak tau apa jika hati wanita itu tercipta dari kulit bawang alias... Sensitif nan lemah. Mungkin tidak semua juga sih.😄
Keduanya pun pergi meninggalkan bangunan dua lantai itu untuk menuju seminar yang akan berlangsung beberapa saat lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Like, komen, dan vote. Terimakasih.
Happy Reading.
__ADS_1
*Dede...