
Hazal tak bisa tidur hingga malam hari. Ia terus memikirkan kondisi rumah tangga yang di pikirnya telah berada di ambang kehancuran. Bahkan hingga detik ini Harfei belum juga pulang ke rumah. Nomor ponsel pria itu tidak bisa di hubungi, membuat hati Hazal di landa kecemasan. Hazal seolah lupa bahwa dirinya tengah mengandung. Hati dan pikirannya di penuhi oleh suami yang kini tak di tahu keberadaannya.
"Mas, kamu di mana sekarang?. Kenapa belum pulang juga?".
Hazal mondar mandir di dalam kamar seperti setrika pakaian yang kusut. Wajah wanita itu tampak pucat, tangannya mulai berkeringat, bahkan matanya tak berhenti melihat ke arah pintu, berharap sang suami pulang.
Sekali lagi Hazal menekan nomor ponsel Harfei untuk menelpon, namun hasilnya masih tetap sama, hanya suara operator yang menjawab panggilan Hazal. Seandainya wanita itu bisa meminta tolong kepada operator itu, maka Hazal ingin mengatakan, bahwa aktifkan nomor ponsel suamiku yang pergi entah kemana. Tapi sayang, operator nya tidak bisa di ajak kompromi. 😁
Waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, namun Hazal belum juga bisa memejamkan mata. Ia masih terus menanti kedatangan suaminya. Mata coklat itu tak berhenti mengawasi pintu kamar, namun tak ada sedikitpun tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Harfei telah pulang. Hingga mata wanita itu lelah dan terpejam dengan sendirinya ketika waktu telah menunjukkan pukul 04.00 subuh.
****
Hazal terbangun dari tidur panjangnya sekitar pukul 10.00 pagi. Wanita itu mengerjabkan matanya, ia kembali teringat pada Harfei yang sejak semalam belum juga kelihatan. Namun perhatian nya teralihkan ketika wanita itu mendengar suara air yang berasal dari kamar mandi.
"Mas Harfei?. Itu pasti mas Harfei".
Hazal menyibakkan selimut yang membaluti tubuhnya ke samping dan beranjak dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi. Namun belum juga wanita itu tiba di pintu kamar mandi, tiba-tiba saja benda yang terbuat dari kayu bercat putih itu terbuka lebar hingga menampakan pria yang dari semalam membuatnya cemas tak bisa tidur.
"Mas Harfei?. Mas".
Hazal menghambur ke dalam pelukan Harfei, wanita itu menitikan air mata rindu. Ya, Hazal merindukan suaminya yang teramat sangat di cintai sepenuh hatinya. Namun bukannya mendapatkan balasan, Harfei justru mendorong pelan tubuh Hazal dan menjauh dari tubuhnya.
Penolakan itu sukses membuat hati Hazal kecewa, sakit dan terluka dalam waktu yang bersamaan. Sekali lagi wanita itu menitikan air mata, ada banyak desiran luka yang tertoreh di dalam sana.
"Mas, dengarkan aku dulu. Sekali saja". Pinta Hazal. Wanita itu memohon, meraung, mengiba, dan berharap agar Harfei mau mendengarkan penjelasannya, namun penolakan pria itu terlalu sakit. Dia bahkan tidak menatap mata Hazal. Mulut dan matanya seperti bekerjasama untuk tidak memperdulikan keberadaan wanita itu, seolah hanyalah bayangan semu yang berlalu-lalang di depan mata.
__ADS_1
"Mas. Hiks... Hiks...".
Isakan pilu Hazal mulai memenuhi indra pendengaran Harfei, pria itu memejamkan matanya untuk sesaat. Tangannya di kepal seolah menahan sesuatu. Lalu kemudian Harfei pergi meninggalkan Hazal yang jatuh terkulai lemah ke lantai bagai tak bertenaga tanpa mengatakan sepatah katapun.
