
Selama beberapa hari pasca meninggalnya ibu Sonia, wanita dengan satu anak itu tampak masih memendam duka yang mendalam. Setiap hari wanita itu tidur di kamar ibunya dengan memeluk foto wanita yang telah melahirkannya itu. Sonia seolah lupa bahwa ada anak yang sedang memerlukan perhatian dan kasih sayangnya di luar sana. Beruntung Riyan mengerti akan kondisi wanita yang di cintai nya itu tanpa memprotes sama sekali.
Masih dengan memeluk foto ibunya sambil menangis pilu. Seolah peristiwa masa lalu sedang bermain-main di atas kepala wanita yang berprofesi sebagai sekretaris Harfei tersebut.
Lambat laun isakan Sonia mulai menyurut, ia menatap nanar foto ibunya yang sedang memeluk dirinya ketika wisuda.
"Bu, apa yang harus Sonia lakukan tanpa ibu?. Sonia gak bisa apa-apa Bu, Sonia lumpuh tanpa ibu sisi Sonia".
Satu garis air mata lolos begitu saja tanpa permisi. Lalu kemudian Sonia menyeka air matanya seraya berkata,
"Berikan Sonia kekuatan agar Sonia mampu melupakan kesedihan ini Bu".
Sonia mencium dan menatap penuh kasih gambar ibunya seolah ia dapat berbicara dan bercengkrama dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mommy".
Suara anak kecil membuyarkan lamunan Sonia. Wanita itu menyeka air matanya, lalu kemudian memeluk tubuh putranya dan mengecup kening putra semata wayangnya itu dengan penuh rasa bersalah. Selama beberapa hari ini ia melupakan statusnya sebagai seorang ibu, ia lupa bahwa ada anak berusia lima tahun sedang menantikan kehadiran nya seperti sedia kala. Menyuapinya kala lapar, memandikannya di pagi hari, dan meninabobokan kala malam hari. Namun tugas itu lalai untuk beberapa saat setelah duka membaluti hati wanita berambut ikal tersebut.
"Maafkan Mommy sayang. Untuk sesaat Mommy lupa jika ada kamu yang membutuhkan Mommy".
Sonia menatap penuh sesal pada putranya yang berusia lima tahun tersebut dan membenamkannya dalam pelukan.
"Mommy masih sedih?. Kata Daddy nenek sudah berada di surga. Dan surga itu tempat yang paling cantik. Nanti kalau Samuel sudah bertemu nenek di surga Samuel akan bilang kalau Mommy sangat menyayangi nenek".
Sonia tak bisa membendung lagi air matanya, ia kembali menangis seperti anak kecil yang kehilangan kedua orang tuanya.
"Maafkan Mommy sayang, maafkan Mommy".
Tak henti-hentinya Sonia mengecup puncak kepala Samuel, ia benar-benar menyesal sekaligus terharu pada putranya yang memiliki pikiran selayaknya orang dewasa.
Riyan yang menatap dua orang kesayangannya itu dari balik pintu kamar, menitikkan air mata sedih sekaligus haru.
****
Tiga bulan setelah ibu Sonia meninggal dunia, wanita cantik itu kembali seperti sedia kala, meski terkadang perasaan duka menghampiri ketika ia masuk ke dalam kamar ibunya dan menghirup aroma tubuh wanita yang telah melahirkannya itu dalam-dalam seolah ia bisa merasakan kehadiran nya di tempat tersebut.
"Sonia, apakah kamu sudah siap untuk presentasi hari ini?. Aku merindukan performa mu".
Ujar Harfei di sela-sela mempersiapkan diri untuk bertemu klien baru yang bernama Tuan Adiguna.
__ADS_1
"Tentu saja aku sudah siap. Selama beberapa bulan ini aku berhasil menata hatiku setelah kepergian ibu. Aku tau ibu sudah tenang di atas sana".
Sonia tersenyum ketika mengingat ibunya. Jika tiga bulan yang lalu wanita itu selalu menangis setiap kali wanita paruh baya itu muncul dan bermain-main di ingatannya, namun kini tangisan itu berubah menjadi senyuman bangga. Ya, Sonia bangga menjadi seorang putri dari wanita yang bernama Dewi Pratiwi.
"Baiklah. Ayo kita pergi, semua sudah menunggu kita".
Kemudian Harfei dan Sonia meninggalkan ruangannya menuju ruang rapat dimana semua orang telah berkumpul untuk menyaksikan presentasi dari Sonia.
****
Di restoran, Hazal duduk sembari memijit pelipisnya seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Mba Hazal".
"Helena".
Helena masuk dengan secangkir teh di atas nampan. Wanita itu menyimpan cangkir berwarna putih tersebut di atas meja kerja Hazal.
"Minumlah teh melati ini, teh ini di percaya akan menenangkan perasaan yang sedang gundah. Aku belajar dari ibu dulu".
Hazal tersenyum akan ucapan Helena yang seolah berusaha untuk menumbuhkan semangat yang sempat menyurut. Dan benar saja, setelah Hazal meminum teh melati buatan Helena, wanita itu menjadi semangat seolah melupakan beban di dalam sana.
Hazal meminum teh melati itu hingga habis tak tersisa.
"Ah, mba Hazal bisa aja. Aku jadi merasa tersanjung".
Helena tersenyum malu-malu mendengar pujian Hazal. Jarang sekali wanita berambut panjang itu memuji kinerja seseorang jika memang tidak sesuai dengan ekspektasi nya.
"Aku serius Helena. Mungkin ini akan di masukan dalam menu utama kita. Aku akan merekomendasikan pada pelanggan tetap kita nanti".
Ucap Hazal bangga. Dan Helena pun berucap syukur dalam hatinya karena tak sia-sia wanita itu belajar membuat teh melati khas ibunya. Meski sederhana, namun hasilnya memuaskan.
Kedua wanita itu pun saling melempar senyum bangga, tanpa di sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari balik pintu sambil mengeratkan genggaman tangannya.
****
"Mas, bagaimana kondisi Sonia di kantor?. Apa dia sudah mulai tenang?".
Tanya Hazal yang kini sedang berada di atas tempat tidur bersama Harfei. Wanita itu tampak kelelahan setelah melakukan pergumulan yang cukup panjang. Keduanya melakukan kegiatan bercocok tanam setelah beberapa bulan duka membaluti mereka. Lebih tepatnya duka Sonia, namun bukankah duka itu juga bisa di rasakan oleh wanita berambut warna madu tersebut?.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu mencemaskan sahabat mu itu sayang. Dia baik-baik saja. Ada aku disana yang selalu menjaganya untukmu".
Harfei memutar-mutar jarinya di atas perut Hazal membentuk suatu pola.
"Jangan di putar-putar terus, geli tau". Protes Hazal. Wanita itu memindahkan tangan nakal suaminya dari atas perut.
"Geli tapi enak kan?".
Tanya Harfei dengan suara menggoda yang di buat-buat.
"Iya enak, tapi capek juga tau mas. Apa lagi hampir empat jam mas melakukannya. Batrei ku hampir saja lobet. Bisa jadi untuk beberapa hari kedepan aku tidak bisa online. Jaringan butuh stamina full".
"Enak aja, aku gak mau puasa sebelum landasan mu becek".
Protes Harfei. Pria itu tak terima kala Hazal menolaknya untuk bercocok tanam selama landasan lahan Hazal belum becek.
"Pokoknya biarkan negara api menyerang sebelum es di kutub Utara mencair".
Harfei menekan landasan Hazal secara tiba-tiba, membuat sang empunya meremang.
"Is, tangan mas jangan nakal seperti kalajengking. Nanti Avatar marah, kalau Avatar marah, maka es di kutub Utara akan mencair secara tiba-tiba". Hazal memukul pelan tangan nakal Harfei yang dengan lincahnya bermain-main di dalam sana.
"Tapi sebelum itu negara api akan menyerang terlebih dahulu".
"Aaaak---".
Dan dua insan yang sedang di landah asmara itu melakukan kegiatan bercocok tanam kembali setelah hampir satu jam istirahat dan berbincang-bincang.
.
.
.
.
**Jangan lupa like, komen, dan vote ya.
Terimakasih.
__ADS_1
Happy reading
*Dede**...