Perubahan sikap Harfei yang begitu menyakitkan membuat wanita itu lupa akan kondisinya yang tengah mengandung. Seketika Hazal mengingat pesan dokter Aminah yang mengatakan, bahwa ia tidak boleh terlalu stres, karena itu akan berpengaruh terhadap kondisi janin yang dikandungnya.
Hazal menyeka air mata yang belum juga surut sedari tadi. Ia berusaha menguatkan diri dan mentalnya meski tak mudah. Namun sebisa mungkin wanita berambut panjang itu menata hati dan pikirannya agar baik-baik saja. Sembari memegang perutnya yang masih datar, Hazal berkata,
"Maafkan mama yang belum bisa memperkenalkan mu ke papa sayang. Mama janji, setelah papa tenang mama akan memperkenalkan mu. Jangan kecewa sama papa untuk saat ini, dia hanya belum menyadari kehadiran mu".
Hazal berusaha untuk menahan air mata yang hampir jatuh, lalu Ia meraih ponsel miliknya yang terletak di atas nakas dan menghubungi dokter Aminah untuk berkonsultasi.
****
"Nyonya Hazal, bukankah saya sudah mengatakan untuk tidak terlalu stres?. Untung kondisi janin Nyonya baik-baik saja. Kalau tidak, Anda bisa kehilangan janin itu tanpa melihat nya lahir ke dunia ini".
DUAR...
Sakit, pedis, dan terkejut. Itulah perasaan Hazal saat ini. Wanita itu menatap tak percaya pada dokter Aminah.
"Maafkan saya dokter".
Melihat kondisi Hazal yang seperti memendam sesuatu membuat dokter paruh baya itu paham, bahwa wanita itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia seperti tertekan akan sesuatu.
"Nyonya, Anda bisa mengatakan kepada saya jika Anda sedang mengalami masalah. Siapa tau saya bisa membantu Anda. Oh iya Nyonya, apakah suami Anda sudah mengetahui jika Anda sedang mengandung?. Sejak kemarin saya tidak melihat suami Anda".
__ADS_1
Pertanyaan itu sukses membuat luka Hazal semakin menganga. Air mata yang sedari tadi di tahannya kini turun bagai air yang mengalir deras hingga tak bisa di bendung lagi.
"Maafkan saya dokter". Hazal menyeka air matanya. Suara wanita itu bergetar menahan rasa yang bergejolak di dalam sana. Dokter Aminah pun memahami kondisi Hazal sehingga ia tak melanjutkan pertanyaan mengenai suami wanita itu.
"Baiklah Nyonya Hazal. Saya mohon maaf jika pertanyaan saya membuat perasaan Anda kurang nyaman. Tapi tolong pastikan kondisi janin Anda baik-baik saja, begitu juga dengan perasaan Anda. Kondisi janin tergantung dari perasaan ibunya".
Dan pemeriksaan yang berujung percakapan panjang itu pun berakhir. Dokter Aminah memberikan vitamin pada Hazal agar wanita itu tidak merasa mual.
****
Setelah dari Rumah Sakit, Hazal langsung ke rumah berharap agar ia bisa melihat Harfei dan mengajaknya untuk berbicara. Paling tidak pria itu harus tau bahwa ia tengah mengandung anaknya. Namun wanita itu kembali menelan pil kekecewaan, ia tidak menemukan Harfei di rumah. Yang ada ia hanya melihat ibu mertuanya yang selalu setia menonton TV layar terbang. Kali ini judulnya adalah, SUAMIKU TERNYATA SUAMI TETANGGAKU YANG MERUPAKAN SAHABAT KARIBKU SEJAK KECIL.
Ckckck, judul yang sangat miris. Wanita paruh baya itu menitikan air mata kala melihat adegan dimana pemeran wanitanya teraniaya, lalu terdengar lah lagu yang mengiringi film layar terbang tersebut. (Gak usah di tulis ya lagunya apa. Pasti emak-emak se-Indonesia juga tau lirik lagunya apa). 😁🙏
.
.
.
.
Hargai aku lewat like dan vote kalian ya. Jangan komen yang membuat author drop dan malas update. Terimakasih.
*Dede...
__ADS_1